Chapter 34 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 14 Februari 2020

Chapter 34 : Better With You


Hari semakin berganti, waktu terus berlalu. Semua tidak ada perubahan dan tanda-tanda Angel akan sadar. Air mata rasanya sudah mengering di pelupuk kedua mata Anna.
Tiada henti-hentinya Anna terus saja memanjatkan doa pada Tuhan untuk kesadaran putrinya yang masih memejamkan kedua matanya dengan rapat.
Anna memilih menginap dan menemani Angel ketimbang pulang kerumah yang hanya menyisakan kesedihan dan kecemasan pada Angel yang belum juga sadar dan tentunya Farrel juga setia menemani sang istri. Anna mengusap lembut pipi Angel yang sedikit mengembung karena cairan impus yang sudah memasuki tubuhnya berhari-hari..
"Apapun yang terjadi, mom akan selalu ada disampingmu sayang. Cepatlah sadar agar bisa kembali melihat dunia." lirih Anna mengecup kening sang putri hingga air matanya kembali menetes di pipi Angel.
Anna menggenggam lembut tangan Angel ketika menjauh setelah memberi kecupannya didahi Angel namun sebuah keajaiban terjadi.. tangan Angel sedikit bergerak kecil dalam genggamannya dan membuat kedua matanya terbuka secara perlahan..
"A-angel..." panggil Anna dengan wajahnya yang terkejut sekaligus bersyukur.
"Farrel... Sayang.. Farrel!!!!" panggil Anna dengan nyaring saat suaminya sedang tertidur di sofa.
Dengan cepat Farrel beranjak dari sofa dan mendatangi sang istri ketika Angel sudah membuka kedua matanya dengan sayu. "Panggil dokter sekarang Farrel. Angel sudah-"
Dengan lemas Angel menggelengkan wajahnya dan mencegah tangan momynya "Sayang, dokter harus memeriksamu sekarang."
Bukannya menjawab, Angel hanya melirih dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Mom...."
"Angel.." dengan perlahan, Anna duduk di brankar samping Angel dan mengusap lembut pipi putrinya penuh kasih sayang. "Kamu harus di periksa sayang.."
Sekali lagi, Angel menggeleng lemah dengan kedua matanya yang akhirnya mengeluarkan buliran bening. "Fay mom, Fay.. hikzzz."
Melihat hal itu, Farrel membuang pandangannya kesamping karena tak sanggup melihat keadaan Angel yang begitu memilukan namun tak ingin putrinya itu bertemu dengan sosok Fay.
"Fay... Mom, A-aku.. Fay mom.." racau Angel dengan tangisannya yang mulai terdengar. Sudah hampir seminggu Angel melewati masa kritisnya, dan sekali ia sadar hanya Fay yang ia inginkan.
Dengan perlahan, Anna memposisikan tubuh Angel duduk bersandar di kepala brankar dan Anna sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada Angel.
"Mom bersyukur akhirnya kamu sadar dari masa kritismu Angel. Betapa mom dan Daddy sangat mengkhwatirkanmu."
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri mom?" tanya Angel dengan lirih.
"5 hari sayang. Sekarang Daddy akan memanggilkanmu dokter."
Angel kembali menolak dan niatnya ingin merengek dengan menggerakkan kedua kakinya, namun sesuatu membuatnya tak bisa melakukannya. Angel diam terpaku oleh raut wajahnya yang terkejut.
"M-mom, ke-kenapa ka-kaki ku tidak bisa bergerak? Kenapa ini sangat susah sekali?" tanya Angel yang mulai terisak.
Farrel mendekati putrinya. "Angel, kamu harus-"
"Ada apa ini!!! Kenapa? Ada apa dengan kakiku? Mom.. dad!! Jelaskan semuanya padaku???!!!!!" 
Angel mulai panik, ia mulai meronta dan berusaha menggerakkan kedua kakinya namun tidak bisa. Semua terasa mati dan kaku.
"Sayang, pliss tenangkan dirimu." Anna mencoba merengkuh Angel namun putrinya itu menolaknya dan membuat Farrel berlari keluar memanggil dokter Ava
Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya dokter Ava tiba diruangan Angel dan segera memeriksanya. "Angel, tenanglah.. aku akan memeriksamu." ucap Ava berusaha menenangkan Angel yang terlihat menangis menutupi wajahnya oleh kedua tangannya.
Sedangkan Farrel dan Anna memberikan jarak untuk Ava yang akan memeriksa kondisi Angel. Butuh waktu beberapa menit, semua tekanan darah, denyut nadi dan detak jantung Angel normal. Hanya saja, Ava bingung bagaimana harus menjelaskan kondisi medis Angel terutama pada kedua kakinya.
"Ava. Apa yang terjadi dengan diriku?" lirih Angel karena dirinya merasa bingung oleh kondisi kakinya yang tiba-tiba tidak bisa bergerak.
Ava menghela napas pelan seraya meremas pundak Angel dengan lembut. "Angel, kau harus bersabar oleh kondisimu-"
"Apa yang terjadi Ava!!! Apa yang terjadi? Kenapa dengan kedua kakiku?" Angel semakin panik dan tidak sabaran oleh situasi yang sedang terjadi dirinya.
"Kedua kakimu... " rasanya Ava tidak sanggup untuk mengatakannya namun sebagian dokter yang menangani Angel dirinya harus siap mengatakannya. "Kamu mengalami cedera tulang belakang dan hal itu membuat saraf motorik mu terganggu sehingga kedua kakiku lumpuh Angel."
Bagaikan disambar petir dan tertusuk ribuan pisau, saat itu juga dunia serasa terhenti. Angel berharap saat ini hanyalah mimpi buruk atau sekedar ilusi.
"A-pa? Lu-lumpuh?" Angel tertawa sumbang dan membuat Farrel dan Anna menatapnya sedih. "Jangan bercanda Ava, aku tau kamu suka bercanda sejak dulu ketika menghabiskan waktu denganku di London."
Ava menggeleng pelan lalu menggenggam salah satu tangan Angel yang mendadak dingin oleh kegugupan yang terjadi di dalam diri Angel. "Aku memang suka bercanda tapi ketahuilah Angel, aku temanmu sekaligus dokter yang menanganimu sejak awal."
Angel menatap Ava sejenak. Mencoba menyelam ke dalam iris biru Ava apakah ada kebohongan disana atau tidak. Namun, yang ada hanyalah sebuah keseriusan dan pada akhirnya, membuat Angel terdiam membisu tanpa banyak berkomentar. Angel memilih merebahkan kembali tubuhnya, dan memejamkan kedua matanya oleh selimut pasien yang menutupi wajahnya.
"Angel..." lirih Ava.
"Terima kasih atas bantuanmu Ava. Biarkan aku sendiri." ucap Angel yang berusaha menetralkan suaranya meskipun diirinya kembali menangis mendapati dirinya menjadi wanita cacat dan lumpuh.
"Angel, aku minta maaf.. aku-"
"Pergilah Ava."
Ava menundukan wajahnya. "Baiklah, jika kamu membutuhkan bantuanku jangan pernah sungkan Angel."
Angel hanya diam membisu hingga akhirnya Ava memutuskan pergi dari ruang rawat inap Angel yang menyisakan kedua orang Angel didalamnya. "Tolong biarkan aku sendiri." ucap Angel kemudian sebelum kedua orang tuanya mendekatinya.
Farrel dan Anna hanya mampu terdiam dan tidak bisa memaksakan apapun pada Angel saat ini hingga membuat Anna menutup mulutnya dengan salah satu tangannya menahan suara tangis ketika mendapati putrinya yang benar-benar terpukul oleh kondisi yang dideritanya. Farrel merengkuh tubuh istrinya dan membawanya keluar ruangan. Membiarkan Angel sejenak untuk menyendiri.
πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž
Sebulan kemudian.
Sudah 30 hari Angel berada dirumah. Kepulangannya dari rumah sakit benar-benar membuatnya terpukul dan sekarang, dirinya merasa tidak sempurna menjadi wanita lumpuh yang hanya menghabiskan waktunya duduk dikursi roda tanpa melakukan apapun seperti sebelumnya. Jam menunjukan pukul 22.00 malam. Angel duduk dikursi rodanya sambil menatap cahaya rembulan yang terpapar dijendela kamarnya.
Sebuah remasan lembut dipundaknya membuatnya menoleh ketika mendapati sang Daddy menatapnya senyum. "Sayang, kamu tidak tidur?" tanya Farrel dan memposisikan dirinya bersimpuh didepan putrinya.
"Tidak Dad. Aku belum mengantuk." ntah mengapa melihat kedua orang tuanya saat ini Angel merasakan kebencian namun berusaha untuk menepisnya karena ia mengingat sangat jelas jika Fay menyuruhnya untuk tidak melakukan hal itu apalagi kepada kedua orang tua kandungnya sendiri.
"Kamu ingin sesuatu?" tanya Farrel lagi.
"Aku hanya ingin Fay karena sosoknya membuatku tersenyum." lirih Angel dalam hati namun tidak dilontarkan karena percuma saja. Farrel tetap kekeuh tidak merestuinya dengan Fay.
Melihat putrinya terdiam Farrel memilih mengecup dahi Angel seraya berdiri. "Baiklah.. ini sudah malam. Waktunya kamu tidur Angel."
Sekali lagi, Angel menolak. "Aku belum mengantuk, Daddy tidur saja duluan. Aku akan meminta aunty Lily untuk membantuku ke atas tempat tidur jika aku mengantuk."
"Baiklah, aku akan menyuruh Aunty Lily kemari untuk menemanimu sejenak." Angel hanya mengangguk dan setelah sepeninggalan Farrel. Ia kembali terdiam dan mengeluarkan air matanya lagi. 
🌼🌼🌼🌼
Pagi menjelang, semalaman Angel tidak bisa nyenyak dalam tidurnya karena memikirkan sosok Fay yang tidak bisa dilupakannya. Angel menyembunyikan sesuatu yang penting selama ini. Ia pun memutar kursi rodanya dan menuju laci meja yang berada disampingnya tidurnya.
Dengan perlahan, Angel meraih sebuah kotak berwarna pink yang sengaja ia letakkan paling dalam diantara tumpukan buku kecil dan kertas-kertas tak penting lainnya lalu meraihnya.
Angel memegang kotak pink tersebut yang berukuran sedang lalu memangku dipahanya kemudian membuka penutupnya. Kedua mata Angel terlihat sangat sendu menatap sebuah botol kecil berbahan mika yang isinya bebebrapa tablet dan sudah diresepkan oleh Ava sebagai dokter pribadinya.
Angel mengkonsumsi obat tersebut selama setahun ini tanpa sepengathuan siapapun. Bahkan sahabatnya sendiri, Aifa.
Sebuah obat penunjang untuk dirinya bertahan hidup hingga sekarang. Angel meraihnya dan menggenggamnya dengan erat serta kembali menangis dalam kesunyian kamarnya dan kembali meletakan obat tersebut untuk mengusap wajahnya dengan perasaan sakit lalu memegang kepalanya yang terasa pusing dan sesekali mengusapnya.
Dan lagi, Angel kembali terisak oleh kedua matanya yang berkaca-kaca ketika ia membuka telapak tangannya dan mendapati helai rambutnya yang mulai rontok seiring berjalannya waktu dengan tatapan sendunya.
"Sudah satu tahun aku bertahan oleh penyakit yang menggerogotiku. Dan sekarang, kenyataan yang aku dapati diriku cacat. Tidak ada yang aku inginkan sekarang ini terkecuali berpindah agama dan bersama Fay disisa hidupku."
πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž
Terima kasih sudah baca. 

Dan terima kasih sudah baca Stay With Me sebelum ke Sequelnya ini.
+ Follow akun Wattpad ini untuk mengetahui notip-notip update pembaharuan cerita dari author
Dan kalian bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii.
Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤️
Next, Chapter 35 Better With You. Klik link nya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar