Chapter 51 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 51 : Because I Love You




2 bulan kemudian.
Rex menatap Aifa yang kini sibuk memasak. Di bagian depan istrinya itu terpasang celemek berwarna pink. Hari ini adalah hari libur. Padahal Rex tidak masalah jika asisten rumah tangga Aifa yang membuatkan sarapan untuk mereka.
Tidak mau menunda, Rex pun beringsut mendekati Aifa lalu memeluknya dari belakang.
"Mas?"
"Hai. Pagi." Rex mencium pipi Aifa dengan lembut.
"Pagi Mas."
"Masak apa?"
"Mie instan."
Dan Rex terkekeh geli. Dari jauh Aifa terlihat sibuk. Begitu didekatinya ternyata hanya memasak mie instan. Rex hanya menggelengkan kepalanya dan memaklumi kekurangan Aifa yang belum lihai dalam memasak.
"Sepertinya enak."
Aifa hanya mengangguk. Rex masih memeluknya erat dari belakang tubuhnya. Tapi Aifa berusaha meredamkan degup jantung di dalam dadanya.
"Mas."
"Hm?"
"Bisa jauh sedikit? Aifa tidak bisa masak."
"Aku tidak menganggumu. Jadi santai saja."
Dari kejauhan. Franklin yang berniat mengambil segelas air putih pun mengentikan langkahnya. Ia menggaruk lehernya dan salah tingkah melihat posisi kakaknya saat ini. Franklin berdeham dan memilih membalikan badannya. Tidak jadi kedapur.
"Tapi tetap saja Mas. Aifa-"
Rex membalikan badan Aifa. Menggeser semua pekerjaan memasak Aifa begitu saja diatas kitchen set menggunakan tangannya.
Rex mengangkat pinggul Aifa lalu mendudukannya diatas kitchen set. Aifa terpekik terkejut dan Rex hanya tertawa geli.
"Kenapa? Apa aku salah?"
"Salah Mas. Aifa tidak bisa berkonsentrasi memasak pagi ini."
"Masa?"
Tanpa ragu Rex mencium ujung hidung Aifa. Aifa merona merah. Dari kejauhan Fandi hendak menuju dapur hanya untuk mengambil buah dimeja makan. Langkahnya terhenti.
"Ya ampun anak-anak ini." ucap Fandi dalam hati melihat putri dan menantunya dengan posisi seperti itu. Akhirnya Fandi pun memilih pergi dari sana.
"Mas! Aifa serius."
"Aifa tiba-tiba pengen mie instan. Sekalian buatkan untuk Mas. Oke?"
"Aku tidak mau mie instan."
"Jadi maunya apa?"
Rex tersenyum smirk. Ia berniat mencium Aifa saat ini juga.
"Aifa. Nanti kalau sudah selesai masak-"
Dan Ayesha tertegun. Kehadirannya tiba-tiba didapur membuat Aifa segera mendorong tubuh kekar Rex agar menjauhinya. Ayesha berdeham. Ia menggaruk lehernya salah tingkah.
Lalu Aifa merasa malu akibat ketangkapan basah oleh Mommynya sendiri. Tapi tidak dengan Rex yang berpura-pura sok sibuk melanjutkan pekerjaan Aifa membuat mie instan.
Aifa turun dari kitchen set. Lalu mendekati Mommynya. "Hai Mom. Ada yang bisa Aifa bantu?" tanya Aifa canggung.
Ayesha hanya geleng-geleng kepala. "Cuma mau bilang. Setelah masak siap-siap berganti pakaian ya. Kita kerumah mertua kamu. Luna mengajak kita sekeluarga makan siang bersama."
Aifa menyelipkan helaian rambutnya di telinga. "Em. Oke Mom."
Ayesha hanya mengangguk lalu segera berbalik.
Seketika Aifa terkejut. Rupanya Rex sudah duduk di kursi meja makan dan memakan lahap mie instan nya.
"Mas jahat!!!!!!!!! Ih nyebelin! Langsung makan tanpa nunggu Aifa!"
Rex hanya terkekeh geli. Sementara Aifa hanya bersungut sebal namun dengan romantisnya akhirnya mereka memakan mie semangkuk berdua.
****
Suasana begitu akrab saat ini. Semua lengkap. Ada Ronald. Luna. Ray. Si kembar Rayna Rayni lalu keluarga besar Hamilton.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Fandi. Ayesha. Franklin. Aifa dan Rex menikmati sajian nikmat makanan yang disuguhkan oleh Luna. Hari ini Luna berinisiatif memasak sendiri menu olahan rumah.
Rex menatap wajah-wajah bahagia penuh keakraban. Tapi tidak dengan hatinya. Rasa masakan Mommynya di lidah sangat lezat. Ntah kenapa begitu menelan makannya terasa begitu hambar? Semua itu di akibatkan oleh sebuah kenyataan yang ia tutupi selama ini.
Sebuah genggaman hangat begitu terasa. Rex menoleh kearah Aifa. Istrinya itu tersenyum kearahnya. Mau tidak mau Rex ikut memaksakan senyumnya.
Waktu terus berjalan. Semua makanan sudah selesai di makan. Tinggal makanan penutup saja yang ada didepan mata dan belum tersentuh.
"Maaf Mom. Dad.. semuanya.. ada yang ingin aku bicarakan sama kalian." ucap Rex dengan gugup. Meksipun saat ini kedua matanya terfokus utama sama Luna dan Fandi.
"Bicara soal apa kak?" sahut Rayni.
"Apakah kita akan memiliki calon keponakan?" timpal Rayna lagi dengan candaannya.
Rex berusaha untuk tetap tenang dari semuanya. Meskipun badai besar akan datang dalam dirinya sebentar lagi.
"Aku.." ucap Rex pelan.
"Mas?" Aifa memegang tangan Rex di atas paha pria itu. "Mas baik-baik aja kan?"
"Tidak. Aku sedang tidak baik-baik saja Aifa."
"Mas kenapa?"
Rex menundukan wajahnya. Perasaanya begitu berat. Bibirnya sangat Kelu. Tapi ia sudah tidak bisa menahan kenyataan pahit itu.
"Rex?" panggil Ayesha pelan.
"Nak. Katakan. Ada apa?" bujuk Luna dengan was-was.
"Maafkan aku. Sebenarnya.. aku.."
"Ada apa sih Mas? Katakan." Desak Aifa gak sabaran
"Akulah pria itu."
"Maksud Mas?"
"Akulah pria itu. Pria pengecut. Pria brengsek yang sudah menyentuhmu saat kamu pingsan."
Semuanya terkejut. Tapi tidak dengan Ray. Dia yang sudah mengetahui semuanya hanya bisa berdoa dalam hati semoga semua masalah ini bisa terselesaikan dengan baik.
Fandi mengepalkan tangannya diatas meja. Raut wajahnya sudah menegang. Ayesha syok. Dia menutup mulutnya sendiri dengan kedua matanya. Luna meneteskan air mata di pipinya.
"M-mas.." panggil Aifa lagi. Aifa menangkup kedua pipi Rex. Menatapnya intens.
"Katakan kalau semua ini hanya bercanda. Mas gak bohong kan? Mas lagi bercanda kan?"
Rex tergagap. "Aifa. A-aku-"
"Mas gak mungkin begitu. Mas pria yang baik. Mas cinta sama Aifa. Mas sayang sama Aifa kan? Gak mungkin Mas yang melakukan itu. Gak mungkin-"
"Aku yang melakukannya." potong Rex cepat. "Aku melakukannya saat kamu pingsan. Aku yang mengikuti pria muda yang mau berniat jahat sama kamu saat dia membawamu kedalam hotel. Aku memukulnya.."
Hati Rex tersayat. Aifa mengabaikan air mata mengalir di pipinya. Bibirnya gemetar. Aifa syok.
"Lalu dia pergi. Tapi.."
"Tapi Aku salah. Seharusnya aku menjagamu. Bukan menyentuhmu saat kamu tidak sadar."
Tubuh Aifa gemetar kecil. Dengan lemas ia menurunkan kedua tangannya di pipi Rex. Aifa hancur. Aifa berdiri duduknya. Sungguh ia malu dengan semua ini. Berbeda dengan Rayna, Rayni, Ronald dan Luna apalagi Franklin yang tidak menahu hal sebenarnya.
Aifa berdiri dari duduknya. Rex berusaha mencegah Aifa. "Aifa... Aku.. maafkan. Aku- AIFA!"
Rex panik. Aifa pergi. Aifa mempercepat langkahnya. Wanita itu sudah menangis. Aifa semakin terpukul. Ia tidak menyangka bahwa pria yang ia cintai menorehkan luka pedih dari sekedar rasa kecemburuannya sama Aisyah dan hatinya yang di abaikan selama 4 tahun ini.
Rex lebih cepat. Ia memeluk tubuh Aifa dari belakang. Takut karena Aifa akan pergi.
"Aifa-"
"Lepas! Lepaskan Aifa!"
Air mata berderai. Aifa berusaha mencengkram kuat lengan Rex yang memeluk seputaran pinggulnya. Bahkan Rex mengabaikan rasa sakit akibat kuku-kuku Aifa yang terasa menusuk di kulit tangannya.
"Aifa. Aku mohon. Maafkan kesalahanku."
"Lepas.. lepaskan Aifa. Ini sangat menyakitkan. Tidak hanya hati. Tapi perasaan Aifa dan perasaan keluarga Aifa."
Semua keluarga pun mendekati mereka. Menatap keduanya dari jarak beberapa meter dari belakang.
"Aku khilaf Aifa. Maafkan aku. Maaf." 
Rex menempelkan dahinya pada bahu Aifa. Ia semakin ketakutan.
"Kamu terlau cantik di mataku sampai-sampai aku dibutakan oleh kebodohanku sendiri. Saat itu aku tidak bisa menahan nafsuku sendiri
Seharusnya aku menjagamu. Seharusnya aku menghargai kedua orang tuamu. Seharusnya-"
"Kalau Mas ingin menyentuh Aifa kenapa harus dengan cara yang salah?" lirih Aifa lemah. Aifa tak berdaya. Ia merosot ke lantai. Terduduk sambil menangis.
"Aifa-"
"Mas sudah tahu siapa yang Aifa tunggu selama 4 tahun ini. Kamu. Kamu Mas. Bukan pria lain. Bukan siapapun. Jika.."
Aifa menghapus air mata di pipinya. Aifa memilih berdiri. "Lupakan saja. Aifa sudah lelah. Hati Aifa rasanya sudah kebal karena terus di sakiti seperti ini dari dulu!"
"Aifa-"
"Apa lagi?!" Aifa menatap Rex kecewa. "Iya Aifa sadar. Aifa hanyalah wanita bodoh. Seharusnya Aifa berharap sama Allah. Bukan sama seorang pria yang pasti akan mengecewakan Aifa." 
Rex ingin merengkuh Aifa. Sayangnya Aifa menolak.
"Mas tahu satu hal?" Aifa memaksakan senyumnya. Senyum penuh kepedihan. "Selama ini Aifa membawa Mas terbang jauh dan paling tinggi kelangit. Disana kita bahagia. Banyak bintang dan rembulan yang bersinar menerangi cinta kita."
"Aifa. Aku-"
"Lalu, semudah itu Mas melemparkan Aifa hingga terhempas ke bumi. Sakit. Aifa sudah hancur. Itu yang Aifa rasakan sekarang."
Aifa membalikan badannya. Rex tetap bersikeras memeluk Aifa lagi walaupun Aifa menolaknya.
"Lepas!"
"Kumohon maafkan aku Aifa. Maafkan kekhilafanku. Aku salah. Seharusnya aku tidak menunda niatku yang ingin menikahimu. Aku sadar. Aku sudah melakukan dosa besar. Menyentuh dirimu sebelum menikah."
"Kumohon lepaskan aku. Sekali saja. Please." lirih Aifa tak berdaya.
"Aku minta maaf. Aku minta maaf sampai akhirnya.. aku.. kita.." Rex memeluk Aifa erat. Air mata keluar dari pipinya. Rex menyenderkan dahinya pada pundak Aifa.
"Kita sudah kehilangan dia. Calon buah hati kita waktu itu. Penyesalan terbesar dalam hidupku."
***
Aifa terlalu cantik.
Maaf ya Author tutup sedikit privasi di wajahnya.
Tapi, ya Allah. Ngedalami tokoh Aifa ini benar-benar sakit 😭
Makasih sudah baca. 
Sehat selalu buat kalian 
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik Link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar