Chapter 52 : Raisya ( Dia Pergi ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 52 : Raisya ( Dia Pergi )


DOR!
Aku terkejut begitu peluru cat paintball itu mengenai lengan Raihan dan membuat Raihan tersungkur ke tanah. Aku panik dan segera membuka pengaman wajahku.
"Raihan!!! Rai!"
Aku ikut tersungkur, mengguncang-guncang tubuhnya dengan memegang kedua bahunya. Kedua mataku berkaca-kaca. Raihan pingsan begitu aku membuka pengaman wajahnya juga.
"Rai!"
"Rai bangun!"
"Rai! Jangan tinggalin aku."
Aku tak kuasa menahan sedih sampai akhirnya pertahanan air mataku tumpah. Semua pikiran dan ketakutan terpusat pada Raihan. Aku memeluk tubuhnya dan menangis di dada bidangnya. Beberapa orang berlarian kearah kami.
"Ya ampun...." suara Anu tiba-tiba terdengar.
Aku seengukan. "Rai.. hikzz. Bangun Rai bangun!"
"Raisya! Cepat bangun. Ini cuma game. Ayolah. Jangan bodoh." timpal Malik dengan ucapan peringatan.
"Iya cepat bangun sebelum teman-teman pada kesini." ucap Fathur lagi.
Aku semakin histeris. Aku menepuk-nepuk pipi Raihan. Aku mengabaikan Malik dan Fathur yang kini berdiri didekat kami.
"Rai. Bangun plissssss."
Lalu aku kembali menangis kencang di dada bidangnya. Aku gak mau Raihan mati apalagi- DEG.
Sebuah tangan melingkar di pinggulku. Aku mendongakkan wajahku dan melihat Raihan yang tersenyum geli kearahku. Seketika aku ingin mengumpat rasanya!
Aku menatap Raihan tajam. "Rai!-"
"Ini cuma game. Permainan Paintball. Mana mungkin Raihan mati." sungut Malik kesal.
"Iya mana mungkin mati. Akal-akalan aja tuh! Cih, ayo Nua kita balik aja. Ada yang pengen romantis lebay macam sinetron disini." sindir Fathur lagi.
"Nyesel tadi sudah nembak Raihan dari jauh." cibir Malik.
"Oh jadi kamu Nu yang nembak aku? Kurang ajar kamu ya!"
Tiba-tiba Raihan mendongakan wajahnya dan melirik tajam kearah si Nua Nua itu meskipun lengannya masih menahan sebagian tubuhku berada di atas bidangnya.
"Mestinya kamu berucap terima kasih dong sama aku, kalau tidak adegan film sinetron sekarang tidak terjadi."
Aku melihat si Nua mengedipkan salah satu matanya kearah Raihan dan melenggang pergi bersama Fathur. Dasar mereka itu! Aku ingin berdiri dan menjauh, tapi Raihan masih menahan seputaran pinggulku.
"Jangan pergi."
Aku menggeleng cepat. Berusaha menghentikan posisi ini di balik wajahku yang bersemu merah. "Aku harus pergi. Sebelum ketahuan sama yang lain.
"Biarkan saja. Aku sudah lelah menyembunyikan ini semua."
Raihan menatapku tidak suka. Lalu tanpa diduga ia mendekatkan wajahku dan mencium ujung hidungku. Seketika kedua mataku terbelalak kaget dan bersemu merah.
"Rai!"
"Kenapa? Masih marah?"
"Iya! Aku kecewa sama kamu! Aku-"
"Itu semua hanya salah paham."
Lalu kami terdiam. Raihan mengelus punggungku dengan lembut. Masih sama dengan posisi seperti tadi.
"Ponselku eror. Nyendat. Lalu pesan Kak Fika-"
"Raisya!"
"Raisya kamu baik-baik aja-"
Dan aku terkejut begitu suara Lala dan Lili yang berlarian dari arah jauh. Seketika aku menjauh secara paksa dari Raihan dan berdiri cepat. Lala dan Lili menatapku dengan perasaan canggung, lalu aku menarik tangan mereka untuk segera menjauh.
"Aduh sya. Maaf kami gak tahu kalau kamu-"
"Tidak apa-apa. Ayo pergi! Aku gerah dengan pakaian paintball ini."
"Tapi sya-"
"Flying fox tadi gimana? Pasti seru."
"Iya. Lumayan seru. Sya, itu Raihan-"
"Ayo temani aku kembalikan baju ini. Aku lelah! Ah rasanya tenggorokanku begitu haus."
Aku berjalan cepat menarik tangan Lala dan Lili hingga mereka hampir saja terseok-seok. Tapi aku tidak perduli karena aku terlanjur malu mendapati Lala dan Lili melihatku dengan posisi seperti tadi.
❣️❣️❣️❣️
"Sya."
"Hm"
"Em. Kamu sama Raihan. Gimana sekarang?" tanya Lala yang kini mulai membereskan beberapa baju kedalam tas. Sementara Lili juga melakukan hal yang sama. Kini keduanya menatapku.
"Aku tidak tahu." lirihku sedih. "Mungkin kak Fika orang yang cocok dibanding aku."
"Jangan gitu sya." ucap Lili lagi. "Cemburu boleh. Tapi harus sadar bahwa kesalahanpahaman bisa saja terjadi diantara kalian."
"Semua sudah jelas Li. Raihan itu suka sama dia. Kalau memang dia gak suka mestinya cewek begitu di jauhin! Gak ngirim emot-emot Love begitu! Buktinya respon dia malah biasa-biasa aja. Gak panik macam aku sekarang."
Dan Lala tertawa geli. Aku tambah kesal melihatnya. Bukannya dia perduli malah sebaliknya. Sahabat macam apa itu?!
"Dasar bocah!" kekeh Lala.
"Siapa?"
"Ya kamu lah sya! Siapa lagi?"
"Aku gak bocah! Aku sudah dewasa! Oke?"
"Bener sudah dewasa? Ck." Lili tersenyum sinis kearahku. "Oh ia La. Kita yang bocah. Kita belum nikah. Sedangkan dia sudah. Wah-wah yang sudah gak perawan lagi."
Aku melempar Lala dan Lili yang tertawa terbahak-bahak dengan gumpalan tisu. Jahara memang mereka ini!
"Eh asal kalian tahu ya! Kami gak pernah ngapa-ngapain. Oke? Jadi stop dengan pikiran konyol kalian."
"Masa? Bagaimana dengan firstkiss? Oh ayolah, gak mungkin kalian tidak pernah melakukannya."
Lalu aku terdiam. Tiba-tiba aku gugup dan wajahku merona merah. Bibirku terasa kelu hanya untuk membalas ejekan mereka dan mereka tertawa lagi
"Kalian nyebelin ah!" kesalku dan akupun memilih keluar dari tenda. Ya ya ya oke mereka benar. Hanya sebuah firstkiss beberapa bulan yang lalu. Itupun saat Raihan datang memenangkan kesedihanku ketika kakek meninggalkan. Setelah itu tidak terjadi apapun lagi. Oke?
Lalu aku terkejut melihat salah satu cewek berlari setelah tanpa diduga dia berada di samping tendaku. Ada apa? Kenapa dia?
Aku hanya menghedikan bahuku tak perduli. Tiba-tiba aku merasa suntuk. Untung saja hari ini adalah hari terakhir berkemah. Sebagian dari siswa banyak yang belum kembali dari tenda karena masih mengikuti permainan Outbond lainnya.
Ah sudahlah, cukup paintball aja. Gak perlu ikut permainan outbound lagi. Kalian tahu kenapa aku memilih Paintball tadi? Alasannya aku ingin menembak si Raihan-Raihan itu. Tapi sungguh disayangkan lepas sasaran mulu.
"Sya!"
"Raisya!"
Lagi-lagi Lala dan Lili keluar dari tenda. Lala mengulurkan ponselnya kearahku.
"Kenapa?"
Lili terlihat panik. "Itu, baca aja. Ya ampun. Ini semua gara-gara kami. Maaf ya Sya. Ya ampun kita harus gimana dong?"
Aku mengabaikan Lala dan Lili sejenak dan kedua mataku terbelalak tak menyangka membaca sebuah postingan yang terlihat seperti akun fake di Instagram.
"Hahahaha gak nyangka ya kalau Raisya sudah gak perawan lagi. Kalau gak percaya, tanya aja sama dia. Aku tadi gak sengaja denger obrolan mereka didalam tenda sewaktu gak sengaja melewatinya."
"Siapa yang buat kayak ginian sih? Aduh gimana dong sya. Ya ampun, maaf ya." lirih Lala dengan panik. "Sekarang kami nyesel sudah candain kamu begitu."
Akupun juga tidak menyangka. Kenapa sih jadi ruwet begini semenjak aku menikah dengan Raihan? Apakah aku harus mengakhirinya agar bisa kembali hidup tenang? Bodohnya lagi aku tidak tahu siapa cewek tadi yang tertangkap basah berada didekat tendaku apalagi hanya melihat kepergian punggungnya.
❣️❣️❣️❣️
Bintang yang begitu cerah di langit malam. Aku mendongakkan wajah ku menatapnya sejenak. Kedua mataku berkaca-kaca. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Sekitaran tenda sudah sepi. Mungkin sebagian dari mereka sudah terlelap.
Suara langkah kaki terdengar. Aku menoleh kearah asal suara dan melihat Kak Faisal mendatangiku sambil membawa dua gelas ditangannya.
"Ini, buatmu."
Aku menatap gelas itu. Ternyata berisi sebuah susu coklat hangat. Asapnya yang mengepul beraroma coklat nikmat membuatku bimbang untuk menerimanya.
"Maaf."
"Apa?"
"Soal malam-malam waktu itu." ucap kak Faisal lagi. "Sewaktu listrik padam yang tiba-tiba aku datang dan mengukung tubuhmu diatas sofa. Kamu ingat?"
Seketika aku terdiam. Membayangkannya saja membuatku jijik. Alhasil aku menatap ke lain. Enggan menerima gelas berisi coklat tadi.
"Pergi saja sana kak."
"Aku tidak mau." kekeuh Faisal. "Aku mau nemenin kamu disini. Kayaknya kamu lagi bertengkar sama Raihan. Apa aku benar?"
"Gak usah sok tahu."
"Itu kenyataan. Kalau kamu gak tahan sama dia, mending akhiri saja Sya. Masih banyak kebahagiaan yang harus kamu raih."
"Dan kebahagiaannya adalah aku."
Lalu aku dan Kak Faisal menoleh ke asal suara. Raihan berdiri dengan raut wajah datarnya.
"Bisa tinggalkan kami?"
Faisal mendengus kesal. Tanpa bisa berbuat apapun akhirnya dia pun pergi dalam diam. Seketika suasana mendadak canggung. Raihan berjalan kearahku dan berdiri di hadapanku.
Aku memilih menatap kelain.
"Masih marah?" tanya Raihan lembut. Ia pun meraih tanganku, meremasnya dengan penuh kehangatan.
Jantungku berdegup kencang. Bayangan wajah Kak Fika membuatku muak dan menarik kembali tanganku.
"Tadi siang ada gosip. Kata Malik dan Fathur, mereka diluar sana anggap kamu gak perawan lagi."
"Terus? Kamu percaya?!"
Bukannya menjawab, Raihan menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. Sejenak. Aku menyederkan pipiku pada dada bidangnya. Kalau boleh jujur sebenarnya aku juga merindukannya.
"Tentu saja aku tidak percaya. Nyai rombeng sepertimu akan menjaga kehormatannya dengan baik."
"Terus? Mau kamu apa?" tanyaku dengan dingin.
"Terima maaf ku. Itu saja."
"Dan kembali memaafkanmu bila kamu mengulangi kesalahan yang sama?"
"Sya-"
Dengan kesal aku mendorong dada bidangnya. "Kamu pikir cemburu itu enak? Kamu pikir sakit hati itu enak?"
"Sya, aku-"
"Apa? Iya iya aku tahu kamu cowok! Kamu cuek. Hidup kamu terlalu mulus. Kamu gak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Jadi rasa cemburu itu tidak akan pernah kamu rasakan. Kamu gak pernah tahu rasanya di abaikan oleh seseorang yang kamu cintai. Kamu-"
"Jadi kamu masih belum bisa move on sepenuhnya sama si Bejo itu?"
Seketika aku terdiam. Aku menggeleng dengan cepat. "Bukan itu! Aku-"
"Baiklah. Apa yang ingin kamu minta dariku agar kamu tidak merasakan semua kesedihan itu?"
"Jauhin aku."
"Apa?"
"Jangan pernah mendekatiku lagi."
Dan suasana kembali hening. Air mata meluruh di pipiku. Ini pertama kalinya hatiku merasakan sakit yang sebenarnya. Aku suka sama Raihan. Rasa suka itu benar-benar berbeda dari yang aku rasakan saat aku menyukai Kak Bejo. Sekarang aku sadar, Bejo hanyalah sekedar angin lalu dan tidak pernah terpikirkan lagi.
Tapi tidak dengan Raihan. Sedikit saja Raihan membuatku cemburu, ntah kenapa aku sebegitu terlukanya sampai akhirnya rasa cemburu ini begitu melelahkan.  Raihan terlihat menghela napas panjang. Ia menundukkan wajahnya.
"Oke."
"Aku akan memenuhi keinginanmu. Tapi beri waktu aku, 1 menit."
"Apa?"
"Satu menit yang dulunya aku anggap tidak berharga sekarang berharga sebelum benar-benar pergi."
Tanpa diduga Raihan memajukan langkahnya dan menarikku kedalam pelukannya. Seketika aku terdiam. Ntah kenapa dadaku begitu sakit dan sesak. Raihan memelukku dengan erat. Tanpa ragu dia mencium puncak kepalaku sampai akhirnya aku terisak dan menangis lagi.
Raihan pun menangkupkan pipiku hingga tatapan kami bertemu dalam diam. Raihan menatapku secara intens begitupun dengan diriku dengan penerangan sinar rembulan yang indah mengenai kami.
Lalu Raihan mencium keningku dengan lembut. Hingga membuat hatiku seperti terkoyak. Perlakuannya, semua ucapannya benar-benar membuat air mataku tak bisa dihentikan.
Aku memejamkan kedua mataku. Meresapi keheningan kami yang sunyi ini. Segala kesedihan benar-benar tidak bisa di elakkan.
"Terima kasih." bisik Raihan lembut. "Jaga diri kamu. Terima kasih atas 1 menitnya. Maafkan atas segala kekuaranganku."
Raihan memundurkan langkahku. Tiba-tiba aku merasa kehilangan. Aku ingin mencegah tapi Raihan sudah berbalik. Meninggalkanku dengan air mata kesedihan ini.
❣️❣️❣️❣️
Harus kuat ya 😥 
Kalau kuat sampai ending. Ku sayang sama kalian ❤️
Ayo kita sedih bersama sampai tamat 😭
With Love
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

Next, Chapter 53. KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar