Hate Or Love : Saling Memafkan - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 28 Februari 2020

Hate Or Love : Saling Memafkan






Sebulan berlalu dan selama 30 hari itulah Luna mulai mencoba untuk menjalani kehidupannya secara normal.
Normal dalam arti tidak ada lagi gangguan dan bayang-bayang tentang Ronald. Putra mereka dan, cintanya.
Semua membutuhkan waktu dan sangat tidak mudah bagi Luna mengingat semenjak bermimpi tentang Ray yang menembak dirinya sendiri, Luna memilih tidak  mendengar suara Ronald lagi melalui alat peretas suara yang biasa ia kenakan di telinga melalui anting-antingnya.
Suara lonceng yang terpasang di atas pintu masuk kios bunga pun berbunyi ketika seorang pembeli pria muda baru saja memasuki kiosnya dan sedang melihat-lihat koleksi bunga Luna.
Tidak mau menunggu lagi, Luna pun segera mendatanginya dan seperti biasa melayani pembelinya dengan ramah.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
Seorang pria beriris coklat oleh tubuh yang jangkung dan berkulit putih tersebut menoleh kearah Luna lalu tersenyum tipis.
"Em, saya ingin mencari setangkai bunga Lilly untuk..."
Pria tersebut terlihat ragu dan malu-malu seperti tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
"Untuk kekasihmu ya?" tebak Luna dengan cepat. Dan ya, sangat mudah bagi Luna mengingat dirinya pernah memiliki seorang Ray yang pernah melakukan hal yang sama dengan pria jangkung itu saat mendiang suaminya itu menceritakan semuanya padanya.
"Lebih tepatnya calon istriku." Pria tersebut terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk.
"Tentu saja ada. Sepertinya Lilly putih pilihan yang tepat."
Luna melangkahkan kakinya menuju sederet koleksi bunga-bunga Lilly. Diantaranya ada Lilly putih, Lilly kuning, merah dan oranye dan Luna pun segera meraih setangkai Lilly putih.
"Ini sangat cocok untuk pasangan yang akan segera menikah seperti kalian. Selain cantik, Lilly putih mengandung arti cinta yang suci dan sebuah kehidupan yang baru."
Pria tersebut manggut-manggut dan terlihat tertarik. "Anda sangat paham sekali mengenai bunga Lilly, suami anda pasti sangat beruntung memiliki istri seperti anda." ucap pria itu sambil memperhatikan cincin  pernikahannya 10 tahun yang lalu dan masih melekat di jari manis Luna hingga sekarang.
Jangan ditanya mengapa tidak ada cincin pernikahannya dengan Ronald! karena saat itu Luna enggan memakainya. Lagipula Ronald juga masih memakai cincin pernikahannya dengan Natasya. Toh saat itu Luna membencinya meskipun saat ini ia mulai menaruh rasa pada pria itu.
Luna hanya mencoba memaksakan senyumnya saat ini, mengabaikan hatinya yang terasa sangat menyakitkan seperti ada lubang yang menganga lebar disana.
"Baiklah, sepertinya aku membutuhkan beberapa tangkai bunga Lilly putih ini. Ah, dia pasti sangat menyukainya."
"Tentu saja. Bunga Lilly sangat indah. Bahkan terlihat sangat cantik jika pernikahan kalian akan dihiasi banyak bunga Lilly."
"Rekomendasi yang bagus. Aku beli semuanya."
Luna menatap pria muda itu tidak percaya. Bayangkan saja saat ini ada sekitar ratusan stok bunga Lilly dan pria itu membeli semuanya?
Oh ya ampun, cinta memang membuat seseorang rela melakukan hal apapun. Salah satunya membuat 'dia' bahagia.
Tidak mau menunda lagi, Luna segera melayani pembelinya dengan cepat hingga semuanya selesai. 
"Terima kasih. Aku bersyukur memasuki kios bunga ini dengan pelayanan yang ramah seperti anda." ucapnya sambil mengedipkan salah satu matanya pada Luna.
Luna hanya tertawa geli dan hanya mengangguk kecil pada pria muda itu. Setelah kepergiannya, Luna hanya menatap nanar pintu keluar yang baru saja tertutup dengan pikirannya yang tidak menentu.
"Tidak mudah. Semua itu tidak mudah."
Luna menundukan wajahnya oleh helaan nafasnya yang gusar. Rasa frustasinya yang tidak mudah hilang saat ini membuatnya tidak bisa berbuat apapun.
"Sudah menjadi resiko." senyum Luna miris. "Cinta memang membutakan segalanya. Dan ya, bahkan sekarang ini aku tidak bisa melupakannya meskipun sudah 5 tahun lamanya, Pria yang kubenci sekaligus pembunuh suamiku dan.."
🔫🔫🔫🔫
"Daddy aku mau lagi."
Dengan anggukan kecil, Ronald kembali berdiri dari duduknya dan segera menuju pemanggang kue ketika beberapa cupcake mini baru saja matang.
"Ini sudah cupcake ke 5 dan kau masih belum kenyang?"
"Daddy masalah dengan itu? Oh ayolah dad, bukankah ini janji Daddy yang akan membuat cupcake dalam jumlah yang banyak setelah gajihan?"
"Kau benar tapi-"
"Bahkan Daddy mendapatkan bonus bulan ini dari Tante Irma. Aku mau Daddy membuatnya dalam jumlah yang banyak!"
"Kenapa kau keras kepala sekali Ray? Kau sangat mirip dengan-"
Seketika Ronald terdiam. Tidak mungkin ia berkata seperti mommynya. Hampir saja ia mengatakannya jika tidak, mungkin Ray akan kembali bertanya padanya tentang Luna seperti yang sudah-sudah.
Ronald mendengus kesal melihat Ray yang terlihat rakus, sedikit keras kepala bahkan sangat mirip dengan watak Luna namun sama sekali tidak  marah mengingat Ronald begitu menyayangi putra kesayangannya itu sembari mengeluarkan beberapa cupcake mini dengan berbagai macam toping diatasnya. Ada coklat, stroberi, keju dan original.
"Wah Tante Irma ternyata membongkar semuanya ya?" Ronald kembali berucap sambil mempersiapkan cupcake-cupcake tadi diatas piring. "Padahal Daddy sudah mengatakannya untuk tidak berbicara hal itu dan berniat-"
"Menabung?" potong Ray dengan cepat.
Ronald hanya tertawa geli sembari menuju meja makan dan mengusap kepala putranya kemudian menaruh beberapa cupcake di atas piring Ray.
"Sudah cukup dad."
"Yakin?"
"Aku hanya bercanda." kekeh Ray yang kini Ronald kembali duduk dihadapannya di meja makan mereka. " Sebenarnya tiga cupcake saja sudah membuatku kenyang dad. Aku-"
"Jika kau sudah kenyang mengapa terus memintanya? Kau ingin membuat Daddy lelah dengan berbolak-balik menuju pemanggang kue, mengambilkannya dan memberinya padamu?!"
"Begitu saja Daddy marah. Nanti ketampanan Daddy bisa hilang dan menularkan hal itu padaku. Hahaha."
Ronald hanya menghela napas sambil melepas celemeknya dan lihat? Sekarang Ray benar-benar mirip Luna dengan segala tingkah laku dan ocehannya.
Mengingat Luna, seketika Ronald terdiam sembari memegang sebuah gelang kesayangannya miliknya pemberian Luna beberapa tahun yang lalu saat mereka berlibur di Jakarta.
(Nb: sebenarnya dari kemarin mau nampilkan gambar gelang ini, tapi lupa terus. Btw, abaikan)
Satu hari sebelum Ray lahir. Hari bahagia dengan kelahiran anaknya sekaligus hari yang membuatnya terpukul karena tidak mendampingi Luna dalam proses memperjuangkan melahirkan putra mereka meskipun melalui operasi sesar.
"Dad.”
Ronald tersentak ketika Ray memanggilnya. Memikirkan Luna benar-benar membuatnya tidak sadar oleh sekitar bahkan tidak mendengar saat Ray memanggilnya berkali-kali.
“Ada apa?”
“Suara bel sejak tadi berbunyi, Dad. Sepertinya ada tamu, mungkin itu adalah tante Irma?”
“Baiklah, tunggu sebentar di sini, Daddy akan membukakan pintunya.” 
Ray hanya mengangguk dan kembali menikmati cup cake-nya. Ronald melepas celemek dan segera menuju pintu apartemennya. Merasa kesal karena suara bel itu tidak henti-hentinya berbunyi. Dengan kesal Ronald membukanya dan seketika tubuhnya diam membeku oleh keterkejutan.
“Daddy?”
Ronald tidak menyangka jika seseorang yang membunyikan bel pintunya sejak tadi adalah daddy-nya. Steven Chevalier. Di sebelahnya, seperti biasa ada tangan kanan daddy-nya sejak dulu.
Sudah lima tahun semenjak dirinya memutuskan pergi ke Indonesia. 
Terdengar jahat. Namun, hanya itu yang bisa ia lakukan mengingat Steven begitu terobsesi menyuruhnya untuk membunuh Luna karena dendam masa lalu.
“Sudah lama sekali? Kau begitu banyak berubah, ya,” ejek Steven. 
See, Steven sudah sangat tua, namun sikapnya tidak berubah. Bahkan pria tua itu sudah memakai tongkat.
Astaga! Tanpa menunggu Ronald yang mempersilakannya masuk, dengan  santai Steven memasuki apartemennya dengan tampang terlihat sombong.
“Jadi, ini tempat persembunyianmu selama ini?” Steven memandang sekitar apartemen Ronald dan langit-langit plafon. “Mirip seperti kandang tikus.”
Ronald hanya mendengkus kesal sambil mengepalkan salah satu tangan di saku jeans-nya. Sejak kapan Steven mengetahui tempat tinggalnya?
Steven kembali menatap Ronald dan tersenyum dengan begitu menyebalkan. “Akui saja jika sekarang ini kau berpikir bagaimana aku mengetahui tempat kandang tikusmu ini.”
“Itu tidak penting. Sekarang pergilah jika kau kemari hanya untuk menyombongkan diri bahkan menyuruhku untuk menyerahkan Luna padamu. Semua sudah berakhir.”
“Daddy .... Kau masih ingin memakan cup cake-nya lagi? Masih ada—”
Suasana yang sejak tadi menegang oleh perdebatan antara ayah dan anak mendadak hening saat Ray muncul dari arah dapur.
Hadir di antara mereka sambil membawa piring dengan beberapa cup cake di atasnya.
Steven terdiam menatap putra Ronald tanpa berkedip. Jantungnya berdetak sangat cepat dan berbagai macam pemikiran mulai memenuhi benaknya.
“Daddy ada tamu, ya? Siapa?” Sesaat, hanya suara detak jarum jam yang terdengar oleh suasana yang mendadak penuh tanda tanya. 
Ronald mulai berpikir keras. Apakah ia sanggup mencari alasan lagi untuk putranya jika pria paruh baya yang ada di depannya kali ini adalah kakeknya? Terlebih Steven sudah menginginkan seorang cucu sejak dulu.
“Dad.”
Sekali lagi, Ray menarik ujung baju daddy-nya seolah ingin tahu. Ya, Akhirnya Ronald menyerah.
“Dia, dia kakekmu?”
“Kakekku? Apakah aku punya kakek, Dad? Kenapa selama ini Daddy tidak pernah menceritakannya padaku?”
“Siapa ibunya?!” Steven akhirnya angkat bicara. Ronald yang terus terdiam membuat Steven perlahan mendekati Ray lalu bersimpuh menyamankan posisinya.
Sesaat, Steven menatap Ray tanpa berkedip. Baik Ray maupun Steven, kedua tatapan mereka saling bertemu seolah ada keterikatan yang menyatu.
Ada rasa berdesir hangat di hati steven mengingat ia menginginkan cucu sejak dulu. Penerus tahta Aaric Chevalier, cucu yang akan disayangi dan ia lihat di masa tuanya.
Perlahan, Steven mengusap pipi Ray dengan kedua mata berkaca-kaca dan bibir gemetar. Bahkan, Ray sedikit memundurkan langkah karena merasa ketakutan melihat ada orang asing.
“Si-siapa ibunya? Natasya sudah tiada, dan ... dan aku tidak tahu kau memiliki seorang putra selama ini ....”
Pandangan Steven tidak lepas dari Ray. Sampai suara Ray  membuat Ronald dan Steven terkejut.
“Kenapa Daddy tidak bilang jika aku, aku punya mommy?!”
Ray kembali memundurkan langkah, menolak Steven yang hendak meraih dirinya. Ray menatap Ronald. “Dad! Jawab! Kenapa Daddy tidak memberitahuku soal mommy? Apakah Daddy tidak ingin mempertemukan aku dengan mommy. Aku yang selalu diejek teman-teman di sekolah karena aku tidak memiliki mommy!?”
Steven berdiri dari simpuhnya, kini menatap Ronald dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Katakan padaku siapa ibunya? Kenapa cucuku tidak tahu sama sekali mengenai wanita yang melahirkannya?!”
Ronald menundukkan wajahnya, rasa bersalah kembali menyerang dirinya. Sudah lima tahun lamanya ia menutupi status Luna.
“Katakan padaku, Ron! Siapa ibunya?!”
“Daddy, aku ingin bertemu mommy.” 
Steven terus mendesaknya dengan Ray yang mulai merengek dan terlihat rapuh bahkan mulai menangis.
Dengan tubuh gemetar, pegangan Ray pada piring cup cake akhirnya melemah dan terjatuh ke lantai hingga serpihan pecahan piring tersebut memenuhi kedua kaki Ray.
“Ray, Daddy—”
“Jika Daddy tidak ingin mengatakan tentang mommy, aku akan mengurung diri di kamar dan tidak akan keluar sampai Daddy mengatakannya.”
Mengabaikan luka yang di kakinya, Ray akhirnya memilih pergi ke kamar sambil terisak oleh jejak darah yang ia tinggalkan yang berasal dari telapak kakinya akibat terkena pecahan piring. Ronald hendak mengejar putranya.
Namun, Steve kembali mencegahnya. Ronald yang mendapati hal itu merasa geram dan frustasi ingin melawan, tetapi tidak terjadi ketika dengan perlahan Steven memeluknya sangat erat.
Pelukan seorang ayah yang begitu ia rindukan sejak lama. Steven mengusap punggung putranya.
“Katakan pada Daddy, siapa ibunya, Nak. Sungguh, Daddy tidak menyangka jika kedatangan Daddy kemari kau sudah memiliki putra dan ... dia adalah cucuku. Daddy, menyayanginya.” Ronald memilih diam.
“Ron, katakan..”
Ronald frustasi, jika ia mengatakannya apakah Luna akan kembali padanya? Sementara ia akan dikenai hukuman mati? Itu tidak akan terjadi. Ia sudah bertekad tidak akan menjadikan Ray seorang anak yatim piatu.
“Ronald.”
“Semuanya sangat sulit, Dad. Itu sungguh menyakitkan.” Akhirnya, Ronald menyerah
“Katakan pada Daddy. Apakah dia wanita yang kau cintai setelah Natasya?”
Ronald memilih diam. Ia merasa frustasi bahkan merosot terduduk di lantai. Wajahnya menuduk oleh kedua mata yang terpejam. Rasa sakit dan nyeri di hatinya tidak akan pernah hilang sampai kapan pun.
Luna sudah membuatnya seperti ini. Steven meremas pundak putranya sambil bersimpuh dan menyamakan posisi dengan Ronald.
“Apakah dia Luna? Seorang wanita yang dulunya pernah Daddy anggap sebagai calon menantu? Calon putri Daddy dan Calon istri adikmu itu? Apakah sekarang kau mualaf?”
Ronald mendongak menatap Steven, terkejut mengetahuinya. Sangat tidak heran bagi Steven jika saat ini Ronald sudah mengeluarkan air matanya. Putranya menangis.
Menangis karena wanita dan itu benar-benar membuatnya merasakan apa yang Ronald rasakan.
“Jangan ditanya mengapa Daddy tahu. Kau putraku, akulah yang menjagamu dan merawatmu bersama mendiang mommy-mu sejak kau lahir.
"Tentunya aku tau sikap dan watakmu, bahkan kedua tatapanmu saat melihat Luna di masa lalu ketika dia bersama David. Kau menyukainya sejak dulu dan mencoba mengalah demi kebahagiaan adikmu, kan?”
Ronald tidak menjawab sama sekali karena semua itu adalah benar. Sangat benar. Ia memilih mendunduk dengan Steven yang kembali meremas punggung tangannya..
“Daddy memang tidak bisa menerima kenyataan jika adikmu mati akibat diserang oleh beberapa pria suruhan calon besan Daddy dulu. Tapi, ketahuilah, setelah melihat Ray ... Daddy ....”
Steven mengehela napas dan berkata lirih, “Daddy mulai luluh, dan ... dan, memaafkan kalian. Memaafkan masa lalu”. “Maafkan Daddy yang sudah berniat menyuruhmu membunuh Luna. Kau benar sejak dulu, Ron. Tidak seharusnya Daddy seperti ini. Tidak seharusnya Daddy membalas dendam akibat kematian David.”
Steven memilih berdiri sambil ikut membantu Ronald berdiri. “Daddy memaafkanmu. Pulanglah ke rumah bersama Ray. RD Corporation sedang menunggu dan Daddy ingin kau kembali memimpin perusahaan."
"Maaf, Daddy sudah menyita dan menekan semua aksesnya sehingga kau tinggal di kandang tikus seperti ini,” ucap Steven dengan santai sambil mengedikkan bahu."
Ronald yang terkekeh geli hanya bisa menghapus air mata di sudut matanya. Rasa bahagia kembali hadir di hatinya, ayahnya kembali seperti dulu. Tidak ada rasa dendam dan obsesinya pada Luna.
Perlahan, ia memeluk tubuh daddy-nya dengan erat. “Terima kasih, Dad. Aku bersyukur akhirnya Daddy memaafkanku. Maaf, aku bersikap sedikit membangkang dan tidak memberimu kabar selama ini.”
“Kau memang anak idiot yang keras kepala! Ah, kuharap cucuku itu tidak mewarisi sifatmu.”
Mereka pun tertawa bersama dan saling melepas pelukan.
“Untuk sementara, Daddy tinggal di sebuah penthouse di kota ini. Kau bisa mengunjungi Daddy kapan pun. Seseorang mengabariku katanya kau bekerja di kota ini?”
Ronald mengangguk. “Itu benar, Dad.”
“Lebih baik kau berhenti dan kembali menjadi Presdir di RD Corporation. Pulanglah ke London bersama Daddy dan Ray. Setidaknya kau akan memiliki kehidupan yang layak.”
“Aku akan memikirkannya.”
“Lebih baik kau memikirkan bagaimana menjelaskan pada Ray soal ibunya. Dia pasti sangat terpukul dan merindukan Luna selama ini. Aku juga merindukan calon putriku itu yang dulu.” 
🔫🔫🔫🔫
Alhamdulillah lega, akhirnya mereka saling memaafkan 😄😊
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian ya.
With Love 
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
NEXT CHAPRER SELANJUTNYA. KLIK LINK DI BAWAH INI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar