Hate Or Love : Rex yang jahil - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Rex yang jahil






Malam menjelang ketika semua aktivitas telah selesai. Setelah kepergian Steven dan membersihkan sisa-sisa pecahan piring, Ronald menatap pintu kamarnya sejenak.
Tempat tidur mereka berdua selama ini.Tempat yang tidak besar, namun tidak kecil. Sangat nyaman ia tempati sejak dulu. Terlalu banyak kenangan yang ia rasakan terutama bersama Luna. Sesaat, Ronald memperhatikan sekitar dan melihat seisi ruangan mengingat Steven menyuruhnya kembali ke London.
Di tangannya ia membawa sepiring makan malam untuk Ray. Tidak mau memikirkan lebih lanjut, Ronald segera menuju kamarnya.
Di sanalah Ray berada. Sedang duduk di tengah lantai kamar beralas karpet tebal sambil melipat kedua lutut oleh wajahnya yang mendongak menatap rembulan bersinar di jendela depan wajahnya.
Sejak kejadian tadi siang, Ray sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Mengabaikan jam makan siang hingga berlanjut malam ini. Jam menunjukan pukul 22.00 malam.
Sudah waktunya Ray untuk tidur, namun sepertinya putra Ronald itu memilih diam dengan tatapan datarnya. Ray mendengar suara pintu kamar terbuka, ia tahu sekarang ayahnya memasuki kamar. Bahkan saat ini, samar-samar ia mencium aroma masakan.
Perlahan, Ronald meletakkan makan malam Ray di meja samping tempat tidurnya, kemudian mendekati putranya itu. Lalu ikut duduk dan memeluk Ray dari samping.
“Daddy merindukanmu,” bisiknya.
Ray tetap diam meski memilih menyandarkan pipinya pada dada bidang ayahnya.
“Biasanya kamu mengoceh soal hal apapun. Kamu sering mengajak Daddy berjalan-jalan sore ketika Daddy pulang bekerja. Ada kalanya bermain video game bahkan membantu Daddy membereskan rumah. Ke mana sosok Ray sekarang? Daddy merindukannya.”
Tangis Ray pecah. Ia memeluk Daddy-nya sangat erat, bahkan Ronald merasa hatinya nyeri. Ray terpukul tidak pernah melihat ibunya setelah mengetahuinya tadi siang.
Ronald pun merasakan hal yang sama ketika cintanya tidak terbalaskan, bahkan tidak bisa berbuat apapun soal keputusan yang diberikan Davidson padanya.
Ronald tidak menyalahkan keadaan, karena ia sadar diri telah berbuat salah dengan membunuh putra davidson.
“Daddy akan menceritakan semuanya padamu. Daddy harap kamu akan mengerti setelahnya, Nak. Semua tidaklah mudah. Daddy tahu kamu masih kecil untuk mengetahui permasalahan orang dewasa, tapi Daddy tidak akan mencari alasan atau mengalihkan seperti biasanya.”
Apalagi membohongimu mengingat sudah cukup satu orang anak yang kecewa karenaku. Rex Davidson, gumam Ronald dalam hati.
🔫🔫🔫🔫
Los Angeles. AS
“Sedang memasak enak?”
Suara yang begitu familiar muncul begitu saja saat Farrel mendatangi Luna yang sedang berkutat di dapur.
“Kak Farrel?” Luna menoleh ke belakang sejenak dan mendapati Farrel sedang bersandar di dinding sambil bersedekap.
“Ah iya, tentu saja. Aku sedang membuat makaroni. Kakak mau?”
“Tentu saja. Apalagi gratis.”
Dengan santai Farrel duduk di meja makan yang tak jauh dari Luna. Beberapa menit kemudian sang istri yang bernama Anna pun masuk ke dapur dan bergabung dengan mereka.
“Huh! Cuaca di luar sangat dingin sekali.” Anna yang mengigil menggosok-gosokan kedua telapak tangannya pun langsung menuju mini bar dan membuat segelas hot chocolate.
“Kau tidak mengecek ponselmu ya sejak tadi? Aku menghubungimu, tapi kau tidak mengangkatnya,” ketus
Farrel yang sebenarnya tidak serius. Bagaimana Farrel tidak seperti itu jika Anna sudah tiga jam di luar hanya untuk membeli tas branded yang sedang diskon.
“Ah, maafkan aku.” Anna menyeruput hot chocolate-nya yang baru selesai dibuat secara perlahan, lalu kembali berkata,
“Bagaimana dengan makaroniku? Kau sudah membuatnya, Lun?”
Luna pun menoleh ke arah Anna. “Sudah. Baru saja selesai dan boleh mencicipinya.”
“Benarkah? Sudah aku duga rasanya pasti enak!”
Dengan semangat, Anna mendekati Luna dan segera mencicipi beberapa makaroni. Dari kejauhan, Farrel melihat Anna yang mengabaikannya dan merasa kesal.
“Melihat beberapa model dan merek tas branded membuatku lelah dan lapar, antrian di kasir panjang sekali.”
“Oh, ya? Ah, sudah lama sekali aku tidak shopping semenjak kembali ke sini mengingat dulunya aku sering melakukan hal yang sama dengan Ayesha saat di Jakarta.”
“Bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.” Tanya anna pada luna.
Luna dan Anna terus saja mengobrol. Bahkan tidak menyadari dari kejauhan Farrel semakin kesal karena kedua wanita itu seperti menganggapnya tidak ada.
Ya, akhirnya Farrel memilih pergi, bahkan mood-nya untuk mencicipi makaroni pun tidak jadi sambil bergumam.
“Awas saja, An. Aku janji akan mengikatmu nanti malam.” Senyumnya licik.
Mendapati Farrel pergi, Luna dan Anna tidak peduli lalu kembali berbicara. “Tentu saja dia baik-baik saja. Terlebih dia adik angkat Kak Farrel, kan? Kupikir Farrel sering menghubunginya.”
“Tidak juga.” Anna terus menikmati makaroninya dengan lahap sambil berdiri dan menyandarkan pinggulnya di kitchen set.
“Kau tau? Suaminya begitu pecemburuan sehingga Farrel harus menjaga jarak agar tidak sesering mungkin menghubungi sahabatmu itu.”
Keduanya tertawa geli. Kejadian masa lalu di sekitar mereka memang tidak akan terlupakan begitu saja.
“Aku sangat paham bagaimana masa lalu antara Ayesha, suaminya dan Kak Farrel. Di sisi lain, saat itu juga tidak lama kemudian aku bertemu dengan Ray dan menikah dengannya.”
“Hm ... Soal Ray, selain dia itu suami yang baik buatmu, dia juga pria yang menyebalkan karena suka mengangguku waktu kecil. Aku harap Rex tidak mewarisi sifat kejahilan daddy-nya.”
“Aku harap begitu. Aku sangat yakin Rex anak yang baik dan menghargai wanita meskipun usianya masih sepuluh tahun.”
“Kau ini menyebalkan sekali! Berhentilah mengangguku!” 
Suara pekikan anak perempuan yang berasal dari Angel, membuat Anna dan Luna berlarian ke ruang tamu, tertegun melihat Angel dan Rex sedang berdebat.
“Aku tidak menganggumu. Kau saja yang merasa seperti itu, See? Kau bahkan ingin menangis sekarang.” Dengan santai Rex mengejek Angel.
“Berikan itu padaku!!!” Angel berusaha meraih sebuah boneka Barbie yang baru dibelikan oleh daddy-nya senilai 10 juta. Harga yang sangat mahal mengingat kualitasnya asli.
Rex terus berjinjit dengan tinggi. Mengabaikan Angel yang terus melompat-lompat meraih boneka Barbienya oleh tubuh Rex yang lebih tinggi.
“Rex! Hentikan! Berikan boneka itu pada Angel. Ya Tuhan ... kenapa kau begitu jahil dengan adik sepupumu?” kesal Luna.
Sepertinya, apa yang baru ia bicarakan soal Rex anak yang baik ternyata tidak sesuai harapan. 
Bikin malu saja!
“Ayo, Angel. C'mon! Ambilah,” ucap Rex, terkekeh geli.
Rex suka menjahili Angel mengingat ia anak semata wayang dan membuatnya hanya Angel lah satu-satunya anak gadis yang menjadi sasaran kejahilannya.
Angel melompat lebih tinggi dan kali ini berhasil, namun Rex lebih cepat dan segera meraih Barbienya kembali kemudian melempar asal ke belakang hingga berakhir di perapian yang sedang menyala.
Angel menatap bonekanya dilahap perapian tak percaya. “Aaa! Bonekaku!”
Angel hendak mengambilnya, namun Anna mencegah.
“Angel! Hentikan! Api bisa membahayakan tanganmu jika kau mengambilnya.
“Ta-tapi, Mom.”
“Tidak ada tapi-tapian! Ayo ke kamar dan segera kerjakan PR-mu, sejak tadi kau bermain dan melupakan tugasmu!”
“Aku—” Merasa kalah, akhirnya ia menangis, bahkan ketika pergelangan tangannya ditarik oleh ibunya, Angel kembali menatap Rex sengit.
“Dasar kau idiot! Aku doakan suatu saat kau mendapatkan pasangan yang cerewet, menyebalkan sepertimu dan manja! Ketahuilah bahwa doa wanita teraniaya sepertiku akan manjur!” sungut Angel kesal.
🔫🔫🔫🔫
Kayaknya di usia dewasa nanti emang bener ya.. 
si Rex ketemu sama wanita manja. Namanya Aifa 😆
Bisa baca di work yang berjudul Because I Love You. Sudah Publish di platfrome Wattpad (liareza15 )
Dreame, Joy lada, NovelToon, Novelplush dan Storial (Akun : LiaRezaVahlefi )
Tokoh utama Rex yg berusia dewasa

Blurb : 

Aifania. Seorang wanita manja yang kekanakan dan hidup bergelimang harta. Segala apapun yang ia inginkan didunia ini, dengan mudahnya sang Daddy memberinya. Kekurangannya adalah tidak bisa memasak. Di usianya yang dewasa sudah sepantasnya Aifa menikah dengan seorang pria pujaannya bernama Rex Davidson.

Rex Davidson. Si pria workaholic itu merasa terganggu saat Aifa mengejar-ngejar cintanya. Sampai akhirnya, Aifa merasa tersaingi begitu mendapati kenyataan bahwa Rex menyukai wanita manis yang pintar memasak bernama Aisyah dan membuat Aifa pun terpacu untuk bisa belajar memasak.

Berhari-hari Aifa mencoba belajar masak. Segala upaya ia lakukan untuk bisa menarik perhatian sang pria tercinta. Hingga suatu ketika, sebuah insiden terjadi saat Aifa mengantarkan makanan untuk Rex di malam hari. Seorang pria yang tak dikenal merenggut kehormatan Aifa hingga membuatnya terpukul. Rasa tidak percaya diri terhadap semuanya membuat Aifa berhenti mengejar pria yang di cintainya selama ini.

___

"Kenapa kamu tidak pernah mendatangiku lagi? Bukankah kamu menyukaiku?

"Aku menyerah. Sekarang kamu bebas tanpa diusik olehku."

"Mengapa kamu seperti itu Aifa? Ayo kita menikah. Sekarang aku sadar atas semua perasaanku padamu."

Aifa menggeleng. "Aisyah lebih pantas untukmu. Bukan aku."

"Kenapa Aifa?

"Maaf. Aku sudah tidak suci lagi."

Lalu bagaimana reaksi Rex saat itu? 



Because I Love You. 
Copyright © 2019


NEXT CHAPTER SELANJUTNYA. KLIK LINK DIBAWAH INI 


1 komentar:

  1. cerita yang tambah bagus dan menarik....dingin ceritanya sampai selesai

    BalasHapus