Chapter 45 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 45 : Because I Love You




Mobil berjalan dengan lancar setelah terjebak macet selama 20 menit. Aifa memilih diam. Posisinya saat ini sedikit menyamping.  Rex menoleh kesamping. Aifa masih menatap jalanan yang ada di sampingnya sambil menggigit ujung kukunya.
"Aifa?"
Aifa tidak menyahut. Ia sibuk memikirkan hal yang rumit hanya untuk meminta maaf. Sifatnya yang polos pun membuat Rex semakin gemas dan mencintainya.
"Aifa?"
Aifa tetap tidak menyahut. Wanita itu terlihat cemas. Mobil berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan besar. Rex mematikan mesin mobilnya dan melepas safety beltnya.
"Aifa?"
Rex hanya menghela napas panjang. Dengan perlahan Rex menempelkan pipinya pada lengan Aifa.
"Sayangku?"
Dan Aifa terkejut. Hampir saja Aifa menghindar saking gugupnya jika saja Rex tidak menahannya dengan mencengkram kedua bahunya.
"M-mas?"
"Apa yang kamu pikirkan?"
Aifa mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat yang ada disekitarnya.
"Kita sudah sampai?"
"Apa yang kamu cemaskan?"
"Kita ke Mall ya Mas?"
"Kenapa kamu diam sejak tadi?"
"Yey! Aifa pengen main di arena permainan! Aifa pengen pukul-pukul buaya di mesin mainan."
Tanpa duga Rex mencium ujung hidung Aifa. Hanya hitungan detik Aifa memejamkan kedua matanya secara cepat dan rapat. Aifa benar-benar malu. Wajahnya sudah bersemu. Jantung Aifa rasanya ingin melompat keluar.
"Buka matamu."
Aifa menggeleng cepat. "Tidak mau. Kita gak usah aja deh ngemall. Tiba-tiba Aifa lemas."
"Kenapa lemas?"
"Aifa ingin meleleh."
"Meleleh?" Rex mengerutkan dahinya bingung. Aifa masih memejamkan kedua matanya. "Meleleh bagaimana maksudnya?"
"Jantung Aifa. Deg-degan. Gara-gara Mas cium Aifa. Aifa meleleh dan malu."
1 detik.
2 detik.
3 derik.
Dan tawa Rex pecah. Rex tertawa geli sampai memegang perutnya sendiri. Aifa benar-benar lucu dan menggemaskan. Aifa merasa ingin membenturkan dahinya saja di kaca mobil sampingnya.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Kepolosannya benar-benar bikin malu. Itu yang Aifa pikirkan saat ini. Aifa melepas safety beltnya dengan cepat. Aifa ingin keluar saja dari mobil agar Rex semakin tidak menganggapnya bodoh atau kekanakan.
Lalu Rex mencegah lengannya dengan cepat. Aifa menoleh dan Rex menangkup kedua pipinya.
"Aku mencintaimu Aifa. Kamu membuatku semakin mencintaimu."
Rex menghibur Aifa. Pria itu mencium kening istrinya dengan lembut.
"Kamu lucu. Aku suka. Kamu bikin aku gemas. Istri yang aku sayangi."
"Benarkah?"
Rex mengangguk. Lalu ia mencium kedua mata Aifa hingga akhirnya Aifa memejamkan matanya.
"Jangan pernah berpikir buruk tentangmu. Biar bagaimanapun aku akan memakluminya. Jadilah dirimu sendiri. Kamu mengerti?"
Rex kembali mencium ujung hidung Aifa. Wajah Aifa semakin merona. Lalu Rex menatap Aifa lagi. Kedua matanya beralih ke bibir tipis Aifa.
Rex mulai mendekatkan wajahnya. Ia ingin sekali mencium Aifa. Tapi Aifa kembali menghindar. Suasana berubah canggung. Aifa kembali gugup.
"Ayo Mas kita keluar." Aifa sudah membuka pintu mobilnya. "Setelah itu kita balik kerumah. Semuanya sudah pada menunggu untuk makan malam bersama."
Rex hanya mengangguk. Aifa sudah di luar. Lalu Rex hanya tersenyum tipis dan menggaruk lehernya yang terlihat salah tingkah.
****
Aifa dan Rex sudah tiba di halaman rumahnya dengan selamat. Setelah seharian mereka menghabiskan jalan bersama, Aifa dan Rex pun akhirnya memilih pulang kerumah Aifa sebelum pindah kerumah mereka pribadi.
Rex baru saja keluar dari mobilnya ketika seorang pria berpakaian rapi membawa mawar besar dan nyaris tidak terlihat wajahnya. Aifa mendekatinya dan tidak menyangka bahwa itu adalah Franklin.
"Franklin?"
"Hai kak. Selamat menempuh hidup baru."
Aifa merasa takjub dan bersyukur. Dengan cepat salah satu asisten rumah tangga berkulit sawo matang dan hanya memakai kaos putih pun datang menghampiri mereka setelah Rex memberinya kode untuk beralih membawa bunga mawar super banyak dan besar itu dari Franklin.
"Makasih Franklin! Aifa sayang kamu dek."
Aifa memeluk tubuh Franklin. Dan Franklin hanya tersenyum geli lalu mengecup puncak kepala Aifa.
"Alhamdulillah. Sudah ada suami ya? Berarti tugasku sudah selesai menjaga kakak." kekeh Franklin geli.
"Hai semuanya. Asalamualaikum."
Keluarga besar Farhan pun datang. Ada sang istri bernama Aisyah. Lalu menantunya si Frankie bersama Feby yang kini sedang hamil 5 bulan. Tawa canda dari si kembar Fahmi dan Fahmi yang berusia 4 tahun dan si mungil 8 bulan Fauzan pun membuat Aifa menoleh.
"Selamat menempuh hidup baru anak manja." kekeh Farhan geli. "Ini.." Farhan menyerahkan kunci mobil kearah Aifa yang di terima Aifa dengang canggung. "Hadiah dari Om. Dari kami semua. Dipakai ya. Jangan tidak. Sesekali pakai mobil baru."
"Em, makasih Om."
"Sama-sama Aifa. Ah, kami masuk duluan kedalam rumah ya."
Aifa hanya mengangguk. Lalu dari kejauhan ada Aulia dan Fay yang kini tersenyum menatap mereka sehingga membuat Rex dengan cepat berjalan kearah Fay.
"Fay?"
"Apa? Mau minta maaf atas kejadian itu? Ck." tanya Fay sinis yang sebenarnya ia sudah memaafkan sahabatnya itu.
Rex menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Em ya begitulah."
"Enak sekali minta maaf. Aku tidak mau memaafkanmu."
Rex terbelalak. "Apa?! Kamu-"
"Ayo Aulia! Kita masuk kedalam."
Dan Fay melenggang pergi. Meninggalkan Rex yang mengumpat dalam hati akibat sahabatnya itu yang sok-sokan tidak mau memaafkannya.
***
Aifa begitu bahagia hari ini. Banyaknya mawar bunga yang dihias seluruh ruangan membuat Aifa tak bisa berhenti tersenyum sejak tadi. Semua orang tahu bila Aifa menyukai mawar merah. Saat ini mereka tengah menyantap makan malam bersama dikediaman keluarga besar Hamilton.
"Wah-wah. Lihat pengantin baru kita malam ini." kekeh Farhan geli.
"Bagaimana rasanya jadi pengantin baru? Bukankah itu hal yang menyenangkan?"
"Mas!" tegur Aisyah sambil mencubit lengan suaminya.
"Tentu saja menyenangkan Ayah." timpal Frankie yang sama songongnya seperti Ayah Mertuanya. "Aku harap ranjang hotel milik Om Farrel tidak sampai roboh."
"Ya semoga saja hasil adonan malam pertama kalian nanti adalah anak cewek." kekeh Farhan lagi.
"Mas!"
Aisyah merasa jengah. Farhan itu suka menggoda siapa saja yang baru saja menikah di keluarganya dan keluarga Fandi.
"Cucu besar Farhan dan Hamilton jagoan semua." ucap Farhan dengan santai sambil mengiris daging steak di piringnya. "Aku yakin kalau si tua bangka dan reyot itu sudah berpikir untuk membuat Timnas klub sepak bola suatu saat nanti."
Fandi menatap Farhan dengan tajam. Lalu dia tersenyum sinis.
"Tentu saja. Bukankah putraku itu suami yang baik buat putrimu? Ah lihat saja. Betapa jagonya dia kembali membuat adonan dengan putrimu. Aku bersyukur Allah kembali memberi rezeki untuk Frankie dan Feby. Hajar terus Frank!"
Frankie tertawa. "Tentu Dad. Tenang saja. Habis Feby brojolan. Semoga saja Allah memberi keturunan lagi."
"Masssssss." Feby merasa jengah. Ia pun memanyunkan bibirnya. "Hamil dan melahirkan lagi tidak muda."
Semuanya pun tertawa. Tapi tidak dengan Aifa sendiri. Semua orang menggoda Aifa seolah-olah ia sudah melakukan malam pertama. Lalu semuanya bahagia dengan menantu cucu mereka.
Tiba-tiba Aifa teringat bahwa semua kejadian buruk yang menimpanya membuatnya tidak percaya diri lagi. Seketika rasa makanan yang ada di dalam tenggorokan Aifa pun serasa hambar.
Aifa pun segera menelan paksa. Aifa meraih segelas air putih dan meminumnya. Aifa berdiri dari duduknya.
"Maafin Aifa semuanya. Aifa lelah. Aifa mau tidur."
"Cepat sekali Kak? Makanan penutup saja kakak tidak memakannya." sela Feby lagi.
Sayangnya semua keluarga Farhan termasuk Frankie Feby sendiri tidak mengetahui aib yang sedang menimpa Aifa.
Aifa memaksakan senyumnya. "Aifa sudah kenyang. Aifa pamit duluan ya. Semuanya, Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." ucap serempak keluarga besar itu.
Aifa meninggalkan ruang makan dan berusaha untuk tidak menangis. Rex menatap kepergian Aifa yang ia tahu sebentar lagi pasti akan terpukul.
Aifa memasuki kamarnya. Semua orang bahagia. Feby dan Aulia begitu berharga. Kehormatannya sangat terjaga. Fay dan Frankie sangat beruntung.
Tidak dengan dirinya. Tidak dengan Rex. Dan Aifa pun akhirnya menangis di dalam kamar. Aifa meraih selimut dan berbaring menyamping.
"Ya Allah. Kenapa Aifa tidak seistimewa mereka?" air mata pun mengalir di pipi Aifa
***
Sabar Aifa. Rex akan datang menenangkan mu. 
☹️☹️☹️
Emang ya, si Farhan itu gak berubah sejak dulu 🙃
Frankie aja sampai ketularan otak mesum kayak ayah mertuanya 😵
Makasih sudah baca sehat selalu buat kalian ya.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
****
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar