Chapter 48 : Raisya ( Terserah ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 48 : Raisya ( Terserah )




Satu bulan kemudian.
Akhirnya aku bernapas lega. Setelah berjuang dan mengikuti ujian kenaikan kelas beserta menghadapi beberapa mata pelajaran yang remedial. Semuanya berjalan dengan lancar.
Aku sempat kesel. Matematikaku remedial. Tapi tidak dengan Raihan yang dengan sombongnya berkata kalau dia siswa pintar. Remedial adalah hal ter ANTI dalam hidupnya.
Sekarang aku baru tahu. Semenjak aku ada rasa sama dia, jiwa kepedeannya begitu akut. Bentar-bentar dia suka sok ganteng. Selalu menganggap dirinya keren.
Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil mengelus dada. Semoga saja suatu saat kalau aku punya anak sama dia anak itu tidak menuruni sifatnya yang sok-sokan itu.
Ah anak. Kami memutuskan untuk fokus sekolah dulu sampai akhir. Sampai lulus. So, tidak ada yang namanya bobo bareng macam enaena seperti yang di lakukan Mama dan Papa.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Sekarang adalah jam 19.00 malam. Besok pagi adalah perjalanan menuju kemah di daerah lembah hijau yang memakan waktu kurang lebih 30 menit dari kota Samarinda.
Lalu aku menatap beberapa tumpukan baju yang sudah rapi aku strika. Dengan hati-hati dan perlahan supaya gak lecek aku memasukannya kedalam tas ransel. Ini semua adalah pakaian milik Raihan.
Dasar dia itu. Apa-apa serba suruh ini itu denganku. Mau makan aja minta sama aku. Mau strikain baju pakaian aja minta aku. Padahal dia bisa melakukan semuanya sendiri. Sok manja banget. Untung aku sayang sama dia. Mending dia jadi bayi besar aja sekalian!
Dengan sabar aku membawa tas ransel itu lalu keluar kamar dan menuruni anak tangga. Aku menuju rumah Raihan kemudian sedikit berbasa-basi dengan Papi dan Mami.
Ah soal Mami mertuaku. Alhamdulillah kehamilan Mami Aiza saat ini sudah menginjak usia 7 bulan. Kabar baiknya adik Raihan itu berjenis kelamin perempuan.
Lalu aku menuju kamar Raihan dan membuka pintunya. Aku berkacak pinggang. Aku melihatnya yang kini sedang berbaring sambil memainkan game di ponselnya.
"Raihan!"
"Terus! Serang!"
"Raihan!"
"Ah payah. Bentar bentar. Aku pilih senjata dulu."
"Raihan!"
"Awas musuh-musuh Nua awas!"
Dengan kesal aku menaiki keatas tempat tidur dan merampas ponselnya. Raihan menatapku dengan tajam.
"Kembalikan ponselku."
"Aku tidak mau."
"Kembalikan."
"Tidak ma- aaaaaaaaaa."
Tanpa diduga Raihan menarik tanganku hingga tubuhku terjatuh diatas tempat tidur. Raihan merampas ponselnya yang ada di tanganku. Lalu dia berdiri, meraih selimut tebal dan menutupi seluruh tubuhku sebatas leher di tambah dua buah bantal lagi kemudian Raihan menginjak bantal itu, menahan dengan salah satu kakinya agar aku terjerat dalam selimut tebalnya
dan dia kembali bertarung dengan ponselnya.
"Ayo Anu! Awas! Musuh di belakangku. Iya iya oke. Bentar-bentar."
"Astaga. Aku lagi gak ada uang buat beli senjata."
"Eh itu pelurumu masih ada? Iya! Terus. Oke. Wait! Wait!"
Aku berusaha meronta dengan kuat. Tapi Raihan terlihat tidak memperdulikan diriku dan dia sibuk dengan ponselnya ketimbang pasangan hidupnya yang hampir kehabisan napas ini.
"Raihaaaaaaaaaannn!!!!!!"
❣️❣️❣️❣️
"
Ini mau kemana?"
"Terserah!"
"Oke."
Setelah insiden tadi aku bertambah kesal. Malam ini adalah malam Minggu. Malam yang menjadi malam para pasangan non jomblo sepertiku menghabiskan waktunya untuk mencari hiburan. Aku benar-benar marah. Raihan itu memang keterlaluan!
"Raihan."
"Hm."
"Aku lapar."
"Terus."
"Mau makan."
"Oh."
Aku melirik tajam kearah Raihan. Raut wajahnya tetap tenang dan datar sambil mengemudikan mobilnya.
"Kok oh aja sih? Peka dikit kek nanyain mau makan apa? Dimana?"
"Maaf."
"Aku lapar Raihannnnn."
"Aku sudah kenyang."
Mobil berhenti di persimpangan lampu merah. Dia tetap santai tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Aku berusaha sabar sambil mengelus dada menghadapi si pangeran kulkas kreditan bin memuakan ini.
"Tapi aku lapar." grutuku kesal
"Salah sendiri kenapa tidak makan dulu sebelum jalan."
"Iiiiiiihhhhhhhhhhhhh." dengan gemas aku mencubit lengan Raihan hingga memerah. Dia meringis kesakitan.
"Argh sakit sya."
"Habis kamu nyebelin! Peka dikit kenapa sih? Aku belum makan. Ajak makan kek!"
Mobil kembali berjalan setelah lampu persimpangan berganti hijau. Aku bersedekap sambil memanyunkan bibirku.
"Oke mau makan dimana."
"Terserah!"
"Oke."
"Raihaaaaaaaaaannn! Kamu itu ya benar-benar nyebilin. Ih! Ih! Ih!"
Fix! Auto amarah mendidih sampai ke ubun-ubun kepala. Dengan kesal aku kembali memukul memukul lengannya. Aku merasa jengkel. Kesal. Pengen bejek. Pengen telan Raihan aja rasanya sampai tanpa diduga ia menangkap salah satu tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
"Sayang jangan. Sakit."
Lalu aku terdiam. Aku tidak mencak-mencak lagi. Raihan benar-benar manusia aneh penuh kejutan tak terduga-duga dan bikin hatiku langsung nyeessss.
Aku terdiam sesaat dan itu berlangsung hingga 15 menit dalam suasana hening diantara kami. Akupun merasa bersalah. Seharusnya aku tidak boleh bersikap kasar seperti tadi apalagi menyakitinya secara fisik. Dengan hati-hati aku menoleh kearah lengannya yang memerah setelah aku cubit. Seketika aku di landa rasa penyesalan.
Aku ingin meminta maaf. Tapi aku gengsi. Alhasil yang biasa aku lakukan hanyalah membalas menggenggam tangannya.
Tidak ada yang berbicara setelah itu. Raihan mengemudikan mobilnya dengan tenang. Aku masih merasa bersalah dan tanpa sadar akupun melamun menatap datar jalanan yang ada didepan mata.Sampai akhirnya mobil kami berhenti dan akupun tersentak kedunia nyata.
"Ayo keluar."
"Rai."
"Apa?"
"Aku gak jadi makan."
"Kenapa?"
"Aku.. em laparku hilang."
"Lalu?"
Aku terdiam lagi. Tapi perasaan tidak enak ini semakin menyiksa saja. Alhasil aku memilih mengalah karena sebenarnya aku memang lapar.
"Yaudah kita makan."
"Aku tanya sekali lagi." ucap Raihan serius. "Mau makan dimana?"
"Terserah."
"Oke."
Dan tanpa diduga Raihan keluar dari mobilnya. Aku hanya mendengus dada dengan sabar tingkat level tertinggi. Memang harus sabar menghadapi si Raihan Raihan itu. Tapi kekesalanku menghilang begitu aku keluar dari mobil dan menatap sebuah restoran didepan mataku.
Seketika aku terdiam dan menghela napas panjang. Ternyata Raihan benar-benar membawaku ke rumah makan bernama TERSERAH.
❣️❣️❣️❣️
Lah, kira-kira Raihan salah gak tadi nanya Raisya makan dimana? 
Kata Raisya terserah
Yaudah..
不不不不不
Makasih sudah baca ya. Moga gak bosan sampai tamat. Selow-sslow aja dulu ykan wkwk.
With Love
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar