Chapter 51 : Better With You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 13 Februari 2020

Chapter 51 : Better With You


Setibanya dirumah sakit, Angel segera ditangani oleh petugas tim medis untuk penanganan lebih lanjut. Ava yang berada di kondisi seperti itu lekas memakai Jas dokternya dan segera memeriksa kondisi Angel yang mengkritis. Fay terbujur kaku dan cemas dengan keadaan istrinya yang membuatnya ketakutan. Aisyah berusaha menenangkan Fay yang terlihat gelisah bahkan rela berdiri hanya untuk memeluk tubuh putranya.
"Fay, tenanglah, insya Allah Angel baik-baik saja. Lebih baik kita berdoa." bujuk Aisyah sambil menarik pergelangan tangan Fay dan membawanya duduk di kursi tunggu pasien.
Sedangkan Anna, wanita itu sejak tadi seengukan disamping Farrel yang kini tengah mengusap pelan lengannya. Baik keluarga Fandi maupun Rex, semuanya hadir dirumah sakit saat ini demi Angel. Bahkan, Aifa pun terlihat terpukul dan menangis dalam pelukan Daddynya yang tak kuasa menahan kesedihannya karena sahabatnya yang mengalami kritis.
Waktu terus berjalan, jam menunjukan pukul 21.00 malam. Sudah 1 jam semuanya menunggu diluar ruangan UGD, menunggu kepastian yang jelas tentang keadaan Angel. Wajah mereka pun terlihat sangat cemas terlebih Fay yang sejak tadi ketakutan dan tak henti-hentinya mengucapkan kata doa dalam hatinya.
Pintu terbuka lebar ketika sosok Ava keluar oleh peluh yang terlihat banyak didahinya. Terlihat sekali jika dokter wanita itu berusaha menangani Angel dengan semampunya.
Fay beranjak dari duduknya dan segera mendatangi posisi Ava yang kini berdiri tak bersemangat. "Ava, bagaimana keadaan Angel didalam." tanya Fay dengan raut wajah pucat dan kecemasan yang melanda dirinya.
"Angel sempat tidak sadarkan diri dan sekarang sudah siuman. Tapi.." kalimat ucapan Ava menggantung sesaat menatap Fay yang kini menunggu lanjutan ucapannya.
"Tapi apa? Angel baik-baik saja kan?"
Ava menarik napas sejenak. Berusaha menguatkan hatinya dan ucapannya yang tidak tega keluar begitu saja untuk menyampaikan hal mengenai Angel saat ini.
"Keadaanya memburuk, seluruh sistem saraf tubuhnya sudah tidak bisa bekerja lagi dalam artinya mati rasa karena kanker darahnya yang sudah menyebar sehingga membuat Angel tak bisa bangun dan duduk lagi mengingat kondisinya distadium akhir. Tapi untuk berkomunikasi, Angel masih bisa berbicara namun tidak bisa berkata banyak karena diirinya yang melemah. Hanya sebuah keajaiban dan mukzizat dari Allah yang bisa menyembuhkan Angel dan jika Angel bisa bertahan, itupun sampai waktu disubuh nanti sesuai kondisinya."
Fay terdiam dan melemas seketika. Dengan menguatkan hatinya ia kembali berkata. "Bolehkah aku masuk kedalam untuk..." Fay memejamkan matanya sejenak, mendapati situasi yang menyedihkan untuk dirinya dan istrinya. "Untuk melihatnya?"
"Tentu saja. Masuklah kedalam, Angel membutuhkanmu malam ini."
Fay segera masuk kedalam UGD namun sebelum dirinya menghilang dibalik pintu UGD, Ava kembali memanggilnya.
"Fay..."
"Ya?" ucap Fay ketika menolehkan kebelakang melihat Ava yang masih memasang raut wajah cemas.
"Aku minta tolong padamu jangan membuatnya banyak pikiran saat ini."
Fay terdiam sesaat, baik Fay maupun seluruh kerabat dekat yang kini berada diruang tunggu UGD mulai terlihat sangat menyedihkan bahkan Anna pun menangis histeris mendengar semua penuturan Ava yang memang didengar oleh semuanya. Fay segera mengangguk dan memasuki pintu UGD, melangkahkan kakinya kedalam ruangan yang penuh dengan aroma obat-obatan serta hawa dingin AC yang begitu dingin di kulit.
Fay melirik disetiap tirai-tirai pembatas pasien dan disudut ruangan lah tempat dimana istrinya berada. Fay terdiam sesaat, memandang nanar dari celah-celah tirai yang terlihat Angel sedang terbaring lemah oleh beberapa alat bantuan medis ditubuhnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Fay segera mendatangi Angel dan duduk disamping istrinya. Menggenggam lembut pergelangan tangan Angel yang terlihat sangat dingin dan memucat bahkan mengurus karena termakan oleh situasi dan penyakit yang menggerogotinya.
Angel merasakan sesuatu yang hangat di telapak tangannya dan mendapati Fay kini menggenggam tangannya oleh senyuman yang sebisa mungkin Fay tunjukan untuk istrinya seolah-olah semuanya baik-baik saja.
"M-mas...." lirih Angel dengan terbata-bata.
"I'm here my wife." suara Fay terdengar lebih pelan dan lembut sembari mengusap punggung tangan Angel dan mengecup buku-buku jarinya dengan hangat oleh bibirnya.
"M-mas F-fay.."
"Iya sayang.. aku disini. Aku janji tidak akan meninggalkanmu sedikitpun." ucap Fay sambil mengusap kepala istrinya.
"Sakit.. sa-skit Mas.." lirih Angel dengan terisak dan buliran air mata yang sayu mengalir di pelipisnya.
"Yang mana yang sakit? Bilang sama aku Angel."
"Semuanya mas.. se-semuanya Te-terasa sakit." Angel hendak mengulurkan tangannya yang tak digenggam oleh Fay dan terdapat sebuah impusan dipunggung tangannya tapi tidak bisa. Fay melirik kearah tangan Angel yang ia maksud dan mengerti apa yang dimaksud Angel.
Dengan perlahan Fay menggenggamnya dan menciumnya dengan lembut seraya mengusap punggung tangan Angel.
"Bersabarlah Angel, ini memang menyakitkan. Kita harus berjuang bersama-sama dan aku akan terus berada disampingmu."
"M-mas.."
"Hm??" Fay mendekat, mencium kelopak mata istrinya dan berusaha menahan tangisannya sendiri karena biar bagaimanapun dirinya tak sanggup melihat keadaan istrinya saat ini. Jika bisa di balik, ingin rasanya ia menanggung penyakit istrinya.
"A-aku ingin pulang."
"Angel..."
"Mas..." lirih Angel lagi.
Bahkan hanya untuk menyentuh pipi Fay saja rasanya tak mungkin mengingat seluruh tubuhnya sudah mati rasa.
"A-aku ingin dirumah. A-aku ti-tidak mau disini. A-aku takut ini sangat menyakitkan mas. Se-semuanya. Ja-jarum di punggung tanganku sangat sakit. A-aku ingin istrirahat dirumah, di-dikamar bersama Mas Fay."
Tak ada yang bisa Fay lakukan saat ini ketika sebisa mungkin ia menahan air matanya sejak tadi dan akhirnya menetes juga. Fay merunduk, memeluk tubuh istrinya. Dirinya pun tak kuasa dan tak tega menolak keinginan istrinya apalagi mengingat kondisinya yang memburuk dan harus berada dirumah sakit serta jangan lupakan kondisi Angel yang bisa bertahan sampai subuh nanti.
"Baiklah, ayo kita pulang. Kamu ingin aku peluk kan?" Fay berusaha tersenyum sendu dan Angel pun mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara lagi, Fay segera pergi mendatangi pihak rumah sakit untuk membicarakan kemauan istrinya yang tentunya harus ada persetujuan dari Ava, sebagai dokter yang menangani Angel selama ini.
Begitu Fay sudah menghilang dari pandangannya, Angel berucap dalam hati. "Maafkan aku mas, ini sungguh menyakitkan. Aku hanya bisa berharap Allah memberiku kekuatan agar aku bisa bertahan sampai rumah. Aku janji, ketika sudah sampai rumah nanti.. aku akan terus memandang wajahmu tanpa henti sebelum aku benar-benar pergi." ucap Angel dalam hati. 
💞💞💞💞
Pukul 23.00 malam
Sesuai kemauan Angel, akhirnya Angel pun dibawa pulang kerumah setelah mendapat persetujuan dari Ava. Saat ini Angel sudah berada dikamar Fay. Dan seluruh orang-orang terdekat berada diluar. Menemani Angel dan tak ada sedikit pun yang pergi ataupun pulang
"Mas..."
"Hm?"
"Tolong pakaikan syar'i putihku. Aku ingin memakainya, karena hari ini masih hari ulang tahun mas Fay." Fay hanya diam dan menurut, dengan perlahan dan penuh kasih sayang.. Fay memakaikan syar'i putih tersebut ketubuh Angel hingga selesai.
Angel terbaring lemas. Wajahnya memucat oleh bibirnya yang memutih.. kedua matanya sangat sayu dan sembap. "Mas.. A-aku ingin semuanya mendatangiku sekarang se-secara bergantian."
Fay kembali memilih duduk disamping istrinya sambil mengusap pelan pipinya. "Sayang, ini sudah larut. Kamu harus-"
"Ku mohon mas, sekali ini saja. Aku janji setelahnya akan istrirahat." lirih Angel lagi.
Dan untuk sesaat, Fay bertambah sedih mendengar kata 'istirahat' seolah-olah itu adalah arti kepergian istrinya yang sesungguhnya.
"Mas.."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Fay pun segera pergi dari kamar dan memanggil satu per satu orang-orang terdekat tersebut dan yang pertama adalah mertuanya. Waktu terus berjalan, sesuai kemauan Angel, satu per satu secara bergantian memasuki kamar Fay dan menemui Angel. Bahkan semua yang ada dirumah Fay saat ini membatin jika ini adalah permintaan terakhir Angel sebelum pergi. Semuanya menangis, Farhan berusaha menenangkan Aisyah dan juga Feby yang kini berada diluar ruangan.
Begitupun Fandi yang menenangkan Ayesha serta Aifa yang menangis didalam pelukan Franklin dan Frankie. Rex hanya terdiam dan menunduk. Sesekali ia menghapus bulir air mata di sudut matanya. Dan Ava, dokter wanita itu memilih menyendiri oleh kesedihannya.
Waktu menunjukan pukul 23.30 malam. Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja mereka semuanya bertemu dengan Angel.. disisilain, mereka tidak ingin berlama-lama karena biar bagaimanapun mereka memikirkan kondisi Angel.
Dan sekarang, tibalah saatnya Fay yang kembali memasuki kamarnya. Membuka kemejanya dan hanya bertelanjang dada menyisakan celana jeansnya dan menaiki tempat tidurnya kemudian memeluk tubuh istrinya sembari merubah posisi Angel menghadap dada bidangnya.
"Sayang, ini sudah malam. Saatnya kita-"
"Aku tidak mau mas.." lirih Angel.
"Kenapa? Bukankah tadi kamu berjanji akan beristirahat setelah bertemu dengan mereka?" ucap Fay yang kini meraba lembut pipi cekung istrinya.
Angel mengeluarkan air matanya dan berusaha untuk tersenyum. "Aku takut jika beristirahat nanti tidak akan kembali lagi."
"Jangan berkata seperti itu." ucap Fay lagi dan memeluk erat tubuh istrinya. "Yakinlah jika semua keputusan dan takdir hanya Allah yang menentukannya."
"Mas.."
"Hm?"
"Berjanjilah ji-jika suatu saat M-mas bisa berbahagia dengan seorang wanita." suara Angel kini terdengar lebih pelan bahkan nyaris serak. Fay sangat tau, untuk berbicara seperti ini Angel benar-benar membutuhkan tenaganya.
"Untuk apa aku mencari wanita lain jika kamu adalah istri yang aku cintai Angel?"
"Ka-karena..." Angel memejamkan matanya sejenak. Menarik napas oleh kesakitan yang terasa disekujur tubuhnya..
"Angel..."
"Ka-karena aku ti-tidak akan bisa bertahan mas. I-ini su-sungguh menyakitkan, izinkan A-aku mas.. ikhlaskan A-aku pergi untuk sesaat. Aku tidak i-ingin melihat mas hikzzz..."
Baik Fay maupun Angel keduanya pun menangis dalam keheningan malam.. napas Angel naik turun dan sesak. Angel membatin dan merasa jika dirinya tak bisa bertahan lama lagi.. "Angel, kamu benar-benar membuatku takut. Berhentilah untuk berkata yang tidak-tidak."
"Ini sakit mas.. hikzz.. A-aku berusaha menahannya namun se-semakin aku bertahan semuanya terasa menyiksa." Dengan perlahan, Fay mengecup kening dan kedua mata Angel secara lembut.
"Mas.."
"Hm?"
"Ci-cium A-aku lagi dengan lembut. A-aku akan merindukan ci-ciuman kasih sayang dari mas. Plish.. lakukan lagi."
Fay hanya diam dan menuruti keinginan istrinya. Memberikan ciuman lembut disemua wajah Angel, baik dikening, kedua mata, puncuk hidung ataupun bibir Angel.
"Te-terima ka-kasih Mas.. a-atas segalanya, A-aku minta ridho dan maaf dari Mas ji-jika selama ini ada salah. Ba-baik saat dulu be-bekerja dengan mas sa-sampai..."
"Sudah Angel, Plish.. jangan terus meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu. Jangan semakin membuatku takut." potong Fay dengan cepat oleh air matanya yang berlinangan.
"A-aku ingin,...." Angel menarik napas sejenak dan mengumpulkan tenaganya untuk berbicara. "Aku ingin menghapus air mata mas. Ta-tapi tanganku ti-tidak bisa bergerak."
"Jangan memaksa Angel." Fay kembali memeluk tubuh Angel dan lagi-lagi ditengah keheningan malam. Angel mengeluhkan rasa sakit ditubuhnya..
Hingga akhirnya, merekapun memilih saling diam dan memandang satu sama lain dalam jarak wajah yang sangat dekat. Fay bisa merasakan bagaimana napas Angel yang mulai menyendat menerpa wajahnya, kedua mata Angel berusaha terbuka lebar meskipun istrinya itu sedang berusaha namun Fay bisa mengerti jika istrinya itu sedang menahan sakit. Hingga akhirnya secara perlahan sayup-sayup Angel memejamkan matanya.
Dan akhirnya, dengan segala pemikirannya dan keteguhan hatinya.. dengan berat hati, Fay kembali berkata. "Angel.. sayangku, istri yang aku cintai. Aku akan mengalah jika memang kamu ingin beristirahat. Aku tidak ingin menjadi suami egois yang menahan istrinya yang sedang melawan kesakitan.. jika kamu ingin tidur, lakukanlah. Aku janji, akan menunggumu hingga terlelap. Beristirahat lah.."
Angel sudah tidak bisa berkata-kata lagi, mulutnya terbuka menganga sedikit oleh kedua matanya yang memejam. Fay tidak tau apakah istrinya tadi mendengar semua omongannya.. namun, dengan segala kekuatan hatinya Fay sangat tau apa yang akan dilakukannya sekarang.
Dengan perlahan, Fay kembali duduk dari posisi tidurnya dan meraih kembali kemejanya kemudian memakainya. Setelah itu, Fay segera kembali merebahkan diri disamping Angel dan sedikit mengembalikan posisi Angel kesemula dengan berbaring terlentang.
Sekali lagi, Fay menghapus air matanya sejenak. Ia pun segera mendekatkan bibirnya ditelinga Angel yang berada disebelah kanan dan berucap oleh hatinya yang pilu dan terpukul.
"Laa ilaaha illallaah.." tuntun Fay dengan pelan.
Fay berusaha menahan isakannya dan mencoba untuk memfokuskan diri menuntun istrinya yang menjelang ajalnya.
"Laa ilaaha illallaah.." ucap Fay sekali lagi.
Fay terus mengucapkannya sembari mengusap kening Angel hingga ucapan Laa ilaaha illallaah yang ke lima kalinya, Tepat pukul 00.00 dinihari, Angel menghentikan gerakan mulutnya oleh kedua air mata yang mengalir dikedua pelipisnya.
Dengan perlahan, oleh air mata yang berderai dimatanya.. Fay mengusap pelan wajah istrinya dari kening hingga keseluruh wajah Angel kemudian menutup mulut Angel dengan pelan.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, selamat jalan Angel. Istriku tercinta, terima kasih telah mencintaiku karena Allah dan mengisi hari-hariku sebagai pasangan halalku meskipun hanya selama 10 hari, aku mencintaimu. Istrirahatlah dengan damai dan tunggu aku di surga, aku mengikhlaskanmu." dan setelahnya, hanya suara pekikan dan tangisan nyaring oleh kesakitan yang dialami Fay sambil memeluk tubuh istrinya yang kini terasa dingin dan kaku oleh pakaian syar'i putih yang di inginkan Angel sejak kemarin.
Pintu terbuka nyaring dan semuanya pun masuk, mendapati kenyataan bahwa menjelang pergantian hari.. Angel menghembuskan napas terakhirnya. Anna yang melihat hal itu histeris bahkan menangis kencang, dan Aifa... Sosok sahabat Angel sejak usia kecil pun menangis kencang hingga pingsan. Semuanya pun menangis, mendapati Angel telah tiada dalam pelukan Fay, sosok suami tercintanya.
💞💞💞💞
Terima kasih sudah baca. 
Dan kalian bisa bersapa dengan author di Instagram : lia_rezaa_vahlefii.
Sehat selalu buat kalian. 
Jangan lupa berikan vote dan komentarnya ya.
With Love
LiaRezaVahlefi ❤

Next, Chapter 52 Better With You. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar