Chapter 46 : Because i Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 46 : Because i Love You




Rex melangkahkan kakinya menuju kamar Aifa. Sesampainya disana Rex membuka pintu kamar istrinya. Suasana kamar Aifa gelap gulita. Lampu benar-benar di matikan.
Rex mendekati tempat tidur. Lalu ia duduk di pinggiran ranjang. Rex mengulurkan tangannya untuk menyalakan lampu diatas meja. Suasana temaram yang berasal dari lampu tersebut membuat Rex bisa melihat bahwa Aifa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Dengan perlahan Rex membukanya. Aifa memejamkan kedua matanya. Posisi Aifa menyamping. Rex tak banyak bicara, ia pun membuka bajunya dan segera mengganti pakaian tidur.
Rex ikut bergabung di atas tempat tidur. Tanpa ragu ia memeluk tubuh Aifa. Semenit dua menit hanya keheningan yang menyapa.
Rex menundukan wajahnya. Dengan lembut Rex menyelipkan helai-helai rambut panjang Aifa yang menutupi sebagian wajah Aifa.
Ada bekas sisa air mata disana dan rasanya membuat hati Rex teriris. Aifa adalah sosok istri yang manja dan tidak bisa meluapkan amarahnya. Menangis adalah hal yang ia lakukan sejak dulu jika sedang kecewa dan bersedih.
Rex memeluk tubuh Aifa. Membenamkan wajahnya pada dada bidangnya. Lalu secara perlahan tubuh Aifa bergetar kecil. Rex tahu bawah Aifa tidak tidur sejak tadi.
"Jangan sedih. Ada aku disini untuk kamu." bisik Rex.
"Mas."
"Hm?"
"Mas jangan tidur disini."
"Kenapa?"
"Aifa malu. Bukankah Aifa pernah di sentuh orang lain? Kenapa Mas disini? Aifa kotor."
"Aku tidak perduli. Kamu istriku. Kamu wajib tidur sama aku Aifa."
"Tapi..." Jeda sejenak. Rasa sesak itu begitu menyakitkan bagi Aifa. "Atau Aifa saja yang pindah tidur di kamar lain."
Aifa melepaskan diri dari rengkuhan Rex. Secepat itu Rex bertindak dengan mencegah Aifa. Rex menarik pergelangan tangan Aifa dan duduk dipinggiran ranjang.
"Mas? Aifa.."
"Itu tidak akan terjadi Aifa. Kamu istriku. Aku ada disini. Di kamar ini. Untuk apa tidur saling berpisah?" Rex mencium kening Aifa lembut.
"Aku butuh kamu didalam pelukanku setiap malam." bisik Rex dan mencium kedua mata Aifa yang sembab.
"Dan aku yakin kamu juga ingin dipeluk setiap malam." bibir Rex beralih mencium ujung hidung Aifa yang mancung.
"Aku suamimu Aifa. Berbagi kesedihanlah denganku. Jangan dipendam."
"Aifa hanya.."
"Hanya apa?"
"Hanya takut kalau Mas akan jijik dengan Aifa."
Tanpa ragu Rex kening Aifa lagi. hingga membuat istrinya itu terbungkam. Aifa memejamkan kedua matanya. 
"Lihat aku Aifa. Apakah aku ada merasa jijik denganmu? Sama sekali tidak. Apapun itu, aku menerima kekuranganmu. Jadi tolong.."
Aifa membuka kedua matanya secara perlahan. Raut wajahnya merona merah.
"Jadi tolong jangan menyalakan dirimu secara terus menerus."
Aifa melepaskan cengkraman tangannya yang sebelumnya berada di kanan kiri ditubuhnya. Dengan perlahan Aifa menyentuh pipi Rex. Telapak tangannya merasakan bulu-bulu jambang tipis di sekitar rahang Rex.
"Maafin Aifa. Mas marah?"
"Aku tidak marah. Demi Allah Aifa."
"Tapi Mas terlihat kecewa."
"Itu benar." bisik Rex lagi. "Aku hanya kecewa dengan cara kamu yang seperti ini secara terus menerus. Kita sudah menikah. Saatnya kita bahagia. Dua hari lagi aku akan melakukan perjalanan ke kota Samarinda. Ada proyek pembangunan jembatan kota disana."
"Lalu?"
"Kamu harus ikut."
"Ikut?"
"Hm." Rex mencium pipi Aifa lagi. "Bukankah kesuksesan seorang suami ada doa dan dukungan dari istri dibalik itu semua?"
Rasa sedih itu hilang. Rex membuat duka menyakitkan dalam hati Aifa berangsur-angsur sirna.
"Dari dulu Aifa selalu mendoakan Rex supaya sehat dan sukses. Supaya Rex bisa menabung buat modal lamar Aifa dan nikahin Aifa."

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Rex terkekeh geli. "Dan aku minta maaf pernah menundanya di masalalu. Saat itu aku baru sadar setelah kamu pergi hatiku benar-benar terluka. Maafkan aku sayang."
"Aifa juga minta maaf ya sama mas kalau ada salah."
"Bagaimana kalau kita rayakan semua ini dengan pergi honeymoon?"
"Honeymoon? Kemana?"
"Maratua Island."
"Maratua Island?" Tanya Aifa takjub. "Yang ada di Kalimantan Timur itu?"
"Hm." Rex mengangguk. "Setelah kita menyelesaikan proyek jembatan itu. Bagaimana?"
"Huaaaaaaaaaaaa asyikkkkkkkkk!!!!!!"
"Ya Allah Aifa!"
Tanpa diduga Aifa mendorong perut Rex dan berlompat-lompat diatas tempat tidur. Rambut panjangnya melambai-lambai mengikuti gerakan tubuhnya yang melompat tinggi.
"Yey! Pulau!"
"Aifa hentikan!" Rex merasa terombang ambing di atas tempat tidur.
"Yey! Air laut! Bukankah itu indah! Aifa suka lihat air laut yang biru!"
"Aifa! Ya Allah anak ini!"
"Mas! Bukankah laut indah? Seindah wajahku yang merona merah ini? Ciuman Mas benar-benar romantis! Mau itu di kening atau dipipi, Aifa  sukaaaaaaaaaa!!!!!!! Yeeeeeeyyyyyyyyyyy!!!!!!!!"
Aifa terus saja melompat-lompat bagaikan anak kecil. Tak perduli jika ranjangnya akan roboh.
"Aifa hentikan! Tindakanmu ini bisa membuat ranjang kita roboh. Astaga! Kamu benar-benar membuatku kewalahan!"
"Aku tidak perduli di Mas! Harta Daddy tidak akan habis hanya untuk mengganti ranjang ini! Bukankah ini seru? Aifa jadi bersemangat untuk tidak menghentikan goyangan ini dan Aifa merasa terbang tinggi!!!"
Dan Rex hanya berpasrah diri. Setidaknya Aifa bahagia sehingga ia membiarkan istrinya itu melompat-lompat kegirangan. 
****
Fandi dan Farhan hanya melongo begitu tanpa sengaja melewati kamar Aifa. Malam ini keluarga besar Farhan menginap di kediaman Hamilton.
Farhan tersenyum smirk. "Wah-wah lihat tenaga putra Luna itu."
"Ada apa?" tanya Fandi jengah.
"Kamu tidak dengar?"
"Apanya?"
"Putrimu berniat merobohkan ranjangnya malam ini." Farhan menepuk bahu Fandi. "Santai saja. Sepertinya cucu Hamilton akan bertambah lagi."
Fandi tersenyum sinis. "Ingat umur. Sudah tua. Bau tanah. Jangan mengurusi anak muda. Itu urusan mereka."
"Ya ya ya aku tahu. Selamat ya. Putrimu sudah tidak bocah lagi."
"Farhan!"
"Setidaknya berterima kasih pada Luna karena si keras kepala mantan mafia itu melahirkan putra pencium yang handal dan romantis untuk si kecil Made in Korea mu itu. Hahahaha!"
Dan Farhan melenggang pergi memasuki kamarnya untuk tidur bahkan meninggalkan Fandi yang rasanya pengen mengumpati  Farhan agar encok semalaman meskipun sebenarnya ia tidak mau Farhan begitu. Karena Farhan adalah sahabat terbaiknya si otak mesum.
***
Biarkan dulu Aifa bahagia. Iya kan? Dia punya hak untuk merasakan kebahagiaan 😆
Biar alur mereka rapi, seimbang, dan adil.
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar