Chapter 42 : Just Friends ( Versi Novel ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 27 Januari 2020

Chapter 42 : Just Friends ( Versi Novel )

Hai Assalamualaikum. Sebelumnya terima kasih telah mampir kemari untuk membaca dua bab berisi spoiler versi cetak Just Friends. Spoilernya aku publish Chapter 42,43 dan 44 saja ya Ukh. Sisanya lanjut ke versi Novel.
Oh iya, untuk pengunjung blog aku, kalian bisa membaca chapter 1 sampai chapter 43 di platfrome wattpad akun liareza15. Ini Link nya :
https://www.wattpad.com/story/127615561-just-friends-open-po-20-januari-8-febuari-2020


Serta di platfrome lainnya dengan akun LiaRezaVahlefi ( Dreame, Joylada, NovelPlush, NovelToon dan Storial )



Sekali lagi terima kasih ya, Happy Reading :)

****
Kost Putri Lembayung. Pukul 22.00 Malam. Setahun kemudian..
Suara tangisan kencang terdengar dimalam hari. Ayesha yang tadinya sudah memejamkan kedua matanya pun akhirnya terbangun. Ayesha segera beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati box bayi yang ada disampingnya.
"Sayang, kamu haus ya?"
Ayesha tersenyum kecil menatap bayinya yang kini berusia 7 bulan. Rasa lelah ditubuh Ayesha hilang begitu saja setiap menatap cinta bayi kesayangannya.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Seorang bayi berjenis kelamin perempuan akhirnya lahir selamat dengan proses persalinan secara operasi caesar.
Ayesha pun segera menggendong pelan putrinya dan memberinya Asi sambil duduk di pinggiran ranjang.
Dalam diamnya, Ayesha menatap putrinya dengan raut wajah sendu
Hatinya sangat bahagia dan bersyukur untuk pertama kalinya menimang bayi tercinta yang ia lahirkan beberapa bulan yang lalu dan sudah ditunggu sejak kehamilan di bulan pertamanya.
Lalu dengan perlahan, ia mulai membuka kancing baju pasiennya dan mengeluarkan sedikit payudaranya yang terasa sangat sakit dan membengkak.

Ayesha mengusap pelan kepala dan wajah bayinya itu dengan tatapan penuh cinta dan keharuan. Ayesha bersyukur saat ini meskipun ia tidak bisa memiliki cinta dari sosok pria yang ia harapkan selama ini, setidaknya, ia bisa menjadi seorang ibu yang bisa melahirkan dan merawat putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Mom sekali lagi nak, kamu harus merasakan semua situasi ini. Daddymu saat ini sudah bahagia dengan orang lain, kita harus sama-sama kuat meskipun ujian datang begitu berat untuk kita berdua. Insya Allah Mommy akan membahagiakanmu tanpa harus ada sosok Daddy."
"Percayalah, Allah selalu ada untuk kita. Allah akan menjaga kita. Berdua denganmu adalah sumber kebahagiaan yang tak bisa digantikan oleh siapapun baby Aifa."
"Aifania, mommy akan memberimu nama Aifania, 'Ayesha Fandi Davinia.' kamu tahu sayang? Meskipun Daddy tidak bersama kita karena takdir yang diberikan Allah, setidaknya Mommy menyelipkan nama DaddymuAifamia Hamilton."
****
Keesokan paginya.
Ayesha memutuskan untuk mencari kerja agar ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin bertambah usia Aifa, semakin banyak pula kebutuhan yang harus ia beli.
Saat ini ada Luna berkunjung ke kostnya. Kebetulan Luna dan Ray sedang bersilahturahmi kerumah Farrel. Kabar kehamilan Ayesha hingga melahirkan sudah dikenal Luna sejak kehamilan Ayesha berusia 4 bulan.
Luna, Ray, dan Farrel sepakat untuk tidak memberitahukan kehamilan Ayesha atas permintaan Ayesha agar Fandi bisa fokus bersama istrinya disana.
Luna menatap Ayesha yang sudah rapi. Ia menatap sahabatnya itu yang banyak berubah setelah situasi yang menimpanya. Tidak ada lagi celana jeans yang dipakai Ayesha. Tidak ada lagi pakaian tunik atau blouse lengan panjang dengan balutan pasmina yang melilit di lehernya.
Sekarang Ayesha memantanpkan diri memakai gamis syar'i dengan Khimar sepanjang 120cm menutup bagian belakang.
"Ay?"
"Hm?"
"Gue mau tanya sama lo."
"Soal apa?"
"Kenapa lo gak minta nafkah untuk Aifa sama Fandi? Lo tahu kan kalau Aifa itu darah dagingnya."
Ayesha menoleh kearah Luna yang ada di belakangnya. Dilihatnya Aifa pulas dalam dekapan Luna yang menimangnya.
"Gue tahu. Gue ada terpikir hal itu. Tapi gue gak bisa. Bagaimana kalau istrinya tahu terus marah sama gue?"
"Ya gak mungkinlah Ay. Secara Aifa kan anaknya, masa iya mau marah."
"Kalau istrinya menerima kenyataan gak masalah sih, kalau gak? Gue gak mau di sangka perebut kebaya orang Ay."
"Setidaknya dicoba dulu Ay."
"Nanti gue pikirin lagi."
Ayesha sudah rapi dsn segera meraih tas yang berisi berkas-berkas surat izasah kelulusan sekolah dan kuliahnya.
"Ayo keluar, gue mau berangkat."
"Lo sudah di terima kerja?"
"Baru interview sih, doain gue ya supaya bisa diterima di perusahaan itupun."
Luna hanya mengangguk. Ayesha segera beralih menggendong Aifa yang tertidur pulas dan keluar rumah. Luna menatap Ayesha yang berjalan menuju sebuah rumah yang jaraknya hanya beberapa meter dari kostnya.
Sebuah rumah yang kata Ayesha  menjadi tempat untuk menitipkan Aifa. Ayesha segera menitipkan putrinya pada ibu paruh baya tersebut sebelum berangkat kerja.
****
Kost Putri Lembayung. Pukul 06.00 pagi.
Ray menatap Luna yang banyak berdiam diri sejak tadi. Dipangkuannya ada putra mereka yang bernama Rex Davidson. Saat ini usia Rex sudah 8 bulan.
"Luna?"
Luna menoleh kearah suaminya yang kini menatapnya khawatir. "Ya?"
"Semuanya baik-baik saja?"
"Tidak."
"Ada apa?"
"Aku merasa kasihan sama Ayesha. Itu saja."
"Kenapa sahabatmu itu? Apakah dia masih bersikeras tidak mau memberitahukan putrinya pada Fandi?"
Luna mengangguk. "Iya. Padahal Ayesha berhak memberitahu pada Fandi bahwa setelah masalah yang pernah mereka alami, ada seorang anak yang harus diketahui oleh Fandi. Apakah kita harus memberitahu Fandi?"
"Jangan ikut campur urusan mereka Luna." ucap Ray tenang. Pria itu tetap santai mengemudikkan mobilnya untuk kembali ke kota Jakarta setelah semalam menginap dirumah Tantenya Wulan Wicaksono.
"Biarkan saja itu menjadi urusan mereka."
Dan yang dilakukan Luna saat ini hanya bisa pasrah dan mendoakan yang terbaik untuk situasi dan kondisi sahabatnya. 
****
PT. FOOD PRIMA JAYA, BANDUNG. Pukul 07.30 pagi.
Ayesha melangkahkan kakinya memasuki lobby perusahaan yang bergerak di bidang pangan. Perusahaan tersebut baru saja di buka dan saat ini membutuhkan karyawan baru untuk bekerja disana.
Mendapati hal itu, tentu saja Ayesha tidak ingin membuang kesempatan untuk melamar pekerjaan untuknya dengan bermodalkan izasah kelulusan sarjana jenjang S1 nya.
Ayesha memasuki lift dan kotak besi itu bergerak keatas untuk kelantai 5. Sesampainya disana, beberapa orang dari kalangan yang terlihat memenuhi tempat duduk untuk bersiap melakukan interview.
Ayesha berusaha untuk tenang. Ia pun menyempatkan diri pergi ke toilet sejenak dan berkaca didepan cermin wastafel.
Ayesha menatap dirinya di cermin. Memastikan kalau semuanya baik-baik saja dan rapi. Jantung Ayesha berdegup kencang. Ia harus bisa dan fokus. Ini demi masa depannya yang harus dia hadapi agar bisa hidup mandiri dengan putri tercintanya meskipun ucapan Luna satu jam yang lalu memenuhi isi pikirannya.
Benarkah Fandi akan dengan mudahnya menanggung biaya hidup Aifa sementara pria itu sudah memiliki keluarga sendiri?
Air mata menetes di pipi Ayesha akibat teirngat masalalu. Rasa rindu, rasa cinta, rasa penyesalan, semua berkumpul menjadi satu yang harus ia lupakan agar bisa bangkit dari keterpurukan.
***

Nyesek banget (

Nah kira-kira apa yang terjadi setelah ini? Cek spoilernya ladi di chapter 43 ya. Klik Link nya :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/01/chapter-45-just-friends-spoiler-versi.html?m=1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar