Chapter 54 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 54 : Because I Love You



Sebulan kemudian..
"Pak!"
"Pak!"
Pintu terbuka lebar setelah Dilan membuka pintunya lalu mendatangi Rex sambil tergopoh-gopoh seperti habis di kejar banyak orang.
Rex ikut berdiri. Raut wajahnya pucat. Masalah datang secara bergantian. Masalah rumah tangganya dengan Aifa saja belum selesai. Lalu saat ini musibah baru saja terjadi setelah seseorang menghubunginya beberapa menit yang lalu.
"Apa lagi sekarang Dilan?"
"Pak! Sebaiknya Bapak tenang. Di depan perusahaan sekarang banyak orang. Sepertinya mereka semua adalah bagian dari keluarga-keluarga korban yang menuntut hak asuransi jiwa."
Rex mengusap wajahnya dengan lelah. "Hubungi kontraktornya lagi. Kenapa bangunan ruko 3 tingkat itu bisa runtuh."
"Saya sudah menghubunginya Pak. Tidak ada jawaban." Dilan memegang ponselnya. "Perusahaan juga sudah menghubungi orang-orang yang bersangkutan. Tapi tidak ada jawaban. Sekarang nomor ponselnya tidak aktip."
Rex akhirnya merasa bingung sendiri. Dengan lemah ia duduk di kursi kerjanya. Rex memijit keningnya yang terasa pusing.
Sebuah bangunan ruko bertingkat tiga daerah Samarinda runtuh secara tiba-tiba pukul 09.00 pagi. Penyebabnya masih belum diketahui dengan jelas.
Ruko yang pembangunannya akan di rencanakan sebagai pusat toko elektronik terlengkap itu kini ambruk dan menimbulkan banyak korban. Diantaranya ada 10 pekerja tewas tertimbun reruntuhan dari 30 orang pekerja disana. Suara deringan ponsel Rex berbunyi. Nama Ronald terpampang disana.
"Asalamualaikum. Iya ada apa?" tanya Rex tanpa basa-basi.
"Wa'laikumussalam. Sebuah ruko di Samarinda. Apakah itu menjadi tanggung jawabmu nak?"
"Aku sedang memikirkannya."
"Beritanya sudah tersebar di breaking news beberapa menit yang lalu. Sudah ada 17 orang ditemukan tewas."
Rex semakin gusar. Ayah tirinya itu malah membuat hatinya semakin gelisah.
"Aku akan membantumu Rex."
"Tidak perlu. Aku.." Rex mencengkram kuat ponselnya. "Maafkan aku. Aku tutup dulu panggilan ini. Tolong sampaikan pada Mommy bahwa aku merindukannya."
Panggilan terputus. Rex mengantongi ponselnya. Mengabaikan Ronald yang sedang khawatir dengannya. Lalu Rex pun beralih menatap Dilan.
"Hubungi perusahaan asuransi untuk segera mengklaim dana jaminan asuransinya."
"Baik Pak."
Rex memakai jas formalnya. Dilan menyerahkan berkas keatas meja Rex.
"Ini data para pekerja proyek pembangunan ruko itu Pak. Ada 30 orang."
"Aku akan memeriksanya nanti. Saat ini aku sibuk mengurus sesuatu."
Rex sudah melenggang pergi menuju pintu. Rex kembali menghentikan langkahnya.
"Siapkan penerbangan ke Samarinda besok pagi. Aku harus melihat langsung lokasi kejadian."
"Baik Pak."
Dilan menatap Rex yang saat ini terlihat letih. Lalu tatapannya beralih keatas meja atasannya. Ada sisa 5 gelas cup coffee disana. Sepertinya atasannya itu sedang banyak masalah.
***
Aifa berjalan mondar mandir tidak jelas. Seharian ini ia cemas. Sebenci apapun ia sama Rex. Rasa khawatir itu tidak akan pernah hilang.
Sudah sebulan hubungan rumah tangganya semakin merenggang. Rex tidak pernah mendatanginya. Aifa merasa gelisah. Selama sebulan Aifa tidak pernah berkomunikasi dengan Rex karena Fandi menyimpan ponsel Aifa.
Bayangan Rex yang sudah menghancurkan hatinya membuat Aifa marah dengan Rex. Tapi rasa rindu. Rasa cemas. Kesepian yang begitu menyiksa membuat nama Rex sulit di hilangkan.
Gejolak mual itu kembali terasa. Aifa menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kepala Aifa terasa pusing. Aifa memilih duduk di sofa. Tak bisa berbuat apapun selain bersandar dengan lemas.
Aifa memilih memejamkan matanya. Bayangan wajah Rex lagi-lagi bermuculan dibenaknya. Aifa semakin miris dengan dirinya yang sendiri saat ini.
Suara pintu terbuka. Aifa tahu jam sekarang adalah jam nya Mommynya mengantarkan segelas susu hamil untuknya.
"Simpan saja susunya di atas meja Mom. Nanti Aifa minum." lirih Aifa pelan.
Aifa masih memajamkan kedua matanya. Lalu tanpa diduga pahanya terasa di sentuh. Aifa membuka kedua matanya. Aifa terkejut. Tiba-tiba ada Rex didepan matanya. Rex terduduk di lantai.
Rex tidak banyak berucap apapun. Yang ia lakukan saat ini hanyalah menempelkan keningnya pada paha Aifa. Rasa lelah begitu berat. Seluruh tubuh Rex begitu lemah. Pikiran yang kalut, stress terhadap musibah yang menimpa pekerjaan ditambah masalah rumah tangganya membuat Rex frustasi.
"Aifa.." lirih Rex pelan.
Aifa tak menjawab. Ia berusaha mati-matian mengabaikan Rex yang sudah mengecewakannya.
"Kata maaf mungkin tidak akan cukup buatmu." ucap Rex lagi. "Tapi aku akan berusaha. Aku ingin menjadi obat penyembuh luka di hatimu. Kuharap kamu mau menerimaku Aifa."
Hati Aifa tersentil. Dada Aifa bergemuruh sesak. Ia tidak menduga malam ini Rex berada didepan matanya setelah 1 bulan tidak saling bertemu.
"Tolong pegang kepalaku. Aku merindukan usapan lembut yang berasal dari tanganmu ini
" pinta Rex pelan.
"Aku butuh kamu. Sebagai penenang hatiku. Setelah kejadian itu.. aku tidak bisa tidur nyenyak." ucap Rex lagi.
Aifa mengepalkan kedua tangannya. Berusaha menahan diri untuk tidak menuruti keinginan Rex. Tapi hatinya sulit untuk di kendalikan. Apalagi saat ini Rex sedang mengalami masalah di perusahaannya.
Aifa memilih menatap kesamping. Mencoba untuk bertahan agar tidak mudah luluh setelah rasa kekecewaan itu terjadi.
"Tidak hanya kamu. Aku juga merindukan anak kita. Apakah dia sehat?"
Rex merasa hatinya pedih. Tapi tidak apa-apa. Rex paham. Rasa sakit yang di alami Aifa tidak sebanding dengan dirinya saat ini. Tapi jika bisa.. ingin sekali Aifa memeluknya. Menenangkannya. Mengusap kepalanya seperti yang sering di lakukan istrinya itu.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Dengan perlahan Rex mengangkat wajahnya. Kedua matanya menatap Aifa. Aifa memalingkan wajahnya kesamping dan enggan menatapnya.
Tapi Aifa sudah tidak bisa menahan diri. Aifa pun akhirnya menatap Rex dan ia terkejut. Sudut bibir Rex berdarah bahkan mengalami memar disekitar pipinya.
Aifa tak perlu bertanya penyebabnya dari mana. Rex pasti melewati banyak cara malam ini agar bisa menemuinya. Rex meraih tangan telapak tangan Aifa dan menempelkannya di pipinya. Rex memejamkan kedua matanya. Merasakan bagaimana hangatnya telapak Aifa di pipinya.
"Aku merindukanmu Aifa."
Lalu air mata pun menetes di pipi Aifa tanpa bisa di cegah.
****
Feel Auhtor dapat banget kalau ngetik alur malam ini.
Apalagi bacanya pas lagi sendirian di keheningan malam sambil meluk guling atau bantal
😔😔😔
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian 🖤
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
****
Next, Chapter selanjutnya. Klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar