Chapter 37 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 14 Februari 2020

Chapter 37 : Better With You




Pukul 23.00 malam.
Jam menunjukan menjelang larut malam ketika Fay baru saja keluar dari perusahaannya karena lembur yang menguras tenaga dan pikirannya. Siang tadi, dirinya baru saja mengadakan rapat besar dibalroom sebuah hotel ternama dan kebetulan partner bisnisnya kali ini ada Frankie Hamilton dan saudara kembarnya Franklin.
Fay mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang melewati sebuah jalanan yang lumayan sepi karena lokasi inilah akses menuju rumahnya. Namun, saat dipertengahan jalan, Fay menyipitkan kedua matanya dan mendapati sebuah mobil yang mogok dipinggir jalan dan berdiri seorang wanita disampingnya. Fay melihat dengan jelas jika wanita itu adalah Ava.
Tanpa banyak bicara lagi, Fay menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu keluar dari mobilnya dan mendatangi Ava yang sedang kebingungan.
"Ava?"
Seketika Ava menoleh yang sejak tadi terlihat mondar-mandir sambil memegang ponselnya. "Fay?" rasa syukur tiba-tiba menjalar dihati Ava ketika mendapati sosok Fay disaat situasi seperti ini.
"Ada yang terjadi?" tanya Fay begitu diirinya sudah berdiri saling berhadapan dengan Ava.
"Em, mobilku tiba-tiba mogok dan tidak bisa berjalan. Aku sudah berupaya mencobanya namun tetap tidak bisa dan ponselku lowbat ketika ingin menghubungi seorang montir."
Fay hanya mengangguk dan memutar tubuhnya untuk berdiri dibagian kap depan mobil Ava lalu membuka bagian penutup kap tersebut dan mengeceknya. "Ava, bisa kamu membantuku sebentar?"
Ava segera mendekati Fay dan berdiri disampingnya. "Apa yang bisa aku bantu?"
"Tolong kamu bantu aku beri penerangan oleh senter yang ada di ponselmu untuk mengecek mesin-mesin mobilmu ini. Sepertinya mobilmu sedang dalam masalah." Fay segera menggulung kemeja lengan panjangnya hingga kesiku dan menampilkan bulu-bulu halus yang ada ditangan dan lekukan otot dilengannya.
Ava hanya menurut dan membatu Fay memberi penerangan kearah mesin-mesin mobilnya. Sesekali Ava melirik kearah Fay yang terlihat serius sedang memperbaiki mobilnya dan membutuhkan waktu 15 menit ketika Fay kembali memerintahkan Ava untuk menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Ava pun segera memasuki mobilnya dan hasilnya tetap nihil. Mobilnya benar-benar tidak bisa menyala dan sepertinya kerusakannya parah hingga akhirnya Fay memutuskan merogoh ponselnya dan menghubungi penderek roda 4 untuk segera dibawa kesebuah bengkel mobil dan menservisnya esok hari.
Fay pun berinisiatif mengantar Ava pulang kerumahnya apalagi jam menunjukan hampir tengah malam dan sepertinya Ava baru saja pulang dari dinas rumah sakitnya malam ini hingga membuatnya kemogokan dijalan.
Keduanya memilih diam tanpa ada berniat berbicara sedikitpun bahkan susasannya terasa canggung antara Fay dan Ava.
Fay memilih fokus oleh pandangannya kedepan dan berusaha mengabaikan ada sosok wanita yang ada di belakangknya.
"Dimana rumahmu?" tanya Fay pada akhirnya.
Ava pun memberitahu lokasi alamatnya dan keduanya kembali terdiam hingga seiring berjalannya waktu, Mobil yang dikemudikan Fay tiba didepan pintu pagar yang menjulang tinggi dikediaman rumah Ava. "Terima kasih sudah mengantarkanku Fay, maaf merepotkanmu." ucap Ava dengan perasaan tidak enak hati.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Fay menoleh kearah Ava seraya tersenyum. "Sama-sama. Tidak apa-apa lagian tidak baik seorang wanita berada di tempat sepi seperti tadi."
Ava hanya mengangguk dan memilih keluar dari suasana canggung itu namun, sebelum dirinya benar-benar keluar dari mobil Fay, Ava kembali menoleh kearah Fay
"Fay.."
"Ya?"
"Ada yang ingin aku beritahukan padamu dan aku tidak bisa menyimpan hal ini terlalu lama." Ava berusaha menetralkan nada bicaranya yang terdengar gugup.
Fay terdiam dan menatap Ava sejenak. Mengetahui dari mimik wajah Ava yang sepertinya akan berbicara dengan serius. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Em.. begini. Aku tahu kedua orang tua kita waktu itu tidak berniat menjodohkan kita namun aku merasa sepertinya mereka menginginkan kita untuk saling dekat."
"Apa maksud dari pembicaraanmu sekarang Ava?" Fay menatap Ava sejenak dan perasaanya semakin tidak menentu.
"Jika suatu saat kamu berniat mencari pendamping hidup. Aku bersedia menjadi calon istrimu Fay. Aku tahu, mungkin saat ini kita tidak saling mencintai.. tapi aku adalah seorang wanita yang sangat rentan oleh fitnah apapun bahkan mengarah ke Perzinahan selagi belum memiliki pasangan hidup. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Niatku hanya ingin berhijrah dan mengharap keridhaan Allah untuk memiliki calon pemimpin rumah tangga dan menuntunku ke surga kelak."
"Ava.. aku-"
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang Fay." Ava tersenyum tipis. "Aku tidak bermaksud memaksa mu untuk melamarku atau memaksamu untuk menyukaiku. Itu adalah hakmu dan hatimu sendiri yang menentukannya. Aku hanya ingin ada seorang pria yang melamarku dan segera mengahalalkanku agar diriku terbebas dari jeratan yang bukan mahramku dikemudian hari.. Aku pergi, selamat malam."
Ava sengaja segera pergi dari kebingungan Fay yang Ava yakini saat ini Fay sedang mengalaminya. Yang terpenting adalah Ava sudah berusaha untuk mengeluarkan isi hati dan pemikirannya. Karena baginya, memiliki pasangan yang halal saat ini adalah hal yang terpenting.
Sedangkan Fay, semenjak sepeninggalan Ava beberapa detik yang lalu dirinya termenung oleh pembicara Ava yang begitu mengejutkannya namun ada kebenaran didalamnya.
Fay sangat paham jika Ava tidak bermaksud untuk memakasanya namun tetap saja, saat ini Angel lah yang memenuhi isi hati dan pemikirannya. Sekalipun niat Ava baik.
💞💞💞💞
Angel sedang berada dirumah sakit untuk melakukan kontrol rutinnya terhadap kedua kakinya yang lumpuh. Butuh waktu yang memang tidak sebentar untuk memulihkan kelumpuhannya terlebih penyakit leukimia yang semakin hari semakin menjalar menggerogoti tubuhnya.
Wajah Angel semakin memucat dan terlihat cekungan dipipi dan ada lingkaran hitam dibawah matanya. Berat badan Angel turun drastis bahkan mudah lelah hanya untuk beraktivitas ringan seperti kelamaan duduk diatas kursi roda.
Saat ini, Angel sedang duduk dikursi roda dan dibantu oleh suster yang mendorongnya untuk kembali keruang rawat inap yang memang diperuntukan Angel agar wanita itu bisa beristirahat menunggu Ava yang akan visit tiga jam lagi.
Disislain, Fay yang memang kebetulan sedang berkunjung kerumah sakit karena keperluan rutinnya sedang memeriksakan diri mengenai kesehatan tubuhnya dan pengecekan kadar gula serta kolestrol disetiap bulannya.
Fay melakukannya semenjak kepergian almarhum kakeknya yang mengidap diabetes dan darah tinggi serta komplikasi. Hal itulah yang membuat Fay rutin memeriksakan kesehatannya tiap bulan meskipun selama ini kedua orang tua dan dirinya sehat.
Tapi bagi Fay, tidak ada salahnya untuk mencegah daripada mengobati. Ponsel yang ada disaku celana bahan Fay berdering sejak tadi. Fay merasa sepertinya itu adalah panggilan penting dari seorang kolega yang sebenarnya akan mengadakan rapat penting esok pagi.
Fay merogoh ponselnya dan benar, nama kolega tersebut terpampang dilayar ponsel Fay dan mengangkat panggilan tersebut. "Iya halo?"
"....."
"Benar. Semua sudah saya rancang sedemikian rupa. Anda tinggal menghubungi klien kita untuk-"
Mendadak Fay diam membeku. Bukan dengan lawan bicaranya kali ini, melainkan karena kedua matanya melihat sosok Angel yang duduk dikursi roda dan didorong oleh suster yang baru saja belok ke lorong rumah sakit yang ada disebelah kanan. Hal yang sangat penting bagi Fay untuk sekarang.
Bahkan, tanpa diduga ia memutuskan begitu saja sambungannya pada kolega penting dari perusahaan tersebut.
Tanpa banyak bicara lagi, Fay segera mengkantongi kembali ponselnya dan berlari mengejar Angel.
"Tunggu!!!"
Suster yang mendorong Angel pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang ketika dilihatnya seorang pria mendatanginya. Jantung Angel berdetak lebih cepat dan sangat mengenali suara yang memanggilnya. Ya Tuhan, jangan sekarang. Batin Angel.
"Maaf apakah anda memanggil saya?" ucap Suster itu ketika Fay sudah berdiri disamping nya. Fay segera memposisikan dirinya bersimpuh dihadapan Angel, mengabaikan pertanyaan sang suster yang membuatnya dahinya mengerut bahkan semakin membuat Angel gugup sekaligus tak berkutik karena didepannya kali ini ada Fay yang menatapnya serius.
"Angel,apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa setelah kepergianmu dari Penthouseku kamu sama sekali tidak ada kabar? Setidaknya beri tahu aku apa yang terjadi. Kamu tau? Aku sudah berusaha mendesak Rex dan Aifa untuk menanyakan mu tapi sepertinya mereka menutup mulut. Apa yang terjadi Angel? Plishh, tell me."
Angel tak kuasa mendengar pertanyaan dan permohonan Fay yang begitu beruntun bahkan mengabaikan sang suster yang saat ini terabaikan.
"Angel..."
"Pergi Fay.."
"Angel, ada apa dengan dirimu?" tanya Fay berusaha lembut
"Pergi!" pekik Angel yang mulai tak sabaran.
"Angel, aku-"
"Tempatmu bukan disini! Tempatmu sekarang ada didunia yang begitu sempurna, bukan didekatku yang penuh dengan kesedihan dan ketidaksempurnaan." ketus Angel berusaha untuk mengusir Fay namun sepertinya hal itu bukan keahlian dari Angel sejak dulu bahkan mimik wajahnya saja benar-benar tidak pandai berakting seolah-olah dirinya tidak mengharapkan kehadiran Fay.
"Angel.. katakan padaku. Apa yang terjadi sehingga membuatmu seperti ini?"
"Suster! Tolong bawa saya menjauh dari pria ini." perintah Angel yang berusaha menahan air mata yang hendak berlinangan dikedua matanya bahkan tak sanggup untuk menatap Fay yang kini bersimpuh dihadapannya.
Disisilain, suster tersebut merasa bingung dan mencoba untuk tidak ikut campur oleh situasi yang ada pada pasien dan sosok pria yang memanggilnya tadi.
"Maaf pak, saya harus membawa pasien untuk segera-"
"Saya suaminya!" Fay berdiri dan menatap tajam pada suster tersebut dan membuat suster tersebut terdiam seketika mendapati plototan tajam oleh Fay.
What? Istri?
"Fay! Kamu-"
"Maaf suster.." Fay mengabaikan protestan Angel. "Istri saya sedikit keras kepala. Dimana ruangannya? Apakah istri saya sudah selesai pengobatannya hari ini?" ucap Fay yang memilih melembutkan suaranya dari sebelumnya.
Suster tersebut yang tadinya tegang kini berubah tersenyum ramah. "Kebetulan nona Angel baru tiba 30 menit yang lalu dan menunggu dokter pribadinya visit tiga jam lagi. Ruangannya ada disana. Bapak bisa mengantarkan istri anda jika berkenan."
"Tentu saja sus. Biar saya saja yang mengantarkannya, maaf sudah membuat suster tidak nyaman."
"Anda tidak perlu meminta maaf Pak. Permisi."
Suster itupun pergi dengan sopan dan berlalu meninggalkan Fay dan Angel berdua. Fay pun kembali bersimpuh dihadapan Angel dan menatapnya dengan seksama. Wanita yang begitu dicintainya sejak dulu dan sepertinya, saat ini Angel terlihat enggan menatap matanya, mencoba menghindari kedua mata Fay.
Tanpa banyak bicara lagi, Fay kembali berdiri memutar posisinya dan berada dibelakang Angel dan sebelum mendorong kursi roda wanita itu, Fay mendekatkan bibirnya ditelinga Angel seraya berbisik.
"Aku merindukanmu, dan jangan mencoba menghindar karena aku tak ingin melepaskanmu begitu saja. Wanita yang aku cintai sejak dulu."
Seketika air mata Angel luruh begitu saja. Bagaimana ia merindukan suara Fay. Suara pria yang begitu ia cintai untuk yang pertama dan terakhir.
💞💞💞💞
Dan terima kasih sudah baca Stay With Me sebelum ke Sequelnya ini.

Kalian juga bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤️
Next Chapter 38 Better With You. Klik Link nya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar