Chapter 51 : Raihan ( Musuhku, Cintaku ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 51 : Raihan ( Musuhku, Cintaku )


Outbond. Kegiatan ilmu terapan yang di lakukan di alam terbuka dengan berbagai macam bentuk permainan yang kreatif. Penggabungan antara intelegensia, fisik, mental dan spiritual.
Seharusnya kegiatan outbound ini menyenangkan. Harus semangat dan menantang. Tapi tidak denganku. Aku kurang bersemangat karena suatu hal. Siapa lagi kalau bukan Raisya yang tidak mau berbicara denganku.
Ini pertama kalinya aku merasakan pengalaman membujuk seorang cewek yang sulit di jangkau. Dasar memang si nyai rombeng itu.
Aku menggeram frustasi begitu mengetahui dari Lala dan Lili kalau nomor ponselku di blokir oleh Raisya. Pantas saja kalau aku menghubunginya semuanya gagal.
Apa aku harus bertindak layaknya cowok romantis dan membawa bunga beserta coklat di iringi perkataan manis? Ya ampun. Ya ya ya aku tahu aku tampan. Sangat mudah melakukannya. Tapi.. rasanya sungguh menggelikan.
Dari awal aku ada bilang sama kalian. Kalau aku paling tidak suka hal-hal rumit. Aku menyukai hal yang mudah dan simpel. Dan Raisya kali ini adalah hal rumit sepanjang sejarah yang harus aku kendalikan.
Aku sudah memakai semua perlengkapanku. Kali ini tim yang sudah di bentuk oleh panitia sekolah akan bermain kegiatan Paint Ball
Simulasi peperangan menggunakan peluru cat. Ck, salah satu kegiatan yang paling aku sukai karena tidak jauh-jauh dari adegan peperangan dalam game yang aku mainkan bersama Anu dan Nua.
Cukup simpel. Pertahanan, penyerangan, merebut bendera lawan dan pelepasan sandera. Salah satu panitia Outbond sekaligus pemilik kegiatan paintball mulai mengintruksikan kepada kami. Sebuah anggota berisikan 5 orang. Ada Aku, Anu, Nua, Lukman, dan Danu.
"Oke. Apakah kalian sudah tahu ini jenis apa? Yang hobi main game pasti tahu dengan benda ini." tanya Kak Kai dengan serius sambil menunjukkan sebuah senjata di tangannya.
"Tahu kak. Senjata semi otomatis." jawab Nua dengan benar.
"Oke. Benar. Jadi begini.."
Aku memperhatikan dengan seksama begitu Kak Kai mulai menjelaskan hal-hal apa saja yang akan di lakukan untuk kegiatan Paint Ball. Kegiatan yang di ikuti banyak siswa tapi secara bergantian dengan 2 team selama 50 menit.
Tidak banyak yang mengikutinya. Ini di peruntukkan untuk mereka-mereka yang menginginkannya saja. Sisanya mereka mengikuti kegiatan plying Fox di area berbeda.
"Ini tipe semi otomatis. Untuk jarak tembak, harus 20 meter. Tapi kalau untuk jarak akurasi, 5 sampai 10 meter. Kalau kita tembak untuk jarak 20 meter, peluru akan belok. Jika kalian menembak jarak 5 sampai 10 meter, maka peluru akan akurasi atau tepat sasaran."
Semuanya begitu fokus mendengar instruksi dari kak Kai. Ah bukankah ini menyenangkan? Sesaat, aku melupakan Raisya sejenak. Aku butuh refreshing otak untuk melawan musuh nanti. Si musuh tim biru. Dan kami tim merah.
"Dan yang namanya kena tembak, pasti sakit. Jarak 5 meter kebawah, dilarang nembak. Kecuali kalau kalian memiliki rasa dendam pribadi sama musuh kalian. Hahaha. " Dan kami semua terkekeh geli. Begitupun denganku.
"Jika hal itu terjadi, cukup todong senjata saja dan yang di todong harus  refleks angkat senjata. Bukan balik menembak ya. Demi keamanan. Karena kalau jarak dekat, bisa memar, bisa juga berdarah. Oke? Apakah kalian semuanya sanggup?"
"Sanggup kak."
"Siap kak."
"Oke kak oke!"
"Baik. Kalau begitu. Kita bisa mulai sekarang. Musuh kalian tim biru ya."
Kami semua akhirnya berpencar. Melewati semak-semak rerumputan yang sudah banyak berdiri benteng pertahanan terhadap musuh. Diantaranya ada beberapa dinding beton dan drum disekitar kami.
Aku mulai bersembunyi di balik beton dinding. Sedangkan Nua ada disebelahku, merunduk dibawah jendela tanpa kaca. 3 anggota kami sudah berpencar dibalik pepohonan besar, di balik drum bahkan ada yang merayap di semak-semak tinggi dan-
DOR! DOR! DOR!
Nua mulai menembakkan peluru cat nya kearah musuh tim biru yang menembak balik kearah kami. Sesekali aku menimbulkan diri dengan menebak balik.
Aku berjalan mengendap-endap keluar dari beton dinding. Mulai melenyapkan musuh. Aku melihat jarak 20 meter. Cowok bertubuh tinggi yang menjadi musuh.
DOR!
Aku tersenyum sinis. Aku berhasil menembaknya tepat sasaran. Dia tersungkur di tanah. Padahal ini hanya permainan tapi semudah itu kami menghayatinya seolah-olah perang asli.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Salah satu tim mereka menembakiku. Aku menunduk dan kembali mengendap-endap berlari cepat.
DOR! DOR! DOR! Aku balas menembaki mereka yang menyerang kami. Kedua mataku melihat Anu yang sudah menyerah saat di todong. Begitupun dengan Lukman yang sudah tersungkur.
Dari jarak beberapa meter aku juga melihat Nua yang menodongkan senjata kearah lawan. Danu pun ikut tersungkur di dalam beton. Astaga tinggal aku dan Nua rupanya.
DOR! DOR! DOR!
Nua mengendap-endap berjalan cepat lalu bersembunyi di balik drum besar saat cowok bertubuh tinggi tadi mulai menembaki Nua.
Ini tidak bisa di biarkan, akhirnya aku berlari cepat menghindari serangan bertubi-tubi lalu aku melihat salah satu musuh bersembunyi di balik pohon besar. Aku tersenyum sinis dan secepat itu aku menodongkan senjata kearahnya.
Dia terkejut dan terdiam sesaat dibalik penutup pengaman wajah sambil mengangkat senjatanya. Dia menyerah. Tapi..
Aku salah.
Pelindung wajah itu terbuka hingga kedua mataku terbelalak lebar.
What? Raisya?
Aku terkejut. Dia tersenyum sinis kearahku. Wow. Aku tidak menyangka bila musuhku istri sendiri. Ku pikir dia tidak tertarik ikut kegiatan paintball ini dan memilih flying fox dengan lainnya.
Aku memperhatikan dirinya seperti wanita tangguh yang sedang menatapku tajam. Astaga. Aura kecantikannya semakin terpancar saja.
"Menyerah atau peluru cat ini akan menyakitimu." sinis Raisya dan menodongkan senjatanya kearahku.
Aku tersenyum santai. Tanpa ragu aku menodongkan balik kearahnya. "Kamu ngajak berduel?"
"Oh iya. Tentu! Dengan cowok gak tahu diri kayak kamu. Sepertinya menyenangkan."
"Gak tahu diri ya? Bagaimana denganmu? Tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain?"
Aku memajukan langkahku begitupun dengan Raisya. Wah. Rupanya dia masih baper gara-gara kemarin.
"Aku begitu karena ada alasannya. Haruskah aku memaafkan cowok genit? Cih."
"Akui saja bahwa sebenarnya kamu sudah memaafkan ku Raisya. Ku tahu kamu merindukanku." 
"Jangan kepedean. Siapa juga yang rindu sama kamu? Si cowok gen-"
Cukup sudah! Dengan kesal aku menendang senjata yang ada di tangannya lalu ia terkejut. Senjatanya terjatuh di tanah. Aku menodongkan kembali kearahnya hingga membuat Raisya pun mengangkat kedua tangannya.
Raisya terlihat gugup. Raut wajahnya pucat. Masa bodoh jika saat ini permainan sudah berakhir. Padahal ini semua hanyalah game. Tapi dengan gampangnya dia membawa masalah pribadi dalam kegiatan ini.
"Menyerah saja Raisya. Sekarang kamu kalah."
"Aku tidak ma- aaaaaaaaaa JANGAN! JANGAN! JANGAN TEMBAK AKU!!"
Aku tersenyum sinis ketika dengan beraninya aku mengarahkan senjatanya ini ke keningnya. Dia ketakutan dan panik.
"RAIHAN! jangan bercanda!"
"Apa kamu tega nembak aku?!"
"Raihan!"
"Huaaaaaa Raihan!!!"
"Aku akan adukan hal ini sama Papi dan Mami!!! Menyingkir sana! Menyingkir!!! Sana!!!!!!
Ck. Dasar dia itu bocah. Tapi, kalau boleh jujur. Sesedihnya aku karena dia mengabaikanku, rupanya aku butuh hiburan dengan Raisya saat ini.
"Menyerah saja Raisya. Kamu sudah kalah."
"Aku tidak mau! Aku- Aaaaaaaaaaaaaa iya! Iya! Iya! Oke! Sekarang turunkan senjata bodoh ini!"
Dia semakin ketakutan ketika aku menarik salah satu pelatuk yang siap aku tembakan kearah Raisya. Padahal aku tidak serius. Dan dia gemetar ketakutan.
"Yakin kamu akan menyerah?"
"Cepat singkirkan!"
"Yakin kamu menyerah?"
"Raihan! Aku- Aaaaaaaaaaaaaa oke oke! Dasar nyebelin. MAU KAMU APA SIH!"
"Simpel."
"Apa?! Cepat singkirkan tembakan ini." panik Raisya.
"Yakin?"
"Rai!"
"Serahkan cintamu padaku. Aku menginginkannya.
🎮🎮🎮🎮
Eaaaaaa wkwkw

Kalau orang minta harta. Raihan sambil nodong senjata minta cinta wkwkw
Cieee yang kesemsem ketawa. Semoga pagi ini kalian semangat habis baca ini 😆
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

Next, Chapter 52. KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar