Chapter 38 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 05 Maret 2020

Chapter 38 : Because I Love You




Hai, Assalamualikum..
Terima kasih sebelumnya sudah bela-belain lanjut membaca si Aifa yang bikin gemes diblog ini.
Oh iya, untuk pengunjung awal dari Blog, bisa membaca chapter 1 sampai chapter 37 di akun platfrome Wattpad liareza 15. Link wattpadnya bs di klik ya :


Dan tersedia di platfrome lain dengan akun LiaRezaVahlefi ( Storial, Dreame, Joylada, Novelplush dan NovelToon )

Jazzakallah Khairan, Happy Reading :)

****

Masih di lokasi bandara, Rex menatap Aifa dengan datar dalam diam. Kedua mata mereka sama-sama bertemu. Rasa rindu didalam hati Rex semakin menyiksa. Rasa cemburu di hati Rex perlahan menghilang setelah Ray pergi memasuki pesawatnya.
Tanpa diduga Aifa membalikan badannya. Wanita itu terlihat ketakutan. Wanita itu terlihat syok dan malah menghindarinya. Sampai akhirnya Rex bertanya-tanya dalam hati.
Kenapa wanita itu? Ada apa dengannya? Mengapa wajahnya terlihat gugup? Tiga pertanyaan memenuhi isi hati dan pikirannya.
Lalu Aifa memasuki mobilnya. Rex tahu didalam sana ada Franklin yang dengan setia menunggu kakaknya.
Tanpa mau kehilangan kesempatan, Rex segera meninggalkan area bandara pesawat dan menuju parkiran mobil untuk segera mengikuti mobil Aifa.
Dan Ray melihat semuanya. Dibalik diamnya, Ray sempat melihat kakak tirinya itu bersama wanita yang ia cintai saling bertatapan dalam jarak jauh.
Ray terdiam dan termenung. Ia menggenggam ponselnya setelah menghapus sekaligus memblokir hal-hal tentang Aifa disana.
Seorang pramugara datang menghampirinya. Memberikan pelayanan mewah dalam pesawat pribadinya sambil membawa nampan yang berisi makanan dessert.
Pesawat mulai berjalan pelan. Meninggalkan landasan bandara hingga terbang mengudara dengan cepat.
Sekali lagi. Ray menatap kesamping jendela kaca dan menatap kebawah. Sebuah kota yang kini terlihat kecil. Kota yang menjadi tempat kenangan untuknya bersama Aifa selama 7 hari.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Bertahun-tahun memendam rasa dengan wanita itu dan terbalaskan hanya 7 hari untuk melampiaskan perasaanya pada Aifa.
It's Oke. Ray akan baik-baik saja. Ray akan mencoba untuk mengikhlaskan Aifa. Cinta. Rasa nyaman. Pengorbanannya. Dan kenangan terindah itu.
"Aku pergi dan mengingat senyum yang merekah di raut wajahnya."
"Tapi nanti dia akan bahagia. Dengan sosok pria yang ia cintai selama ini."
"Sampai akhirnya, kepergianku ini  meninggalkan segores luka untukku.
Lalu aku tersenyum. Berusaha menahan ego."
"Demi dia."
"Demi mengembalikan senyumnya.
Demi kebahagiaannya."
"Karena cinta tidak harus saling memiliki. Untuk kamu. Semoga langgeng."
"I'm Fine."
Dan Ray mengepalkan salah satu tangannya di atas paha. Menyalurkan rasa hatinya yang cemburu. Pedih. Sakit. Agar tidak melampiaskan ke manapun. Ke siapapun. Karena mengalah akan lebih baik untuknya.
****
"Kakak baik-baik saja?"
Aifa menoleh ke arah Franklin yang kini menatapnya khawatir.
"Wajah kakak pucat."
"Aifa baik-baik saja." sahut Aifa pelan dan kembali menyenderkan dahi di jendela mobil. Aifa berusaha menahan diri agar tidak mual saat ini.
"Kakak suka dengan Ray?"
Aifa menoleh lagi kearah Franklin. Terdiam sejenak sampai akhirnya hatinya kembali pedih.
"Suka." ucap Aifa akhirnya. "Suka karena dia bikin Aifa nyaman."
"Cinta?"
Lalu Aifa terdiam. Benarkah dia cinta dengan Ray? Aifa tidak bisa berkata selain hanya diam. Mengetahui hal itu, Franklin tidak berani bertanya lagi dan kembali mengemudikkan mobilnya.
Suasana mendadak hening. Rasa kehampaan kembali terasa di hati Aifa. Kehampaan yang ia rasakan saat di Indonesia setelah Rex meninggalkannya.
Mobil tiba-tiba berhenti secara dadakan. Aifa tersentak dan memegang erat safety beltnya. Aifa menoleh tajam ke arah Franklin
"Apa yang kamu lakukan Frank!"
Franklin terdiam. Sadar diri bila kakaknya marah. Lalu ia menunjuk kearah depan menggunakan dagunya.
"Dia kak. Dia penyebabnya."
Aifa terkejut. Degup jantungnya berdetak cepat. Wajahnya memucat. Seorang pria tiba-tiba memblokir jalan mereka. Dengan santai pria itu berjalan kearah mobilnya sambil melepaskan kacamatanya.
Aifa rasanya mau menangis saat ini. Kenapa dia begitu lemah jika di hadapan Rex?
"Kak-"
"Sebentar. Biar Aifa yang keluar."
Aifa pun akhirnya keluar dari mobilnya. Aifa memegang ujung hijabnya dengan gugup. Wajahnya pucat. Raut wajah Rex terlihat serius. 
Aifa memilih melangkahkan kakinya agar bisa menjauhi mobil Franklin.
Aifa dan Rex. Kini keduanya saling berhadapan. Rex bingung harus memulai dari mana meskipun hatinya di relung rasa senang. Senang karena bisa melihat wajah wanita yang ia rindukan.
"A-asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Em. H-hai mantan terburuk Aifa."
Rex terkejut mendengarnya sapaan Aifa. Tapi ia tahu. Aifa memang wanita yang jujur sejak dulu. Dan Aifa benar. Dirinya adalah seorang pria yang buruk untuk wanita sebaik Aifa.
Rex berusaha bersikap santai. "Em h-hai mantan yang baik."
Lalu mereka kembali terdiam. Rasa canggung begitu menyiksa situasi saat ini. Tapi Aifa ingat. Terakhir ketemu dengan Rex hubungan mereka akan berjanji seperti teman.
Aifa memaksakan senyumnya. 
"M-maaf. Ada apa Rex?"
"Tidak ada." ucap Rex santai. "Hanya ingin berbicara sebentar. Dengan kamu."
"Oh." Aifa manggut-manggut ragu. "Em. Mbak Aisyah mana? Rex gak bawa dia?"
"Tidak."
"Rex lagi bulan madu?"
"Pernikahan itu batal."
Dan Aifa terkejut. Ia tidak menyangka bila Rex tidak jadi menikah. Haruskah dia senang? Haruskah dia bahagia? Haruskan dia berkata bahwa hatinya tenang sekaligus bersyukur?
"Oh. Berarti..." Aifa terdiam. Dia semakin erat memegang ujung hijabnya. "Em berarti mbak Aisyah bukan jodoh Rex. Rex harus sabar. Semoga suatu saat Rex bertemu dengan wanita yang Rex inginkan dan menjadi jodohnya."
Rex bingung harus bereaksi seperti apa. Baginya Aifa terlalu santai menghadapi situasi sekarang. Tidak seperti dirinya yang gugup setengah mati. Tapi Rex tahu. Aifa begitu baik menghadapi situasinya kali ini di balik wajahnya yang sedih.
"Maaf Rex. Aifa harus balik. Aifa lelah mau istirahat."
Aifa tidak ingin menunggu respon dari Rex. Aifa membalikan badannya Dengan cepat.
"Aku menginginkanmu Aifa. Menikahlah denganku."
Aifa terdiam. Aifa memasukan tangannya kedalam saku gamisnya karena tiba-tiba ia bertambah gugup sehingga kepalan tangannya terasa dingin.
Dan Aifa sadar. Didalam sakunya Aifa memegang sebuah foto USG janin yang mulai ia cintai saat ini.
Air mata mengalir di pipi Aifa tanpa bisa ia cegah. Lalu ia membalikan badan. Membiarkan Rex menatapnya yang kini sedang berlinangan.
"Maaf. Aifa tidak bisa."
"Kenapa? Aku yakin kalau kita masih saling mencintai."
Dan itu benar. Aifa masih mencintai Rex. Tapi Aifa sadar diri. Dia sudah kehilangan kehormatannya. Dia sedang mengandung calon janin yang tidak ketahui siapa ayah biologisnya.
"Kenapa kamu tidak pernah mendatangiku lagi? Bukankah kamu menyukaiku Aifa?
"Aku menyerah." ucap Aifa akhirnya. Aifa menundurkan langkahnya. "Sekarang kamu bebas tanpa diusik olehku."
"Mengapa kamu seperti itu Aifa? Ayo kita menikah. Sekarang aku sadar atas semua perasaanku padamu."
Aifa menggeleng. "Aisyah lebih pantas untukmu. Bukan aku."
"Kenapa?
"Maaf. Aku sudah tidak suci lagi."
Dan jujur lebih baik saat ini meskipun menyakitkan bagi Aifa. Lalu Aifa melenggang pergi dan memasuki mobilnya.
"Jalankan mobilnya!"
"Tapi kak-"
"JALANKAN FRANK! PERGI DARI SINI!"
Franklin terkejut. Kakaknya begitu emosi dan melampiaskan padanya. Franklin berusaha memakluminya dan segera mengemudikannya dengan cepat.
Rex menatap kepergian Aifa. Hatinya pedih. Ia tidak menyangka mendengar semua lontaran Aifa. Sesuatu menghantam hatinya hingga membuat hatinya sakit.
Rex memasuki mobilnya. Dia terdiam sejenak. Dia belum siap mengemudikkan mobilnya dalam keadaan emosi.
Rex menggenggam kemudi stirnya dengan kuat. "Kenapa Aifa kenapa?!!!"
"Aku menyesal. Maafkan aku Aifa. Seharusnya aku bisa menjagamu waktu itu. Maafkan aku. Maafkan aku yang gagal menjagamu."
Dan Rex menundukkan wajahnya. Air mata menetes di pipinya. Harapannya hancur untuk bisa membahagiakan Aifa. Lalu ia juga menyesal karena sudah mengecewakan Luna. Seorang ibu yang juga sosok wanita yang melahirkannya.
"Maafkan aku mom. Maafkan Aku. Aku gagal mendapatkan maaf darinya."
****
Ikutin aja alurnya. Jangan mikir keras. Hati lagi pedih. Ayo kita beli tisu mulai hari ini  😭
Makasih sudah baca. Semangat ya. Jangan menyerah sampai tamat.
Sehat selalu buat kalian
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram : lia_rezaa_vahlefii

***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

2 komentar: