Chapter 43 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 14 Februari 2020

Chapter 43 : Better With You


Jalanan cukup padat ketika Rex mengemudikan mobilnya menuju restoran tempat mereka makan malam bersama malam ini.
Waktu terus berjalan, bahkan kemacetan yang semakin padat akhirnya Rex lalui dengan lancar. Mereka pun tiba disebuah restoran keluarga tepat waktu dan tanpa banyak bicara lagi, Rex keluar dari mobilnya dan membukakan pintu bagian belakang untuk Aifa setelah membuka bagasi untuk mengeluarkan kursi roda Angel.
Rex segera mengendong tubuh Angel dan mendudukkannya di kursi roda hingga ketiganya memasuki restoran tersebut kemudian memilih tempat duduk yang ternyata sudah direservasi oleh Rex beberapa jam yang lalu.
"Wah, makanan disini sangat lezat. Aku jadi bingung untuk menentukan pilihan malam ini." ucap Aifa sambil melirik ke deretan menu makan dan minum yang ada di buku menu ketika seorang pelayan menghampiri mereka.
Rex dan Angel saling menghedikan bahu dan akhirnya Rex pun kembali berucap. "Kamu pilih salah satunya Baby, dan jangan makan terlalu banyak hingga membuatmu sakit perut malam ini."
Aifa pun akhirnya menyebutkan pesanannya malam ini setelah Angel dan Rex tidak membahas hal tadi kepada pelayan yang mencatatnya di ikuti oleh Rex dan Angel yang ikut menyebutkan pesanannya. Mereka pun kembali berbincang ringan dan sesekali bercanda sambil menunggu pesanan mereka datang.

Aifa benar, malam ini Angel merasa terhibur oleh ajakan sahabatnya itu beserta sang sepupu di malam Minggu ini dan setidaknya ia sedikit mengabaikan sosok Fay yang terus menerus membayang di pikirannya.
Sedangkan Rex dan Aifa, kedua sejoli itu bersyukur jika malam ini bisa mengajak Angel keluar dan secara tidak langsung mengurangi beban pikiran dan batin seorang Angel dengan sedikit hiburan dan refresing malam ini.
🌼🌼🌼🌼
Frankie begitu antusias mengajari bimbingan privat pada Feby malam ini dan saat ini mereka berada diruang tamu.
Frankie, pria dengan segala kecerdassanya membuat Feby mengakui jika sedikit banyaknya materi kuliah yang sangat sulit baginya dapat teratasi oleh bantuan Frankie.
Sudah 4 bulan berlalu semenjak dirinya ditolak oleh Rex dan ia sendiri tak bisa menepis jika sosok Frankie ternyata sangat berpengaruh untuk hatinya selama ini.
Contohnya sekarang, pria itu rela menghabiskan malam akhir pekannya untuk membantu Feby ketimbang bersantai atau hang out dengan rekan-rekannya diluar rumah.
Feby menatap Frankie tanpa berkedip ketika dilihatnya pria itu membantunya dalam mencari artikel bahan kuliah di internet menggunakan laptopnya.
Frankie melirik kearah Feby begitu dilihatnya gadis itu tercyduk menatap dirinya tanpa berkedip hingga membuat Feby salah tingkah dan meraih segelas jus yang ada didekat mereka lalu meminumnya dengan tandas. Frankie yang mengetahui hal itu hanya terkekeh geli dalam hati dan berusaha terlihat santai meskipun hatinya ikut merasakan senang sekaligus berbunga-bunga mengetahui bahwa Feby baru saja menatapnya tanpa berkedip. Ntah apa yang dipikirkan Feby saat menatap dirinya, tetap saja Frankie sebagai sosok pria merasa senang sekaligus bahagia.
"Mau kemana kak?" tanya Feby melirik ke arah Fay yang baru saja turun dari anak tangga dan berpenampilan kasual.
"Kakak mau jalan. Mau titip sesuatu?" tanya Fay balik.
Feby menggeleng. "Tidak. Mau jalan sama seseorang?"
"Iya. Kakak pergi dulu." Fay pun akhirnya pamit pada Frankie yang hanya di angguki senyum balik oleh Frankie dan setelah Fay pergi, Frankie kembali bertanya.
"Kak Fay.. em apakah dia sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita?"
Feby menghedikkan bahu. "Mungkin. Tapi aku dengar dari papa dan mama kalau kak Fay sedang ta'aruf dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter beberapa hari yang lalu."
Frankie hanya diam. Sebenarnya ia sangat tahu apa yang terjadi antara Fay dengan sahabat kakaknya itu. Namun, karena Om Farrel menyuruhnya menutup mulut untuk tidak membeberkan soal Angel yang kecelakaan dan lumpuh membuatnya memilih tidak ikut campur urusan tersebut apalagi Feby juga tidak mengetahui hal itu.
"Ada apa kak? Mengapa kakak bertanya hal itu?"
"Tidak apa-apa. Ini.. materinya sudah ketemu di internet Feb." ucap Frankie berusaha mengalihkannya dan Feby pun akhirnya memilih fokus oleh tugas kuliahnya.
πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž
"Rex, sudah. Aku akan memakan sendiri makananku, kamu makan saja. Kasian, sejak tadi kamu hanya menyuapiku tanpa menyentuh makananmu sendiri." ucap Aifa dengan senyuman merasa bersalah.
"Tidak masalah dengan senang hati aku melakukannya." balas Rex lagi dengan kedipan disebelah matanya. Sedangkan Angel, wanita itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa menjadi obat nyamuk disituasi sekarang namun tidak terganggu sama sekali karena ia tahu bagaimana kedua sejoli ini saling memadu kasih.
"Hai.. boleh bergabung?" Suara seorang wanita membuat ketiganya menoleh dan menatap wanita tersebut yang ternyata adalah dokter Ava. Angel yang sedari tadi menyuapkan makanan dengan sendoknya mendadak terhenti melihat Ava yang begitu cantik oleh balutan syar'i nya sedangkan Rex, pria itu mendadak diam karena dari jauh melihat Fay yang berdiri tanpa bergerak sama sekali ditempat.
Rex sangat paham bagaimana kedua mata pria itu menatap dirinya. Namun, saat Rex membuka mulutnya untuk berbicara, Ava lebih cepat dan memanggil sosok Fay dengan lambaian tangannya untuk mengajaknya bergabung.
"Kamu tidak sendiri?" tanya Aifa menatap Ava yang masih berdiri sembari menunggu seorang pelayan wanita membawakan dua kursi untuknya.
"Tidak.." ucap Ava dengan senyuman manisnya. "Aku kemari bersama calon suamiku. Kebetulan tempat ini sudah full dan sepertinya malam ini kami tidak kebagian tempat duduk. Tidak masalahkan jika aku bergabung dengan calon suamiku?"
"Tentu saja Ava. Kami sama sekali tidak keberatan lagian meja ini masih cukup untuk-" Omongan Aifa yang tadinya antusias mendadak terhenti seketika saat sosok pria yang ia kenal sekaligus atasannya di F'A Group menghampiri meja mereka dengan tatapannya yang tegang sekaligus gestur tubuh Fay yang sedikit pasrah oleh situasi.
"Untuk du-dua orang lagi." sambung Aifa kemudian dengan tergagap sekaligus terkejut.
Sedangkan Angel, Tenggorokannya terasa tercekat. Hatinya teriris mendapati kenyataan jika ternyata selama ini sosok pria yang diceritakannya sekaligus sosok yang membuat Ava memilih berhijab adalah Fayezza.
Seorang pria yang ia cintai sekaligus tak bisa di lupakannya selama ini. Menyadari suasana mendadak awkward, Rex mencoba menyelamatkan situasi tepat saat seorang pelayan wanita yang dibantu rekan kerjanya seorang pria mebawakan dua kursi untuk Ava dan Fay.
"Em, kalau begitu aku pindah tempat." ucap Rex dengan memindahkan posisi duduknya disebelah Angel yang kini posisi Angel menjadi di antara Aifa dan Rex.
Sedangkan Ava dan Fay duduk berhadapan dengan mereka. Fay tak bisa berkata apa-apa lagi saat ini. Hatinya merasa tidak enak sekaligus mendapati situasi yang pahit jika teman Ava adalah Angel.
Sosok wanita yang ia cintai dan sekarang memilih menuduhkan wajahnya. Fay sangat tahu. Bagaimana gestur tubuh Angel yang kini tepat didepannya dan terlihat enggan menatapnya.
Seorang pelayan pun tiba memberikan buku menu dan Ava pun memesan makanan yang akhirnya Fay memilih menyamakan menu makan malamnya dengan Ava.
Sungguh malam ini Fay yang tadinya lapar semuanya menguar begitu saja karena situasinya yang tidak enak. Ingin rasanya ia pergi, namun semua percuma saja jika takdir mengatakan dirinya akan bertemu dengan Angel malam ini. Rex tak mampu berkata. Ia sendiri bingung posisinya harus bagaimana malam ini hingga suara Aifa kembali terdengar.
"Jadi.. sejak kapan kalian saling mengenal?"
Ava tersenyum. "Beberapa hari yang lalu Aifa. Iya kan Fay?" tanya Ava pada Fay yang ada disampingnya.
"Ha?" Fay berdeham yang sedari tadi menunduk. "Em, i-iya.."
"Kalian akan menikah ya? Aku lihat kamu banyak berubah Ava. Kamu bahkan memakai hijab dan pakaian tertutup."
Sungguh, Rex ingin menghentikan pertanyaan Aifa yang secara tidak langsung membuat suasana semakin tidak enak terlebih sejak tadi Angel meremas ujung bajunya dan sangat enggan melirik kearah Ava dan Fay.
"Iya.. " senyum Ava lagi. "Cepat atau lambat kami akan menikah. Dan untuk sementara kami saling mengenal dulu."
Fay melirik kearah Rex dengan tatapan. 'apa yang harus aku lakukan sekarang Rex?' tanpa ketiga wanita itu sadari. Rex hanya menggeleng lemah dan pasrah oleh keadaan. Sekali lagi, Fay melihat kerah Angel yang terlihat tidak nyaman oleh situasi sekarang hingga seorang pelayan mengantarkan pesanan makanan dan minuman Ava dan Fay.
Bahkan, Ava pun berinisiatif mengambilkan lauk pauk menu seafood untuk Fay seakan-akan terlihat seorang pasangan yang menghidangkan makanan untuk prianya.
"Biar aku saja yang mengambilkan lauknya." ucap Ava dengan senyuman manisnya. Sejak tadi, wanita itu tidak menyadari situasi yang ada. "Mau tambah lagi saladnya?" tanya Ava pada Fay.
"Em, su-sudah cukup." ucap Fay dengan perasaan yang bertambah gugup melihat Ava begitu perhatian dengannya. Tanpa mereka sadari, tubuh Angel bergetar.
Aifa yang menyadari hal itu menoleh kearah Angel dan menggenggam lembut punggung tangan Angel, diikuti oleh Rex yang ada disampingnya dan menggenggam tangan adik sepupunya, berharap hal ini menghilangakan rasa cemas Angel meskipun tidak berhasil.
Menyadari Angel terlihat tidak baik, Aifa berdiri dari kursinya. "Maaf, sepertinya aku ingin ketolilet. Angel, bisa kamu temani aku?"
Angel mendongak menatap Aifa dan merasa bingung diawal, namun melihat kedua mata Aifa yang memberikan isyarat membuat Angel hanya mengangguk. "Oh, silahkan.." ucap Ava kemudian.
"Permisi.." Aifa pun mendorong kursi roda Angel dan menuju toilet. Sedangkan Rex, pria itu hanya melirik punggung kedua wanita itu dan kembali menatap Fay yang terlihat semakin tidak nyaman.
Rex kembali berucap. "Jadi, wanita ini yang akan menjadi calon istrimu Fay?" tanya Rex kemudian. Fay tidak mengangguk, juga tidak menjawab. Pria itu hanya menatapnya sejenak lalu kembali menundukan wajahnya dan mencoba fokus untuk melahap makanannya yang terasa tidak selera.
"Iya, aku calon istrinya.".
Sedangkan Aifa, wanita itu membelokkan kursi roda Angel bukan ketolilet. Melainkan kesebuah lokasi taman belakang Outdor restoran itu dan sedikit menjauh dari keramaian didekat sebuah danau. Aifa menghentikan langkahnya dan merubah posisinya bersimpuh di hadapan Angel.
"Angel.." Aifa menggenggam lembut punggung tangan Angel.
"Bukankah kamu tadi ingin ketolilet?" lirih Angel tanpa mau melihat Aifa. Wanita itu hanya menunduk memainkan ujung bajunya.
Aifa menghela napasnya dan memeluk tubuh Angel yang ia tahu saat ini sahabatnya itu sedang rapuh dan ingin menumpahkan air mata oleh situasi barusan.
"Aifa, kenapa kamu memelukku-"
"Menangislah Angel. Menangislah jika itu melegakan hatimu walaupun sesaat. Jangan menyimpan kesedihanmu sendiri dan berbagillah denganku, aku sahabatmu yang selalu ada untukmu Angel. Maaf, aku tidak bermaksud bertanya hal-hal tadi pada Ava hingga membuatmu cemburu. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya tentang hubungan mereka. Maaf sudah membuatmu sedih Angel aku-"
"Tidak masalah Aifa." potong Angel oleh isakan yang tertahan di bibirnya. Aifa benar, Angel menangis. Ya, hatinya sakit dan butuh dilampiaskan oleh banjiran air mata karena situasi tadi. "Setidaknya Fay bersanding dengan wanita yang sempurna dan seakidah dengannya. Aku sedikit iri melihat Ava yang begitu cantik, sempurna dan memakai hijab. Sejak dulu aku ingin merasakan bagaimana rasanya memakai hijab ketika mualaf namun, sebuah kenyataan pahit dan situasi seperti ini membuatku mengalah. Biarlah mereka bahagia Aifa, aku ikhlas jika Fay memang mencintai sosok Ava dan Ava mencintai sosok Fay. Aku lumpuh, aku cacat. Dan aku-"
"Ssshhh." Aifa semakin erat memeluk tubuh Angel. "Kamu cantik sampai kapanpun Angel. Percayalah jika kamu bisa sembuh dan kembali dengan Fay."
Keduanya memilih terdiam sesaat. Angel menangis oleh air matanya yang berlinangan. Aifa melepas pelukannya dan menatap Angel. "Katakan padaku apakah kamu pusing?" Angel menggeleng.
"Kamu lelah dan tidak enak badan?" Angel kembali menggeleng.
"Yang mana yang sakit Angel? Katakan padaku?"
Dengan tangan gemetar dan memucat, Angel meraih tangan Aifa dan membawanya kebagian dadanya. "Sakit. Hatiku yang sakit Aifa.. aku cemburu dan masih mencintai Fay sampai kapanpun. Perasaan ini begitu menyakitkan dari semua penyakit yang aku derita namun aku belajar ikhlas untuk semuanya demi kebahagian Fay oleh wanita yang sempurna dan umur yang panjang untuknya." lirih Angel hingga pada akhirnya tangisnya kembali pecah.
Aifa begitu sesak hatinya karena ia merasakan apa yang Angel rasakan hingga dirinya juga ikut berlinangan air mata mendapati hidup Angel tidak akan lama lagi namun sebuah kenyataan pahitlah yang Angel rasakan, bukan kebahagiaan yang ia dapatkan sebelum menutup mata.
πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž
Terima kasih sudah baca. 

Dan terima kasih sudah baca Stay With Me sebelum ke Sequelnya ini.

+ Follow akun Wattpad ini untuk mengetahui notip-notip update pembaharuan cerita dari author
Dan kalian bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii.
Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤️

Next, Chapter 44 Better With You. KLlik Link nya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar