Hate Or Love : Mengalah demi Ronald - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Mengalah demi Ronald




Los Angeles, AS
Tiada hari tanpa kesedihan ketika Luna mulai merasa jenuh.  Mencoba mencari udara segar, Luna memilih melangkah menuju sebuah taman luas  di bagian belakang mansion. 
Semilir angin terus berembus dan hari yang sangat cerah, 
Luna terus melangkah perlahan. Suasana yang sepi membuatnya tanpa sadar melangkah lebih jauh dan mendekati pepohonan besar yang kini di depan matanya.
Merasa ia terlalu jauh dari mansion,  Luna memilih membalikkan badan untuk kembali menuju mansion ketika suara langkah kaki menginjak dedaunan kering membuatnya menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun di sana.
Luna mengerutkan dahi. Ia merasa sedang diikuti. Situasi yang sedikit membuatnya khawatir, terlebih tidak membawa senjata apapun, Luna memilih pergi dari sana dan melangkah dengan cepat bahkan berusaha untuk lari ketika seseorang tiba-tiba mendekap tubuhnya dari belakang lebih cepat, bahkan membekap mulutnya.
Luna terus meronta namun pikirannya mendadak buntu. Sesuatu yang begitu familiar baginya ketika saat ini seseorang tersebut menyentuh tubuhnya.
Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan bahkan sangat-sangat ia rindukan. Terlalu berkecamuk dengan pemikirannya, tanpa diduga seseorang tersebut membawa Luna ke area pepohonan lebat, kemudian mendorong tubuhnya hingga Luna mundur beberapa langkah, punggungnya mengenai batang pohon besar.
“Si-siapa kau! Jangan coba-coba menyakitiku! Kau lupa jika saat ini sedang di wilayah yang penuh penjagaan?!”
Seseorang tersebut menatap Luna tanpa berkedip di balik kaca mata hitam bahkan penampilannya kali ini serba hitam oleh masker penutup wajahnya yang senada.
Luna menatap tajam seseorang tersebut yang diketahui adalah seorang pria. Seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan tegap oleh lekukan otot di tubuhnya. Namun, kali ini Luna merasakan keterikatan dengan pria tersebut.
Mencoba berani, Luna kembali berkata, “Pergilah!!!”
Pria itu tetap mematung, enggan beranjak dari sana. Luna mulai berpikir dan memilih pergi dari sana. 
Namun, pria itu lagi-lagi mencekal pergelangan tangannya, bahkan mengukung tubuhnya hingga tersandar di pohon belakangnya.
“Apa yang kau inginkan dariku! Jangan coba-coba untuk—”
Luna tertegun saat tanpa diduga dengan perlahan pria tersebut meraih tangannya dan menggenggam jari-jarinya dengan lembut, bahkan mengarahkan tepat di bagian dadanya. Perlahan, Luna merasakan detak jantung pria itu yang berdebar sangat kencang di balik telapak tangannya.
Luna membeku seketika. Benaknya mulai menerka, namun hal itu mustahil. Luna sangat tahu. Perlakuan seperti ini ia lakukan saat bersama pria yang ia cintai 10 tahun lalu.
Tidak. Ini ... salah. 
Pria itu semakin menggenggam tangannya dengan kuat bahkan meremasnya dengan lembut. Luna semakin larut dalam suasana.
Dengan sedikit keberanian, perlahan Luna mengulurkan tangan untuk melepas kacamata pria itu. Ya, seketika kedua mata Luna berkaca-kaca oleh keterkejutannya.
“Tidak, i-ini ... ini tidak mungkin. A-aku, aku salah.” Luna terus berkata 'tidak'. Namun, tangannya yang gemetar berusaha menarik perlahan masker wajah yang tersisa dikenakan pria itu.
Seketika Luna membelalakan kedua matanya. “R-ray?”
“Maaf.”
“Tidak! I-ini tidak mungkin! A-aku pasti sedang berhalusinasi.” Dengan frustasi Luna mendorong dada bidang Ray hingga pria itu temundur ke belakang beberapa langkah.
“Maafkan aku”
Luna menggeleng cepat sambil menutup wajahnya dengan frustasi.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
“K-kau … kau sudah—ti-tidak mungkin! tidak mungkin! Ini semua salah!!”
Pria tersebut memandang wajah Luna dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia tahu apa yang dirasakan wanitanya, miliknya, jantung hatinya.
Bagaimana ketika selama ini menanggung semua beban pilu dengan sendirian.
Perlahan, pria tersebut kembali melangkah mendekati Luna. Luna yang menyadari hal itu memilih mundur dengan tubuh gemetar ketakutan, bahkan punggungnya kembali menyentuh pohon besar yang ada di belakangnya. Luna terlihat rapuh. Tidak berdaya sedih bahkan sangat ketakutan.
“A-apa yang kau lakukan! Ini salah! Kau sudah tiada 10 tahun yg lalu.”
“Ini aku. Percayalah.”
“Tidak! Seseorang yang sudah mati tidak mungkin hidup kembali.” Pria tersebut menghimpit tubuh Luna, bahkan secara perlahan menarik pinggulnya. Luna semakin merasakan nyeri di hatinya.
Bagaimana sentuhan dan perlakuan tersebut tetap sama seperti dulu. Tidak berubah hingga kedua telapak tangan Luna mencengkram dada bidang pria itu.
“Apakah aku harus membuktikannya padamu?” Sejenak, kedua mata mereka bertemu. Ada pancaran rindu dan cinta teramat dalam di keduanya.
Perlahan, pria tersebut mencium kening Luna tanpa ragu hingga pikiran Luna lumpuh dan terperdaya. 
Luna sama sekali tidak menolak.
Ciuman ini ... adalah ciuman kerinduan yang mereka rasakan. Murni dan tidak berubah sampai kapan pun, bahkan Luna mulai menyadari jika ini benar-benar Raynya, suami tercinta, ayah dari buah hatinya, yang selama ini merindukannya.
Mereka larut dalam situasi penuh kerinduan hingga akhirnya pria itu melepaskan ciumannya pada kening Luna dan memundurkan langkahnya.
“Kau ... Ray ... i-ini, kenapa kau meninggalkanku selama ini? Kenapa kau membuatku tersiksa bersama Rex? Ke-kenapa? Kenapa, Ray? Kenapa!!!!” Seketika tangis Luna pecah.
Ray yang tidak sanggup melihat istrinya menangis memilih menundukkan wajahnya oleh perasaan bersalah.
“Maafkan aku.”
Luna kembali menatap Ray dengan derai air mata. “Untuk apa kau meminta maaf? Kau tidak salah! Kau—”
“Maafkan aku,” ucap Ray lagi. Bahkan wajahnya kini mulai memucat. 
“Berbahagialah.”
“Ray..”
“Aku ingin kau tersenyum seperti dulu.”
“Tidak! Aku tidak bisa.”
“Kau pasti bisa. Percayalah padaku.”
“Ray ....”
Perlahan, Ray merogoh pistol di balik sakunya dan mengarahkannya pada pelipisnya sendiri.
“A-apa yang kau lakukan?!” ucap Luna secara terbata-bata, bahkan ia melangkah mendekati Ray. Namun pria itu mencegahnya.
“Aku hanyalah masa lalu. Lupakan aku, berbahagialah bersama putra kita. Bersama seseorang yang mungkin akan menerimamu dan mencintaimu dengan tulus, serta menjagamu dan putra kita sampai kapan pun.”
“Hentikan! Ray, kumohon hentikan!!”
Ray mulai menarik pelatuknya dan Luna semakin ketakutan.
“Ray! Jangan—”
“Aku mencintaimu. Aku hanyalah masa lalu dan kenangan.”
“Tidak! Kau memang masa laluku, tapi kau juga masa depanku, dan kau bukan kenangan!”
Luna merasa frustasi, bahkan ketakutan. Apalagi suaminya itu sudah menarik pelatuk pada pistol yang kini mengarah di pelipisnya. Ray tersenyum tipis pada Luna.
Senyum yang tidak pernah Luna lupakan sampai kapan pun, senyum yang begitu ia suka sekaligus ia cinta.
“Berbahagialah menuju masa depanmu. Aku mencintaimu.”
“Ray, aku—”
Ray menembak diri sendiri dan tersungkur di tanah oleh darah yang mengalir di kepalanya. Luna segera melangkah ke arahnya dan memeluknya dengan erat.
“R-ray, ka-kau ... ke-kenapa? Hiks.”
Seketika tangisan Luna pecah, histeris sambil memeluk tubuh Ray yang tidak bernyawa hingga bermenit-menit lamanya karena tidak sanggup kehilangan.
Merasa frustasi, Luna meraih pistol di tangan Ray, kemudian mengarahkan ke dirinya dan menarik pelatuknya.
“Aku, aku tidak sanggup menahan kesedihan ini, Ray. Maafkan aku.”
Seketika Luna terkejut, terbangun tegak sambil memegang jantungnya yang berdetak sangat kencang. Peluh membanjiri dahinya, wajahnya memucat bahkan napasnya tersengal-sengal.
“Ya Allah ... i-ini cuma mimpi,” lirih Luna.
Luna menghela napas, merasa tenggorokannya kering ia meraih segelas air putih yang ia letakkan di meja samping tempat tidurnya dan menenggaknya hingga habis.
Luna kembali meletakkan gelas tersebut di atas meja dan menyanderkan tubuhnya sejenak di bed head oleh pandangannya yang menerawang. Barusan ia bermimpi Ray.
Lagi-lagi Luna merasakan hatinya sangat sakit. Ia teringat sesuatu dan segera membuka laci meja di samping tempat tidurnya, kemudian terdiam sejenak.
Sebuah kotak berukuran sedang yang tak pernah ia sentuh selama ini. Kotak yang sudah berusia 10 tahun yang lalu.
Perlahan Luna meraihnya, kemudian membuka penutup kotaknya. Kedua matanya terpaku oleh sepucuk surat yang terlihat usang, namun masih sangat rapi oleh perekat di balik amplopnya.
Surat dari Ray untuknya yang di titipkannya melalui Farrel. Luna tahu, di sana terdapat beberapa kata dari pria yang ia cintai, namun hingga saat ini ... ia belum berani membukanya meski sudah 10 tahun lamanya.
Luna sengaja karena ia terlalu takut. Ia takut tidak sanggup menahan kesedihan untuk membaca setiap torehannya. Luna menatapnya sejenak, mimpi itu sangat jelas.
Bahkan Ray menyuruhnya bahagia. Bahagia untuk apa jika saat ini dan dulu semuanya sama saja? Tersiksa oleh sebuah kenangan cinta.
Tidak mau semakin sedih, Luna kembali menutup kotak tersebut kemudian menutup laci mejanya. Luna menghela napasnya dan ia tidak tahu kapan waktunya harus membaca surat tersebut.
Terlalu sedih untuk dirasa. Terlalu sedih untuk dikenang dan terlalu sedih untuk diucapkan, sekalipun ia sendiri mulai mencintai seseorang namun mustahil untuk diraih.
Luna memilih mengalah. Mengalah dan mencoba mengikhlaskan kepergian cintanya yang ketiga kalinya.
Perlahan, Luna melepas anting-anting yang ia kenakan. Anting-anting yang selama ini ia beri alat kecil untuk membantu mendengarkan peretas suara Ronald selama lima tahun ini. Semua sudah berakhir.
Semua percuma. Tiga kali ia kembali kehilangan cintanya dan tiga kali pula ia merasa keterpurukan dan kesakitan. Luna, akhirnya pun menyerah.
“Aku akan berusaha melupakan kalian ... aku akan melupakanmu, David. Aku akan berusaha berjalan sendiri dengan putra kita meskipun bayang-bayang dirimu selalu ada Ray.”
Luna menunduk oleh air mata yang mengalir di pipinya.
“Dan aku akan mencoba melepasmu Ronald. Berbahagialah dengan Irma. Cinta tidak harus saling memiliki, biarlah aku mengalah kali ini..”
🔫🔫🔫🔫
Luna yang sabar. Part ini sudah terlihat kalau akhirnya Luna patah hati dan mencintai Ronald 😍😢
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
Next CHAPTER SELANJUTNYA. KLIK LINK DIBAWAH INI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar