Chapter 54 : Raisya ( Rahasia Yang Terkuak ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Chapter 54 : Raisya ( Rahasia Yang Terkuak )


"Mbak?"
"Mbak Raisya?"
"Mbak! Mbak Raisya? Halooo."
Aku tersentak ke dunia nyata ketika salah satu karyawan Mama di butik Adila's mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajahku.
"Ah. Em, maaf. Maafkan saya Kak."
"Mbak Raisya kok dari tadi melamun? Lagi mikirin apa? Mbak baik-baik aja kan?"
Aku mengangguk. "Iya. Aku baik-baik aja kak. Maaf ya."
"Ini laporan ibu Adila bulan ini. Beliau tadi hubungin saya. Katanya saya disuruh ajarin mbak Raisya hitung-hitungan laporan. Data lengkapnya saya simpan di komputer."
Aku hanya mengangguk mengerti. Hari ini adalah hari ke tiga setelah libur panjang ujian kenaikan kelas. Dan selama tiga hari ini Raihan tidak menampakan batang hidungnya. Dia itu kemana sih?
Berulang kali aku mengecek ponselku dan hasilnya sama. Tidak ada tanda-tanda Raihan akan menghubungiku.
"Oh iya mbak Raisya. Ini ada barang datang. Stok terbaru edisi Ramadhan. Ada gamis couple untuk pasangan dan gamis set family sekaligus untuk anak-anak. Ini baru datang kemarin. Kata ibu Adila mbak disuruh cek sekaligus fotoin buat share di akun online shop."
Tiba-tiba aku merasa lesu dan tidak bersemangat. Selain karena pekerjaan ini yang begitu memusingkan, ini semua juga disebabkan oleh Raihan. Aaaaaaa dia itu kemana sih?!
"Mbak?"
"Ya?"
"Mbak ngelamun lagi. Mbak keliatan lemas. Mbak mau istirahat dulu?"
"Apakah boleh?"
"Ya boleh lah mbak. Mbak kesini cuma untuk belajar mengelola bisnis ibu supaya mbak ada kegiatan di waktu liburan sekolah kan? Jadi ya woles aja mbak."
Akhirnya aku memilih istrirahat dan menuju ruangan Mama. Disana terdapat kamar khusus tempat tidur yang disediakan sejak dulu bila mama ingin tidur sejenak.
Sesampainya diruangan Mama. Aku segera menuju kamar tidur Mama dan berbaring terlentang diatas tempat tidur. Aku kembali mengecek ponselku. Aku mencoba menghubungi Raihan.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan
Hatiku mencelos seketika. Kenapa rasanya sangat perih? Apakah Raihan semarah itu padaku akibat kejadian kemah beberapa hari yang lalu?
Dengan iseng aku membuka galeriku. Aku melihat sebuah foto Raihan yang aku ambil saat dia sedang mandi di kolam renang salah satu hotel milik Om Fikri.
Awalnya aku nolak. Tapi dia tetap maksa. Katanya kalau lagi mandi kadar ketampanannya meningkat. Aku sempat kesal. Tapi dia tetap keras kepala macam batu agar aku bisa mengikuti kemauannya.
Dan itu benar. Tanpa sadar aku tersenyum menatap wajahnya. Pipiku merona merah karena malu. Dia memang tampan. Senyumnya itu. Aku suka..Lalu aku memeluk ponselku dengan erat. Tapi secepat itu kedua mataku mulai memanas. Rasanya aku ingin menangis teringat kejadian malam itu. Aku sudah kasar telah menyuruhnya pergi. Dan sekarang aku menyesal.
"Raihan.. kamu dimana? Aku kangen."
❣️❣️❣️❣️
"Asalamualaikum." Tok tok tok.
Aku mengetuk pintu rumah Malik setelah kepulanganku dari butik milik Mama. Pintu terbuka beberapa menit kemudian. Seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga Malik kini menatapku dengan senyuman ramahnya.
"Wa'alaikumussalam. Ya mbak?"
"Em maaf mengganggu Bu. Malik ada?"
"Malik ya? Oh dia sedang liburan dek. Keluar kota sekeluarga."
"Liburan? Kalau boleh tahu kemana ya Bu?"
"Ke Bogor. Tempat neneknya. Berangkatnya sama keluarga Lala sih. Katanya mau silahturahmi sesama keluarga. Kan mbak Lala dijodohkan sama mas Malik. Mbak Raisya gak tahu?"
"Saya tahu kok Bu. Em yaudah deh makasih ya. Saya pamit pulang dulu. Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya mbak."
Aku hanya mengangguk dan melenggang pergi memasuki mobilku dengan perasaan campur aduk tidak menentu. Aku harus cari Raihan kemana lagi? Apakah aku harus menghubungi Papi dan Mami? Tapi bagaimana jika Papi dan Mami tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi diantara aku dan Raihan lalu mereka marah padaku?
Ah tidak-tidak!
Lalu aku teringat Fathur. Alhasil aku kerumah Fathur saat ini juga. Aku mengemudikan mobilku dengan cepat. Butuh waktu kurang lebih 20 menit akhirnya mobilku tiba di sebuah rumah minimalis.
Aku mematikan mesin mobilku lalu memasuki rumah Fathur setelah salah satu pak satpam penjaga rumah Fathur bernama Pak Yono membukakan pintu pagarnya.
"Pak, Fathur ada kan?"
Pria paruh baya itu mengangguk. "Ada mbak. Baru saja saya lihat dia di garasi mobil. Datangin aja mbak."
Aku mengangguk dan mengikuti langkah Pak Yono untuk menuju garasi mobil Fathur.
"Mas. Mas Fathur?"
"Ya?" Suara sahutan dari dalam garasi yang tertutup terdengar. Itu suara Fathur.
"Ini ada teman sampean mas."
"Suruh dia masuk aja Pak. Saya lagi benerin alat sepeda nih."
Pak Yono pun akhirnya beralih menatapku. "Tuh mbak. Masuk aja. Kalau gitu saya permisi dulu ya mbak."
Aku hanya mengangguk. "Terima kasih pak."
"Iya mbak sama-sama."
Aku pun segera membuka pintu garasi mobil dan kedua mataku terbelalak seketika.
Aku diam terpaku saat tanpa sengaja melihat motor matik milik Raihan yang hilang beberapa bulan yang lalu didalam garasi milik Fathur.
Tapi tidak dengan Fathur alias si Anu Anu itu yang kini menatapku terkejut. Mungkin dia tidak menyangka bila aku akan datang kemari.
"Fa- Fathur?"
"Em. Raisya.. A-aku bisa jelasin-"
"Kenapa motor Raihan ada disini?! Kenapa? Jadi kamu yang sembunyikan motor Raihan selama ini setelah aku pergi ke perpustakaan beberapa bulan yang lalu bersama kak Bejo?!"
"Raisya-"
"Siapa yang suruh kamu! SIAPA?!"
Air mata mengalir di pipiku. Kenapa? Kenapa jadi begini? Aku marah. Jelas aja aku marah. Semua berawal dari motor Raihan yang hilang sampai-sampai aku menjadi supir pribadi cowok itu yang menyebalkan!"
"Sya-"
"Jadi selama ini aku di bohongi?!" Air mataku hendak tumpah. Aku pun memilih membalikan badanku.
"Sya-"
"Raisya! Tunggu!"
Aku mempercepat langkahku menuju mobilku. Mengabaikan tatapan Pak Yono yang kebingungan melihat kami.
"Raisya!"
"Sya! Tunggu!
"Raihan. Semua ini ide Raihan."
DEG! Aku berhenti saat hendak membuka pintu mobil. Seketika aku terdiam. Aku mencengkram kuat pintu mobil dengan air mata yang mengalir.
"Raihan. Sahabatku itu suka sama kamu sejak lama. Tapi dia gak mau ngaku. Dia sengaja melakukannya agar bisa dekat bersamamu."
Aku kembali menoleh kearah Fathur. Masa bodoh jika saat ini dia melihat wajahku yang sudah basah oleh air mata.
"Dia cuma bingung sya. Dia cuma bingung harus memulainya dari mana. Percayalah. Kamu cinta pertamanya sejak dulu."
❣️❣️❣️❣️
Duaaaaaar!! Kaget? Gimana perasaan kalian? Eh tapi si tampan kemana sih? Wkwkwkw 🤣
Raihan lagi Author sembunyikan di dalam kulkas biar makin cool dia 🤣
Makasih sudah baca. Makasih sudah nunggu slow udpate ya. Lagi sibuk revisi naskah dari editor Hate Or Love. Insya Allah mau terbit September ini.
Sehat selalu buat kalian ya
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

Next, Chapter 55. KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar