Chapter 49 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 13 Februari 2020

Chapter 49 : Better With You



Angel terbangun dipagi hari dan membuka kedua matanya ketika hembusan napas dengkuran halus menerpa wajahnya. Angel tersenyum sesaat.
Setiap malam Fay selalu memeluknya dan tidak pernah melepaskannya sedikitpun hingga membuat Angel sangat betah untuk menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Angel terdiam sejenak, menatap Fay yang begitu tampan di usianya 31 tahun dan umurnya sendiri yang berusia 25 tahun. Perbedaan usia yang berjarak 6 tahun namun tidak masalah bagi keduanya jika saling mencintai dan menerima satu sama lain.
Angel masih saja menatap suaminya tanpa berkedip. Fay yang tampan memiliki kedua alis yang tebal, bulu mata panjang dan lebat, hidung mancung dan bibirnya yang tipis berbeda dengan dirinya yang sedikit memucat, dan tidak cantik seperti dulu seiring berjalannya waktu karena leukimianya.
Tiba-tiba dada Angel terasa sesak begitu menyakitkan dan tak bisa menyangkal jika dirinya divonis tidak bisa hidup bertahan lebih lama lagi oleh Dokter Ava dan timnya.
Fay memang suami yang penuh kesabaran dan selalu memberinya nasihat jika takdir dan umur seseorang hanya Allah yang tahu. Kedua mata Angel kini berkaca-kaca, bahkan meluruh kemudian oleh air mata bening di pipinya tanpa di inginkan.
Bagaimana itu tidak terjadi jika dirinya sangat menyayangi dan mencintai Fay hingga tak sanggup jika pergi untuk selama-lamanya dari sisi suaminya jika waktunya tiba.
Dengan perlahan, Angel meraba pelan pipi suaminya. Merasakan tekstur hangat dikulit pipi Fay oleh jambang halus yang baru saja di cukurnya dibawah telapak tangannya.
"Akankah aku bisa meraba pipimu dengan lembut seperti ini selama-lamanya Fay? Aku tidak tahu. Hanya Allah yang tahu dan aku bisa apa jika penyakit ini menggerogoti ku setiap harinya? Percuma saja aku menjalani kemoterapi dimanapun bahkan dirumah sakit yang hebat dan dimiliki beberapa dokter handal sekalipun jika efek yang diberikan akan membuatku kritis bahkan meregang nyawa dengan cepat?" lirih Angel dalam hati.
💞💞💞💞

Beberapa hari kemudian. Akhirnya Fay dan Angel sudah kembali ke kota Jakarta setelah menghabiskan waktu berdua di Villa yang ada di Bogor.
"Mas.. ada yang ingin aku lakukan lagi semenjak pertama kali kita bertemu di 5 tahun yang lalu dan menjadi sekertaris mas."
"Oh ya? Apa?"
"Aku ingin memasangkan dasi Mas Fay sekarang."
Fay hanya menurut dan menyerahkan dasi yang berada ditangannya kemudian bersimpuh didepan Angel. Pria itu menatap kedua mata Angel tanpa berkedip ketika istrinya itu terlihat fokus memasangkan dasi untuknya.
Pemasangan dasipun selesai. Angel merasa puas dan senang karena pagi ini bisa mempersiapkan segala kebutuhan suaminya sehinnga pada akhirnya Fay mencium kening Angel.
💞💞💞💞

Siang harinya, Fay sudah berangkat kerja sejak pagi tadi. Saat ini, Angel merasa bosan dan niatnya kali ini ingin masuk ke kamarnya sendiri lalu langkah kedua tangannya yang memutar kursi roda tiba-tiba terhenti saat melewati kamar Feby yang terbuka sedikit dan dilihatnya adik iparnya itu sedang sibuk.
Dengan sopan Angel mengetuk pelan pintunya dan membuat Feby menoleh keambang pintu.
"Kak Angel?"
Angel tersenyum kikuk. "Em, apakah kakak menganggumu?"
"Tentu saja tidak kak." Feby pun segera mendekati Angel lalu mendorong kursi rodanya dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Apa yang sedang kamu kerjakan Feb?" Angel menelusuri pandangannya ke seluruh kamar Feby yang begitu luas dan feminim bahkan sedikit berantakan disalah satu meja besar yang diatasnya ada beberapa barang dan hasil karya Feby.
"Kamu.. sering membuat kerajinan tangan ya?" tanya Angel yang kini Feby memilih duduk dipinggiran ranjang dan saling berhadapan dengannya.
"Iya kak. Aku senang sekali bisa membuat sesuatu dengan hasil karya sendiri dan kupajang di kamarku. Lihatlah di sekeliling kakak, banyak sekali barang-barang hasil buatan tanganku."
Dan itu memang benar, ada beberapa benda-benda yang terpajang dikamar Feby salah satunya lukisan abstrak dari hasil karya tangannya sendiri ketika berlibur ke Jogja sekeluarga, tak hanya itu saja.. ada Vas bunga dari bahan plastik, syal rajut dan masih banyak lagi. Bahkan, tanpa Angel sadari hasil karya Feby pernah diberikan pada sosok pria yang pernah ia sukai meskipun ditolaknya. Siapa lagi kalau bukan Rex.
Tiba-tiba terlintas sesuatu pemikiran ide cemerlang dalam benak Angel.
"Em, Feb.. apakah kamu memiliki sebuah manik-manik besar? Seperti butiran mutiara atau semacamnya?"
Feby mengusap dagunya sejenak sambil berpikir. "Sepertinya ada. Apakah kakak ingin membuat sesuatu?"
Angel mengangguk antusias. "Iya Feb! Kamu benar, aku ingin membuat sesuatu untuk Mas Fay karena tiga hari lagi ia akan ulang tahun. Setiap tahun aku memberinya kado dengan membelikan sesuatu dari hasil gajiku ketika menjadi sekertarisnya dan sekarang aku ingin membuat kado dari hasil karya buatan tanganku dan membuatnya terkesan."
Untuk sesaat, Feby menatap kedua mata Angel sejenak. Ntah mengapa mendengar kakak iparnya yang begitu antusias ingin membuat hadiah untuk Fay tiba-tiba merasakan sesuatu firasat yang membuat hatinya takut.
"Feby??" lambaian tangan Angel membuyarkan lamunan Feby yang menatap Angel
"Eh, i-iya kak? Wah. Em.. bagus deh kak kalau gitu. Tapi tenang aja, aku tidak akan memberitahukan hal ini pada kak Fay kok."
Ntah dorongan dari mana Feby pun memeluk tubuh Angel dengan erat. Membuat Angel terkejut dan kemudian mengelus pelan punggung adik iparnya
"Terima kasih kak." ucap Feby dengan pelan. "Terima kasih sudah hadir didalam keluargaku dan tentunya menjadi istri sekaligus cinta pertama dan terakhir buat kak Fay."
Angel tersenyum lembut "Sama-sama Feby. Aku yang berterima kasih karena kalian sekeluarga sudah menerimaku dalam kondisiku yang seperti ini."
Feby semakin memeluk Angel dengan erat dan berkata lirih. " Feby sayang sama kak Angel. Sehat selalu kak."
"Dan jangan pernah pergi tinggalkan Kak Fay dan kami.' lanjut Feby dalam hati.
Dan tanpa diduga, Feby mengeluarkan air matanya dan menangis dalam pelukan Angel tanpa suara dan isakan yang tidak disadari oleh Angel yang kini sebenarnya merasakan sesuatu yang sama seperti Feby.
"Aku tidak janji oleh hal itu Feb, dan aku tidak ingin berpisah dengan kalian. Tapi terima kasih sudah mendoakanku agar selalu sehat meskipun aku tidak tau sampai kapan aku bisa bertahan." lirih Angel dalam hati.
💞💞💞💞
Terima kasih sudah baca. 
Dan kalian bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii.
Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤️
Next, Chapter 50 Better With You. Klik Link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar