Chapter 38 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 14 Februari 2020

Chapter 38 : Better With You




Fay mendorong kursi roda Angel menuju kamar inapnya setelah suster memberikan arahan dan instruksi padanya. Kini, mereka pun akhirnya memasuki ruangan tersebut lalu Fay menutup pintunya rapat dan mendorong kursi roda Angel kearah sofa yang ada di pojokan ruangan.
Fay menghentikan langkahnya, kemudian duduk disofa tersebut berhadapan dengan Angel yang masih duduk dikursi rodanya.
Sejak tadi, Angel berusaha mati-matian untuk menghindar dari tatapan Fay yang sekarang ini menatapnya begitu intens. Debaran jantung Angel berpacu lebih cepat semenjak pria itu berada didekatnya. Untuk sekarang, Angel menyesali kenyataan yang ada mengapa dirinya begitu rapuh untuk bisa kabur dan lolos dari jeratan Fay yang sepertinya akan menginterogasinya.
"Sekarang... Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Fay berucap lembut. Memandang wajah Angel yang sejak tadi menunduk.
Dari sini, Fay bisa melihat bagaimana perubahan drastis yang dilihat oleh Fay mengenai kondisi Angel. Angel terlihat berkurus, raut wajahnya pucat. Pipinya terlihat cekung oleh Bibirnya yang kering bahkan wanita itu memotong rambut panjangnya hingga sebahu.
Tapi biar bagaimanapun, tetaplah Fay mencintai wanita yang ada didepannya ini karena baginya, mencintai seorang wanita atau istri karena Allah, semuanya akan begitu indah sekalipun pasangannya memiliki kekurangan dan kelebihan serta merasa berdosa besar jika menyakitinya ketika sudah menjadi pasangan yang sah nantinya.
Angel tetap diam membisu. Ia menundukan wajahnya sambil meremas ujung bajunya seolah-olah hanya itu cara untuk menenangkan hatinya.
Fay menghela napasnya dan berusaha sabar. Ia pun merogoh ponselnya kemudian mengarahkannya pada dagu Angel untuk mengangkat wajahnya tanpa harus menyentuh wanita itu hingga tatapan mereka bertemu.
Ada tatapan kesedihan namun tersirat kerinduan diantara keduanya. Kedua mata Angel berkaca-kaca sedangkan Fay, pria itu meraih tisu yang ada dimeja sofa tersebut dan menghapus buliran Air mata yang kini mulai turun di pipi Angel.
"Jika saat ini kamu pasangan halalku, sudah aku lakukan sejak tadi untuk menghapus air matamu ini dengan jariku, memelukmu erat bahkan memberimu sebuah ciuman ketenangan tanpa harus terkendala untuk menyentuh kulitmu lagi." Fay menatap lurus kemanik mata Angel.. "Aku tidak bermaksud menggodamu hanya saja, melihatmu seperti ini membuatku tersiksa Angel. Kamu tau? Aku mencemaskanmu selama ini dan mengapa kamu tega melakukannya padaku? Setidaknya kamu mengabariku jika kamu baik-baik saja dan Sepertinya situasi sekarang membuatmu tidak terlihat baik-baik saja.."
Angel menghapus sendiri buliran air matanya dengan kasar. "Untuk apa aku mengabarimu jika kondisi ku sekarang ini cacat?" nada bicara Angel kali ini terdengar frustasi namun hatinya tak bisa berbohong jika dirinya menyukai cara Fay yang selama ini memikirkan dirinya.
"Jangan berkata seperti itu." lagi-lagi Fay tersenyum lembut penuh kesabaran dan membuat hati Angel berdesir hangat hanya karena melihat senyuman itu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga membuatmu seperti ini karena sejak tadi kamu sama sekali tidak memberitahuku. Aku menerima kekurangan dan kelebihanmu sejak awal sekalipun saat ini kamu sedang duduk dikursi roda."
"Pergilah Fay.." lirih Angel. "Tempat mu bukan disini dan aku sudah menikah. Jangan pernah menggangguku lagi." Angel sengaja berbohong mengatakan hal itu berharap jika Fay akan pergi dan mempercayainya.
Bukannya mengubris, Fay mengukung Angel dengan meletakkan kedua tangan kekarnya dikedua sisi kursi roda Angel. Membuat wanita itu memundurkan wajahnya dengan khawatir.
"A-apa yang kamu lakukan?"
Fay diam sejenak, menatap lamat-lamat kedua iris Angel dengan serius. "Aku mencari apakah ada kebohongan didirimu atau tidak melalui tatapan matamu dan sayangnya aku menemukan ketidakjujuran disini."
Angel semakin menciut dan kelemahannya adalah tidak bisa berbohong kepada pria yang ia cintai.
"A-aku, aku sudah menikah dan sekarang pergilah dari sini."
Fay memundurkan kembali tubuhnya seraya menatap Angel dengan tatapan menyidik. "Jika kamu sudah menikah dengan Darren, kemana pria itu? Bukankah seorang suami harus ada disaat situasimu seperti ini?"
"Dia sedang sibuk dan sekarang berada di Amerika untuk urusan pekerjaanya."bohong Angel dan berharap cara ini berhasil.
"Amerika?" Fay mengerutkan dahinya. "Benarkah? Sejak kapan Amerika pindah di indonesia jika klienku berkata sejak beberapa menit yang lalu seorang Darren Willian sedang mengadakan rapat penting diperusahaanku dan sayangnya aku tidak bisa menghadirinya karena aku memilih disini. Untukmu. Benar-benar luar biasa jika Amerika pindah di Indonesia."
Dan sekarang Angel merutuki dirinya yang tak berkutik. Dan see, pria yang ada dihadapannya itu kini tersenyum penuh arti padanya.
"Mungkin kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku Angel."
Tepat saat Angel ingin menyela dan membela dirinya lagi, ponsel disaku Fay kembali berdering dan mau tidak mau Fay harus mengangkatnya karena sempat terabaikan.
Fay sengaja memilih menspeker panggilan tersebut. "Halo? Bagaimana meeting hari ini?" to the Point Fay
"Semua berjalan dengan lancar Pak. Saya benar-benar tidak menyangka jika kita akan memenangkan tender ini kedepannya."
"Ya, semoga saja begitu. Bagaimana dengan Pak Darren William? Apakah dia hadir dalam rapat besar kita hari ini?" Fay sengaja berkata seperti itu dan menatap Angel yang kini terlihat menciut.
"Tentu saja Pak. Namun sekarang beliau sudah keluar dari ruangan rapat 30 menit yang lalu karena ada sesuatu yang sepertinya sangat penting."
"Baiklah, tidak masalah. Jadi, bagaimana untuk planning kedepannya?"
Tiba-tiba suara klient Fay terputus-putus dan tidak jelas. Fay melirik ke layar ponselnya jika sinyal yang ada diponselmya berkurang.
"Tunggu sebentar, panggilan ini sangat penting dan aku harus keluar mencari jaringan. Aku janji tidak akan lama."
Angel hanya diam dan menatap kepergian Fay. Untuk sesaat Angel mencerna semua isi hati dan pemikirannya. Apakah sudah saatnya ia memberitahukan semuanya pada Fay? Tapi.. bagaimana jika semuanya percuma saja apalagi Daddynya tetap bersikukuh tidak merestui hubungannya meskipun pada akhirnya dirinya akan pergi meninggalkan dunia ini dengan cepat atau lambat?
Hatinya hanya ingin bersama pria itu, dalam hubungan yang sah dan menemaninya disaat-saat sisa terakhir hidupnya.
Sungguh, Angel benar-benar merindukan pelukan dari seorang Fay namun tak dapat dilakukan karena bukan pasangan halalnya. Tapi sebuah pemikiran tidak tega pun kembali menerjang dirinya. Apakah ia sanggup meninggalkan pria itu ketika saatnya tiba? Ia ingin Fay bahagia dan bukan meratapi nasibnya.
Pintu diketuk dan membuat Angel kembali kedunia nyata dan Angel menoleh kebelakang ketika sosok Darren berdiri diambang pintu. "Maaf apa aku mengganggu?"
Angel menggeleng. "Em, tidak. Masuklah."
Darren melangkahkan kakinya dan membawa beberapa buah jeruk hasil panen dari kebun mommynya yang dipetik kemarin sore dan meletakkannya dimeja sofa kemudian duduk dihadapan Angel.
"Aku kemari hanya untuk mengantar pesanan momy untukmu . Kebetulan setelah rapat tadi, aku ada keperluan dan satu arah dengan lokasi rumah sakit ini jadi ya sekalian saja."
Sungguh, Darren paling tidak suka berbasa-basi seperti ini karena hal itu bukanlah dari sifatnya yang irit ngomong. Tapi, karena ini adalah perintah dari mommynya, mau tidak mau Darren menjalankanya. Satu-satunya alasan yang membuatnya tak bisa menolak selama hidupnya.
"Terima kasih Darren maaf membuatmu repot."
"Tidak masalah."
Darren beranjak dari duduknya dan berpikir untuk apa dia disini? Masih banyak hal yang penting yang harus ia kerjakan daripada berbasa-basi dengan orang lain.
Untuk sesaat, Angel berpikir keras apakah ia sanggup melakukan ini atau tidak. Namun, sebelum Darren benar-benar pergi, Angel kembali bersuara.
"Darren bisakah aku meminta tolong padamu?" Angel menatap Darren yang kini sedang berdiri menjulang dihadapannya dan akhirnya membuat pria itu kembali duduk dihadapan Angel.
"Ada apa? Apakah hal itu penting?"
Angel berharap kali ini caranya berhasil dan ia sudah memikirkannya secara matang-matang dan waktu serasa sangat tepat saat terdengar suata pintu kembali terbuka dan dengan cepat tanpa diduga Angel menarik tengkuk Darren dan mencium bibir pria itu hingga membuat Darren terkejut dan membelalakan matanya seketika bertepatan dengan Fay yang diam membeku ditempatnya berdiri, melihat dengan jelas jika Angel dan Darren sedang berciuman dan membuat hatinya hancur seketika.
Fay memilih pergi dari ruangan itu bahkan menjatuhkan setangkai mawar merah ketika dirinya berniat membelinya untuk Angel. 
💞💞💞💞
Terima kasih sudah baca. 

Dan terima kasih sudah baca Stay With Me sebelum ke Sequelnya ini.

+ Follow akun Wattpad ini untuk mengetahui notip-notip update pembaharuan cerita dari author
Dan kalian bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii.
Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤️
Next, Chapter 39 Better With You. Klik Link nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar