Chapter 42 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 42 : Because I Love You



Sebulan kemudian.
Akhirnya, surat-surat pernikahan Rex dan Aifa telah selesai di urus. Selama itulah Rex di sibukkan berbagai macam perkejaan yang sudah ia abaikan selama berminggu-minggu di WK Group.
Proses pembangunan jembatan di kota Samarinda sedang diproses. Tapi Rex berniat akan mendatangi kota tersebut setelah pernikahannya selesai.
Lalu Aifa. Wanita itu memilih untuk tidak menghubungi Rex. Aifa memilih menyibukkan diri dengan aktivitas lainnya sekaligus mempersiapkan mentalnya.
Berbagai macam pemikiran setelah menikah dengan Rex memenuhi benaknya selama sebulan. Dalam hati ia bertanya-tanya. Benarkah Rex akan menerima sepenuhnya? Apakah Rex akan menerima semua kejadian yang sudah berlalu?
"Aifa?"
Aifa menoleh ke arah pintu. Fandi berdiri dengan tegap dengan pakaian jas formalnya. Pria paruh baya itu memasuki kamar putrinya dan berdiri tepat di belakang Aifa.
Fandi memegang kedua bahu Aifa yang tengah duduk didepan cermin rias.
"Bagaimana keadaanmu?"
Aifa menatap Daddynya dengan pantulan cermin didepan matanya. "Em sedikit gugup Dad."
Fandi tersenyum. "Cobalah untuk tenang. Semua ini akan terlewatkan dalam beberapa jam kedepan."
"Iya Dad. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Aifa."
"Putri Daddy sudah besar. Sebentar lagi tanggung jawab Daddy sudah selesai. Tinggal menunggu adikmu si Franklin itu yang belum menikah."
"Kata Franklin dia tidak akan menikah sebelum Aifa menikah."
"Adikmu itu memang pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia begitu menyayangimu sehingga tidak ingin membuatmu celaka di luar sana."
Aifa menundukan wajahnya. Ya Daddynya benar. Tapi, nasib yang menimpa dirinya tidak bisa membuat Franklin menjaga seutuhnya. Tapi Aifa tidak ingin menyalahkannya karena biar bagaimanapun semua itu adalah kesalahan Aifa.
"Apakah kamu bahagia Aifa?"
Aifa kembali mengangkat wajahnya menatap Fandi dari pantulan cermin. "Aifa.. em. Aifa-"
"Jangan dijawab jika tertekan." Fandi mengelus bahu Aifa. "Cobalah untuk tenang. Biar bagaimanapun Rex adalah pria yang kamu cintai."
"Tapi maukah kamu berjanji satu  hal sama Daddy?"
"Apa Dad?"
"Setelah menikah. Jangan pernah merepotkan adikmu lagi. Bergantunglah pada Allah dan suamimu. Biarkan adikmu memiliki waktu dan kesempatan untuk bekerja dan menemukan jodohnya."
Aifa memaksakan senyumnya. "Aifa janji."
Lalu Fandi memeluk putrinya dari belakang tepat di bahunya. Fandi mengecup pipi Aifa.
"Sebentar lagi akad nikahmu. Sesuai keinginanmu sejak dulu. Tema outdoor. Nuansa pink. Penuh mawar pink. Di halalkan sama pria yang kamu cintai. Apakah Daddy benar?"
Aifa terkekeh geli. Air mata mulai menggenang di kedua mata Aifa. Karena itu, ia pun memilih berdiri dan memeluk Daddynya erat.
"Terima kasih sudah sabar menjaga dan mendidik Aifa yang begitu kekanakan ini."
Fandi hanya tersenyum lembut. Ia mengusap pelan bahu Aifa.
"Sama-sama. Sudah kewajiban kami Aifa. Apapun yang terjadi dan sudah berlalu, itu adalah takdir. Ambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran."
"Dan sekarang kamu harus fokus berbakti pada suamimu. Melayaninya dengan baik. Saling percaya. Saling menopang. Saling menguatkan. Saling menerima kekurangan diantara kalian. Saling jujur. Itu yang paling penting."
"Iya Dad. Terima kasih. Aifa sayang Daddy."
"Daddy juga menyayangimu nak."
Lalu Fandi mencium kening putrinya sebelum meninggalkannya untuk menghadapi tamu-tamu undangan dan keluarga yang mulai berdatangan.
****
Rex sudah siap didepan penghulu setelah beberapa menit yang lalu ia datang beserta keluarga besarnya. Hatinya gugup. Gelisah. Tapi perasaanya bahagia.
Sebuah posisi yang ia inginkan sejak dulu. Duduk didepan penghulu. Mengucapkan ijab qobul dan menghalalkan seorang wanita yang ia inginkan. Ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Aifania Hamilton.
Ijab qobul pun di mulai. Rex menggengam erat tangan seorang penghulu. Sebuah pengeras suara didekatkan kearah bibirnya. Rex berucap ijab qobul secara lancar tanpa terjeda seperti sebelumya beberapa bulan yang lalu ketika bersama Aisyah.
Waktu terus berjalan. Ijab qobul berjalan dengan lancar tanpa terjeda dan terputus. Rex berucap lega. Sebuah penantian yang panjang. Raut wajah binar bahagia, rasa syukur penuh haru terlihat jelas di wajah-wajah semua orang. Terutama wajah kedua belah pihak keluarga Rex dan Aifa.
Dari jarak beberapa meter. Sudah ada Aifa yang kini lengannya di gandeng oleh Ayesha dan Aulia. Semua orang tertuju pada mereka.
Rex terkesima oleh kecantikan Aifa. Wanita itu terlihat gugup. Tidak tenang. Tapi tidak menutupi kecantikan wajahnya.
Rex tersenyum tipis sampai akhirnya Aifa tepat di sampingnya. Ayesha membantu Aifa duduk setelah Aulia sempat menarik kursi duduknya untuk Aifa agar bisa berhadapan dengan penghulu.
Proses pemasangan cincin di mulai. Tangan Aifa terasa dingin. Aifa gugup saat Rex mulai menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manisnya. Aifa pun sama. Ia menyematkan cincin tersebut pada jari Rex.
Dengan perlahan, Rex mencium kening Aifa. Sebuah kontak fisik yang pertama kali mereka lakukan. Aifa menundukan wajahnya dengan malu. 
Rex menyentuh dagu Aifa. Menatapnya lembut.
Rex mengabaikan sorotan beberapa kamera dari fotografer dan tamu undangan yang sudah memfoto mereka sejak tadi.
Waktu seolah-olah milik mereka berdua. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Kedua mata Aifa berkaca-kaca. Sekali lagi, Rex mencium kening Aifa.
"Jangan takutkan hal apapun. Yang berlalu biarlah berlalu. Masa depan kita adalah bahagia. Aku menerima kekuranganmu Aifa. Aku mencintaimu."
Dan Rex mengecup ujung hidup Aifa. Rasanya Aifa ingin menangis. Penantian yang panjang dan kesabaran selama ini membuahkan hasil.
"Terima kasih Rex. Aifa.. Aifa juga cinta sama Rex."
Aifa dan Rex. Akhirnya berpelukan. Ucapan Alhamdulillah dan sorak bahagia memenuhi suasana haru mereka.
****

Pesta pernikahan Aifa dan Rex begitu mewah. Di gelar disebuah hotel ternama dan mewah milih paman Rex yang bernama Farrel.
Aifa benar-benar seperti princess yang ia impikan sejak dulu bersama sang pangeran tercinta Rex Davidson. 
Suasana begitu ramai dan meriah yang digelar malam hari mulai pukul 19.00 malam.
"Kamu senang?"
Aifa menoleh kearah Rex setelah berjam-jam mereka berdiri menyalami tamu undangan yang antriannya sangat panjang.
"Aifa bersyukur dan bahagia."
"Alhamdulillah." Rex memeluk erat pinggul Aifa. Aifa terlihat gugup dan sedikit belum terbiasa bila Rex melakukan kedekatan seperti itu.
"Rex."
"Hm?"
"Apakah Rex benar-benar menerima Aifa dengan ikhlas?"
Aifa memegang tangan Rex. Sekolah takut bila pria itu akan melepaskannya lagi.
"Ikhlas. Demi Allah. Jangan khawatirkan apapun Aifa."
Rex membalas genggaman tangan Aifa. Aifa tersenyum tipis dan Rex masih bisa melihat raut wajah kekhawatiran istrinya itu.
"Rex?"
"Apa lagi Aifa?"
"Apakah setelah acara pesta pernikahan ini Rex akan tidur? Atau.. istirahat?"
"Em, aku belum tahu. Ada apa?"
"Aifa.."
"Ya?"
"Aifa cuma mau mengobrol nanti sama Rex. Bolehkah Rex nanti temani Aifa ngobrol? Aifa ingin ada dua gelas coklat hangat didepan kita nanti."
"Sesederhana itu?"
Aifa mengangguk. "Aifa cuma.. cuma ingin bersama Rex dimalam pertama kita dengan hal-hal yang lebih santai."
"Maksud kamu?"
Aifa memaksakan senyumnya. "Aifa boleh jujur?"
"Hm. Silahkan. Katakan saja."
"Aifa tidak bisa melakukan hal itu."
"Hal itu? Maksudmu?" Tanya Rex bingung.
"Berhubungan suami istri. Aifa tidak bisa. Aifa malu. Aifa bekas pria lain. Malam ini Aifa hanya wanita biasa yang sudah pernah di jamah pria asing. Tidak ada yang istimewa setelah pesta mewah ini berakhir."
****
Apa yang Aifa rasakan feel nya dapat banget di hati Author. Susah ya. Sama-sama wanita. Jadi begitu dia sedih, author ikut merasakannya. Padahal Aifa hanya tokoh fiksi 😂😂
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar