Chapter 53 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 53 : Because I Love You




Ray mengemudikan mobilnya dengan tenang. Suasana begitu hening. Disebelahnya ada Rex yang memilih diam tanpa berbicara sedikitpun. Sejak semalam kakaknya itu benar-benar gelisah dan tidak bisa tidur.
Rex sibuk mondar-mandir didalam apartment Ray sambil memegang ponselnya hanya untuk berusaha menghubungi Aifa.
Aifa benar-benar tidak bisa di hubungin. Sebagai adik, Ray juga berupaya menghubungi Aifa. Tapi hasilnya nihil. Aifa benar-benar sulit di jangkau.
Mobil pun tiba di depan pagar besar dan menjulang tinggi. Sebuah rumah mewah milik keluarga besar Hamilton. Ray membunyikan klakson mobilnya. Memberi tanda agar asisten rumah tangga disana segera membukakan pintu pagarnya.
"Kak." panggil Ray pelan.
"Apa?"
"Sepertinya mereka tidak akan membukakan pintu untuk kita."
"Aku tidak yakin dengan hal itu." ucap Rex dingin.
Ray tidak menjawab. Akhirnya ia membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Ray sedikit memperhatikan sekitaran pagar. Terdapat cctv di sudut dinding dekat pagar besar itu.
"Mereka tahu kita kemari. Mereka tidak akan membukakan pintu pagar ini buat kita kak." jelas Ray penuh keyakinan.
Rex mendengus kesal. Ia pun melepaskan safety beltnya. "Tunggu disini. Aku menantu keluarga ini. Tidak mungkin mereka menolakku."
"Tapi-"
"Kamu pergi saja ke minimarket. Semalam aku melihat isi kulkasmu habis. Tidak mungkin kan kamu membuatku kelaparan di apartemenmu?"
Ray hanya menatap Rex yang saat ini emosinya tidak stabil. Semua sudah jelas jika hal itu berasal dari Aifa yang membuat kakaknya frustasi.
"Baiklah. Aku akan ke minimarket. Hubungi aku bila urusan kakak selesai."
Rex tidak menjawab. Ia hanya menutup pintu mobil Ray bahkan mengabaikan Ray yang kembali menjalankan mobilnya.
"Tolong buka pintunya! Aku ingin masuk." teriak Rex lebih lantang.
Rex menggedor-gedor pintu pagarnya. Nafasnya tersengal-sengal hanya untuk melakukan itu semua.
"Buka pintunya!"
"Aku yakin kalian yang ada didalam sana mendengar suaraku!"
Rex merogoh ponselnya. Ia mencoba menghubungi Aifa. Lagi-lagi nomor Aifa tidak aktip. Rex frustasi. Dengan amarah dan frutasi. Rex menendang pintu pagar besar itu. Masa bodoh jika pagar itu akan rusak apalagi lecet nantinya.
"TOLONG BUKA PINTUNYA!!"
Fandi menatap layar cctv nya dengan bersedekap. Disampingnya ada pria paruh baya yang menjadi asisten bagian operator keamanan cctv dikediamannya.
"Hubungin penjaga diluar sana. Katakan padanya untuk tidak membukakan pintu pagarnya."
"Baik Tuan."
Fandi melenggang pergi dengan raut wajah datar. Dan dia tidak akan membiarkan Rex si pria pengecut bodoh itu menginjak rumahnya lagi. Lalu Fandi kembali memasukan ponsel Aifa yang ia tahan sejak kejadian kemarin kedalam sakunya.
****
Ray memasukan beberapa cemilan di dalam troli belanjaannya. Disana sudah ada Snack, makanan kaleng, minuman kaleng bersoda lalu coklat batangan.
Ray beralih untuk membelokkan trolinya untuk pindah ke area perlengkapan mandi namun terhenti begitu saja ketika melihat seorang wanita yang sedang melompat-lompat tinggi hanya untuk meraih sesuatu diatasnya.
Ray sangat kenal wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Aisyah. Ray mendorong trolinya dengan cepat lalu tanpa ragu Ray meraih sebuah kemasan yang posisinya lebih tinggi dari Aisyah.
Aisyah terkejut. Rona wajahnya merona merah begitu melihat salah satu tangan pria terulur membantu meraihnya. Aisyah merasa malu. Bukan karena sosok Ray. Melainkan saat Ray membantu mengambilkan sebuah pembalut kemasan isi banyak.
"Ini." ucap Ray pada Aisyah.
Dengan cepat Aisyah mengambilnya. Bahkan sedikit merampas. Aisyah merutuki rasa malunya karena Ray melihatnya membeli pembalut wanita.
"Te-terima kasih Kak Ray."
"Em. Sama-sama." Suasana canggung. Ray menggaruk lehernya. Bingung harus berbicara apalagi. Ray terlihat salah tingkah.
"Aisyah."
"Kak."
Lalu keduanya sama-sama terdiam. Kenapa tiba-tiba mereka saling memanggil nama dalam waktu yang bersamaan?
Ray berdeham. Menyingkirkan situasi canggung itu. "Aisyah sendirian?"
"Ha?"
"Aisyah sendirian?" tanya Ray lagi.
Aisyah mencengkram trolinya. "Iya kak. Aisyah sendirian. Ah kakak borong cemilan?" tanya Aisyah tiba-tiba.
Ray menatap isi trolinya sejenak. Lalu beralih menatap Aisyah. "Iya.. Kak Rex menginap di apartemenku."
"Oh." Aisyah manggut-manggut. "Em, bagaimana kabar Mas Re?"
"Alhamdulillah dia baik."
"Dia. Sehat-sehat aja kan?"
"Iya dia sehat."
Aisyah hanya mengangguk. "Titip pesan deh buat Mas Re kak. Jangan suka makanan siap saji. Gak baik buat kesehatan. Dia itu sudah di kasih tahu."
Ray memaksakan senyumnya. "Ah baiklah."
"Kalau begitu Aisyah permisi ya kak. Aisyah mau pulang. Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Em hati-hati."
Aisyah mengangguk. Tiba-tiba Aisyah tersenyum sopan kearahnya. Sebuah senyuman manis yang tanpa sengaja membuat Ray terpana.
Ray menatap kepergian Aisyah yang kini mendorong trolinya menuju kasir. Ray beralih menatap isi trolinya. Lalu ia teringat pesan Aisyah untuk Rex yang secara tidak langsung ntah kenapa membuatnya tidak suka. Kenapa Aisyah masih saja perhatian dengan kakaknya itu?

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Ray menggeleng cepat. Menghalau pemikiran anehnya. Tidak mungkin. Tidak mungkin semua secepat itu apalagi kata suka hadir begitu saja meskipun saat ini nama Aifa masih ada dihatinya. 
***
Seminggu kemudian
"Nak. Ayo makan. Walaupun hanya sedikit saja. Demi Mommy." bujuk Ayesha dengan sabar.
Aifa menggeleng lemah. Aifa terlihat meringkuk di balik selimut. Jam sudah menunjukan pukul 09.00 pagi. Sejak tadi Aifa belum mengisi sarapan didalam perutnya.
"Aifa. Mommy khawatir denganmu."
"Tidak Mom. Aifa tidak mau makan."
"Hanya sedikit Aifa."
"Mom. Aifa-"
Aifa menghentikan ucapannya. Buru-buru Aifa turun dari ranjang. Aifa berlari ke westafel dan mual itu kembali terasa meskipun tidak mengeluarkan sisa makanan didalam perutnya.
Ayesha segera mendatangi Aifa. Dengan perhatian Ayesha meraih tisu lalu mengelap bibir putrinya.
"Nak. Ayo. Sedikit saja makan."
Aifa menggeleng. "Aifa tidak bisa makan."
"Aifa-"
"Mom.." Aifa memeluk erat tubuh Mommynya. "Aifa lagi sedih. Aifa masih kecewa dengan semua perbuatan Mas Rex. Disisilain..." Aifa begitu lemas.
"Disisilain, Aifa mual. Aifa tidak bisa makan apapun."
"Morning sickness memang begitu Aifa. Semua ibu di usia kehamilan muda akan merasakannya di pagi hari." Ayesha menangkup kedua pipi putrinya.
"Dia masih kecil. Butuh asupan. Cobalah untuk memakan buah saja. Kamu tidak kasihan sama dia didalam sini?" ucap Ayesha lembut sambil mengusap pelan perut Aifa yang masih rata dikehamilan 4 Minggu.
"Tapi Aifa takut muntah Mom."
"Ayo coba dulu. Hanya potongan apel berukuran kecil."
Ay segera menarik tangan putrinya untuk keluar kamar menuju dapur. Disudut ruangan dekat wastafel, seorang pria sedang memperbaiki pipa kran saluran air yang sedang bermasalah.
"Ada apa Mom dengan pipanya?" tanya Aifa yang kini duduk di kursi meja makan.
Ayesha meraih sepiring potongan Apel. "Mom suruh asisten rumah tangga untuk menghubungi jasa tukang perbaikan pipa saluran air. Bermasalah. Katanya tersumbat."
Pria itu mendengar semuanya. Ia memakai masker dan topi yang senada dengan seragam pekerjaannya. Pria itu menatap Aifa sejenak. Lalu kembali menggeluti pekerjaannya
"Aifa?"
"Ya Mom?"
"Kapan jadwal ke dokter kandunganmu lagi?"
"Besok pagi Mom. Aifa-"
Tiba-tiba suara deritan kursi bergeser terdengar. Rasa ingin muntah itu kembali bergejolak di perut Aifa. Aifa segera menuju kamar mandi dan lagi-lagi suara Aifa mual-mual terdengar.
"Aifa! Ya Allah.. sabar ya Aifa. Mom yakin kamu bisa lewati ini semua." .
Aifa mengeluarkan air mata di pipinya. Wajah Aifa pucat.
"Mom. Aifa lelah. Aifa ingin istirahat. Tolong jangan suruh Aifa makan dulu."
"Yasudah. Kamu istrirahat saja ya nak. Mommy akan mengantarkanmu ke kamar. Hamil muda memang sedikit membuatmu uring-uringan."
Seorang pria yang sejak tadi memperbaiki pipa tersebut mencengkram kuat peralatannya. Rahangnya mengeras. Hatinya sakit. Kedua matanya berkaca-kaca. Seharusnya ia ada disaat Aifa sedang mengalami masa-masa sulit kehamilan mudanya.
Aifa membutuhkannya. Aifa sedang hamil. Aifa sedang mengandung calon janin hasil buah cintanya. Dan Rex hanya bisa pasrah tak bisa berbuat apapun selain menyamar demi bisa melihat Aifa.
***
Kalian masih kuat kan? Jangan pernah menyerah sampai ending 😂
Pembaca lama sejak 2017 sudah kebal hatinya author giniin 🤣
Makasih sudah baca.
Sehat selalu buat kalian..
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
****
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar