Hate Or Love : Pertemuan Ray dan Luna - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Pertemuan Ray dan Luna






Los Angeles, AS
Sebulan kemudian.
Waktu yang dinantikan ketika libur sekolah. Dengan semangat, Ray terus berceloteh pada daddy-nya ketika sebuah mobil mewah membawanya menuju suatu tempat yang akan mereka tuju, Kios bunga milik Luna.
Ronald memang mengetahui tempat itu sejak dulu. Ada was-was dan rindu yang teramat dalam mendapati situasi sekarang jika dirinya bersama Ray akan menuju ke negara ini, tentunya bertemu dengan Luna.
Sejak tadi, Ronald berharap dan berdoa semoga semua rencananya kali ini berjalan dengan lancar. 
Semua demi Ray.
“Apakah tempatnya masih jauh, Dad?” tanya Ray sambil memperhatikan jalan, melalui kaca mobil. Banyak sekali gedung-gedung tinggi dan jalanan kota yang saat ini sedang padat oleh pejalan kaki. Apalagi ini adalah pertama kali bagi Ray yang bepergian ke luar negeri.
“Sebentar lagi kita sampai. Bersiap-siaplah. Apakah kau sudah yakin dengan semuanya.”
Ray kembali menoleh ke arah daddy-nya, perlahan tangan mungilnya menyentuh punggung tangan daddy-nya.
“Aku sudah yakin, Dad. Aku janji tidak akan mengacaukannya.”
“Tapi, Ray—”
“Dad, please.” Baik Ronald maupun Ray, saling menatap dalam diam. Ada rasa khawatir dalam diri Ronald mengingat fakta jika anak kecil mudah menangis.
Ronald hanya khawatir Ray tidak bisa menahan gejolak emosi dan perasaan hingga saat bertemu Luna ia akan menangis.
“Apapun akan kulakukan demi Daddy dan demi bertemu dengan, Mom. Aku janji, Dad. Izinkan aku.”
Mencoba menekan rasa khawatir, Ronald memeluk putranya. “Baiklah, Daddy yakin kau pasti bisa. Maafkan Daddy yang sudah melibatkanmu ke dalam hal seperti ini.”
“Aku tidak apa-apa, Dad. Jangan bersedih. Terima kasih sudah menjadi ayah sekaligus sosok mommy selama ini.”
Mobil berhenti tepat jarak 500 meter dari kios bunga milik Luna. Rasa was-was semakin meningkat. Hanya tatapan dari Ronald pada Ray yang kini mampu memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sebelum keluar dari mobil, Ronald memastikan keadaan putranya baik-baik saja. Tidak ingin membuang waktu, akhirnya Ray segera keluar dari mobil didampingi oleh pengawalnya, segera menjalankan aksi.
Ronald menatap putranya yang sudah memasuki kios bunga tersebut dari kejauhan oleh pengawalnya yang kini memilih menunggu di luar.
“Akhirnya, kau bertemu dengan mommy, Ray. Semoga dia tidak mengenalimu.”
Waktu terus berjalan, dengan ragu dan memaksa untuk memberanikan diri. Ray sudah berada di kios bunga dan menatap seluruh tempat yang kini dipenuhi oleh bunga-bunga hias. Situasi sedang tidak banyak pengunjung.
Mencoba untuk tetap tenang sesuai instruksi daddy-nya, Ray mencoba untuk meraih salah satu bunga yang tidak ia ketahui jenisnya untuk penyamaran sebagai pembeli.
“Hai, Adik Kecil, ada yang bisa saya bantu?”
Suara wanita di belakang Ray membuat bocah kecil itu tersentak oleh jantung mulai berdebar. Perlahan Ray membalikkan badan, kini semua nyata baginya. Akhirnya, Ray bertemu dengan Luna.
Wanita yang sedang tersenyum menatapnya, sesuai dengan foto yang diperlihatkan oleh daddy-nya beberapa hari lalu.
Sosok ibu yang telah melahirkan. Sosok ibu yang tidak pernah mendatanginya setelah kejadian dan situasi yang sedang mereka hadapi. Sosok ibu yang ia rindukan. Sosok ibu yang kini berdiri nyata di depan matanya dan tersenyum ke arahnya.
Pandangan Ray tidak lepas dari mata Luna. Hatinya berdesir hangat mengetahui ibunya baik-baik saja dan terlihat sehat. Sebisa mungkin, Ray menahan gejolak rindu di hatinya bahkan saat ini, ia menahan diri untuk tidak menangis ke dalam pelukan ibunya hanya untuk melepas rindu.
"Mom, ini aku, putra Mommy." lirih Ray dalam hati.
🔫🔫🔫🔫
Akhirnya Ray dan Luna bertemu 😢
Maaf 2 hari gak update karena kesibukan author di dunia nyata 😂
Makasih sudah baca. Sehat sslalu buat kalian ya.
With Love 
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPTER SELANJUTNYA. KLIK LINK DIBAWAH INI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar