Chapter 58 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 58 : Because I Love You





Ronald mengemudikan mobilnya dengan cepat. Untuk situasi sekarang ia tidak bisa diam begitu saja apalagi melihat istrinya seengukan.
Ronald melirik kearah Luna yang berada di sampingnya. Ia hanya berusaha sabar atas situasi ini sampai akhirnya mobil pun tiba di halaman luas rumah Hamilton.
Luna segera keluar dari mobilnya di ikuti oleh Ronald. Luna mempercepat langkahnya. Dari kejauhan, Ayesha yang memang sedang berada di teras rumah pun segera berlari dan menyambut kedatangan Luna dengan pelukan hangat.
"Luna."
"Ay!"
"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Oke?" Ayesha mengelus punggung sahabatnya itu dengan lembut.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau Rex sedang mengalami masalah?"
"Berdoalah pada Allah Luna.. kak Farrel sudah kesana kemarin. Saat ini dia kan membantu Rex."
"Ketakutanku ini membuatku tidak bisa tidur. Aku menyesal sudah mengusirnya. Dan aku juga meminta maaf atas nama putraku atas kejadian waktu itu."
"Aku sudah memaafkannya Luna. Percayalah. " Ay melepaskan pelukannya pada Luna. "Biar bagaimanapun Rex juga menantu rumah ini. Dia sudah aku anggap seperti putraku juga."
"Mana Aifa? Aku ingin berbicara dengannya."
"Dia dikamar. Masuk saja."
"Aku akan menunggu di rumah tamu." sahut Ronald tiba-tiba.
Luna hanya mengangguk dan segera menuju kamar Aifa dengan mengetuk pintunya. Awalnya Aifa tidak membuka pintunya karena sedang tidur siang. Kehamilannya yang hampir berusia 3 bulan membuat Aifa uring-uringan beberapa hari ini.
Suara pintu terketuk. Aifa terbangun. Aifa segera mengambil tisu dan mengelap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi dan kedua matanya.
Aifa berkaca didepan cermin. Memastikan semuanya baik-baik saja meskipun ia tidak bisa menutupi raut wajahnya yang sembab.
Aifa segera menuju pintu. Wanita 33 tahun itu terkejut mendapati ibu mertuanya berada didepan kamar sampai akhirnya Luna pun merasakan hatinya begitu sesak melihat wajah menantunya yang sembab.
"Mom?"
"Aifa. Apakah aku menganggumu nak?"
Aifa memeluk Luna dengan erat. "Tidak. Maaf baru membuka pintunya. Aifa tadi tidur siang. Akhir-akhir ini Aifa sering mengantuk."
Luna melepaskan pelukannya dengan Aifa. Lalu Aifa membawa Luna kedalam kamar dan duduk di sofa saling bersebelahan.
"Bagaimana janin kamu. Sehat?"
Aifa mengangguk. "Alhamdulillah sehat. Kabar baiknya insya Allah kembar Mom."
"Kembar?"
Aifa tersenyum tipis. Bahkan Aifa beralih ke laci meja samping tempat tidurnya dan memperlihatkan hasil USG nya.
"Alhamdulillah. Mom ikut bahagia. Selamat Aifa. Mom tidak sabar melihat reaksi Rex begitu mengetahuinya."
Raut wajah senyuman Aifa pun meredup secara perlahan. Hanya membahas calon buah hati yang ia cintai membuat Aifa lupa kalau ia dan Rex saling berjauhan.
"Aifa?"
Aifa menundukan wajahnya. Dengan lembut Luna menggengam punggung tangan Aifa. Aifa merasa enggan hingga akhirnya pelan-pelan Aifa menjauhkan tangan Luna.
"Maafin Aifa. Aifa masih belum bisa melupakan kejadian itu."
"Aifa.. aku.. aku meminta maaf atas nama Rex. Putraku. Dia.. kumohon maafkanlah dia. Apapun yang terjadi, tolong bantu dia. Aku yakin kamu masih mencintai Rex. Iya kan Aifa?"
Aifa tak menjawab. Aifa berusaha menahan diri agar dinding pertahanannya tidak runtuh oleh tangisan air mata.
"Tolong terima maaf dari Rex Aifa. Rex membutuhkanmu saat ini."
"4 tahun Aifa berjuang setelah Rex meninggalkan Aifa. Aifa terus mengejar putra Mommy itu. Tapi.. apa yang di lakukan waktu itu benar-benar keterlaluan."
"Aku tahu Aifa aku tahu."
Tanpa diduga Luna berpindah posisi. Ia duduk bersimpuh didepan Aifa. Aifa panik. Ia berusaha membantu ibu mertuanya itu hanya untuk berdiri.
"Mom jangan begini."
"Apa mertuamu harus memelas seperti ini demi kata maaf atas nama Rex?"
"Mom-"
"Tolong maafkan Rex. Tolong bantu dia Aifa. Rex membutuhkanmu. Setelah itu aku berjanji akan membuat Rex tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Bukankah Allah Maha Pengampun? Bagaimana dengan kita yang sebagai ciptaan Allah?"
***
Brak! Amarah Farrel benar-benar tidak bisa di tahan lagi. Farrel menggebrak meja didepan keponakannya yang kini belum bisa menyelesaikan masalahnya.
"Kenapa bisa begini Rex! Ada apa denganmu hah!"
"Maafkan aku Om Farrel. Aku tahu aku salah saat itu."
"Seorang klien datang. Dia pengusaha asing. Berkeinginan memiliki sebuah usaha pusat elektronik di kota ini. Lalu dia memintamu untuk membuat proyek ruko tiga tingkat itu. Seharusnya kamu harus bertanggung jawab sampai urusan ini benar-benar selesai!"
Rex tidak banyak berkata. Bibirnya terbungkam. Kesalahanannya adalah kenapa ia bisa lengah lepas tanggung jawab sampai akhirnya kontraktor itu memalsukan data proyeknya?
"Apa yang kamu lakukan selama ini sehingga kamu benar-benar lengah Rex!"
"Aku-"
"Aku menyuruhmu balik ke Indonesia agar bisa bekerja lebih baik setelah Ayah tirimu itu selesai menugaskan mu membimbing Ray di London!"
"Aku tahu. Aku minta maaf Om."
"Katakan padaku apa yang kamu lakukan selama proyek ini berlangsung?"
Farrel bersedekap. Kedua matanya memancarkan sorot amarah pada Rex.
"Aku.. aku pergi ke Turki-"
"Apa?! Turki? Untuk apa?"
"Karena Aifa. Wanita itu menjungkirbalikkan perasaanku." ucap Rex akhirnya dengan wajah tertunduk. Menyesal karena sudah lalai dari tanggung jawabnya.
Farrel mengepalkan kuat tangannya di atas meja. Jika tidak ada larangan rasanya ia ingin memukuli keponakannya yang bodoh itu.
"Apa kamu gila Rex?! Hanya karena urusan pribadi kamu sudah membuat puluhan orang kehilangan nyawa?!"
Farrel merasa jengah. Ia berdiri dan memunggungi Rex. Waktu yang diberikan tersisa 1 menit lagi untuk menjenguk Rex.
"Aku pemilik WK group setelah Almarhum kakek mewariskannya padaku. Dulu Ayahmu yang menjadi CEO nya."
"Seharusnya Aulia yang menempati kursi jabatanmu sejak dulu setelah aku pensiun. Tapi adik sepupumu itu begitu keras kepala. Dia memilih bekerja sebagai sekretaris seorang pria yang menjadi suaminya saat ini."
"Om.. kumohon maafkan aku."
"Sekalipun aku memaafkanmu, tanpa bukti yang kuat kamu akan mendekam disini Rex."
Salah satu polisi berbadan tinggi dan tegap memasuki ruangan itu. Dengan sopan polisi tersebut berdiri diantara mereka.
"Maaf Pak Farrel. Waktu berkunjung anda habis."
Farrel tak menggubris polisi itu. Pria paruh baya itu hanya melenggang pergi meninggalkan Rex yang hanya bisa mengharapkan keajaiban takdir padanya.
🦋🦋🦋🦋
Seminggu kemudian. 7 hari. 7 malam. Rex semakin miris dengan kondisinya. Rex tidak bisa tidur. Hanya untuk makan saja Rex tidak bernafsu.
Rex hanya memikirkan dua hal. Kasusnya cepat selesai dan saksi dari Aifa. Dilan mengatakan bahwa Aifa sulit di temui. Pengacara juga mengatakan hal yang sama.
Pengekangan yang terjadi oleh Aifa akibat aturan dari Fandi membuat Rex tidak bisa berbuat apapun. Padahal Aifa itu istrinya. Seharusnya Aifa patuh dengannya. Kenapa Aifa malah mengikuti aturan Daddynya? 
Semua serba salah. Kesalahan waktu itu membuatnya tidak bisa berbuat apapun.
Seorang polisi berdiri didepan sel. Tanpa diduga ia membuka kunci sel dan membuat Rex tidak menyangka.
"Pak Rex. Anda terlepas dari semua tuduhan anda."
Rex terkejut. "A-apa?"
"Anda bebas. Silahkan keluar."
Dengan kebingungan Rex berdiri. Rex masih tidak menyangka. Rex tahu polisi itu tidak sedang bercanda.
"Pak. Maksud Bapak apa?"
"Saksi anda sudah tiba 1 jam yang lalu. Beliau membawa bukti yang kuat sehingga kami memutuskan anda tidak bersalah. Anda-" Rex mengabaikan polisi itu. Dia berlari keluar.
"Hei mau kemana!" Polisi itu mengejar Rex yang berlarian keluar sel.
Rasa rindu begitu terasa di hati Rex. Sampai akhirnya ia melihat Aifa. Menyadari Rex sedang menatapnya, Aifa terdiam sesaat. Hanya 5 detik lalu wanita itu memilih pergi dari sana. Enggan menatap Rex.
Tiba-tiba Dilan datang menghampirinya. Dilan bersyukur akhirnya setelah penantian yang panjang atasannya itu bebas dari segala tuduhan.
"Pak."
"Dilan. Ponselku!" ucap Rex tidak sabaran. Dilan hanya mengangguk dan segera memberikan ponselnya pada Rex.
Rex menghidupkan ponselnya yang hampir seminggu tidak ia aktipkan. Ponsel sudah menyala dengan baik. Rex berharap dari banyaknya notifikasi yang masuk, ada pesan dari Aifa.
Sebuah notifikasi muncul. Nama Aifa terlihat di layarnya. Senyum Rex terbit. Rex mulai membuka aplikasi chat tersebut dan membacanya.
Aifa : "Mas sudah bebas. Sekarang bebaskan Aifa dalam semua torehan luka ini.. Aifa ingin kita bercerai."
***
Ada yang mau berpesan buat mereka? 
😢
Badai masih menerjang. Kata Aifa, kehormatannya sdh direnggut secara tidak bertanggung jawab dan itu memang sulit utk di maafkan. 😖
Makasih sudah baca. Maaf kmrin sibuk banget alhasil gak bs update.
Sehat selalu buat kalian 
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link di bawah ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar