Chapter 35 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 14 Februari 2020

Chapter 35 : Better With You




Aifa sedang berada didalam kursi bagian belakang mobil ketika bodyguardnya kali ini mengantarkan dirinya menuju rumah Angel. Setiap hari libur, Aifa menyempatkan diri mendatangi sahabatnya itu dirumah Angel.
Jalanan terlihat lenggang karena Lauren, si wanita pengawal pribadi Aifa cukup cerdik memilih jalan pintas agar tidak terjebak kemacetan kota metropolitan dihari libur.
Sejak tadi, Aifa tak bisa menahan senyum karena tak sabar bertemu dengan Angel. Dulu sebelum Angel terkena musibah, setiap hari Aifa dan Angel pergi bersama saat jam istrirahat makan siang ketika bekerja di F'A Group dan sekarang setiap akhir pekan saja yang bisa dilakukan Aifa untuk bertemu dengan Angel.
Mobil tiba di pekarangan rumah Angel setelah salah satu penjaga rumah mewah Angel membukakan pintu pagar besi yang menjulang tinggi untuk mobil yang dikendarai Dom dan sudah dihapal oleh penjaga kediaman Wicaksono.
Aifa keluar dari mobilnya dan meninggalkan Laurent seperti biasanya yang memilih menunggu di balik kemudinya. Saat Aifa memasuki rumah Angel, kedatangannya disambut oleh Anna yang tengah bersantai diruang tamu.
"Hai Tante Anna, bagaimana kabarnya hari ini?" sapa Aifa sambil memeluk tubuh Aunty Anna.
"Tante baik-baik saja. Angel ada dikamarnya.." ucap Anna seraya membalas pelukan Aifa lalu kembali melepasnya. "Em, Tante.. boleh aku meminta izin hari ini?"
Anna mengerutkan dahinya bertanya-tanya. "Kemana? Membawa Angel jalan-jalan?"
"Ugh, Tante tahu banget sih. Iya dan sudah lama sekali Angel tidak menghirup udara segarkan? Ayolah Tante plishh."
Seperti biasa, Aifa memasang mimik wajahnya yang merengek dan jangan lupakan cara dirinya sekarang ini yang bergelayut manja dilengan Anna.
Setelah berpikir-pikir ulang, akhirnya Anna mengizinkannya kemudian tanpa banyak bicara lagi Aifa segera berlari senang menuju kamar Angel ketika dilihatnya sahabatnya itu sedang duduk dikursi roda sambil memegang sebuah novel namun pandangannya mengarah kedepan dengan tatapan sendu.
Aifa merasakan nyeri yang menghantam dadanya melihat kondisi Angel yang jauh dari kata ceria seperti sebelumnya, ia pun menutup pintu kamar Angel tanpa menimbulkan suara lalu memeluk leher Angel dari belakang.
"Angel...." lirih Aifa dengan suaranya yang sedikit manja.
Angel tersentak saat Aifa memeluknya namun hanya sebentar dan kembali tersenyum tipis. "Aifa? Sejak kapan kamu kemari?"
"Sejak kamu banyak melamun dari tadi. Apa yang kamu pikirkan Angel?"
Aifa segera memutar tubuhnya dan bersimpuh didepan Angel seraya menggenggam tangannya. Dari sini, Aifa bisa melihat dengan jelas jika kedua mata Angel terlihat sembab dan lingkaran hitam dibawah matanya menandakan dirinya jarang tidur nyenyak jika dimalam hari. Wajah Angel memucat dan sedikit tirus, tidak ada polesan lipstik cerah dibibir tipisnya yang sekarang terlihat kering.
Aifa tersenyum. "Kita keluar rumah yuk! Aku ingin membawamu berjalan-jalan dan menikmati udara segar." Sebuah tawaran yang menarik dan sudah lama sekali Angel tidak keluar rumah. Namun, karena keterbatasan fisik yang dimilikinya membuatnya hilang percaya diri seperti sebelumnya dan disisilain ia tidak ingin Fay mengetahui keadaan dan kondisinya saat ini.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Angel menggeleng lemah. "Tidak Aifa, aku hanya ingin dirumah saja. Terima kasih sudah menawariku."
"Kenapa? Kamu terlihat butuh refreshing Angel. Ayolah, hanya sebentar-"
Aifa menunda omongannya ketika kedua matanya menangkap setetes darah yang keluar dari salah satu hidung Angel. Dengan cepat Aifa berdiri dan segera meraih tisu untuk menempelkannya di hidung Angel.
Angel terkejut seketika namun menyadari satu hal jika dirinya sedang mimisan. Akhir-akhir ini Angel sering mimisan tanpa diketahui oleh siapapun.
"Angel.. kamu, kenapa kamu mimisan?" tanya Aifa dengan raut wajah cemasnya.
Angel bingung harus berkata apa namun dirinya tetap ingin merahasiakan penyakit yang dideritanya. Karena ia tahu, Aifa adalah sosok yang mudah menangis dan begitu menyayangi dirinya.
"A-aku hanya kelelahan saja. Semua akan baik-baik saja." ucap Angel yang kini membersihkan sisa darah dari hidungnya menggunakan tisu.
"Bagaimana kita menonton drama Romance lagi? Kebetulan aku baru saja mengoleksi seri terbaru sebelum kamu kemari." Angel berusaha mengalihkan dan tersenyum sumringah pada Aifa.
Aifa sudah mengenal Angel sejak lama jauh dari usia mereka sebelum sekolah yang tentunya Aifa sendiri tahu bagaimana ketika Angel berkata jujur atau tidak. Dan sekarang ini, yang Aifa dapatkan ada sesuatu yang disembunyikan dari sahabatnya itu.
"Em, baiklah.. tapi, aku ingin pulang dulu membawa pakaian tidur beserta perlengkapan ritual kita sebelum tidur. Kebetulan aku baru saja memesan beberapa masker wajah serta perawatan bobo cantik kita malam ini. Hanya sebentar Angel, dan aku janji akan kembali dalam dua jam lagi." Angel berpikir sejenak dan akhirnya mengiyakan.
Tanpa banyak bicara lagi, Aifa keluar dari kamar dan setelah kepergian sahabatnya itu Angel kembali mengeluarkan air mata di pipinya seraya bergumam.
"Apakah kita bisa seperti ini selamanya Aifa? Aku pun tidak tahu. Hanya Tuhan yang tahu sampai kapan aku bertahan..."
💞💞💞💞
Aifa mendadak cemas ketika dirinya berada didalam mobil setelah melihat kondisi Angel beberapa menit yang lalu. Rencana hari ini benar-benar diluar dugaan namun tak pernah terpikirkan olehnya sedikitpun.
Dengan bermodal menstalk akun sosial media Angel yang pernah meng-upload foto dirinya bersama rekan kuliahnya di London beberapa tahun silam, membuat Aifa tanpa banyak pikir lagi menuju rumah sakit untuk menanyakan sesuatu hal yang penting.
Sebelumnya Aifa pernah melihat teman Angel tersebut saat dirinya menjenguk sahabatnya itu sebulan yang lalu setelah inisiden kecelakaan yang menimpa Angel
Mobil yang dikemudikan Laurent tiba di tujuan sesuai waktu yang diharapkan Aifa, Aifa pun keluar dari mobilnya dan berlari menuju bagian UGD dan menanyakan sosok teman Angel melalui sebuah foto yang ia tunjukan ketika melihat seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan medis
"Em, maaf suster.. apakah anda mengenal wajah yang ada difoto ini?"
Suster tersebut memperhatikan lamat-lamat pada layar ponsel Aifa. "Yang ini?" tunjuk sang suster pada wajah Angel. "Maaf saya tidak mengenalnya tapi wanita yang ada disebelahnya saya sangat mengenalnya."
"Maksud saya sejak tadi memang dia sus. Siapa namanya? Apakah sekarang dia ada?" tanya Aifa penuh harap
"Dia dokter bedah disini. Namanya dokter Ava, kebetulan saya baru saja bertemu beliau dan saya melihat dokter Ava sedang menuju kantin rumah sakit yang berada disana." tunjuk suster tersebut yang diikuti arah pandang Aifa.
Suster pun memberikan arahan dan instruksi akses menuju kantin rumah sakit yang mudah dimengerti Aifa lalu wanita itupun segera berpamitan pada suster tersebut dengan kembali merogoh ponselnya.
"Halo, Franklin. Aku butuh bantuanmu, tolong perintahkan Mbak Nana mempersiapkan kebutuhan tidurku dan setelahnya kau bawa kerumah sakit tempat Angel pernah dirawat. Tunggu diparkiran, dan aku akan menghubungimu kembali."
"Iya."
singkat padat dan jelas tanpa pertanyaan lebih lanjut dari Franklin mengapa kakaknya itu repot-repot menyuruhnya. Bahkan, Aifa pun sempat menghubungi Laurent untuk memulangkannya dan menggantikan sosok Franklin yang akan menjemputnya kembali.
Aifa melangkahkan kakinya dengan perasaan berkecamuk didadanya dan perasaan itu semakin kuat saat dirinya melihat dokter Ava sedang seorang diri menikmati Coffenya.
Dengan rasa canggung Aifa pun mendekati Ava seraya bergumam. "Em, maaf.. anda dokter Ava?"
Ava mendongakkan wajahnya dan mendapati sosok yang sangat familiar baginya. "Benar. Maaf siapa ya? Apakah anda ada perlu dengan saya?"
Aifa mengangguk cepat sambil memainkan ujung bajunya dan terlihat gelisah, mendapati gesture tubuh Aifa yang grogi.. Ava tersenyum seraya berkata.
"Duduklah.. kita bisa mengobrol dengan santai." Aifa hanya menurut dan duduk dengan kikuk dihadapan Ava dan sepertinya, Ava memang sangat baik dan ramah bahkan dirinya pun memesankan minuman jus untuk Aifa.
Setelah pesanan Aifa tiba, dengan canggung Aifa meminumnya sedikit dan dirasa sudah yakin, Aifa kembali berkata. "Maaf jika kedatangan saya membuat anda bertanya-tanya dokter. Saya Aifa, sahabat Angel. Ada hal penting yang ingin saya tanyakan."
Mendadak Ava merasa tegang oleh raut wajahnya yang terlihat pucat. Mendengar kata sahabatAngel, dan pertanyaan penting Secara tidak langsung membuat isi kepala Ava dipenuhi peringatan untuk segera pergi dari sana. Ava memilih berdiri dari kursinya dan terlihat panik.
"Maaf, sepertinya saya harus kembali karena ada pasien gawat darurat yang harus saya tangani. Permisi."
Ava segera pergi dengan langkah cepat. Membuat Aifa kebingungan oleh sekelabat pikiran-pikiran yang tak menentu dan tak ingin membuang waktu Aifa segera berlari dan mengejar dokter Ava bahkan mencekal lengannya.
"Dokter! Kenapa anda terlihat panik dan menghindari saya?"
Ava mencoba bersikap sopan dibalik perasaanya yang kalut." Maafkan saya Aifa, saat ini saya sedang sibuk."
"Tapi dok-"
"Maaf." ucap Ava sambil melepas cekalan tangan Aifa yang ada dilengannya.
Ava kembali meninggalkan Aifa dan hal itu membuat Aifa kesal bahkan dengan nekat Aifa menghalangi jalan Ava dan berdiri tepat didepannya. Ava terkejut oleh tindakan Aifa yang nekat dan keras kepala.
"Ini soal Angel dokter!" suara Aifa lebih kencang. Rasa kesabaran dan penasarannya sudah tidak bisa dibendung lagi membuat Ava terdiam menatap Aifa yang terlihat cemas.
Disisilain, Ava juga tidak bisa terus menerus menutupi semua kenyataanya selama ini jika pada akhirnya, untuk pertama kalinya selama setahun lebih ada seseorang yang mulai mengetahui perihal mengenai penyakit Angel dan orang pertama itu adalah Aifa.
Ava menghela napas panjang. Ia menguatkan diri untuk berpikir ulang oleh segenap perasaan dan gejolak yang bergemuruh didadanya.
"Leukimia. Angel mengidap penyakit itu selama setahun lebih dan sekarang dengan cepat penyakitnya menjalar ditubuh Angel yang sudah berada di stadium 3." Mendadak seolah-olah waktu terhenti, Aifa mencoba memandang iris netra biru pada dokter Ava. Berharap ini hanyalah sebuah kebohongan namun tidak menemukannya sama sekali.
"Aku mohon jangan beritahukan kepada siapapun sesuai permintaan Angel. Sahabatmu itu sedikit keras kepala dengan menutupi penyakitnya selama ini dengan alasan tidak ingin membuat orang-orang yang disayanginya sedih. Sudah berulang kali aku berusaha membujuknya namun yang didapat dia mengalami stress dan sangat membahayakan kondisinya.." Ava berkata dengan serius lalu meraih salah satu tangan Aifa yang masih diam oleh keterkejutannya.
"Aku mohon, bantulah aku untuk membujuk Angel Aifa. Penyakit ini terus menjalar seiring berjalannya waktu dan kita tidak bisa menyembunyikan nya terus menerus. Maaf aku harus kembali ke pekerjaanku." Ava meninggalkan Aifa yang sekarang ini kedua mata Aifa terlihat berkaca-kaca.
Aifa pun segera beranjak dari keterdiamannya dan memilih menuju parkiran mobil ketika sebuah notif pesan singkat muncul diponselnya saat Franklin sudah menunggunya ditempat parkiran. Aifa melangkahkan kakinya dengan gontai, perasaannya sedih dan ketakutan.
"Mengapa selama ini Angel hanya diam saja? Mengapa Angel terlalu menutupi dibalik sikapnya yang ceria dan menyebalkan?"
Kedua mata Aifa melihat sosok Franklin yang tengah menunggunya sambil berdiri disamping mobilnya. Dengan cepat, Aifa berlari kearahnya dan menghambur kepelukan sang adik.
Franklin diserang oleh kebingungan ketika mendapati kakaknya tiba-tiba menangis dalam pelukannya. Dengan perlahan, Franklin melingkarkan kedua lengannya di pinggul Aifa dan memeluknya erat oleh pikirannya yang bertanya-tanya 'apa yang sebenarnya terjadi.'
Aifa menangis kencang, hatinya sedih dan diterjang ketakutan oleh Angel yang memiliki penyakit leukimia. Siapapun yang mengetahuinya pasti akan berpikir yang tidak-tidak oleh kondisi Angel untuk kedepannya.
Tanpa mereka sadari, Dokter Ava menatap mereka berdua dari kejauhan tanpa berkedip sedikitpun melihat Aifa dipeluk oleh Franklin yang tanpa sengaja, pandangan Franklin dan Ava akhirnya bertemu secara tidak langsung. Franklin menatap dokter berparas cantik tersebut pergi berlalu begitu saja.

💞💞💞💞
Terima kasih sudah baca. 


Dan terima kasih sudah baca Stay With Me sebelum ke Sequelnya ini.
+ Follow akun Wattpad ini untuk mengetahui notip-notip update pembaharuan cerita dari author
Dan kalian bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii.
Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤
Next, Chapter 36 Better With You. Klik Link nya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar