Chapter 50 :Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 50 :Because I Love You


"Alhamdulillah ini enak!"
Rex terkekeh geli melihat Aifa yang berbinar hanya untuk mencicipi mangga muda. Sudah berhari-hari istrinya itu suka menyemil mangga muda.
Mangga yang akhirnya bisa Rex peroleh setelah harus menunggu waktu berjam-jam di pulau Derawan karena pelayan hotel tersebut harus menyebrang ke kota untuk mencari mangga muda tersebut.
"Mas mau coba?"
"Em tidak. Kamu saja."
"Ayolah Mas. Sedikit saja."
"Aku tidak mau." Rex menggeleng cepat. "Rasanya sangat asam."
"Sedikit saja. Aifa janji tidak akan menawarkannya lagi."
Dengan santai Aifa melingkarkan lengannya kirinya ke leher Rex yang ada disampingnya. Sementara tangan kanannya bersiap untuk menyuapkan satu potong mangga muda berukuran kecil ke bibir Rex.
Mau tidak mau Rex menerima suapan tersebut. Rex memejamkan kedua matanya. Raut wajahnya mengernyit karena rasanya benar-benar masam.
Aifa terkekeh geli melihat reaksi Rex. Lalu ia meraih segelas air putih dan membantu Rex untuk minum air putih tersebut. Rex meminum air putihnya sampai habis.
"Wajah Mas lucu. Aifa jadi gemas."
"Itu karena dirimu memaksaku memakan mangga muda ini."
Aifa tertawa. Rex menatap Aifa yang mengabaikannya dan sibuk mencomot mangga muda kemudian memakannya. Dari jarak samping wajah yang terlalu dekat ini Rex bisa melihat bahwa istrinya itu begitu bahagia. Segala apapun yang di inginkannya didunia ini, dengan senang hati ia akan menurutinya.
Aifa sudah selesai memakan mangga mudanya dengan posisi yang tidak berubah sejak tadi. Rex membantu Aifa meminumkan segelas air putih lalu meraih tisu didekat mereka.
"Sudah kenyang?"
Aifa mengangguk. "Alhamdulillah sudah."
"Kalau begitu-"
Suara deringan ponsel terdengar. Rex merogoh saku jeansnya dan nama Aisyah tertera disana. Aifa melirik ponsel Rex.
"Em sebentar. Aku harus menerima panggilan ini sebelum menonaktifkan nya. Sebentar lagi pesawat kita akan terbang.."
Rex tidak menunggu respon dari Aifa. Pria itu malah beranjak dari duduknya kemudian berjalan menjauhi Aifa.
Aifa menatap punggung Rex. Rasa cemburu itu membuat hatinya panas. Aifa memalingkan wajahnya kesamping. Disaat seperti ini ada wanita lain yang menghubunginya. Kenapa juga Rex harus menjauh hanya untuk menerima panggilan telepon itu?
Seketika Aifa sedih. Yang ia lakukan saat ini hanyalah pergi menuju kamarnya. Aifa menutup pintu kamar mewah yang ada didalam pesawat itu kemudian meraih selimut untuk tidur. Berharap rasa kecemburuan ini akan hilang setelah ia terbangun.
****
Aifa merasakan tubuhnya begitu hangat. Sayup-sayup Aifa membuka kedua matanya. Aifa menatap tangannya di genggam hangat oleh Rex disamping bantal tidur yang ia pakai.
Aifa menoleh kesamping. Suara dengkuran halus begitu terdengar ketika Rex tenyata tidur dalam keadaan memeluk dirinya. Dengan perlahan Aifa membalikan badannya. Aifa masih menatap Rex yang masih tidur. Aifa mengulurkan telapak tangannya. Menyentuh pipi Rex dengan lembut.
"Boleh Aifa jujur?"
Aifa terdiam. Kenapa tiba-tiba ia menjadi sedih seperti ini?
"Aifa cemburu sama Aisyah. Apakah Aifa salah?" bisik Aifa pelan.
Aifa tak banyak berkata. Aifa mendekatkan tubuhnya pada Rex. Aifa menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rex yang saat ini sedang bertelanjang dada.
Pesawat masih terbang mengudara. Masih ada waktu 80 menit untuk tiba di bandara setelah kepulangan mereka dari honeymoon.
"Tolong jangan begitu lagi. Aifa cemburu." lirih Aifa pelan.
Sebuah usapan di punggung Aifa begitu terasa. Tiba-tiba Rex terbangun. Ia mencium kening Aifa.
"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu cemburu."
"Jangan di ulangi lagi. Aifa gak suka. Aifa gak tahan kalau Aifa sedih terus."
Lalu Rex terdiam. Hal yang ia sembunyikan selama ini pada Aifa semakin membuatnya dilema dan tambah bersalah. Untuk hal begini saja Aifa sudah sedih. Bagaimana jika istrinya itu tahu yang sebenarnya?
"Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Aifa mendongakan wajahnya. "Janji?"
"Iya janji. Kalau Aisyah ada telpon lagi, Aku tidak akan menghindar sehingga tidak membuatmu cemburu dan curiga."
"Ngapain dia hubungin Mas?"
Rex menyentuh pipi Aifa. "Dia meminta alamat apartemen Ray. Itu saja. Dia ada perlu sama Ray."
"Mas gak bohong kan?"
"Demi Allah aku tidak bohong Aifa."
Aifa mendekatkan wajahnya mencium ujung hidung Rex yang mancung.
"Alhamdulillah. Makasih Mas. Maafin Aifa yang cengeng." bisik Aifa lagi.
"Aku akan memaafkanmu." Rex mencium kening Aifa. Aifa takut bila Rex akan mengkhianatinya sedangkan Rex semakin bersalah saja menyembunyikan kebenaran penting diantara mereka.
****
Bel apartemennya berbunyi. Ray yang sejak tadi mengetik sesuatu di laptopnya diruang tamu dengan terpaksa menghentikan aktivitasnya.
Ray segera membuka pintunya. Ia terkejut begitu mendapati Aisyah berada didepan pintunya.
"A-asalamualaikum Kak."
"Wa'alaikumussalam. Aisyah?"
Aisyah terlihat tersenyum canggung dan mengangguk. "Maaf menganggu. Aisyah ada perlu sebentar sama Kak Ray."
"Oh kalau begitu silahkan masuk."
Aisyah menggeleng. "Em maaf kak. Aisyah diluar sini aja."
Ray mengalah. Mungkin Aisyah ingin menjaga pandangan terhadap disekitar apartmentnya apalagi Ray juga tinggal sendirian di apartemennya.
"Ada perlu apa?"
"Boleh Aisyah tanya sesuatu sama Kakak? Ini... Mengenai lamaran itu."
Ray terdiam sejenak. Rupanya Aisyah tidak basa-basi dan langsung ke inti pertanyaannya serta tujuannya.
"Oh itu." Ray menggaruk lehernya. Berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. "Tanyakan saja."
"Jadi begini kak.. em.. soal lamaran itu. Apakah kakak bersungguh-sungguh?"
"Maksudmu?"
"Sebelumnya kita tidak pernah bertemu. Kita tidak pernah saling bersapa. Kita tidak pernah berkomunikasi melalui apapun. Tapi.."
Aisyah terdiam. Sebenarnya ia malu. Tapi ia tidak bisa membiarkan hal spele seperti ini membuatnya kepikiran tidak tenang.
"Tapi kenapa kakak tiba-tiba datang kerumah tanpa memberitahu Aisyah? Tanpa menghubungi Aisyah lalu dengan mudahnya melamar Aisyah?"
Dan Ray tidak bisa menjawab. Sebuah pertanyaan yang membuatnya terbungkam.
"Maaf kak sebelumnya. Apakah semua ini karena Mas Re?"
Ray terkejut. "Em.. itu. Aku.. aku bisa jelaskan. Aku mendatangimu karena niatku. Bukan dari Rex. Itu saja."
Lalu Aisyah tersenyum. Dugaannya semakin kuat. Ada keraguan di balik tatapan Ray.
"Aisyah cuma mau bilang Kak. Jika semua ini karena Mas Re. Maka hentikan saja. Jangan di paksa."
"Kenapa?"
"Karena Aisyah tidak ingin dicintai secara terpaksa oleh Kakak."
Lalu Ray terdiam lagi. Aisyah benar. Rex sudah membuat semuanya menjadi keterpaksaan. Terutama saat ia mengkhitbah Aisyah.
"Pernikahan itu ibadah terlama kak. Perpisahan adalah hal yang di benci oleh Allah. Aisyah tidak mau hal itu terjadi diantara kita."
"Sebelum terlambat. Sebaiknya Kakak pikirkan dulu. Cukup sekali dan itupun dari Mas Re. Aisyah hanya kasihan sama Ayah dan Ibu jika akhirnya mereka kembali menanggung malu lagi."
"Bagaimana dengan ta'aruf? Bukankah cinta hadir karena terbiasa?"
"Bagaimana jika cinta itu tidak hadir di hati kakak buat Aisyah?" tanya balik Aisyah pada Ray.
"Kalau boleh jujur. " Aisyah menundukan wajahnya. "Aisyah suka sama kakak sudah lama. Tapi Aisyah bingung harus mengungkapkan perasaan Aisyah bagaimana. Aisyah malu dan Aisyah tidak tahu harus memulainya dari mana."
"Aisyah-"
"Lamaran baru saja terjadi diantara kita. Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kita sholat istikharah terlebih dahulu kak."
Aisyah menatap kembali wajah Ray yang dibuat terbungkam sejak tadi.
"Dan meminta petunjuk pada Allah apakah Aisyah adalah pilihan yang terbaik dari Allah buat kakak atau mungkin wanita lain. Begitupun sebaliknya. Ini bukan perkara yang mudah. Jangan sampai menyesal di kemudian hari."
Ray terdiam. Ia tidak menyangka wanita seperti Aisyah secerdas itu. Menyadarkannya dari segala kerumitan yang ada.
"Jika kita berjodoh. Allah pasti akan mempertemukan kita. Jika tidak.. " Aisyah memundurkan langkahnya. Bersiap untuk pamit pulang.
"Jika tidak.. maka itu yang terbaik. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Apa yang kita inginkan bisa jadi itu bukan yang terbaik buat kita."
"Maaf. Aisyah jatuh cinta sama Kakak."
***
Tapi Aisyah benar loh. Menikah itu bukan hal spele.
Ray begitu dadakan sih main lamar aja.
Harus selipkan dikit alur yang masuk akal agar chemistry mereka hadir. Sesuai judul 😀
Karena nama Aisyah sudah tertera di sinopsis meskipun Rex dan Aifa adalah tokoh utama.
Aisyah berhak bahagia seadil-adilnya.
Makasih sudah baca.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini "

1 komentar:

  1. Masyaallah kak :" aku baru baca cerita kakak pagi tadi dan udah sampe sini aja, bener-bener ngena dan bikin sepenasaran itu. Proud sama aisyah juga tetap bisa setegas itu walaupun dia cinta sama ray :") terima kasih kak, telah memberikan bacaan yang bagus selama #dirumahaja hehe 💕💕

    BalasHapus