Chapter 49 ; Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 49 ; Because I Love You



Awan yang indah diatas ketinggian udara menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi Aisyah. Sudah 2 bulan berlalu dan Aisyah memutuskan untuk pulang kerumah.
Semua itu karena sang Ayah menelponnya. Kata beliau ada kabar penting dan mengharuskannya untuk pulang kerumah.
Aisyah hanya menghela napas panjang. Padahal sebenarnya ia sangat betah tinggal di tempat Budenya yang ada di kota Surabaya. Jauh dari kata permasalahan yang sempat terjadi diantara keluarganya dan keluarga Rex.
Sepeninggal Rex saat batalnya akad nikah waktu itu membuat Aisyah bersyukur. Secara tidak langsung, sebuah cinta yang dipaksakan dalam dirinya tidak akan pernah terjadi saat menikah dengan Rex.
Suara pemberitahuan dari maskapai penerbangan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat di bandara pun terdengar. Aisyah hanya berucap Alhamdulillah dalam hati karena yang ia pikirkan saat ini adalah agar cepat pulang kerumah dan segera beristirahat.
Butuh waktu 30 menit kemudian ketika pesawat mendarat di bandara dengan selamat. Aisyah menunggu dengan sabar barisan orang-orang yang ingin keluar dari pesawat.
Barang bawaan Aisyah tidak banyak. Hanya tas ransel yang ada di punggungnya. Aisyah keluar dari pesawat dan menuruni anak tangga satu per satu dengan pelan.
Dari kejauhan, Aisyah melihat Ayah dan Ibunya yang sudah menunggu kedatangannya.
"Asalamualaikum. Ayah! Ibu!"
Dengan cepat Aisyah berlari kearah kedua orang tuanya dan memeluk sang Ibu terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah putri Ibu pulang dengan selamat."
"Alhamdulillah Bu." Aisyah tersenyum dan beralih memeluk Ayahnya.
"Ayah benar-benar kangen sama kamu nak. Maafkan Ayah yang sudah menyuruhmu tempat Budemu. Ayah hanya emosi waktu itu karena kecewa."
Aisyah melepaskan pelukannya dan menggenggam lembut tangan Ayahnya.
"Maafkan Aisyah sudah membuat Ayah, Ibu, dan keluarga kita menanggung malu. Seharusnya Aisyah bisa lebih tegas waktu itu kalau memang tidak mencintai Mas Re."
"Sudah-sudah. Kita baru bertemu. Jangan sedih-sedih lagi ah. Ayo kita pulang. Kamu harus banyak istrirahat. Malam ini ada seseorang yang akan datang. Katanya mau bertemu dengan kamu."
Bahu Aisyah pun di rengkuh dengan lembut oleh Ibunya. Mereka menuju luar bandara dan segera memesan layanan taksi online.
Aisyah mengerutkan dahinya. "Oh ya? Siapa Bu?" tanya Aisyah bingung.
"Nanti kamu akan suka. Sudah gak usah banyak tanya. Biar putri kesayangan Ayah ini makin penasaran." kekeh Syarif geli dan membuat Aisyah semakin penasaran saja.
Taksi online pun tiba. Syarif memilih duduk di bagian depan disamping supir tersebut. Aisyah dan Ibunya pun duduk dikursi bagian belakang sampai akhirnya taksi online itu mengantar kepulangan mereka menuju rumah.
***
"Bu.."
"Ya?"
Aisyah terlihat tidak tenang sejak tadi. Pintu ruang tamunya sudah terbuka lebar. Di meja ruang tamu sudah tersedia cemilan-cemilan dan kue-kue beserta secangkir teh hingga membuat Aisyah beralih mendatangi ibunya di dapur.
"Sebenarnya ada apa sih Bu? Kita mau kedatangan siapa?"
Latifah mencuci tangannya di westafel lalu mengelapnya menggunakan tisu yang ada didekatnya.
"Diam saja. Tugas kamu sekarang duduk di kamar. Jangan keluar sampai Ayah atau Ibu mendatangimu."
"Tapi-"
"Sudah. Ayo! Masuk kamar." Latifah merangkul bahu putrinya dan membawanya kedalam kamar. "Ganti pakaian kamu. Setidaknya penampilan kamu sedikit rapi. Kamu mengerti?"
"Ibu-"
Dan Latifah tidak menghiraukan putrinya. Ibu paruh baya itu memilih keluar dari kamar Aisyah dan segera menutup pintunya.
Aisyah semakin tidak tenang. Sebenarnya ada apa? Tapi karena ini perintah ia pun hanya menurut. Aisyah segera berganti pakaian. Ia sedikit mengenakan bedak tipis di wajahnya.
Aisyah pun kembali duduk di pinggiran ranjang. Lalu Aisyah berdiri. Berjalan mondar-mandir. Suara mobil datang terdengar. Suara keakraban orang-orang juga terdengar.
Aisyah mendekati jendela kamarnya. Ia mengerutkan dahinya melirik kebawah sana. Sebuah mobil berhenti depan rumahnya. Mobil siapa? Itu yang Aisyah pikirkan saat ini.
Ingin rasanya Aisyah keluar dari kamarnya. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi karena sebuah perintah dari Ibunya membuat Aisyah mau tidak mau menahan keinginannya itu.
Aisyah meraih tasbih. Ia duduk diatas pinggiran ranjang sambil berdzikir. Berusaha agar hatinya tenang dan menghilangkan rasa kegelisahannya.
Bermenit-menit Aisyah berdzikir. Mengingat Allah agar risau di hatinya segera hilang. Lalu pintu terbuka. Aisyah menghentikan dzikirnya setelah ucapan Alhamdulillah dalam hati.
Aisyah menoleh kebelakang. Tiga orang masuk kekamarnya. Ada Ibunya. Ada Luna dan.. satu orang pria. Pria yang ia sukai selama ini. Pria yang menjadi ucapan dalam doa dan harapannya selama 4 tahun terakhir sampai akhirnya tanpa sengaja Aisyah menjatuhkan sendiri tasbih yang ada di tangannya ke lantai.
Jantung Aisyah berdegup kencang. Rasanya ia ingin meluruh di lantai saking berdebar-debar hatinya. Latifah berjalan kearah Aisyah. Ibu paruh baya itu merengkuh bahunya.
"Nak. Ini ada seorang pria yang ingin mengkhitbah mu. Waktu kamu ke Surabaya, Pria ini datang menemui Ayah. Awalnya Ayah marah karena kejadian waktu itu. Tapi pria ini berusaha meminta maaf atas semua yang terjadi karena kakaknya dan dia ingin serius sama kamu."
Aisyah tergagap. "I-ibu.. ini-"
"Kamu suka sama dia? Coba kamu lihat dulu baik-baik pria ini. Kalau kamu gak suka kamu berhak menolaknya."
"Iya mau! Aisyah mau!" ucap Aisyah secara tiba-tiba dan membuat semuanya sedikit terkejut.
Aisyah merutuki kebodohannya dan rasanya ia ingin menyembunyikan wajahnya saja ke dalam bantal saking malunya.
"Kakak benar. Wanita ini memang menyukaiku. Aku bisa melihat tatapannya saat ini." ucap Ray dalam hati.
Luna pun ikut tersenyum tipis. "Bagaimana Ray? Kamu suka sama Aisyah? Jika kamu tidak suka kamu boleh menolak lamaran ini."
Ray menatap Aisyah dari ujung kaki hingga kepala Aisya. Seorang wanita yang saat ini sedang malu didepan matanya. Aisyah terlihat menundukan wajahnya sambil memainkan kedua jarinya.
"Iya. Ray suka. Ray setuju Mom."
"Alhamdulillah." ucap Luna
"Alhamdulillah." ucap Latifah lagi.
Tidak ada kata-kata lagi setelahnya. Baik Luna, Latifah dan Ray pun memilih keluar dari kamar Aisyah. Pintu tertutup pelan. Aisyah memegang degup jantungnya. Hal yang tak pernah disangka-sangka seumur hidupnya.
Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.
Sebuah kesabaran yang membuahkan hasil yang manis.
Sebuah doa yang tidak pernah terputus dalam ucapannya setiap kali berharap pada Allah.
Aisyah meluruh dilantai. Air mata bahagia membanjiri pipinya. Aisyah pun melakukan sujud syukur menghadap kiblat.
"Masya Allah. Alhamdulillah. Ya Allah.. Ya Allah.. terima kasih. Terima kasih. Hamba.. hamba tidak menyangka pria ini.. pria ini meminang hamba. Ya Allah. Dia.. dialah pria yang hamba cintai selama ini. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang hamba inginkan selama ini."
****
Siap-siap baper sama si
Aisyah Ray ya! 😆
Kak. Aifa dan Rex mana? 
Gak usah di tanya. Biasalah. Pengantin baru. Lagi gak mau di ketahui sama kita kemesraan mereka 😆
Biarkan mereka bahagia dulu.
Iya kan 😏
Author baik loh 😝
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian ya
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar