Chapter 47 : Raihan ( Senja, Kamu, Dan Kita ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 47 : Raihan ( Senja, Kamu, Dan Kita )



Aku menatap Kak Fika yang kini sibuk mengunyah kue yang ada dihadapannya. Dia terlihat senang. Katanya kue itu buatan mamanya. Sebuah kue coklat berlapis taburan keju.
Hanya melihatnya saja aku sudah kenyang. Apalagi aku bukan penyuka rasa manis yang berlebihan. Aku takut diabetes.
Tapi. Kalau Raisya yang manis tentu saja aku suka. Apalagi bibirnya. Gak usah kesemsem kalian. Aku ini cowok. Normal. Tampan. Bikin kalian bucin. Wajar aja kan?
"Raihan, em yakin nih kamu gak mau?"
"Tidak kak. Terima kasih."
Aku sibuk membolak-balikkan halaman buku matematikaku setelah Raisya mengirim pesan singkat denganku. Aku membuka ponselku. Tidak ada balasan. Bisa di pastikan kalau sebentar lagi dia akan datang. Tapi biarkan saja. Orang tampan emang sering di khwatirkan oleh pasangan.
Aku melihat kak Fika yang sibuk memgunyah kuenya. Sampai akhirnya terlihat belepotan di sekitar bibirnya. Aku pun tertawa.
"Kenapa Rai?"
"Kamu belepotan."
Fika merogoh sesuatu dalam sakunya. Lalu dia mengeluarkan sebuah cermin kecil dan dia tertawa. Begitupun dengan diriku yang melakukan hal serupa.
Aku memilih fokus kembali ke buku matematika yang aku baca di perpustakaan. Tapi tatapanku tanpa sengaja melihat punggung Raisya yang sudah berlalu dengan cepat keluar ruangan.
Aku menghela napas. Sudah aku bilang. Dia pasti akan mendatangiku. Dan aku bisa menebak bila saat ini dia sedang marah.
Ya ampun. Orang tampan memang susah. Dikit-dikit di cemburuin. Padahal sebenarnya aku mengabaikan banyak cewek meskipun mereka mendekatiku.
Dasar cewek baperan. Untung aku sayang dia.
"Maaf ya kak. Aku harus pergi."
"Kemana Rai?"
"Ke kelas."
"Kamu sudah selesai? Yakin nih? Wah kok lucu ya. Malah aku yang makan kue nya. Padahal mama sudah membuatkan banyak kue buat kita."
Aku memaksakan senyumku. "Maaf kak."
"Yaudah. Gak masalah deh. Yang penting aku bisa temani kamu disini."
Aku mengangguk. Tidak perlu basa-basi lagi. Sudah cukup. Karena saat ini aku kepikiran si nyai rombeng kesayangan yang ngambek itu. Kalian harus tahu. Kalau dia ngambek. Aku susah payah membujuknya.
Ck. Tapi itu soal gampang. Cowok tampan sepertiku gak perlu nunggu waktu yang lama untuk bisa membujuk dia. Ya gitu deh cewek. Suka di bujuk dulu. Di peluk sambil di elus-elus pelan punggungnya.
Aku segera keluar perpustakaan dan menuju kelas. Lalu aku melihat Nua dan Anu yang menghampiriku.
"Raihan!" panggil Nua.
"Apa?"
"Bulan depan ikut kegiatan kemah dan outbond gak?"
"Ikut."
"Sama dong. Nebeng tas buat simpan kolor ya." pinta Anu dengan santainya.
Aku menatap Anu dengan tajam. "Tas mu mana?!"
"Rusak. Di gigitin tikus. Mau beli males."
"Aku juga ya." Lagi-lagi suara Nua yang memohon. "Ikut nebeng. Handuk sama celana dalam."
Aku melangkah meninggalkan kedua orang gila itu. Mereka itu ada-ada aja. Gak mau usaha. Suka cari praktis. Bulan depan memang kegiatan Outbond dan kemah setelah selesai ujian kenaikan kelas 11. Pihak sekolah berencana akan mengadakan kegiatan itu.
"Rai!"
"Raihan."
Anu dan Nua mengejarku dan menyamakan langkahku. Lalu keduanya merangkul bahuku.
"Apa lagi sih!"
"Ayolah."
"Iya Rai. Kamu kan baik."
"Masa sama sahabat sendiri aja pelit."
"Jangan gitu dong."
Sebuah pikiran terlintas. Aku pun menatap keduanya dengan senyuman smirk.
"Maaf gak bisa."
"Kenapa?"
"Iya kenapa?"
"Tentu saja pakaian Raisya pasti ikut. Dia kan cewek. Keperluannya banyak. Apalagi underwarenya. Wow."
Lalu aku tersenyum sinis dan meninggalkan mereka yang melongo bengong. Tapi tidak dengan wajah mereka yang menatapku kesal karena mereka meratapi diri masih jomblo. Tidak denganku. Ck. Kalau sudah laku mah bebas.
🎮🎮🎮🎮
"Dimana?"
Aku mengirim pesan singkat pada Raisya. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore setelah sholat Ashar di mushola. Aku berniat pulang sama Raisya karena tadi pagi dia di antar oleh Papa Dokter.
"Dimana aja boleh."

Aku mengerutkan dahiku. Ah. Rupanya dia masih ngambek.
"Aku serius"
"Sejak kapan? Ck."
"Sejak suka sama kamu."
"Masa?"
"Iya."
1 menit.
2 menit.
10 menit.
15 menit.
Tidak ada balasan. Akhirnya aku mengalah mengirim pesan singkat ke Raisya.
"Ayo pulang."
"Pulang aja sama Fika!"
"Gak mau."
"Terserah."
Aku pun terdiam. Raisya memang suka begitu kalau marah. Jutek abis. Akhirnya aku memasukan ponselku. Okelah kalau dia gak mau pulang bareng.
Lalu aku menuju parkiran sekolah. Mengambil motorku dan mengendarainya. Tapi sepertinya memang sudah menjadi takdir. Aku melihat Raisya berjalan kaki di trotoar jalan. Aku melihat pakaian seragam sekolahnya yang sudah berganti menjadi pakaian olahraga. Aku memelankan laju kendaraanku.
"Ayo pulang."
Raisya menoleh kearahku. Menatapku marah. Lalu dia mengabaikanku. Aku menghela napas.
"Ayo pulang."
Raisya bersikap tidak perduli. Seolah-olah aku tidak ada. Astaga dia itu. Okelah. Harus butuh ekstra. Aku menghentikan mesin motorku. Aku turun dari motor dan mengejarnya dalam jarak beberapa meter lalu menarik pergelangan tangannya.
"Apa'an sih pegang-pegang! Sana gak usah perduliin aku!" tepis dia tidak suka. Aku masih menahan dengan menggenggam tangannya.
"Sya."
"Apa?!"
"Kamu suruh aku gak perduli sama kamu?"
"Iya!"
Aku menatap Raisya dengan senyuman tulus. Tenang. Tetap sabar. Tanpa emosi, lalu aku meremas tangannya dengan lembut.
"Boleh aku jujur?"
"Apa!?"
"Kalau kamu suruh aku gak peduli. Aku gak bisa."
"Aku sudah janji waktu malam itu. Kamu lupa?"
Dan Raisya terdiam. Dia menatapku dalam diam. Tersimpan rasa kecemburuan di hatinya. Aku tahu itu. Aku merasakannya. Sampai akhirnya, tanpa menunggu jawaban dari dia aku pun membawanya kembali menuju motor.
Aku segera menaiki motorku. Mesin juga sudah di hidupkan. 
Aku menoleh kearahnya yang masih tetap diam bergeming.
"Ayo pulang. Sudah sore. Jangan sampai Papa dan Mama khawatir dirumah."
Akhirnya dia pun menaiki motorku. Aku memindahkan tas ranselku dibagian depan. Raisya sudah berada di atas motorku. Ini kedua kalinya kami diatas motor berboncengan. Tapi kali ini tidak ada penghalang tas ranselku diantara kami.
Aku mengendarai motorku. Kami tetap diam. Tanpa ada yang berbicara. Sampai akhirnya aku melewati sebuah jalanan sepi. Tepatnya di pinggiran jembatan yang terbentang sungai dibawahnya. Sungai jernih dengan pohon-pohon dikanan kirinya.
Aku menyetopkan motorku. Sesaat, tidak ada yang berbicara diantara kami. Aku menoleh kearah sungai yang jernih. Diatasnya ada langit sore yang mulai kemerahan senja.
Indah.
Aku menghela napas panjang. Berusaha membujuk Raisya. 
Aku tahu. Sebenarnya sejak tadi Raisya cuma salah paham. Dia kira aku memakan kue dari Fika. Padahal tidak.
"Maafin aku."
Raisya tidak menjawab. Aku tahu saat ini dia begitu cemburu. Aku bisa merasakannya.
"Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak memakan satupun makanan dari Fika."
"Aku tahu karena tanpa kamu sadari aku melihat kepergianmu di perpustakaan."
Dia tetap diam. Waktu terus berjalan. Akhirnya aku memilih pasrah dan kembali menghidupkan mesin motorku karena sebentar lagi akan senja.
Lalu tiba-tiba aku merasakan sebuah pelukan dari belakang. Sangat erat. Seolah-olah takut kehilangan karena rasa cemburu tadi. Raisya pun menumpukan dagunya pada bahuku.
"Maaf. Aku cemburu." lirihnya pelan.
Aku tersenyum tipis. Tapi tidak dengan jantungku yang berdegup kencang. Perasaan nyaman ini kembali hadir. Aku hanya mengangguk. Lalu aku mengusap punggung tangannya yang kini berada di perutku.
"Tetap seperti ini Sya. Jangan dilepas."

🎮🎮🎮🎮
"Tetap stay, kalau aku baperin kamu setiap berkarya"
-Author Lia
🤣🤣🤣🤣
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian. Sudahlah, yg tahan napas baca chapter ini jangan lupa hembuskan. Wkwkw
Sehat selalu buat kalian. 
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram 
lia_rezaa_vahlefii

Next Chapter 48. KLIK LINK NYA : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar