Hate Or Love : Amarah Rex pada Ray - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Amarah Rex pada Ray




Satu bulan kemudian..
Selain keberadaan Ronald dan Ray di Los Angeles karena ingin mendatangi Luna, Ronald memiliki kerjasama bisnis dengan koleganya yang di Los Angeles.
Selama itulah mereka memiliki tempat tinggal sementara di sebuah penthouse kelas elite di jantung kota Los Angeles.
Ray basah akibat hujan yang mengguyur dirinya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah tiba di tempat mommy-nya berada hingga 20 menit kemudian, Ray tiba dengan basah kuyup oleh wajah yang mulai membiru dan bibir gemetar.
Luna yang kebetulan baru saja pulang dari berjalan kaki sambil membawa payung terkejut ketika mendapati seorang anak laki-laki yang ia ingat sebulan lalu pernah membeli bunga di tempatnya terlihat kedinginan. Luna segera mendekati Ray.
"Ya ampun, kau basah. Ke mana orang tuamu, Nak?"
Luna segera menggandeng pergelangan tangannya untuk memasuki toko. Ray mengigil dan ada rasa bahagia di dalam dirinya akhirnya bertemu mommy-nya meski dalam keadaan basah kuyup, bahkan saat ini Luna menarik pergelangan tangannya menuju ruang kerjanya.
Sesampainya diruangannya, Luna segera menghidupkan penghangat ruangan. Membuat susu hangat untuk Ray.
Ray yang melihat aktivitas mommy-nya memilih tetap berdiri meskipun ada rasa lelah akibat berlarian di sepanjang jalan.
Luna membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di atas meja, kemudian menatap Ray yang berdiri sambil memeluk tubuhnya yang mengigil. Merasa tidak tega, Luna mendekati dan menarik pergelangan tangannya untuk duduk di sofa sambil berhadapan.
Ray kembali berdiri. "Em, a-aku ... maaf aku tidak bisa duduk, A-aunty."
"Kenapa? Kau kedinginan dan terlihat lemas untuk berdiri. Duduklah"
"Aku ... aku takut membasahi sofa Anda."
Luna tersenyum dan menarik pergelangan tangan Ray lagi. "Tidak apa-apa. Duduklah."
Dengan penuh kelembutan, Luna mengusap wajah Ray. Dimulai dari kening Ray hingga kedua pipinya.
"Tunggu di sini. Aunty akan membawakanmu pakaian ganti."
Ray menggeleng. "Tidak perlu, Aunty. Aku tidak ingin merepotkan Anda."
"Kau sama sekali tidak merepotkan, Nak. Tidak apa-apa. Kebetulan di sini ada pakaian anak Aunty waktu seusiamu. Aunty rasa ukurannya sangat pas denganmu. Sebentar." 
Mengabaikan Ray yang hendak menolak, Luna memilih segera menuju ruang khusus tempatnya beristirahat.
Ray memilih diam. Rasanya ia ingin menangis terharu ketika pertama kalinya ia merasakan sentuhan lembut di wajahnya dari mommy-nya tadi.
Namun, semua itu tidak lama ketika pintu kembali terbuka dan berdirilah seorang anak kecil berumur sepulu tahun yang Ray tahu adalah Rex. Kakak tirinya.
Rex memasuki ruang kerja dan tidak lupa kembali mengunci pintunya dengan tatapan marah yang sejak tadi ia tahan tanpa Luna dan Ray sadari, ia melihat keduanya memasuki toko bunga.
"Bagus sekali. Bagus sekali!!!" 
Mendapati Rex yang terlihat tidak suka, Ray memilih berdiri dengan kebingungan.
"Sedang berusaha mencari perhatian mommy-ku? Huh?!"
"A-apa maksud Kakak? Aku-"
"Kau bilang apa? Kakak?! Menjijikkan sekali!" Perlahan, Rex mendekati Ray dan berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan pernah memanggilku seperti itu karena aku tidak sudi, Ray Chevalier!"
Seketika Ray terkejut oleh Rex yang mengetahui namanya. Matanya membelalak menatap Rex tidak percaya.
"Kenapa? Kau terkejut aku mengetahui namamu?Ck!"
"Aku ... aku tidak mengerti maksud Kakak. Aku-"
"BERHENTI MEMANGGILKU KAKAK, KARENA AKU TIDAK SUDI!!!"
Rex mendorong Ray hingga bocah kecil itu jatuh terduduk di sofa. Mendapati Rex begitu kasar dengannya, Ray pun mengeluarkan air mata.
"Simpan saja air matamu itu! Aku bahkan tidak terpengaruh sama sekali, kau hanya seorang anak yang terlahir dari rahim yang tidak diinginkan! Kau tau? Ayahmu yang bodoh itu dengan menjijikkannya menamaimu sama seperti ayahku! Kau!! Kau anak pembunuh!!!"
Merasa amarah memuncak sudah Rex tahan selama bertahun-tahun, ia merogoh sebuah pistol yang diam-diam ia curi milik mommy-nya.
Mengarahkannya pada kening Rex. Dengan tubuh gemetar, Rex yang masih kecil ketakutan dan menangis oleh isakannya.
"A-apa yang kau lakukan ...."
Rex tersenyum angkuh dengan tatapan sinisnya. "Sudah jelas bukan?" Suara pelatuk ditarik.
"Merasakan apa yang dirasakan daddyku sepuluh tahun lalu akibat perbuatan ayahmu itu. Kau pantas mendapatkannya."
πŸ”«πŸ”«πŸ”«πŸ”« 
πŸ˜” Rex emosi banget sama Ray.
Kita slow update sambil menunggu jelang open PO Hate or Love bulan depan ya. Ini sudah akhir bulan loh πŸ˜†
Doakan saja semoga lancarπŸ€—
Dan makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.
With Love πŸ’‹
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
NEXT, CHATER SELANJUTNYA. KLIK LINK DI BAWAH INI :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar