Chapter 55 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 55 : Because I Love You




Aifa terlihat tidak bersemangat hari ini. Hari ini adalah jadwal kembali ia melakukan kontrol ke Dokter kandungannya.
Aifa tidak semangat bukan karena hal itu, melainkan kepergian Rex semalam. Aifa sudah menoleh Rex sejak semalam ketika suaminya itu mendatangi kamarnya sampai akhirnya Rex menyerah dan pulang.
"Aifa?"
Aifa menoleh ke samping. Saat ini ada Mommy dan Daddynya yang biasa menemaninya ke dokter kandungan.
"Iya Mom?"
"Kamu baik-baik saja kan nak?"
Aifa mengangguk. "Em ya, Aifa baik Mom."
"Kenapa kamu terlihat murung Aifa? Apakah si pengecut itu membuatmu bersedih lagi tadi malam?" sela Fandi dengan nada suaranya yang menahan amarah sejak malam.
"Mas tidak begitu Daddy. Jadi tidak terjadi apapun diantara kami."
Mereka pun akhirnya memasuki ruangan dokter kandungan bernama Dokter Santi yang di sambut hangat oleh perawat ruangan. Aifa mulai berbaring terlentang di brankar pasien untuk melakukan USG di usia kehamilan 2 bulan.
Di samping Aifa ada Ayesha yang dengan serius memperhatikan layar USG setelah dokter kandungan tersebut memberikan gel pelumas di atas perut Aifa.
Dokter Santi tersenyum ramah. "Alhamdulillah usia janin sudah pas 8 Minggu ya Bu Aifa."
"Alhamdulillah iya Dok." ucap Aifa lagi. Ayesha pun menggenggam punggung tangan putrinya dengan lembut.
"Maaf apakah di keluarga Ibu ada riwayat kelahiran kembar?" tanya Dokter Sinta lagi.
"Iya Dok. Ada. Putra saya. Kenapa Dok? Apakah Aifa berpotensi hamil kembar?" tanya Ayesha dengan berbinar bahagia.
"Sepertinya begitu." senyum Dokter Sinta. "Untuk lebih pastinya nanti akan kita USG lagi di pertemuan berikutnya.
USG pun selesai. Dokter Dewi mengambil hasil foto USG tersebut lalu menyerahkannya pada Aifa. Hati Aifa direlung rasa haru bahagia sambil memegang hasil foto USG janin yang ia sayangi ini. Buah cintanya dengan Rex.
***
Ray meraih sebuah buku didalam rak. Sebuah buku resep masakan sederhana rumahan. Ah sepertinya apa yang dikatakan Aisyah waktu itu benar. Makan-makanan siap saji tidak akan sehat jika dimakan terus-menerus.
Ray mengecek jam di pergelangan tangannya. Satu jam lagi kakak tirinya  itu akan berangkat ke kota Samarinda untuk mengurus kasus runtuhan bangunan ruko tiga tingkat itu.
Dan Ray berinisiatif dalam diri untuk tidak membeli makanan siap saji lagi di minimarket. Ia berniat untuk memasak saja agar ia dan kakaknya bisa melakukan pola hidup sehat.
Dari jarak beberapa meter. Ray menyipitkan kedua matanya. Tanpa diduga ia melihat Aisyah di kasir dengan beberapa buku di tangannya.
Ray juga tidak menyangka. Setelah shalat istikharah berkali-kali kenapa wajah Aisyah dan nama Aisyah yang sering membayangi pikirannya?
Apakah ia harus melakukan sholat istikharah lagi agar semuanya yakin?
Ray terlalu banyak berpikir sampai akhirnya dari posisinya berdiri ia melihat Aisyah bersenda gurau dengan pria muda yang menjadi penjaga kasir itu. Tiba-tiba Ray jadi tidak suka dengan pria itu.
"Ya Allah... Ada apa denganku?" ucap Ray pelan.
Ray pun berusaha bersikap normal. Akhirnya ia berjalan mendekati kasir dan berniat membayar buku resep masakannya.
"Silahkan Kak."
Pria muda itu tersenyum ramah ke arah Ray. Ray hanya mengangguk dan menyerahkan buku resep masakannya. Aisyah yang menyadari ada Ray pun ikut terkejut.
"Kak Ray?"
"Em. Hai." senyum Ray canggung.
"Apa kabar kak?"
"Alhamdulillah sehat. Kamu?"
"Alhamdulillah sehat Kak."
Aisyah tersenyum. Dan lagi. Senyum itu. Ray suka melihatnya. Bahkan kalau boleh jujur, ketika situasi ini terjadi nama Aifa dan bayang-bayang Aifa hilang ntah kemana.
"Kak?"
"Ha?"
"Ada apa?"
"Em.." Ray menggaruk lehernya salah tingkah. "Tidak ada." senyum Ray lagi.
Lalu Aisyah bersemu merah. Ia tidak menyangka bahwa Ray menatapnya tanpa berkedip. Jantungnya berdebar-debar. Tidak mau ketahuan, dengan canggung Aisyah segera mengambil kantongan belanja yang berisi buku-bukunya di samping meja kasir.
"Em Kak. Aisyah pamit pulang dulu. Asalamualaikum Kak."
"Wa'alaikumussalam." Ray hanya menatap kepergian Aisyah.
Pertemuan yang singkat dan beberapa kali terjadi ini secara tidak langsung membuat Ray membatin bahwa Aisyah adalah sosok wanita yang pemalu dan ramah.
Aisyah tipe wanita yang tidak mengejar cinta. Aisyah tipe wanita yang bertawakal pada Allah ketika mencintai seorang pria.
Aisyah mencintai Ray karena Allah. Aisyah tidak pernah mengejar Ray selama ini. Sampai akhirnya Allah mendatangkan Ray untuk membuatnya mulai suka dengan Aisyah walaupun belum sebesar saat pria itu menyukai Aifa.
Dan Aisyah, wanita itu segera memasuki sebuah taksi online yang ia pesan. Aisyah duduk dikursi belakang.
Aisyah memegang dadanya yang  beregup oleh jantungnya yang berdebar.
"Ya Allah. Maafkan hamba yang jatuh cinta dengannya. Rasa cinta ini tidak pernah hilang sejak dulu. Hamba mencintai Kak Ray karena Allah. Semoga Allah segera menyatukan kami untuk bersama dalam ikatan halal. Aamiin." ucap Aisyah dalam hati.
***
Samarinda, Kalimantan Timur
Rex sudah tiba di Samarinda beberapa jam yang lalu. Saat ini ia sedang berada di kamar sebuah hotel yang dipersiapkan untuknya.
Rex mengecek ponselnya. Berharap bila sedikit saja Aifa bermurah hati hanya untuk mengirimkan pesan singkat untuknya.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Semalam Rex terpaksa harus pergi. Ia tidak ingin membuat Aifa terpuruk. Dan bila mengingat itu semua, perasaanya begitu sakit. Walaupun rasa sakit sekarang ini tidak sebanding dengan pengorbanan Aifa.
Masih ada beberapa menit untuk bertemu dengan seseorang yang akan membahas permasalahannya saat ini. 
Rex pun mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan singkat ke Aifa.
Rex : "Aifa.. kumohon kamu memaafkanku. Kata maaf ini memang tidaklah cukup untuk semuanya. Tapi aku ingin memperbaiki kesalahanku padamu. Tolong beri aku kesempatan untuk hubungan kita."
Rex : "Aku mencintaimu. Selalu. Selamanya."
Send.
***
Maaf dikit ya.
Ponsel lowbat gara2 mati listrik :(
Efek buru2 ngetik takut gak terpublikasikan 😆
Tapi makasih sudah baca ya. Sehat selalu buat kalian
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
**
Next, chapter selanjutnya. klik link dibawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar