Hate Or Love : Saling Melepas Rindu - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Saling Melepas Rindu




Luna membuka lemari pakaian yang berada di ruang peristirahatan dan sengaja ia letakkan di sana mengingat dulunya Rex sering berkunjung ke toko bunga nya di waktu usia putranya itu 5 tahun.
Dalam diamnya, Luna meraih satu setel pakaian Rex yang rencananya akan ia gunakan sebagai pakaian ganti seorang anak laki-laki yang kini tengah basah kuyub di ruang kerjanya.
Masa lalu kembali merasuk di benak Luna. Bayangan dirinya memiliki seorang putra dari Ronald pun seketika membuatnya sedih. Selama ini ia harus memendam perasaan terpukulnya saat menghadapi situasi harus terpisahkan oleh darah dagingnya sendiri.
Luna menghapus air mata yang menetes di pipinya. Ia benci menangis. Benci jika ia tidak bisa berbuat apapun dan rasanya sangat menyakitkan, bahkan parahnya lagi selama 5 tahun ia memendamnya.
"Apa kabarmu di sana, Ray? Mommy merindukanmu."
"Mommy tahu ada Daddy yang sedang bersama mu, tapi tetap saja, kau pasti membutuhkan kasih sayang seorang ibu."
Membayangkan seorang anak yang terpisahkan dari ibu kandungnya membuat hatinya terasa nyeri dan menyakitkan.
"Maaf, kamu harus berada didisituasi seperti ini, Ray."
Tidak ingin bersedih terlalu lama, Luna segera meraih pakaian tersebut dan menutup pintu lemarinya. Ia tidak ingin membuat seorang anak kecil di ruang kerjanya kedinginan bahkan sakit.
Suara pintu terketuk. Rex yang emosi dan siap menembak kepala Ray dalam hitungan detik pun berhenti begitu saja begitu ia mengetahui Mommynya sedang berada diluar dan mengetuk pintunya.
"Tolong buka pintunya. Kenapa dikunci!?" teriak Luna dari luar, bahkan menggedor pintunya dengan nyaring.
Rex menatap nyalang pada Ray. "Jika Mommyku tidak menggedor pintu, mungkin kau hanya tinggal namamu yang terjadi saat ini."
Dengan kesal, Rex mengantongi kembali pistolnyaya dan segera menuju pintu, kemudian membukanya. Luna tidak menyangka jika Rex berada di ruang kerjanya mengingat ia meninggalkan anak laki-laki yang basah kuyub hanya seorang diri disana.
"Hai, Mom.." Menyembunyikan amarahnya yang baru saja terjadi, Rex memasang raut wajah senyum.

Di belakang mereka, buru-buru Ray menghapus air matanya dan untungnya saja ia sedang basah kuyup akibat guyuran hujan sehingga tidak terlalu terlihat ia habis menangis.
"Kau? Sejak kapan kau berada di ruang kerja Mommy? Dan mengapa kau mengunci pintunya?"
"Aku baru saja tiba di sini dan bermain petak umpet dengan aturan tidak boleh keluar dari pintu sehingga aku menguncinya. Maafkan aku, Mom."
Sejenak, Luna menatap Rex dan Ray secara bergantian. Ada rasa curiga, namun berusaha berpikir positif mengingat Rex tipikal anak yang tidak mudah akrab dengan orang baru kecuali sudah bersamanya sejak kecil.
Tidak mau negatif thinking, Luna berkata "Em, baiklah kalau begitu, ada Angel di luar sedang menunggumu bersama Om Farrel mu."
Rex hanya mengangguk singkat dan menoleh ke arah Ray. "Aku pergi dulu, terima kasih ya, sudah bermain petak umpet bersamaku. Ah, sayang sekali, kita harus mengakhirinya. Aku harap kau tidak bermain curang. Bukankah curang itu mengarah kearah kebohongan?"
Ray tahu jika Rex menyindirnya, dan hanya keterdiamannya membuat Ray mengatupkan bibirnya hingga akhir Rex pun pergi.
Luna menyadari hal itu, ada rasa kecurigaan diri Luna namun sepertinya kondisi Ray lebih penting dari semuanya. Perlahan ia mulai mendekati Ray dan membantunya mengganti pakaiannya bahkan setelah menggantinya, Luna pun menyuapinya susu hangat menggunakan sendok.
Sebenarnya ia tahu Ray bisa melakukan, tetapi ntahlah Luna merasa senang memanjakan anak laki-laki ini.
"Terima kasih, Aunty. Maaf merepotkan Anda."
Luna tersenyum. "Tidak sama sekali. Kau tinggal di daerah sini?"
Ray hanya mengangguk. Ia berusaha menjawab semua pertanyaan Luna secara hati-hati.
"Kau mengingatkanku pada seorang anak yang sudah lama tidak aku temui."
"Ke-kenapa Aunty tidak menemuinya? Apakah Aunty tidak menyayanginya?" tanya Ray hati-hati 
Luna menggeleng. "Dia anakku Nak, tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan anaknya. Hanya karena situasi yang tidak tepat membuat kami terpisahkan."
"Jika anak Aunty ada di negara ini, apakah Aunty akan menemuinya?"
"Tentu saja." ucap," ucap Luna dengan antusias. "Bahkan dengan melihatmu saja mengingatkanku padanya."
Perlahan, Luna menyentuh lembut pipi Ray. Perlakuan Luna yang begitu memanjakan dirinya membuat Ray merasa disayangi hingga sebuah pemikiran muncul di benaknya.
"Em, Aunty bolehkah aku meminta sesuatu?"
Luna mengangguk. "Tentu. Apa yang kau inginkan?"
"Boleh aku tidur di paha Aunty? Em, aku lelah dan mengantuk."
"Kemarilah." Luna menepuk pahanya sambil tersenyum.
Dengan segera, Ray tidur dengan merebahkan kepalanya di paha Luna. Sofa yang empuk dan nyaman serta usapan lembut di kepalanya membuat Ray pada akhirnya tertidur.
Luna menundukkan tubuhnya dan menatap Ray yang tertidur dengan pulasnya.
"Kau.. kenapa aku merasa kau begitu mirip dengan putraku yang ada di sana? Aku merindukannya, namun tidak bisa berbuat apapun." lirih Luna dengan sendirinya.
🔫🔫🔫🔫
Keterikatan batin antara seorang anak dan Ibu.
Insya Allah sebentar lagi open PO, jangan lupa ikutan ya. Ditunggu info lebih lanjut 😘
Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii

NEXT, CHAPTER SELANJUTNYA. KLIK LINK DI BAWAH INI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar