Chapter 39 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 05 Maret 2020

Chapter 39 : Because I Love You




Aifa memilih menyendiri di kamar mandi. Setelah ia menyalakan kucuran air di shower untuk meredakan suara dirinya, Aifa sudah tidak bisa lagi menahan gejolak mual dan pusing di tubuhnya.
Ini pertama kalinya Aifa merasakan hormon morning sickness di pagi hari setelah ia melaksanakan sholat duha. Rasanya begitu menyiksa. Aifa menghadapinya sendirian. Tanpa sosok siapapun di sampingnya.
Aifa mengabaikan ajakan Franklin untuk sarapan bersama di fasilitas hotel seperti biasanya. Aifa benci aroma masakan ketika aroma tersebut memasuki penciuman hidungnya.
Pintu terketuk sejak 10 menit yang lalu tanpa Aifa sadari akibat suara kucuran shower yang mengalir deras. Aifa menatap arah pintu dan berusaha untuk berdiri dengan lemah sambil mematikan kucuran shower.
Dengan lunglai, Aifa berjalan kearah pintu dan membuka pintunya. Aifa tidak menyangka bila si pengetuk pintu adalah Aulia.
Air mata menetes di pipi Aifa. Tanpa banyak bicara Aulia memeluk tubuh sahabatnya yang lemah tak berdaya. Wajah Aifa sangat pucat dan tangis Aifa pun pecah.
"Hei, tenanglah. Aku sudah disini untuk kamu, sahabatku."
"Bersabarlah. Aku tahu ini tidak mudah Aifa."
Aulia mengelus punggung Aifa yang rapuh karena kesedihannya. Aulia begitu terpukul begitu mengetahui bila sahabatnya itu mendadak menghubunginya beberapa hari yang lalu dan berkata bahwa ia sedang hamil.
Aulia merengkuh pundak Aifa dan membawanya untuk duduk bersama di pinggiran ranjang. Mereka saling berhadapan. Aulia menggenggam punggung tangan Aifa dengan lembut.
"Sekarang katakan padaku. Kenapa Semua bisa menjadi seperti ini?" tanya Aulia lembut.
Air mata mengalir di pipi Aifa. Aifa menundukan wajahnya lalu menggeleng pelan.
"Aifa tidak tahu Angel. Aifa benar-benar tidak tahu kenapa bisa seperti ini."
"Aulia Aifa. Bukan Angel."
Aulia menghela napas panjang. "Bagaimana keadaanya? Apakah dia sehat?"
Aifa mengangguk. "Alhamdulillah dia sehat." Aifa mengelus perutnya yang masih rata. "Sejak dia hadir, Aifa jadi sayang sama calon janin ini. Mungkin ini yang di namakan naluri seorang ibu."
Aulia tersenyum tipis. "Memang begitu." Aulia menghapus air mata di pipi Aifa. "Dengar.. apapun yang terjadi kita harus bersabar. Jangan bersedih. Allah bersama kita. Allah tahu kita wanita yang kuat dalam menjalani hidup yang tidak mudah ini. Kamu mengerti?"
Aifa mengangguk. "Iya, Aifa ngerti. Maafin Aifa."
"Kenapa kamu minta maaf sama aku?"
"Aifa malu hanya untuk bicarakan hal ini sama Aulia. Aifa tidak enak kalau mau curhat sama Aulia."
"Kata mommy, kalau wanita sudah menikah mereka akan sibuk dengan keluarga barunya. Aifa sungkan dengan Pak Fayezza. Jadi.. " Aifa menghapus sisa air mata di pipinya sendiri. "Jadi Aifa tidak cerita dengan siapapun."
"Apakah Om Fandi dan Tante Ayesha tahu?"
"Mereka tidak tahu kalau Aifa hamil." ucap Aifa sedih. "Begitu mereka tahu kalau seseorang merenggut kehormatan Aifa, Mereka sempat bertengkar dan nyaris bercerai. Aifa tidak ingin membuat semuanya menjadi kacau."
"Baiklah. Lain kali jangan sungkan kalau kamu mau cerita sama aku. Bukankah kita sahabat?"
Akhirnya senyum Aifa secara perlahan terbit. Aifa memeluk Aulia dengan erat.
"Terima kasih Aulia. Aulia memang sahabat Aifa yang pengertian. Aifa bersyukur Allah mendatangkan sahabat seperti Aulia yang rela jauh-jauh kesini."
Aulia terkekeh geli. "Sama-sama Aifa. Aku lebih senang jika akhirnya kamu berhasil memanggilku Aulia. Bukan Angel lagi."
Aifa tertawa kecil. Lalu mereka saling melepas pelukannya.
"Sekarang, obat apa yang diberikan dokter waktu itu? Apakah kamu sudah meminumnya?"
Aifa mengangguk. Lalu membuka laci meja yang ada di sampingnya dan mengeluarkan dua kemasan obat beserta foto hasil USG janinnya.
"Ini.." kata Aifa pada Aulia.
Aulia memperhatikan dengan seksama secara bergantian. "Ini asam folat. Sangat di butuhkan untuk perkembangan janin. Lalu ini obat untuk penambah darah. Ibu hamil memang sering mengalami kekurangan darah."
Lalu Aulia tersenyum menatap foto USG milik Aifa. Awalnya Aulia sempat syok saat Aifa menceritakan semua kronologis kejadian melalui panggilan telepon saat dirinya masih di Indonesia.
"Aifa."
"Hm?"
"Sudah minum susu ibu hamil?"
Aifa menggeleng. "Belum. Aifa belum beli. Aifa takut ketahuan Franklin."
"Ayo kita beli. Setelah itu untuk sementara waktu kamu tinggal di penginapanku."
Seketika Aifa meragu. Benarkah dia bisa tinggal bersama Aulia untuk sementara waktu? Bagaimana jika Franklin keberatan lalu melaporkannya pada Daddy mereka?
"Kamu jangan takut. Mas Fay sudah mengatur semuanya. Dia juga tahu kamu lagi hamil." bisik Aulia kecil.
"Apa?" Aifa tersentak. "Aulia! Kenapa Pak Fay-"
"Biar dia bisa bantu kita. Oke? Ayo!" Aulia berdiri sambil menarik pergelangan tangan Aifa. "Setidaknya dia seorang pria yang bisa kita mintai tolong kalau kita perlu sesuatu. Kamu lupa kalau kita bumil sejoli yang nantinya akan butuh bantuan?"
****
Aifa dan Aulia sudah berada di minimarkert yang ada di kota Turki. Aifa mendorong troli yang berisi beberapa kotak susu ibu hamil dan cemilan-cemilan sehat yang aman untuk di konsumsi ibu hamil.
Mereka terlihat antusias. Sesekali Aifa dan Aulia bercanda. Berbincang ringan seputar kehamilan muda dan menghabiskan waktu bersama karena mereka sama-sama saling merindukan moment persahabatan mereka.
Dari kejauhan, Rex menyipitkan kedua matanya. Tanpa sengaja ia melihat dua punggung wanita yang begitu familiar.
"Bukankah itu Aifa dan Angel?"
Dan itu benar begitu melihat Aifa menoleh ke samping kearah wanita di sebelahnya. Dengan cepat Rex mendekati mereka.
"Aifa! Angel!"
Kedua pun sontak menoleh kebelakang dan terkejut dengan kedatangan Rex. Aifa merasa gugup. Lalu ia memilih mendekati Aulia dan mengamit lengan sahabatnya sambil menudukan wajahnya yang takut.
"Rex? Kamu di negara ini juga? Ngapain?" tanya Aulia tiba-tiba.
Rex tetap diam. Rex malah menatap Aifa yang menundukkam wajahnya. Mengetahui hal itu, Aulia mendecak sebal dan beralih menatap Rex dengan tajam.
"Karena Aifa?"
"Ha?"
"Karena Aifa kan?!"
"Angel aku-"
"Aulia! Aku Aulia! Oke?"
"Oh iya lupa."
"Ngapain kamu kesini?!" tanya Angel sengit. "Sana pergi! Pria pengecut jangan bikin bumil marah!"
Rex terkejut. Lalu ia menatap beberapa kotak susu ibu hamil di troli mereka.
"Siapa yang hamil?" tanya Rex was-was.
"Aku. Kenapa? huh?"
"K-kamu hamil lagi?" tanya Rex tak percaya dengan Aulia. "Kamu hamil tiap tahun apakah kamu dan Fay mau bikin klub sepak bola dirumah?"
"Iya!" Aulia bersedekap. "Supaya bisa nendang wajah pengecut pamannya pakai bola! Sudah sana pergi! Ayo Aifa. Bikin mood hancur aja kalau kita lihat dia!"
Aifa hanya menurut dan segera pergi yang tidak melepaskan sama sekali lengan Aulia. Aulia sudah berlalih mendorong trolinya.
"Aku ingin bicara dengan Aifa!" ucap Rex lantang.
Aulia dan Aifa menoleh kebelakang. 
"Bicara?" ucap Aulia sinis. "Ngomong aja sama Chiki di sampingmu sana! Percuma ngomong sama Aifa. Dia bukan minimarkert yang bisa di datangin lalu di tinggalkan setelah selesai belanja!"
"Tapi-"
"Aulia. Em, kami hanya berteman. Mungkin Rex ada perlu sebentar sama Aifa." sela Aifa.
Aulia menatap Aifa dengan datar. Aulia merasa sensi dengan Rex sehingga hanya berlalu meninggalkan Aifa dan Rex menuju kasir. Rex menatap kepergian sepupunya lalu menatap Aifa.
"Aifa?"
"Y-ya?"
Rex menyodorkan ponselnya. "Beri aku nomor ponselmu lagi?"
Aifa diam menatap ponsel Rex yang diarahkan kepadanya. Tiba-tiba Aifa ragu. Tapi tidak bisa menutupi rasa bahagia di hatinya.
"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya padamu." ucap Rex yang kini menurunkan ponselnya.
"Tanya apa?"
"Kenapa kamu memblokir semua akun sosial mediaku di akun mu? Kenapa juga aku tidak pernah menemukan akun mu lagi?"
Aifa menundukam wajahnya. Berusaha untuk bisa menahan air matanya.
"Karena Aifa mau lupain Rex."
"Lalu kenapa kamu tidak memakai cincin pemberianku lagi? Bukankah selama ini kamu memakainya? Cincin berbentuk huruf R?"
Aifa menatap jarinya. "Karena semua pemberian Rex sudah tidak Aifa gunakan lagi."
"Kenapa?"
"Aifa mau lupain semua tentang Rex. Bagi Aifa tidak mudah. Tapi Aifa harus bisa melakukannya dengan cara menjauhkan hal-hal tentang Rex."
"Aifa-"
"Bukankah Rex sendiri yang bilang kalau Rex lebih menyukai wanita dewasa yang pintar memasak seperti mbak Aisyah?" Aifa mendongakan wajahnya menatap Rex.
Air mata Aifa. Air mata itu lagi yang membuat Rex pedih hanya untuk melihatnya. Pantas saja ia tidak pernah bisa mendengar suara Aifa lagi semenjak wanita itu meninggalkan dirinya sambil membawa kotak bekal makan siang terakhir untuknya.
"Tapi Aifa-"
"Tolong lupakan Aifa. Lebih baik Rex sama wanita lain saja. Aifa wanita yang manja, kekanakan, dan tidak bisa memasak."
"Aifa-"
"Jangan buat Aifa menangis. Aifa takut stress."
"Aifa. Aku-"
"Dan Aifa tidak pantas buat Rex. Aifa sudah kotor."
Lalu Aifa membalikan badannya dan menangis. Berlari secepat mungkin menelusuri koridor minimarket dan mendatangi Aulia.
Dan Rex mengumpat kesal dalam hati.
Rasanya begitu sakit karena penyesalan itu kini datangnya belakangan.
***
Aulia bener-bener sensi sama Rex. Dia sama kayak kalian. Kesel sama si dia 😂
Oh iya, info ya. Insya Allah besok mulai udpate Mencintaimu Dalam Kekelaman. 
Author gak mau PHP. Jadi ya, Author selang saling aja update nya.
Misal :
Hari ini Rex sama Aifa.
Besok Fikri dan si Afrah.
Kembali lagi besok Rex dan Aifa.
Dst... 
Semoga bisa memaklumi kesibukan Author sebagai mamah muda yg punya bayi kecil dan bayi besar 😂
Makasih sudah baca.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar