Chapter 46 : Raisya ( Miris ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 46 : Raisya ( Miris )


Beberapa bulan kemudian.
Setelah kepergian kakek beberapa bulan yang lalu semuanya kembali seperti semula. Tidak ada yang istimewa seperti sebelumnya. Hanya saja keadaan sedikit membaik secara perlahan.  Terutama untuk hubungan ku dengan Raihan.
Dia masih sama seperti sebelumnya. Cuek. Sok kegantengan. Sok gengsi. Tapi..
Kalau aku marah. Secepat itu dia membuatku kembali tersenyum. Padahal dia tidak melakukan apapun seperti halnya para cowok diluar sana membawa pasangannya bersenang-senang. Membelikan bunga. Boneka. Ataupun semacamnya.
Ini malah sebaliknya. Dia tidak pandai berkata. Tapi Dia memilih dengan menggenggam tanganku. Menatapku dengan lembut. Berakhir dengan ucapannya yang tulus. Hanya itu. Dan berhasil membuatku luluh.
Suara bel tanda jam istirahat berbunyi. Pelajaran bahasa Inggris yang membuatku ngantuk akhirnya berakhir.
"Sya."
"Hm."
"Raihan kok akhir-akhir ini jarang banget ya balas pesan singkatku?"
"Oh ya?"
Dia pun mengangguk. Siapa lagi kalau bukan si Lala. Rasanya aku pengen ngaku saja kalau aku sudah menikah sama Raihan. Tapi.. bayangan jika aku di bully dengan berbagai macam gosip menikah muda membuatku akhirnya mengurungkan niatku.
Ah satu lagi. Apa yang dikatakan Lala tadi benar. Seminggu yang lalu saat Raihan tidur, diam-diam aku mengambil ponselnya. Aku mengirim pesan singkat dengan nomor baru.
Aku bilang ini aku, Tante Aiza. Jangan hubungin Raihan lagi. Karena Raihan sibuk dan sedang tidak ingin di ganggu. Lalu aku memblokir nomor Lala. Beres kan?
"Sya."
"Apa?"
"Aku curiga deh."
Aku mengerutkan dahi. Bersikap biasa-biasa saja padahal sebenarnya aku merasa jengkel sekaligus was-was
"Curiga kenapa?"
"Jangan-jangan Raihan lagi suka sama cewek lain? Atau jangan-jangan dia lagi berhubungan sama cewek lain? Atau-"
"Sudah lah La. Jangan berpikir gitu sama Raihan."
Suara Lili akhirnya terdengar. Memutus rasa kegugupanku sejak tadi. Ah akhirnya. Lili pun berpindah posisi yang ada di belakangku lalu beranjak berdiri dihadapan kami.
"Ayo ke kantin laper." 
"Kalian aja ah. Aku lagi gak mood." timpal Lala lagi dengan lesu.
"Aku traktir bakso tempat Abang Afnan gimana?"
"Wah ide yang bagus! Aku mau! Aku mau! Karena di teraktir jiwa laparku kembali muncul. Kamu bener sih Li, daripada mikirin Raihan lebih baik kita makan. Aku curiga jangan-jangan dia blokir nomor ku di ponselnya!"
Lili mengusap dagunya. "Bisa jadi. Atau mungkin diam-diam dia punya calon terus calonya marah dan cemburu lalu diam-diam blokir nomor kamu La?"
"Ah gak mungkin. Memangnya ada yang mau sama Raihan?
"Ya ada lah Lala.. Raihan ganteng. Masa iya gak ada yang suka?"
Lala pun tertawa. Mereka masih saja membicarakan Raihan tanpa memperdulikan aku yang saat ini pura-pura menyibukkan diri membereskan buku-buku pelajaranku.
Lala dan Lili rupanya sama aja!
"Kalaupun ada yang suka palingan orang itu gengsi mau ngakuin. Secara gitu ya, Raihan kan cowok pemes. Mungkin cewek itu takut ketahuan oleh siapapun apalagi di bully."
Dan Lala segera berdiri dari duduknya. Lalu merangkul bahu Lili. Aku memilih di belakang mereka dengan berbagai macam pikiran tak menentu.
Rasa ketakutan dan kekhawatiran semakin menjadi-jadi. Akhirnya aku merogoh ponselku. Lagi-lagi aku mendengus kesal. Kesal karena Raihan tidak ada menghubungiku. Setidaknya dia kirim pesan singkat kek. Atau miscall kek. Atau sekedar nanyain aku gitu! Lagi apa? Sudah makan atau belum?
Ck dia itu. Nikah gak nikah sama aja kaku nya. Dasar cowok berhati kulkas kreditan! Dingin! Perlu di cicil-cicil dulu pakai marah-marah baru peka.
"Raisya ayo! Jangan melamun." panggil Lala lagi dan akhirnya aku mengangguk.
"I-iya. Tunggu aku."
❣️❣️❣️❣️
Suasana kantin tetap ramai seperti biasanya. Aku menunggu semangkok bakso bang Afnan yang begitu lezat. Tapi selagi menunggu, aku mengirimkan pesan singkat pada Raihan.
"Sudah makan? Balas."
Tidak menunggu waktu yang lama. Tanpa diduga Raihan akhirnya membalas pesan singkatku.
"Belum."
"Kenapa? Nanti sakit :("
"Masih kenyang."
"Tadi pagi kamu juga gak mau sarapan. Aku sudah masak."
"Maaf."
"Kamu dimana? Aku beliin kue di kantin mau?"
"Tidak perlu. Aku lagi sibuk. Di perpustakaan."
___
"Taraaaaa.. akhirnya bakso kita datang."
Aku menoleh kearah Lala dan Lili yang sudah siap dengan semangkok baksonya. Selang beberapa detik kemudian baksoku juga datang.
Aku sudah tidak membalas isi pesan singkat Raihan lagi. Tapi rasa bakso yang enak dan lezat ini seketika terasa hambar di tenggorokanku.
Aku teringat Raihan. Raihan memang rajin belajar. Saat disekolah segala ponsel dan game online seolah-olah lenyap begitu saja dari dunianya. Raihan lebih suka menyendiri di perpustakaan meskipun ada kalanya sekedar kekantin bersama Malik dan Fathur.
Kalau sudah begini apakah aku tega makan dengan kenyang sedangkan Raihan sendiri tidak makan?
"La, Li."
"Hm?"
"Apa?"
"Tiba-tiba perutku gak enak. Mau ke toilet."
Lili meletakan sendok dan garpunya. 
"Perut kamu sakit? Kalau sakit gak usah di terusin gih makannya."
"Iya sya." timpal Lala lagi yang kini didalam mulutnya sudah penuh dengan bakso dan mie. "Ke toilet sana. Ntar brojol disini."
"Maaf ya La. Li.. aku gak habis."
Mereka mengangguk dan aku segera menuju perpustakaan. Tapi tanpa Lala dan Lili sadari aku sempat membeli kue dan air mineral untuk Raihan. Ah, sejengkel-jengkelnya diriku tetap saja aku masih punya hati untuk si pria kulkas kreditan itu.
Akhirnya aku segera menuju ke perpustakaan. Kebetulan karena sekarang masih jam istrirahat, suasana perpustakaan tentu saja sepi.
Aku celingak-celinguk mencari sosok Raihan. Aku menemukannya. Tapi aku terdiam mematung. Dia terlihat tersenyum tanpa beban. Sementara Kak Fika ada disebelahnya. Bahkan didepan mereka ada sekotak kue yang baru saja selesai di makan.
Sejak kapan masuk perpustakaan boleh bawa makanan?
Jadi itukah tadi yang di bilang sibuk?
Dan...
Aku tersenyum miris.
Dalam hati aku tertawa sumbang. Senyum nya itu loh. Senyum santai. Tanpa beban. Lagi senang. Yang tentunya tidak pernah dia lakukan didepanku.
Dulu aku gengsi mengakui kalau aku cemburu.
Sekarang, Tidak. Aku tidak seperti itu lagi. Karena aku mulai menaruh rasa pada Raihan semenjak dia mencium keningku. Dia memberiku sebuah ciuman romantis meskipun di kening. Tapi dia juga yang memberiku sebuah rasa sakit yang sesungguhnya.
****
Karena setiap cinta. Pasti ada cobaannya. Gak muda. Gak yang dewasa. Semua sama.
Kalau mulus aja ya gak rame dong 🙃
Makasih sudah baca. Lama gak update sekali update nyesek. Iya maaf. Sudah alurnya 🙏
Sehat selalu buat kalian. 
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

Next, Chapter 47. KLIK LINK NYA : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar