Ending : Raihan ( Seindah Cinta Kita ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 22 Januari 2020

Ending : Raihan ( Seindah Cinta Kita )


Hai, bagaimana kabar kalian? Apakah malam kemarin kalian tidur nyenyak setelah penulisku update di malam hari lalu membuat kalian baper terhura?
Siapa disini yang bertanya-tanya kemana aku selama ini? Tapi tunggu dulu. Cuma mau bilang, sebucin itu kan akhirnya kalian merindukanku yang tampan ini?
Ya ya ya, orang tampan emang mudah di kangen. Dulu kalian kesal sama aku. Tapi aku yakin saat ini kalian kesemsem denganku.
Oke, singkat cerita aku akan menjelaskan semuanya pada kalian kenapa aku bisa di negara yang jauh ini. Sejauh saat jarak memisahkan  aku dan si nyai rombeng itu.
Kesedihan begitu terasa ketika Raisya menyuruhku pergi. Ya aku tahu. Itu adalah hal yang menyedihkan dalam hidupku. Lebih sedih saat aku kalah dalam bermain game.
Aku menghibur diri. Aku mulai berpikir saat itu hal apa yang harus aku lakukan agar Raisya mencariku tanpa harus aku mendatanginya terlebih dahulu.
Lalu aku teringat omongan Papa beberapa bulan yang lalu setelah aku menikah. Papa akan mewariskan semua aset perusahaannya padaku. Di usiaku yang menginjak 18 tahun ini aku di tuntut untuk mulai mempelajari dunia bisnis perusahaan secara perlahan.
Sampai akhirnya, aku menghubungi Kakekku karena aku ingin ke Amerika. Lebih tepatnya di New York. Kakekku yang suka pamer ketampanannya itu bernama Kakek Azka. Seorang kakek yang benar-benar menyayangiku sebagai cucunya yang tampan ini. Kakek pun akhirnya menyutujui permintaanku.
Beberapa pria paruh baya suruhan kakek yang kebetulan ada di Indonesia itu akhirnya secepat itu menjemputku setelah aku selesai kegiatan outbound di tempat.
Mereka menjemputku dengan lancar sampai keberangkatan menuju bandara hingga didalam pesawat. Aku Meninggalkan guru dan teman-teman dan tidak ikut dalam satu rombongan bis sekolah. Mungkin saat itu Raisya mulai mencari-cari keberadaanku yang tampan ini.
Sebuah liburan yang bermanfaat dan berfaedah untuk di lakukan. Beberapa penjelasan dan bimbingan dari tangan kanan kakek membuatku banyak belajar tentang bisnis perusahaan properti dan lainnya secara turun temurun.
Tidak cuma itu, akupun sempat melihat-lihat lokasi area perusahaan dan suasana gedung yang bertingkat tinggi di ibukota New York ini. Tapi di kembalikan lagi seperti sebelumnya,
Sesibuk apapun aku. Seberusaha apapun aku dalam belajar dunia bisnis perusahaan. Tetap saja. Hati ini terasa hampa. Sosok Raisya yang begitu menyebalkan sekaligus aku cinta itu benar-benar membuatku kepikiran.
Berbagai macam menu masakan yang di buat oleh salah satu maid di mansion kakek dengan rasa yang lezat tetap tidak bisa mengalahkan rasa masakan Raisya yang aku rindukan.
Ah, mungkin jika Raisya membuat kopi menggunakan air garam rasanya akan tetap manis. Kalau sudah cinta memang susah. Yang pahit terlihat manis. Yang bikin saja sudah cantik. Apalagi yang minum? Tentu saja tampan. Aku benar kan?
"Rai."
"Hm."
"Kenapa kamu bisa sampai sakit?"
Aku memejamkan mataku sejak tadi. Jarum infus di punggung tanganku sudah terlepas sejak tadi pagi. Besok pagi aku sudah boleh pulang. Dan sekarang aku sedang berbaring terlentang di sofa empuk berbantalan paha Raisya.
"Gak ada kamu disampingku. Makanya aku sakit."
"Rai, aku serius."
Aku tersenyum simpul. Masih dengan memejamkan kedua mataku. Apalagi elusan lembut tangan Raisya dikepalaku benar-benar membuatku nyaman.
"Aku serius Sya."
"Rai-"
"Kalau gak ada aku disampingmu, apakah kamu sakit? Argh!"
"Raihaaannnnnnnn.. aku serius nih."
Aku terkekeh geli. Raisya mencubit pipiku dengan gemas. Aku membuka kedua mataku dan melihat pipinya yang bersemu merah. Cantik.
"Iya aku serius."
"Terserah lah. Nyebelin!"
"Tapi sayang kan?"
"Gak!"
"Lalu?"
"Tapi cinta."
Aku meraih salah satu tangannya lalu menggenggamnya yang kini berada di atas perutku.
"Sya?"
"Hm?"
"Aku sakit karena kelelahan. Pria yang menjadi tangan kanan kakek iti banyak membawaku dalam kegiatan urusan perusahaan. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha sukses dan lainnya."
"Terus?"
"Makanku juga tidak teratur selama disini."
"Kenapa? Kamu nyakitin diri sendiri Rai."
"Bukan kamu yang masak. Aku jadi malas makan." ucapku lagi. "Aku rindu masakan kamu. "
Lalu Raisya terkekeh geli bersamaan denganku yang hanya tersenyum.
"Rai."
"Hm?"
"Em. Aku.. aku ada kerumah Fathur-"
"Kamu sudah tahu semuanya? Tentang motorku itu?" potongku cepat. Seketika dia terdiam.
"Maksudmu?"
Akhirnya aku memilih bangun lalu duduk dan beralih menghadapnya.
"Hanya cara itu yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tahu bahwa sebenarnya aku suka sama kamu." ucapku serius. Menatap Raisya dengan tatapan saling intens
"Aku tahu hal ini akan terjadi. Aku sengaja tidak menghubungimu agar kamu mencariku dimana-mana. Termasuk di rumah Fathur. Maafin aku."
"Kenapa harus minta maaf? Kan aku yang sudah usir kamu?"
"Karena kamu pasti akan kecewa denganku. Maaf kalau pada akhirnya saat kejadian itu Papa dan Mama malah memarahimu. Aku-"
Dan aku tersentak begitu Raisya memelukku dengan erat.
"Sya? Aku-"
"Tidak ada yang perlu di maafkan Rai. Aku sudah mengetahui semuanya. Terima kasih sudah pernah mencintaiku sejak dulu."
Aku membalas pelukannya dengan erat. "Alhamdulillah. Sekarang aku sudah lega kamu mengetahuinya."
"Ck, dasar. Pakai rencana ribet banget!"
Aku terkekeh geli. "Supaya aku beda dari yang lain."
"Kupikir dulu kamu gak normal."
"Tentu saja aku normal. Mau aku buktikan sekarang? Kita sudah menikah. Tunggu apa lagi?" Aku memasang raut wajah smirk. Mencoba menggodai dia yang terlihat salah tingkah.
Dengan cepat Raisya melepas pelukannya padaku. Lalu ia menatapku tajam sambil memeluk tubuhnya seolah-olah sedang melindungi dirinya sendiri. Seketika aku terbahak.
"Rai?"
"Ya?"
"Ayo kita lakukan sekarang."
"Ha? Ma-maksud mu?"
Seketika aku gugup. Apakah dia yakin dengan semuanya? Astaga. Ini terlalu mendadak. Padahal tadi aku hanya bercanda. Lalu Raisya pun berdiri dari duduknya dan meraih tasnya. Aku mengerutkan dahi. Dia cari apa?
Lalu akhirnya Raisya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Sebuah cincin pernikahan kami yang pernah aku lepas.
"Cincin ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi."
"Jadi maksud kamu?"
"Kita pasang sekarang."
Akhirnya aku bernapas lega. Hampir saja.
"Kenapa?"
"Ah? Oh tidak-tidak."
"Kok wajah kamu memerah gitu sih? Memangnya kamu tadi mikir apa?"
Aku mengibas-ngibaskan kerah pakaian pasien yang masih aku kenakan. Ntahlah, Tiba-tiba aku merasa gugup dan pipiku memanas. Lalu aku berdeham, menyembunyikan pikiran aneh-aneh tadi.
"Tidak ada." Tanpa banyak bicara lagi, aku meraih kotak merah itu. Lalu kami saling menyematkan cincin pernikahan kami.
Raisya tersenyum. Aku menatap wajahnya yang begitu bahagia dengan pria setampan diriku ini.
"Rai?"
"Hm."
"Ada yang harus kita lakukan."
"Apa?"
"Ayo kita umumkan ke sosial media kalau kita sudah bersama."
"Kenapa tiba-tiba kamu berpikir seperti itu?"
Raisya pun menggenggam tanganku dengan lembut. "Supaya mereka tahu. Bahwa kita saling memiliki. "
Tanpa diduga Raisya meraih ponselnya. Lalu dia memfoto tangan kami untuk di unggah ke sosial media.
"Bukan hanya sekedar sesaat. Tapi selamanya. Insya Allah. Muhammad Raihan Azka, My Husband handsome 💏💍"
Aku melirik postingan Raisya di ponselnya. Mungkin saat ini semua fans-fansku yang ada diluar sana pada heboh.
Aku pun berdiri dan meraih pergelangan tangannya. "Ayo."
"Kita mau kemana?"
"Kamu akan suka."
"Tapi-"
Aku mengajak Raisya keluar ruang rawat inap VIP dan menuju pintu lift. 
"Kita kemana sih Rai?"
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Kita harus merayakan kebahagiaan kita."
"Ha? Iya tapi, ini kamu.. Rai, nanti kita bisa di marahin dokter kamu."
"Tidak akan. Ayo!"
Raisya sudah tidak berbicara lagi begitu kami memasuki lift dan kotak besi ini membawa kami ke lantai paling teratas gedung rumah sakit ini. Sesampainya disana, kami menaiki sebuah tangga lagi lalu menuju sebuah pintu yang tidak terkunci.
Aku membukanya, hawa semilir angin sore menjelang senja menerpa wajahku. Seketika Raisya tertegun lalu melalui tubuhku begitu saja.
"Masya Allah.. Rai.. ini.. ini indah sekali."
Aku menatap punggung Raisya. Dia terlihat takjub. Lalu akupun memeluk tubuhnya dari belakang. Aku menumpu daguku pada bahunya.
"Iya. Ini indah. Seindah cinta kita."
Sesaat. Kami sama-sama terdiam. Dentingan notifikasi dari ponsel Raisya berbunyi sejak tadi. Kami tahu semua itu pasti berasal dari para netizen yang heboh soal hubungan kami.
Tapi aku tidak peduli. Karena aku dan Raisya berhak bahagia saat ini. Kebahagiaan adalah hak kami dan itu semua adalah nikmat Allah yang tidak bisa tergantikan oleh hal apapun. 
Raisya membuka ponselnya sejenak. Aku ikut membaca komentar para Fansku dan teman-temannya. Sebagian dari mereka mengucapkan kata selamat. Lalu ada yang bilang kalau liburan kali ini di isi dengan kegiatan kami yang menikah muda bahkan ada yang membully mengatakan dan memfitnah bahwa Raisya hamil dan lain-lain. Tak lupa ucapan dari Lala, Lili, Fathur, Nua bahkan komentar positif lainnya beserta doa-doa terbaik buat kami dari para guru yang baru saja mengetahuinya.
Kami hanya terkekeh geli. Lalu Raisya mengantongi kembali ponselnya. Dia menggenggam punggung tanganku yang melingkar di perutnya.
"Rai?"
"Hm."
"Terima kasih. Telah jatuh cinta padaku."
Raisya pun membalikan badannya menghadapku. Lalu dia mengalungkan kedua lengannya di leherku. Aku memeluk pinggulnya dengan erat.
"Terima kasih telah membalas cintaku juga." bisikku pelan hingga kami saling menempelkan dahi.
"Aku mencintaimu Raihan.."
Lalu aku terdiam. Jantungku berdegup dengan kencang. Sesederhana itu hanya dua kata yang mampu membuatku bahagia.
Aku tersenyum smirk. "Apa? Aku tidak dengar." ucapku lagi, yang tiba-tiba pengen membuatnya marah. Karena kalau sudah marah dia cantik.
"Aku mencintaimu."
"Ha?"
"Aku mencintaimu."
"Apa?"
"Ih! Rai! Aku serius."
"Kalau begitu buktikan."
Tanpa diduga Raisya melepaskan diri dari rengkuhanku, lalu melangkah menjauh beberapa meter dariku.
"Aku akan mengatakan pada dunia sekarang." ucap Raisya lagi.
"Ha? Maksudmu."
"RAIHAN!!!!!!! AKU MENCINTAIMU!!!"
Aku terbelalak kaget dan terkejut. Dia berteriak sekencang itu. Suaranya yang cempreng terdengar indah di telinga dengan kata-kata mencintaiku.
Wajar saja. Dia bangga punya suami muda yang bucin dan tampan seperti ku.
"Sudah dengar?"
"Ha?"
"Sudah dengar kan?"
"Belum."
"Oke. RAIHANNNNNNNNN!!!!! AKU MENCIN- AAAARGH TURUNKAN AKU!!!!"
Raisya terpekik pelan ketika dengan cepat aku mengangkat tubuhnya lalu mengangkat pinggulnya untuk berputar bersama hembusan angin di langit senja ini. Raisya terbelakak kaget lalu kami tertawa bersama.
Rasa bersyukur inilah yang membuatku bahagia. Sangat. Rasanya aku ingin menangis. Raisya cinta pertama dan terakhirku. Setiap detik semenjak menikah sama dia, detik-detik itu begitu berharga dengannya.
Aku memilih diam selama ini dan bersikap cuek dengannya karena semata-mata hanya menutupi perasaanku yang sebenarnya.
Tapi kalau boleh jujur, tentu saja saat mendapati Raisya berpaling dari Bejo ke diriku aku bahagia. Seegois apapun kami, kami akan berusaha menemukan cara untuk bisa saling menerima dan memahami satu sama lain.
Tidak ada pasangan yang sempurna. Kesempurnaan hanya milih Allah. Tapi pasangan yang saling menerima kekuarangan satu sama lain lah yang akan menjadi pelengkap diantara kami.
Terima kasih telah bucin denganku sejak awal. Dan maaf jika selama ini aku tidak mengakui yang sebenarnya sama kalian kalau aku suka sama Raisya. Aku hanya gengsi itu saja. Hahaha.
Orang tampan mah bebas! Dan tentunya, aku juga sayang sama kalian. Kalian-kalian diluar sana yang sudah menyempatkan waktu buat membaca kisahku bersama Raisya.
Semoga kalian menemukan kebahagiaan dengan pasangan kalian di luar sana. Kalau perlu dengan pria setampan aku.
TAMAT
🖤🖤🖤🖤
Masya Allah Alhamdulillah
😭😭😭
Akhirnya Raihan dan Raisya tamat. 
Terima kasih buat kalian yang sudah baca kisah ini dari awal hingga akhir.
Terima kasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca  cerita ini selama di udpate.
Maaf jika selama ini Author ada salah sama kalian. Atau alurnya yang gak kalian suka. Maaf ya. Karena Author punya hak membuat karya dan alur fiksi seperti ini 🙏
Terima kasih atas dukungan kalian. Komentar. Vote dan antusias kalian ❤️
Doakan semoga Raihan dan Raisya bisa terbit suatu saat.
Jangan hapus cerita ini dari list kalian. Akan ada info lebih lanjut atau  penambahan Extra Part di Versi Novel bila cerita ini naik cetak.
Bagaimana perasaan kalian?
Seneng?
Baper?
Terharu?
Pesan buat author apa?
Komentar kalian tentang cerita ini?
Raihan Dan Raisya || END
Teenfiction - 04. April 2019 - 20 Juli 2019
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram 
lia_rezaa_vahlefii

SPOILER EXTRA PART, KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar