Hate Or Love : Rasa Rindu yang masih terasa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Rasa Rindu yang masih terasa







Suara lonceng tanda pelanggan masuk berbunyi ketik Luna sedang berbincang dengan salah satu karyawannya.
Luna menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati seseorang anak laki-laki kecil memasuki kiosnya.
"Begitu saja. Tolong persiapkan pesanan untuk klien kita. Kau mengerti?"
Pekerja itu hanya mengangguk dan segera pergi dari hadapan Luna untuk mengerjakan perintahnya. Dengan santai Luna kembali ke arah anak laki-laki itu ketika dilihatnya sedang memperhatikan sederet bunga di depannya dan membelakangi posisi Luna.
"Hai, Adik Kecil. Ada yang bisa saya bantu." Seketika anak kecil yang tanpa Luna sadari adalah Ray menoleh dan menatapnya.
Tatapan mereka bertemu. Saling memandang satu sama lain dan tanpa diduga seperti ada keterikatan batin yang sangat kuat. Merasakan hal itu, Luna segera mengalihkan dengan senyuman tipisnya.
"Sedang mencari bunga apa?"
Ray terlihat ragu. Ia berusaha menahan gejolak rindu yang ia rasakan selama ini. Mencoba menekan perasaan itu, dengan sedikit keberanian Ray berkata.
"Em, a-aku sedang mencari bunga mawar."
"Bunga Mawar, ya? Tentu saja ada. Mari." Luna segera melangkah menuju deretan bunga mawar diikuti oleh Ray di belakangnya.
Tidak melepas pandangnya sama sekali, Ray memperhatikan ibunya dari belakang.
Seulas senyum tipis terlihat di bibir Ray. Ia tidak heran jika daddy-nya begitu mencintai dan menyayangi ibu kandungnya yang cantik.
"Ini dia." Suara Luna menyadarkan Ray dari segala pemikirannya. Dengan polos ia menatap berbagai macam warna-warna bunga mawar di depan matanya.
Mawar merah, mawar kuning, mawar merah muda, mawar putih, dan masih banyak jenis lainnya yang tidak begitu Ray mengerti.
Tujuannya hanya ingin melihat ibunya. Meskipun ia rela melakukan penyamaran atas instruksi daddy-nya.
"Daddy begitu mencintai ibumu. Tapi, seseorang membuat Daddy terpisahkan dengannya. Jika Daddy bersamanya, Daddy akan mati. Daddy hanya tidak ingin membuatmu sendirian di dunia ini, Ray."
"Kenapa Daddy mati? Apakah Daddy akan dibunuh?"
"Karena Daddy dulunya orang jahat. Daddy banyak menyakiti orang-orang dan merenggut kebahagian mereka sehingga Daddy harus bertanggung jawab atas perbuatan Daddy"
"Seseorang mengetahui hal ini dan akan menuntut Daddy ke penjara dengan hukuman mati jika Daddy membawa mom bersama kita. Maafkan Daddy, Ray. Sekarang, Daddy berusaha menjadi orang yang baik untukmu dan kita. Itulah yang membuat Daddy tidak bisa berbuat apapun selama ini ... tidak seharusnya kau mengalami ini, terlebih kau masih kecil."
"Aku mengerti, Dad. Izinkan aku bertemu dengan mom. Aku janji tidak mengacaukan semuanya. Setidaknya aku bisa melihat Mom ... seorang ibu yang melahirkanku."
Kedua mata Ray melihat berbagai macam jenis bunga mawar di depan matanya. Tapi, hati dan jiwanya terfokus oleh pikiran yang terbayang tentang percakapannya beberapa hari lalu dengan daddy-nya.
"Apakah ada yang membuatmu tertarik dari semua jenis mawar di sini?"
Lagi-lagi suara Luna membuat Ray tersentak ke dunia nyata. Dengan penuh senyum, ia menatap ibunya.
"Hari ini Daddy-ku sedang berulang tahun. Bisakah Aunty memilihkan untuknya."
Seketika Luna menatap Ray sejenak dan terkejut. Tanpa Ray sadari Luna teringat suatu hal. Ia ingat jika hari ini adalah hari ulang tahun seseorang yang ia kenal ... seseorang yang sudah memporak-porandakan hatinya. Tapi. Tidak mungkin.
Luna merasa ada kejanggalan di hatinya. Ini adalah yang kedua kalinya ia merasakan semenjak anak laki-laki di depan matanya ini memasuki kios bunganya beberapa menit lalu.
Pertama, Luna melihat dari kedua matanya. Kedua mata anak itu terlihat mirip dengannya. Bahkan wajahnya mirip ... Ronald.
Luna berusaha mengusir segala pemikiran di benaknya. Ia membatin, bisa saja ini hanyalah kebetulan.
Yang kedua ... tanggal ulang tahun yang kebetulan sama dengan Ronald. Lagi-lagi Luna menepisnya, mungkin ini semua hanya kebetulan mengingat manusia di Bumi ini tidak satu orang saja yang merayakan hari ulang tahun di tiap detiknya. Perlahan, Luna mengulurkan tangan meraih setangkai bunga mawar.
"Sepertinya bunga mawar merah ini cocok untuk hadiah Daddy-mu."
Ray menerimanya. "Ini sangat cantik. Sama seperti Aunty pasti suami yang bersamaan Aunty sangatlah beruntung."
Luna tersenyum dan mengacak lembut puncak kepala Ray hingga membuat Ray ingin menangis rasanya.
"Terima kasih. Kau anak yang baik dan tampan. Ayah dan ibumu pasti sangat bangga memiliki putra sepertimu."
"Mom, benar. Akulah putra Mommy." batin Ray lagi.
"Aku beli yang ini saja, Aunty."
"Baiklah kalau begitu."
Transaksi jual beli berjalan dengan lancar oleh penyamaran yang dilakukan Ray. Bahkan beberapa menit mau pulang, Ray tidak ingin membuang kesempatan untuk menatap Luna sejak tadi.
Sebuah ide cemerlang terbesit dari pikirannya. "Em ... Aunty, bisa minta tolong?"
"Ada apa?"
"Kakiku ... sakit sekali. Boleh aku minta gendong?"
Sejenak, Luna kembali menatap Ray. Ia merasa ... sesuatu yang berbeda dengan anak itu sejak tadi. Seperti ... tidak asing.
"Apakah boleh, Aunty?"
"Ah. Em, tentu. Kemarilah. " 
Ray merentangkan tangan dan disambut oleh Luna yang langsung menggendong tubuhnya.
Dengan manja, ia pun memeluk leher Luna dan menyandarkan dahinya pada leher Luna oleh pelukan eratnya.
Luna sama sekali tidak keberatan dan ia hanya tersenyum mendapati hal itu. Seketika, hatinya berdesir hangat. Ia teringat dengan putranya, seorang anak yang tidak pernah ia temui hingga sekarang, seorang anak yang selalu ia rindukan setiap waktu.
Namun, selama ini hanya memendamnya. Seorang ibu tetaplah seorang ibu, yang penyayang dan tidak pernah melupakan darah dagingnya sampai kapan pun.
Luna melangkah hampir mendekati pintu bertepatan dengan Rex yang baru saja tiba mengunjungi kios bunganya.
Rex terdiam menatap mommy-nya menggendong anak kecil. Entah mengapa hatinya merasa ada kejanggalan melihat apa yang ada di depan matanya.
Dengan ragu, Rex bertanya. "Si-siapa, Mom?"
Luna tersenyum. "Hanya pembeli, Rex. Kakinya sedang sakit, jadi Mom menggendongnya."
Ray hanya mampu terdiam meski saat ini Luna sedang menggendongnya. Ia tahu, jika seorang anak laki-laki yang bertanya barusan secara tidak langsung adalah saudara tirinya.
Ronald sudah menceritakan semuanya pada Ray. Rex hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Instingnya berkata seperti ada yang tidak beres dengan semua ini.
"Terima kasih, Aunty."
Luna menurunkan Ray dalam gendongannya, begitu sampai di depan kios bunganya. "Sama-sama. Di mana orang tuamu? Kau sendirian kemari?"
"Tuan Muda."
Keduanya menoleh ketika seorang pria berpakaian formal yang sejak tadi menunggu di depan kios memanggil Ray
"Aku kemari dengan uncle ini, Aunty."

"Oh, begitu. Kalau begitu, terima kasih sudah berkunjung dan membeli bunga mawar ini, ya."
Lagi-lagi Luna mengacak gemas kepala Ray. Ray berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di matanya mengingat sudah waktunya ia kembali pulang menuju mobil yang sudah menunggunya dari kejauhan.
"Sama-sama, Aunty. Aku pergi dulu." 
Ray melambaikan tangan pada Luna yang hanya ditanggapi oleh senyuman. Begitu Ray sudah pergi dari pandangannya, Luna mendadak hampa dan kosong. Entahlah, Luna hanya merasa bingung semenjak kedatangan Ray.
"Tidak, ini ... hanya perasaanku saja. Aku sudah belajar untuk melupakan Ronald meskip aku tidak pernah melupakan Ray. Mungkin ini hanya karena diriku yang benar-benar belum bisa melupakan seutuhnya" lirih Luna dalam hati.
Tanpa ia sadari, Rex memperhatikan wajah ibunya yang tidak biasa setelah kepergian anak laki-laki yang ia lihat tadi. Seperti, kesedihan dan kebingungan.
Rex merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. "Aku butuh bantuanmu untuk mencari tahu seseorang."
πŸ”«πŸ”«πŸ”«πŸ”«
Nah, siap-siap nih si Rex bakal bertindak sama Ray πŸ˜ΆπŸ˜”
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian ya.
With Love πŸ’‹
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
NEXT, CHAPTER SELANJUTNYA. KLIK LINK DIBAWAH INI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar