Chaper 41 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chaper 41 : Because I Love You




Aifa menatap datar sebuah jendela di depan matanya sambil berbaring miring. Semua sudah berlalu. Harapannya ingin menjadi seorang ibu gagal.
"Aifa ayo makan. Ini buburmu."
Aulia duduk di samping Aifa. Di tangannya sudah ada sendok dan semangkok bubur hangat yang akan ia suapkan pada sahabatnya.
"Sebentar lagi. Aifa masih ingin berbaring."
Aulia berusaha untuk sabar dan memaklumi Aifa. Aifa sedang terpukul setelah mengalami keguguran. Semua tubuh Aifa pun terasa lemas.
"Aifa sedih. Padahal Aifa sudah mencintai janin yang Aifa kandung. Aifa sudah mulai memikirkan masa depannya meskipun tidak mudah."
"Bahkan Aifa siap menerima resiko apapun nantinya setelah melahirkan. Tanpa suami. Tanpa ayah untuk anak Aifa. Untuk apa Aifa menikah? Percuma. Aifa sudah tidak percaya diri lagi menerima seorang pria."
"Aifa ingin menjadi seorang ibu. Aifa ingin punya anak. Aifa ingin hamil. Tapi.." Aifa menundukan wajahnya.
"Tapi harapan itu pupus. Janin yang Aifa kandung keguguran. Aifa tidak mungkin menikah."
"Jangan berpikir seperti itu Aifa." hibur Aulia penuh kesabaran.
"Terkadang Aifa merasa tidak sudi melihat kondisi Aifa sendiri kalau lagi membersihkan diri. Tubuh yang pernah di jamah sama orang lain ketika Aifa pingsan."
"Setiap hidup. Pasti ada ujian." ucap Aulia lembut sambil mengelus pelan lengan Aifa.
"Saat itu Allah ingin menguji kita. Apakah kita sabar atau tidak."
"Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Allah Maha Tahu apa yang tidak diketahui oleh kita."
Aifa menoleh kearah Aulia. Kedua matanya sembab sejak kemarin.
"Jadi apakah keguguran ini tandanya yang terbaik buat Aifa?"
"Mungkin." ucap Aulia. "Kita tidak tahu hal terbaik apa yang menanti didepan kamu kan?"
"Segala sesuatu yang terjadi didunia ini sudah menjadi takdir Allah Aifa. Kita tidak bisa mengelak. Termasuk kejadian yang menimpa kita. Petik hikmahnya."
Dengan perlahan Aulia membantu Aifa untuk memposisikan bangun dari tidurnya. Aulia mengeluarkan sesuatu di saku gamisnya. Sebuah tasbih digital dan mengulurkannya ke atas telapak tangan Aifa.
"Berdzikirlah biar hati kamu tenang dan tidak kosong."
Aifa menatap tasbih digital di telapak tangannya. Ia memaksakan senyumnya.
"Terima kasih Aulia. Aulia benar. Secara perlahan Aifa akan menerima semua ini. Aifa tidak tahu rencana apa yang Allah siapkan untuk Aifa di balik musibah ini."
"Itu benar." Aulia mulai menyendokkan bubur hangat kearah Aifa. "Nah, sudah waktunya kamu makan."
Aifa hanya mengangguk dan menerima suapan pertama dari Aulia lalu di lanjutkan dengan dirinya sendiri yang memakan buburnya tanpa di suapin Aulia.
Pintu terbuka. Fandi dan Ayesha berlarian dengan panik. Aulia dan Aifa menatap kedatangan mereka yang tentunya sudah diketahui kedatangannya hari ini setelah Franklin menghubunginya.
"Aifa! Ya Allah nak. Kenapa? Kenapa bisa seperti ini." tanya Ay dengan lirih.
"Cobalah untuk tenang. Biarkan Aifa makan dulu." sela Fandi.
Aulia menatap ketiganya didepan mata. Lalu memilih pamit undur diri dengan sopan untuk memberikan waktu dan privasi pada mereka bertepatan saat Fay sudah menunggunya didepan pintu rawat inap.
****
"Kenapa kamu menutupi semuanya Aifa? Kenapa?"
Air mata sudah berlinangan di pipi Ayesha sambil duduk di kursi samping brankar pasien. Disebelahnya ada Fandi yang masih setia merengkuh bahunya.
"Maafin Aifa. Aifa tidak ingin membuat Mommy dan Daddy khawatir."
"Aifa juga tidak ingin kalian bertengkar lagi. Aifa tidak ingin Mommy dan Daddy bercerai karena Aifa."
"Ini semua salah Aifa. Seharusnya Aifa bisa menjaga diri."
"Ini salah Daddy." ucap Fandi pelan. "Daddy menyesal tidak menikahkanmu. Seharusnya Daddy tidak menunda keinginanmu."
Lalu Fandi menundukkan wajahnya. Rasa penyesalan itu akhirnya membuatnya tersadar.
"Maafkan Daddy Aifa. Maafkan aku Ay. Aku suami sekaligus ayah yang buruk."
"Tenanglah. Ini semua pelajaran buatmu. Buat aku. Buat kita semua." Ay memeluk suaminya dengan erat. Dan air mata menetes di pipi Aifa.
"Kalau begitu izinkan aku menikahi Aifa."
Suara itu terdengar tiba-tiba. Ketiganya menoleh kearah pintu. Disanalah Rex berdiri. Raut wajah Rex terlihat tenang. Meskipun sebenarnya hatinya deg-degan.
Rex melangkah mendekati Fandi dan Ay. Tanpa diduga Rex bersimpuh dilantai tepat didepan Fandi dan Ayesha sambil menundukkan wajahnya.
"Maafkan saya Om Fandi. Maafkan saya Tante Ayesha. Saya calon Aifa yang buruk. Seharusnya saya melamar Aifa sejak 4 tahun yang lalu."
"Saya siap menerima kekurangan Aifa. Tidak perduli seburuk apapun dia. Termasuk kondisinya yang sekarang."
"Putriku tidak bisa masak." ucap Fandi akhirnya.
"Saya tidak mencari seorang juru masak. Saya mencari seorang istri."
"Aifa suka bangun siang. Dia sering telat dalam melakukan sesuatu. Putriku sedikit pemalas. Manja. Suka Shopping. Sedikit boros."
"Saya tahu hal itu Daddy."
"Apakah kamu siap menerimanya? Semua kekurangan Aifa? Segala kelabilannya?" tanya Fandi serius.
Rex masih menundukan wajahnya. "Iya saya siap. Apapun hal itu, saya akan membimbing Aifa dengan baik."
"Jika kamu menyakiti putriku, maka kamu akan berurusan denganku. Kamu mengerti?"
"Ya saya mengerti. Saya akan terus mengingatnya."
Tanpa diduga Fandi berdiri. Di ikuti dengan Ay. Bahkan dia menolak saat Rex hendak mencium punggung tangannya.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
"Baiklah kalau begitu." Fandi bersedekap. "Pulanglah ke Indonesia. Segera urus surat-menyurat pernikahan kalian."
"Ay.. " Fandi menoleh kearah istrinya. "Hubungi sahabatmu itu. Katakan padanya kalau putranya yang pengecut ini akhirnya menyesal sudah menelantarkan hati putri kita."
Setelah itu Fandi melenggang pergi. Di ikuti dengan Ay yang sedikit kebingungan karena suaminya itu tidak memberi waktu untuk berbicara padanya.
Fandi merogoh ponselnya. Menghubungi putranya yang saat ini sedang di penginapan. Siapa lagi kalau bukan Franklin.
"Datang kemari. Jaga kakakmu. Pastikan Rex tidak mendekati Aifa sampai mereka menikah nanti." Klik sambungan terputus.
"Fan, ini-"
"Ayo kita balik. Urusan selesai. Putrimu itu begitu mencintai si pecundang itu."
Ay menghela napas panjang dan hanya menurut ketika Fandi sudah menarik pergelangan tangannya menuju parkiran mobil.
Tapi tidak dengan Aifa dan Rex yang kini hanya berdua di ruangan rawat inap. Aifa masih menundukan wajahnya. Ia tidak tahu bagaimana dengan perasaanya saat ini.
Bukankah ia harus senang ketika akhirnya ia akan menikah dengan Rex? Tapi rasanya percuma bagi Aifa. Tidak ada yang istimewa lagi setelah semuanya terjadi.
Suara derap langkah kaki mendekat terdengar. Aifa tahu kini Rex berdiri di sampingnya. Tapi Aifa masih menundukan wajahnya. Aifa malu dan merasa tidak pantas.
Sebuah kotak berwarna hitam yang berisi kelopak mawar merah kini berada di atas selimut yang menutupi paha Aifa. Aifa terkejut. Sebuah cincin yang indah tersemat disana.
"Selama 4 tahun ini aku menyimpannya. Maafkan aku yang mengabaikanmu selama ini. Aku tahu kata maaf tidak akan cukup buatmu. Buat semuanya.."
"Tapi Daddy memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu."
"Tidak perduli hal apapun yang menimpamu. Aku akan tetap berada di sisimu."
Dengan memberanikan diri, Aifa menatap Rex yang kini tersenyum lembut kearahnya.
"Because I Love You Aifa."
Air mata menetes di pipi Aifa. Rex tahu itu adalah air mata kebahagian yang tidak bisa di cegah oleh Aifa.
"Aku ingin menikah denganmu. Kamu yang aku inginkan. Bukan siapapun. Bukan Aisyah. Tapi kamu. Aifania. Aku ingin bahagia bersamamu."

****
Penantian panjang yang berbuah manis❤️❤️❤️
Makasih sudah baca. Ciee yang hatinya tahan banting sampai chapter sekrang 🤣🤣
Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar