Chapter 47 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 47 : Because I Love You



"Jaga diri kamu baik-baik ya. Jadi istri yang baik."
Fandi memeluk Aifa dengan erat. Rasanya begitu sedih ketika pertama kalinya ia melihat putrinya itu akan pergi dengan suaminya.
Perasaan seorang Ayah saat melepaskan putrinya memang begitu berat baginya. Dulu Aifa pergi bersama Franklin. Kemanapun putrinya itu pergi, sang adik akan membantu pulang kerumah seperti sebelumnya.
Sekarang Aifa pergi bersama suaminya. Yang tidak tahu kapan pulang karena Aifa harus berbakti pada Rex dan ikut kemanapun Rex bepergian ketika pria itu mengajak istrinya.
"Iya Daddy iya iya."
"Hati-hati kalau memasak. Jangan sampai kamu meninggalkan kompor yang masih menyala dalam keadaan lupa atau tidur."
Aifa melepaskan pelukannya pada Fandi. "Iya Daddy iya. Makasih sudah ingatin Aifa."
Lalu Aifa beralih memeluk Mommynya. "Aifa pergi dulu Mom. Maafin Aifa kalau selama ini sudah menyusahkan."
Ayesha tersenyum tipis. Ia memeluk putrinya sangat erat. "Mom memaafkanmu. Jadilah seorang istri yang baik dan perhatian. Rex itu pekerja yang sibuk. Cobalah untuk ada disaat dia membutuhkanmu. Kalian harus sama-sama saling pengertian dan saling percaya. Kamu mengerti?"
"Baik Mom. Aifa ngerti."
"Kak Aifa! Kak Aifa!"
Aifa beralih menatap Franz yang berlompat-lompat kegirangan. Ia hampir saja lupa kalau Daddy dan Mommynya itu membawa cucu mereka. Sementara Frankie sibuk menjaga istrinya yang sedang sakit karena masa hamil muda si Feby yang mual-mual.
"Hai jagoan! Ah hampir saja Kakak melupakanmu." Aifa mencium gemas pipi Franz dan menggendongnya.
"Aku tidak apa-apa Kak Aifa. Franz-"
"Sayang jangan panggil Kakak Aifa lagi. Sekarang dia Tantemu. Dia sudah menikah dengan pangerannya. Apakah kamu lupa?" sela Fandi lagi.
Franz menggeleng. "Aku akan tetap memanggilnya Kakak karena Kak Aifa tetap akan cantik meskipun sudah memiliki pangeran Kakek! Aku benarkan kak Aifa?"
Aifa terkekeh geli lalu menurunkan Franz. Aifa merogoh uang Rp.5000 dan dengan senang hati Franz segera membuka tas ransel Tayo nya untuk mengeluarkan celengannya.
"Ini buatmu. Karena sudah memuji Kakak! Kakak sayang kamu."
"Alhamdulillah. Asyikkkkkkkkk!!!"
Rex terkekeh geli melihat kelucuan keluarga besar Hamilton itu. Ia pun segera ikut berbasa-basi sejenak hingga keberangkatan pesawat pun dimulai.
Kedua mata Fandi berkaca-kaca. Rasanya begitu berat. Dimatanya waktu berlalu begitu cepat sehingga si Princess Made in Koreanya itu akhirnya sudah berstatus sebagai istri pria yang di cintainya.
Aifa dan Rex berpamitan. Saling memeluk erat pada kedua orang tuanya lagi. Setelah itu mereka mulai menaiki anak tangga pesawat.
Perlahan pesawat mulai berjalan meninggalkan landasan dan terbang tinggi. Rex sibuk mengurus pekerjaannya lagi sementara Aifa merasa lelah dan memilih beristirahat di kamar pribadi Rex.
****
Samarinda, Kalimantan Timur
"Kamu tunggu disini sebentar ya." Rex melepas safety beltnya dan sedikit menyamping menghadap Aifa.
"Mas lama gak?"
"Tidak juga. Hanya mengecek proses pembangunan Jembatan ini. Tim perusahaan sudah memberikan rancangan desainnya pada klienku beberapa bulan yang lalu. Saat ini proses pembangunanya sedang berjalan. Aku harus mengecek kinerja hasilnya agar berjalan dengan baik."
"Begitu ya?"
"Hm."
"Semoga saja tim pekerja Mas bekerja dengan baik supaya klien Mas tidak kecewa."
"Aamiin." Rex mencium pipi Aifa.
Aifa membulatkan kedua matanya terkejut. Raut wajahnya merona merah. Aifa memegang pipinya setelah Rex menempelkan bibirnya disana.
Rex terkekeh geli. "Kamu benar-benar menjadi penyemangatku dalam bekerja. Berkat doamu insya Allah semuanya akan berjalan dengan lancar."
Aifa memegang kedua pipinya. Rex mengerutkan dahinya bingung.
"Ada apa?"
"Kenapa Mas selalu mencium Aifa secara dadakan?"
Bukannya menjawab Rex hanya menatap Aifa dengan instes. Dia mendekatkan wajahnya pada Aifa.
"Karena aku suka."
"Tapi saatnya Mas bekerja. Jangan membuang-buang waktu."
"Ah aku lupa. Hampir saja." Rex terkekeh geli. Ia menggaruk lehernya dan terlihat salah tingkah. "Yaudah aku pergi dulu. Tunggu disini ya."
"Iya Mas. Aifa tunggu disini."
Rex keluar dari mobilnya. Aifa melihat salah satu asisten mendekati suaminya itu dan segera menyerahkan helm proyek. Rex sudah berjalan jauh. Lalu Aifa bernapas lega.
Rex benar-benar membuatnya meleleh setiap waktu. Tapi Aifa bersyukur. Ia bahagia. Dan rasanya ia ingin terbang tinggi ke udara bebas.
"Ah Mas Rex. Kamu sudah bikin Aifa kesemsem gini." ucap Aifa sambil memegang kedua pipinya yang merona.
🦋🦋🦋🦋
Maratua Island. Kalimantan Timur
Pulau Maratua adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia. Pulau Maratua ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Berau, provinsi Kalimantan Timur.
Pulau Maratua memiliki keelokan alam dan bawah laut yang luar biasa. Para divers seperti menemukan surga dan pulau ini disebut-sebut sebagai Maldivesnya Indonesia.
Tidak hanya itu, keindahan alam bawah laut Pulau Maratua yang memukau. Terumbu karang yang indah bertipe fringing Reef, didominasi padang lamun dengan jenis Halodule Uninervis beraneka ragam jenis ikan juga turut menemani wisatawan yang pergi menyelam.
"Huaaaaaaaaaaaa laut biru! Yeyyyyyy!!!"
Aifa terlihat bersemangat begitu ia menginjakkan kakinya di jembatan kayu menuju resort. Rex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bersedekap. Melihat Aifa bahagia hatinya juga ikut bahagia.
Aifa berlompat-lompat kegirangan bagaikan anak kecil. Rex baru tahu jika Aifa akan seperti itu bila bahagia.
"Aifa hentikan."
"Aifa!"
Aifa hanya terkekeh geli. Wanita itu berlari kearahnya dan menghambur ke pelukannya. Rex pun hanya tertawa. Ia membalas pelukan Aifa.
"Mas. Makasih. Aifa bahagia. Aifa suka laut. Lautnya begitu biru. Sebiru iris mata Mas."
Aifa mendongakan wajahnya. Menatap Rex yang begitu tampan. Cinta pertama dan terakhirnya. Rex menatap wajah Aifa yang begitu cantik dibawah cuaca yang cerah hari ini. Angin begitu sepoi-sepoi. Seolah-olah terhipnotis, Rex mendekatkan wajahnya hendak mencium Aifa. Aifa merasa gugup dan melepaskan diri untuk menghindar.
"Ayo Mas! Mas harus foto Aifa! Aifa mau kirim foto kita ke Daddy dan Mommy kalau Aifa sudah sampai dan bahagia disini. Ah Angel juga."
"Aulia Aifa. Aulia."
"Oh iya lupa."
"Tolong fotoin Aifa yang cantik ini Mas!"
Rex hanya terkekeh geli dan segera mengeluarkan ponselnya. Bahkan dengan semangat Aifa mengajak Rex untuk berselfie bersama dengan raut wajah bahagia.
"Aku mencintaimu Aifa." bisik Rex di samping Aifa.
Aifa hanya merona bahkan memilih pergi dari sana menuju Resort mereka. Rex hanya tersenyum tipis. Istrinya itu benar-benar pemalu dan menatap kepergian Aifa.
***
Magrib menjelang. Suara adzan yang sudah di atur mengikuti waktu Indonesia bagian tengah pun terdengar. Rex dan Aifa dengan khusyuk melakukan sholat Magrib berjamaah menghadap kiblat. Setelah melakukan sholat Aifa dan Rex memilih makan malam sejenak di dalam Resort setelah salah satu pelayan mengantarnya ke kamar mereka.
Menu mereka malam ini adalah seafood cumi bakar pedas untuk Rex dan Jus semangka campuran lemon lalu ada udang goreng dengan cocolan sambal serta minuman jus jeruk untuk Aifa.
Udang dan cumi itu terasa lezat di lidah apalagi semua masakan mereka merupakan hasil tangkapan dari nelayan yang ada di laut pulau Derawan.
Aifa dan Rex merasa kenyang. Sebuah nikmat yang patut mereka syukuri sebagai pengantin baru dan bahagia bersama.
Untuk malam ini setelah sholat isya, Rex dan Aifa memilih istrirahat setelah perjalanan panjang dan aktivitas mereka seharian ini.
Aifa menatap Rex yang kini sibuk berkutat dengan ponselnya. Aifa sendiri berdiri gugup dan tak jauh dari posisi Rex saat ini.
"Mas?"
Rex menoleh kearah Aifa. Ia meletakan ponselnya di atas meja. Lalu berjalan ke arah Aifa sambil bersedekap.
"Ada apa Aifa?"
"Em. Sebelumnya terima kasih atas semua yang Mas berikan hari ini."
Rex sudah berdiri dihadapan Aifa. "Lalu?"
"Sebenarnya ada yang Aifa sembunyikan selama ini. Semoga Mas tidak marah." Aifa menundukan wajahnya. Ia tidak berani menatap Rex.
"Katakan saja. Mas tidak akan marah."
"Semenjak Mas tiba di Indonesia beberapa bulan yang lalu. Aifa ada menyuruh Kak Laurent meletakan alat GPS kecil di jam tangan Mas dan ponsel Mas. Kemanapun Mas pergi, Aifa tahu dan Aifa mengikuti Mas."
"Kenapa kamu melakukan itu?"
"Karena Aifa takut Mas memiliki wanita lain dan pergi kerumah mereka. Termasuk kerumah Mbak Aisyah waktu itu. Aifa-"
Aifa sudah tidak berkata apa-apa lagi ketika Rex sudah merengkuh pinggulnya dan mencium bibirnya. Ini terlalu dadakan. Aifa rasanya ingin meleleh akibat ciuman dari Rex yang membuatnya gugup.
Tanpa ragu Rex menggendong tubuh Aifa dan membawanya keatas tempat tidur.
"Mas?"
"Aku memaafkanmu Aifa. Aku tidak apa-apa."
"Mas tidak marah?"
Rex hanya tersenyum tipis. "Hanya sedikit terkejut dan tidak menyangka saja."
"Maafin Aifa." lirih Aifa yang masih menatap Rex dengan rasa bersalahnya.
Rex merunduk mencium kening Aifa. "Aku akan memaafkanmu."
Lalu mereka saling terdiam satu sama lain. Saling menatap dengan posisi wajah yang begitu dekat. Rex mengusap lembut pipi Aifa.
"Aku mencintaimu Aifa. Apapun itu aku akan menerima kekurangan dan kelebihanmu."
Rex pun mencium kening Aifa lembut. Kali ini Aifa tidak menghindar. Ia hanya mampu diam meresapi keheningan bersama Rex yang begitu romantis malam ini. 
Lalu bayangan Aifa pernah di sentuh orang lain memmbiat Aifa terkejut dan mendorong dada bidang Rex.
Rex terkejut. Ia merasa heran melihat Aifa berubah ketakutan. Rex terdiam. Sejak beberapa hari ini ia sudah menahan diri agar tidak meminta haknya pada Aifa.
"Maaf. Aku tidak apa-apa kalau kamu belum siap." Rex kembali mencium kening Aifa. Lalu Rex tersenyum tipis. Berusaha menahan rasa sabar. 
"Bisakah Mas lupakan semua kenangan burukku?" lirih Aifa dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Setelah menikah aku sadar kalau Mas butuh hal ini. Tapi.. Aifa.. Aifa takut. Takut kalau Mas akan merasa jijik dengan Aifa. Mas bukan yang pertama untuk Aifa. Apakah Mas sanggup?"
Rex hanya tersenyum. "Harus berapa kali aku bilang kalau aku sudah ikhlas menerima kekuranganmu Aifa?
Aifa terdiam Dan kesabaran penuh terlihat di wajah Rex. Aifa merasa tidak enak hati. 
"Maafin Aifa. Aifa cinta sama Mas. Aifa tidak ingin Mas kecewa dengan Aifa."
"Kalau begitu izinkan aku mengahapus semua kenangan buruk itu. Percayalah aku tidak apa-apa. Kita semua akan baik-baik saja."
Aifa hanya mengangguk. Rex tersenyum tipis dan tanpa ragu ia segera melakukannya bersama Aifa. Sebuah malam pertama pernikahan mereka yang  romantis dan tidak akan pernah mereka lupakan.
"Aku mencintaimu Mas." bisik Aifa malu-malu
****
Rex menatap Aifa yang masih tidak sadarkan diri. Bermenit-menit telah berlalu. Segala macam bentuk pemikiran dan perang batin memenuhi isi hatinya.
Sebuah keputusan yang besar. Rasa takut dan akan menjadi penyesalan. Tapi ia tidak bisa mengelak begitu pria muda tadi sebelumnya meletakan tubuh Aifa di atas tempat tidur secara asal sehingga membuat bagian ujung hijab Aifa tersingkap memperlihatkan bagian dada Aifa yang menonjol.
Rex mengusap wajahnya dengan kasar. Pandangannya begitu lemah bila di hadapankan seperti itu. Gairah terpendam yang sudah seharusnya ia salurkan diusianya yang siap menikah pun tertunda hanya karena sikap Fandi yang begitu overprotektif dan pemilihan.
Dengan ragu Rex mendekati Aifa. Sebuah bisikan syaitan untuk menuruti hawa nafsunya membuatnya tidak terkendalikan. Tanpa ragu dan secepat itu, Rex segera menyentuh Aifa yang tak sadarkan diri. Merenggut kehormatannya yang masih suci dan menjadi miliknya seutuhnya.
Rasa penyesalan itu semakin besar. Rex adalah pria pengecut yang meninggalkan Aifa setelah kekhilafan yang baru saja terjadi. Rex berusaha untuk tenang. Ia pikir begitu bertemu dengan keponakannya dirumah Aulia semuanya akan baik-baik saja.
Bayangan wajah terpukulnya Aifa setelah sadar nanti menghantuinya. Tiba-tiba tubuh Rex melemas. Hatinya tersayat. Ia sudah menghancurkan masa depan gadis yang di cintainya.
"Om Rex!"
Panggilan Fariz terabaikan. Rex memilih berdiri. Dengan cepat ia memilih pulang dan mengabaikan keponakannya. Meninggalkan kediaman Aulia tanpa pamit karena takut bila Aulia akan mencurigai semuanya.
"Om Rex mau kemana?!"
Rex tidak menghiraukan Fariz. Ia mengemudikkan mobilnya dengan cepat menuju apartemennya. Perasaannya begitu gugup. Rex memasuki pintu liftnya dan kotak besi itu membawanya ke lantai atas.
Lalu perasaan bersalah itu semakin besar. Rex tertegun. Ia tak menyangka setelah beberapa jam yang lalu meninggalkan Aifa, gadis itu berada didepan matanya. Dengan baik hati Aifa tersenyum kearahnya. Di tangannya ada kotak bekal makanan yang selalu setia dibawa memenuhi janjinya selama 10 hari.
Air mata itu. Air mata yang tanpa Aifa sadari adalah penyebab dari dirinya sendiri.
A-asalamualaikum Rex."
"Wa'alaikumussalam."
Aifa memaksakan senyumnya. Senyum guratan penuh "Maaf. Maafin Aifa." Aifa menundukkan wajahnya. "Maafin Aifa mengantarkan makanan ini terlambat."
"Seharusnya tadi siang Aifa mengantarkan makanan ini tepat waktu. Tadi siang pasti Rex lapar."
"Wadah makanan ini isinya puding coklat kesukaan Rex."
Aifa membalikan badannya. Aifa pun menuju depan pintu apartment dan menggantungkan goddybagnya pada pegangan kenop pintu. Dengan lesu Aifa kembali berjalan menuju Rex dan berdiri di hadapannya.
"Rex harus makan ya. Puding tadi enak kok. Kalau Rex sudah kenyang, Rex bisa menyimpannya kedalam kulkas."
Rex bisa melihat. Aifa terlihat tidak bersemangat seperti sebelumnya. Aifa terlihat rapuh. Aifa terlihat hancur. Bajunya terlihat kusut meskipun tetap menutupi semua aset tubuhnya. Semua karena ulahnya.
"Aifa pergi. Aifa pulang dulu. Rex harus istrirahat. Masih ada 5 hari Aifa nepatin janji Aifa sama Rex buat makanan."
Aifa pun mulai berjalan meninggalkan Rex. Rex pun menoleh menatap kepergian Aifa dan Rex bisa melihat langkah kaki Aifa seperti tertatih. Tertatih karena ia sudah menyentuh secara paksa kehormatan Aifa.
"Hentikan saja semua ini. Aku tidak pernah menyuruhmu membuatkan makanan." ucap Rex pada akhirnya setelah bermenit-menit ia terdiam.
Aifa mengentikan langkahnya. Lalu menoleh kearah Rex. Rex bisa melihat kedua mata Aifa yang sembab.
"Maaf tidak bisa." Aifa memaksakan senyumnya. "Ini janji Aifa sendiri kok. Janji itu hutang. Harus di tepati. Ini juga pelajaran buat Aifa untuk bisa memasak."
Diam sesaat. Saling menatap dalam diam. Sampai akhirnya situasi semakin lama semakin terasa campur aduk antara kesedihan dan bingung harus berbicara apalagi.
"Aifa pergi. Asalamualaikum."
Dan Rex hanya mampu terdiam. Perasaanya begitu sakit. Antara merasa bersalah dan berusaha bersikap tenang. Semuanya menjadi satu. Lalu malam ini. Pertama kalinya ia melihat Aifa kacau.
"Maafkan aku. Aku janji akan bertanggung jawab suatu saat." ucap Rex dalam hati.
Air mata Rex menetes di pipinya. Rex mengapusnya dengan cepat. Ia Memasuki apartemennya dan ia bisa mendengar suara Aifa menangis saat ini di balik alat peretas suara yang masih terpasang di telinganya.
****
*Cek chapter 23 paling akhir.
Alur ini tidak dipercepat. Alur ini tidak di paksakan seperti yang kalian anggap waktu itu. Ini sudah rapi. Teka teki terkuak secara perlahan. Sesuai sinopsisnya.
Dan..
Rasa penasaran kalian sudah terjawab. Terima kasih sudah baca sampai tahap chapter ini.
Sekarang kalian paham kan kenapa Rex begitu mudah perjuangin Aifa? Gak seperti Aifa yang susah payah.
Tenang. Ada saatnya. Ada saatnya nanti Rex merasakan apa yang Aifa rasakan. Ditunggu aja. Siapkan hati kalian 🙃
Kalau saran yg baik Author akan terima. Tapi untuk mengikuti kemauan kalian sejak chapter awal. Maaf ku tak bisa. Ku tega sama kalian sudah bikin menangis setiap berkarya 😆 
Tapi aku juga sayang kalian ❤️
Sehat selalu buat kalian ya.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar