Chapter 50 : Raisya ( Akhiri Saja ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 50 : Raisya ( Akhiri Saja )


Aku memilih diam dan tidak bersemangat begitu semuanya pada heboh melihat snapgram Kak Fika. Sebuah chat yang dia screenshot lalu menampilkan emot love yang berasal dari Raihan untuknya.
Sekarang aku bingung. Semudah itu Raihan suka sama aku tapi semudah itu juga dia mengumbar emot love ke siapapun? Ck. Sama aku saja tidak pernah. Kenapa sama orang lain bisa?
Dia itu benar-benar gak jelas! Kemarin baik, sekarang bikin kesal. Nanti cara minta maafnya bikin aku meleleh. Lalu gak lama bikin cemburu lagi. Maunya dia itu apa sih?
Fix kalau gitu awas aja nanti! Awas aja kalau dia minta maaf dengan apapun aku gak akan mau luluh lagi. Percuma! PERCUMA!
Aku berusaha fokus menumpuk kayu-kayu ranting pohong yang berukuran kecil. Disebelahku ada Lala dan Lili yang ikut melakukan hal yang sama. Meskipun sesekali mereka melirikku, aku berusaha untuk tenang.
Sampai akhirnya beberapa kakak kelas 11 pun bergerombol melakukan suatu hal untuk mempersiapkan kemah mereka yang belum selesai sejak tadi. Jarak mereka ada beberapa langkah denganku. Tapi suaranya begitu nyaring hanya untuk bergosip ria.
"Eh eh udah lihat gak hot news 1 jam yang lalu?"
"Oh itu? Si Kak Fika sama Raihan? Sudah dong."
"Mereka cocok ya. Tampan ketemu cantik."
"Itu sih namanya Couple goals. Beruntung banget bisa sama Raihan."
"Padahal kalau dipikir Raihan itu angkatan tahun ajaran baru ya? Semudah itu sih bikin semua cewek terpesona sama dia?
"Anak baik-baik, Soleh, cerdas, berprestasi itu auranya kelihatan. Ya wajarnya banyak yang kesemsem."
"Ah siapapun itu. Yang menjadi jodohnya Raihan itu adalah takdir paket lengkap."
Dan aku hanya bisa mencelos sama kakak kelas 11 yang membicarakan Raihan kali ini. Getaran yang berasal dari ponselku terasa. Aku membukanya dan ternyata dari Raihan.
"Sya?"
"Kamu dimana?"
Aku tersenyum miris. Untuk apa balas pesan dari dia? Seperti yang aku bilang. Percuma. Hatiku sesak, alhasil aku menjauh dari tumpukan kayu ranting itu. Air mataku mau tumpah sebentar lagi. Aku malu bila hal itu akan di lihat oleh Lala dan Lili.
Situasi sekitar tenda kemah sedang ramai. Beberapa kelompok tengah sibuk mempersiapkan ranting kayu bakar yang akan mereka bakar untuk api unggun semalam.
Aku memilih menyendiri. Dadaku sesak. Sakit. Perih. Aku ingin menangis dan berteriak kencang. Tapi semua itu tertahan di hatiku. Aku melampiaskannya dengan meninju pohon yang ada disebelahku lalu aku meringis kesakitan.
Aku tahu ini hal yang bodoh. Aku hanya.. aku.. aku hanya bingung harus melampiaskan kemarahanku. Alhasil aku terduduk. Bersandar di pohon sambil memejamkan mata.
Aku menatap punggung tanganku yang memerah. Sedikit terluka karena serpihan kayu-kayu pohon menancap kedalam kulitku. Tapi semua sudah terlanjur. Ini sudah sakit sejak awal.
"Sya?"
"Raisya?"
Tiba-tiba Lala dan Lili datang. Aku menghapus air mataku dengan cepat. Sampai akhirnya Lala dan Lili ikut duduk di samping kanan kiriku.
"Kamu kenapa?" tanya Lili. "Kok kesini? Menyendiri?"
"Perlu aku panggil Raihan?" tawar Lala tanpa diduga. Seketika aku menoleh kearahnya. Lala bersikap tetap santai. Tanpa beban. Tersenyum kearahku lalu menatap kelain.
"Santai." ucap Lala akhirnya. "Aku sudah capek bohongin kamu sya. Setiap melakukan kebohongan. Rasanya sakit. Apalagi sama sahabat sendiri."
"Maksud kamu apa La?" tanya ku tidak mengerti.
"Kamu dan Raihan. Kalian. Aku tahu hubungan kalian. Aku tahu siapa Raihan bagimu begitupun sebaliknya."
"Apa?" seketika aku khawatir. Khawatir bila akan menyakiti perasaannya. Sebagaimana saat Lili membuatku cemburu karena kak Bejo adalah miliknya.
"Em La, a-aku. Aku minta maaf sama kamu. Aku-"
"Gak perlu minta maaf." kekeh Lala geli. "Aku tahu dari Malik. Karena dia suka aku dan ngejar-ngejar aku sejak awal, aku nerima dia. Kami juga ta'aruf. Yang artinya tentu aja segala sesuatunya kami saling berbagi cerita. Terutama tentang rahasia hubungan yang kalian tutupin."
Aku terdiam. Terkejut. Syok. Bahkan tak bisa berkata apapun lagi. Aku menundukkan wajahku dan menunmpukan daguku pada kedua lutut ku sambil memeluk.
"Kalau boleh jujur. Aku cukup terkejut tiba-tiba Malik ngasih tahu kalau kalian nikah. Bahkan dia pun mengirimkan foto akad nikah sederhana kalian pada kami. Ya kan Li?"
"Iya Sya." ucap Lili akhirnya. "Jangan seudzon sama Lala lagi ya. Sebenarnya dia cuma mau bikin kamu cemburu kok dengan berpura-pura suka sama Raihan. Ya walaupun agak sedikit keterlaluan."
"Dan kami cuma mau lihat. Sampai dimana kamu bertahan hanya untuk mengabaikan Raihan. Berpura-pura kuat padahal sebenarnya kamu cemburu." timpal Lala akhirnya.
"Ayo kita ke tenda. Kita obatin tangan kamu." ajak Lili yang ikut membantuku berdiri. Aku hanya diam menurut. Sampai akhirnya kami menuju tenda dalam keadaan diriku yang sesak sejak tadi.
"Masuk duluan gih kedalam." bujuk Lala.
Aku tertunduk lesu. Lala mendorongku bahuku kedalam tenda. Lalu aku terkejut. Ada Raihan didalam sana. Dia duduk sambil mempersiapkan beberapa obat untuk mengobati tanganku yang terluka memerah.
"La, aku-"
"Sudah sana masuk! Tenang, kami akan jaga depan tenda ini supaya gak ada yang tahu kalau kamu sama Raihan didalam."
"Tapi- aaaaargh."
Tanpa diduga Lala mendorong tubuhku dengan kuat ke dalam sampai akhirnya aku terkejut dan hampir terjatuh jika saja Raihan tidak menangkap tubuhku dengan cepat.
Raihan memeluk tubuhku dengan erat. Lalu merubah posisi dengan mendudukanku. Raihan menarik pergelangan tanganku lalu aku menolaknya.
"Gak usah di obatin!"
"Sya..."
"Kenapa?" aku menatap Raihan dengan kecewa. "Cih yang lagi mesra-mesra an sama Fika. Kirim emot love. Wow banget."
"Maaf."
"Gak usah minta maaf kalau ujung-ujungnya bakal ngulangin. Capek di kecewain. Cemburu itu gak enak!"
Aku memilih pergi. Aku berusaha air mataku tidak tumpah di pipiku. Aku hendak berdiri hingga tanpa diduga Raihan menarik pergelangan tanganku dan aku terjatuh terduduk di pangkuannya.
Raihan memeluk seputaran pinggulku. Dia menumpukan dagunya pada bahuku. Aku terkejut. Punggungku begitu terasa detak jantungnya yang berdetak sangat kencang di ikuti dengan detak jantungku sendiri.
"Aku mencintaimu. Sekarang rasa itu ada padaku buatmu. Dimulai sejak tadi malam aku menggenggam tanganmu di mobil. Setelah kamu marah-marah cubit lenganku." bisik Raihan.
Aku terdiam lagi. Perasaanku campur aduk tak menentu. Raihan mencintaiku. Tapi aku terlanjur kecewa. Dia bilang cinta. Tapi segampang itu mengumbar cinta ke orang lain juga?
"Aku. Emot love tadi-"
"Tadi apa!? Sudah jelaskan?" ucapku penuh kepedihan. "Kalau memang kamu suka dia, yaudah. Maaf lancang sudah ambil posisi dia yang seharusnya mengisi hatimu."
Aku berusaha melepaskan rengkuhan dari Raihan dan berhasil. Aku menatapnya balik.
"Sya-"
"Aku bisa bilang kok sama Papa dan Mama dirumah begitupun Papi dan Mami. Kalau kamu lebih suka sama dia. Atau kamu mau akhiri hubungan ini daripada kita terus-menerus membuat kesalahan?"
"Raisya. Aku-"
Dan aku pergi keluar tenda dengan cepat. Secepat air mata kini mengalir di pipiku. Mengabaikan Lala dan Lili yang memanggilku.
❣️❣️❣️❣️
Ya Allah, gak nyangka dia bilang "Aku Mencintaimu"
😭😭😭
Maaf pagi-pagi udh bikin kalian sedih. Emang gini alurnya :(
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

Next, Chapte 51. KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar