Chapter 43 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 43 : Because I Love You



Wangi lilin aromaterapi membuat ruangan menjadi nyaman. AC terasa sangat sejuk dan dingin ditambah suasana hening dan lampu yang temaram.
Sesuai keinginan Aifa, Rex membuat dua mug coklat hangat yang sudah di sediakan oleh fasilitas kamar hotel malam ini. Rex mulai menyeduh menggunakan air panas lalu mengaduk larutan coktat tersebut menggunakan sendok kecil.
Asap yang mengepul dan aroma coklat yang nikmat membuat Rex akhirnya membawa dua mug coklat itu ke sudut sofa ruangan lalu meletakannya di atas meja.
Rex menunggu Aifa yang sudah 15 menit yang lalu memasuki kamar mandi. Bermenit-menit Rex menunggu tapi istrinya itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari kamar mandi. Rex merasa was-was. Lalu ia berjalan kearah sana dan mengetuk pintunya.
"Aifa?"
"Aifa?"
Tidak ada sahutan. Rex mulai mengetuk-ngetuk kembali pintunya. Dan hasilnya tetap sama. Tidak ada sahutan apapun didalam kamar mandi.
"Aifa, aku akan membuka pintunya."
Dengan perlahan Rex membuka kenop pintunya. Kedua matanya melihat Aifa yang duduk bersandar didekat wastafel kemudian wanita itupun cepat-cepat berdiri dengan panik.
"Em. Rex, Aifa.. Aifa-"
"Sejak tadi aku memanggilmu. Kenapa tidak menyahut?"
"Aifa.. Aifa. " Aifa menundukan wajahnya. "Maaf."
Suara Aifa terdengar sangat lirih. Rex menatap Aifa yang ntah kenapa seperti terlihat cemas, ketakutan, dan gelisah. Rex meraih pergelangan tangan Aifa lalu membawanya menuju tempat wudhu.
"Ayo kita sholat Sunnah 2 rakaat dulu setelah akad nikah tadi pagi. Setelah itu, kita akan mengobrol sambil meminum coklat hangat." Rex mencium dahi Aifa.
Aifa hanya menurut dan segera mengambil air wudhu lalu setelah itu Rex pun menjadi imam sholat untuk pertama kali dalam hidupnya.
****
Aifa baru saja menyelesaikan sholat isya nya. Di pojok ruangan ada Rex yang sudah menunggunya duduk di sofa. Desiran hangat rasa bahagia begitu terasa di hati Aifa.

Rex pun segera mendekati Aifa. Tak lupa ia duduk bersila dan menghadap Aifa. Dengan perlahan Rex menyentuh ubun-ubun kepala Aifa.
"Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi"
"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa."
Rex menatap Aifa. Lalu tersenyum. Kata Aamiin terucap di bibir keduanya. Tak lupa Rex mencium kening Aifa lagi. 

Rex kembali berdiri dan Aifa pun segera melepas mukenanya kemudian melipatnya dengan rapi.
Dengan canggung Aifa mendekati Rex. Pria itu menepuk-nepuk sofa kosong di sebelah pahanya. Awalnya Aifa ragu. Tapi karena itu perintah, Aifa hanya menurut dan duduk di sebelah Rex.
Tanpa ragu, Rex membawa Aifa kedalam pelukannya. Saat ini mereka sudah memakai pakaian tidur Couple berbahan satin berwarna merah.
Aifa merasa nyaman untuk pertama kalinya bersandar di dada bidang Rex. Aroma tubuh Rex yang wangi dan maskulin membuat Aifa merasa tenang.
Rex masih mengelus punggung tubuh Aifa dengan lembut. Sesekali pria itu mencium puncak kepala Aifa. Rex begitu menyukai aroma tubuh Aifa apalagi rambut panjang Aifa yang wangi mawar. Tidak ada yang mulai berbicara sampai akhirnya Aifa duluan yang memulainya.
"Rex?"
"Hm?"
"Bahagia itu sederhana."
"Em, ya. Kamu benar. Sangat sederhana."
"Tetap seperti ini." Aifa mendongakkan wajahnya menatap Rex.
Jarak wajah mereka sangat dekat. Rex bisa melihat pancaran tatapan cinta yang Aifa simpan sejak dulu untuknya. Aifa begitu bahagia ketika akhirnya bisa menatap wajah Rex seintens ini setelah selama 4 tahun hanya menatap wajah Rex dari kejauhan dan berjarak.
Rex mencium kening Aifa dengan lembut. Penerangan yang temaram membuat suasana semakin romantis.
"Insya Allah kita akan tetap seperti ini." bisik Rex lembut.
Aifa hanya tersenyum. Lalu kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang Rex.
"Sesederhana itu hingga tidak ada yang saling menyakiti diantara kita. Boleh Aifa mengajukan 3 permintaan sama Rex?"
Rex terdiam sejenak. Aifa meminta 3 permintaan untuknya. Apakah itu rumit? Seperti tidak.
Rex tersenyum sambil mengusap punggung Aifa. "Baiklah. Katakan."
"Bolehkah Aifa memanggil Mas mulai sekarang?"
"Panggil Mas?"
"Hm."
"Tentu. Aku menyukainya. Lalu apa lagi yang kedua?"
"Tolong terima Aifa apa adanya. Begitupun dengan Aifa yang akan menerima Mas apa adanya."
"Itu sudah janjiku pada Daddy. Aku akan menepatinya. Dan apa permintaanmu yang ketiga?"
Aifa melepaskan diri dari pelukan Rex. Aifa meraih punggung tangan Rex kemudian menggenggamnya lembut.
"Jangan pernah sakiti Aifa. Semua hal itu mewakili segalanya. Termasuk kesetiaan Rex. Kejujuran Rex. Tanggung jawab Rex dan semuanya."
Dan Rex terdiam. Tiba-tiba hatinya sesak. Rex menatap pancaran kedua mata Aifa yang terlihat lelah akibat tersakiti oleh semuanya selama ini. 
Tanpa sengaja air mata menetes di pipi Aifa. Rex terkejut.
"Sayang, kenapa kamu menangis." Rex menghapus air mata di pipi Aifa.
"Aifa lelah disakiti. Maafin Aifa. Selama ini Aifa tidak pernah mengadu pada siapapun kecuali Allah. Semua itu disebabkan oleh Mas. Aifa tidak akan bahagia jika cinta yang Aifa miliki tidak dimiliki juga oleh Mas. Maaf Aifa sudah jujur."
"Justru itu aku yang akan meminta maaf padamu. Maafkan ketidakpedulianku selama ini. Aku egois. Aku mencoba kuat padahal sebenarnya aku membutuhkanmu."
"Jangan di ulangi lagi."
Rex memeluk tubuh Aifa. "Aku tidak akan melakukannya lagi. Jangan sedih lagi. Ini malam pertama kita bersama. Oke?"
Aifa mengangguk. "Terima kasih Mas. Aifa cinta sama Mas."
"Aku juga mencintaimu Aifa."
****
Rex mengemudikan mobilnya dengan cepat. Sekali ia menoleh ke belakang. Memastikan bila Aifa gagal mengikutinya lagi. Jarak yang ia tempuh sudah jauh.
Rex menepikan mobilnya sejenak di pinggir jalan. Emosi melanda dirinya. Rex mencengkram kuat kemudi stirnya. Ia tak habis pikir kenapa Aifa selalu ada dimana-mana?
Rex terdiam sejenak. Tapi perasaannya tiba-tiba berubah. Kenapa ia jadi mengkhawatirkan Aifa? Rex membuka ponselnya. Melacak keberadaan Aifa dan menemukan posisi GPS wanita itu ada disebuah jalan pintas.
Rex mengerutkan dahinya. "Kenapa dia ada disana?"
Lalu Rex menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia merutuki kebodohannya. Untuk apa dia memperdulikan wanita itu? Bukankah niat awalnya ingin menghindarinya?
Rex kembali melanjutkan perjalannya pulang menuju apartemennya. Waktu terus berjalan. Tapi selama menempuh, sialnya hatinya tidak tenang. Mobil yang dikemudikan Rex berhenti di persimpangan empat jalan saat lampu menyala merah.
Sembari menunggu lampu berwarna hijau, Rex membuka ponselnya lagi. GPS posisi Aifa tetap di tempat. Terakhir dia mengeceknya sekitar 20 menit yang lalu. Kenapa Aifa masih disana?
Ketakutan merasuk di hatinya, suara klakson pengendara lainnya menyadarkan Rex untuk segera kembali mengemudikannya. Tanpa pikir panjang, Rex memutar arah. Kembali ketempat sebelumnya.
"Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku!"
Cittt! Rex menghentikan mobilnya secara dadakan. Ia menajamkan pendengarannya. Ada apa dengan Aifa? Kenapa wanita itu berteriak? Kenapa wanita itu ketakutan?
Rex semakin cemas dan mulai mengemudikkan mobilnya dengan cepat untuk mencari tahu lalu memasuki kawasan tempat Aifa berada. Ia menulusuri jalan sepi mencari letak posisi GPS Aifa.
Rex merasa was-was sampai akhirnya tanpa diduga kedua matanya menatap seorang pria muda menggendong tubuh Aifa secara bridestyle memasuki sebuah mobil.
Rex membulatkan kedua matanya tak percaya. Rex mencengkram kemudi stirnya dengan kuat. Amarah dan rasa cemburu serasa membakar hatinya.
Mobil itu berjalan dan Rex mulai mengikutinya dari belakang. Rex berusaha menahan gejolak amarahnya sampai akhirnya mobil itu berhenti di salah satu hotel.
Ponsel Rex berdering. Disaat yang tidak tepat Aulia menelponnya. Rex ingin mengabaikannya. Tapi ia sadar, seharian ini Aulia sudah menghubunginya sebanyak 20 kali.
Rex menerima panggilan itu sambil berjalan cepat mengikuti pria muda tadi yang sudah menghilang di depan matanya.
"Ada apa!"
"Hei kenapa kamu berkata seperti itu Rex? Tante Luna-" tanya Aulia dengan heran.
"Aku akan kerumahmu saja nanti. Tunggu aku, Oke? Aku sibuk."
Rex mematikan ponselnya dan berlari cepat. Rex mencoba mengecek kembali posisi Aifa. Wanita itu berada di lantai 5.
Rex memasuki pintu lift dan ia semakin ketakutan bila terjadi sesuatu yang tak di inginkan oleh Aifa. Kotak besi itu membawanya ke lantai 5. Saat pintu lift terbuka, seorang petugas hotel terlihat didepan matanya. Rex keluar dari liftnya.
"Em maaf permisi. Saya mau tanya. Apakah Bapak ada melihat seorang pria muda? Dia em.. menggendong tubuh seorang wanita."
"Wanita nya berhijab?"
"Iya betul." ucap Rex serius. "Ke kamar no berapa pria itu membawanya?"
"Ke arah sana. Ah itu dia. Dia baru saja masuk."
Rex sudah tidak sempat berucap kata terima kasih. Petugas hotel itu hanya mengerutkan dahi bingung lalu bersikap tidak perduli.
Rex mengejar pria muda tadu sebelum menutup pintu kamar hotelnya. Brak!
Rex mendorong pintu kamar hotel itu hingga terbuka. Dengan cepat ia menutupnya agar keributan tidak diketahui oleh siapapun. Rex menatap Aifa yang berada diatas tempat tidur.
Rex menatap tajam kearah pria muda itu yang tanpa diduga memukulnya lebih cepat. Rex tersungkur dilantai. Lalu kembali bangun dari posisinya.
BUG! Rex meninju balik wajah pria muda itu dan dia tersungkur dilantai. 
Rex mengambil kesempatan dengan mencengkram kerah bajunya. Rex menatapnya tajam.
"Apa yang kamu lakukan hah!"
"Siapa kamu dan apa masalahmu!" Tanya pria muda itu  
"Aku suaminya! Berani-beraninya kamu berniat menyentuh dia!" BUG!
Rex kembali meninju wajah pria muda itu sampai akhirnya dia kalah telak. Wajah pria muda tersebut babak belur. Tenaganya sudah habis melawan pria bertubuh kekar dan berotot seperti Rex.
Rex menarik kerah baju pria muda itu hingga menatiknya menuju pintu luar kemudian mendorongnya dengan kasar.
"Pergi dari sini atau aku akan melaporkanmu ke kantor Polisi!" BRAK!
Rex menutup pintunya dengan bantingan kasar. Napas Rex tersengal-sengal sambil bersandar di belakang pintu. Hampir saja. Hampir saja pria muda itu nyaris memperkosa Aifa.
****

Ayo bernapas. Ayo bernapas. Jangan tegang
🤣🤣🤣🤣
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian ya.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar