Chapter 59 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 04 Maret 2020

Chapter 59 : Because I Love You




Ruangan ballroom hotel milik Farrel yang luas saat ini telah di datangi oleh puluhan pihak media dari berbagai macam kalangan dan wartawan. Kamera serta perlengkapan wawancara pun sudah disiapkan sedemikian rupa agar bisa memperoleh informasi dengan baik.
Dua mobil mewah berwarna hitam sudah tiba di lobby hotel tepat waktu. Salah satu pria bertubuh tinggi tegap yang menjadi petugas hotel pun dengan sigap membuka pintu mobil tersebut.
Rex keluar dari mobilnya dengan tatapan serius. Pakaian jas formal yang rapi memperlihatkan bahwa ia adalah Presdir Wk Group yang baru saja bebas dari tuduhan tidak benar atas kasus di runtuhnya ruko tiga tingkat.
Rex melangkahkan kakinya masuk ke hotel untuk menuju lift. Disebelahnya ada Farrel yang akan siap mendampingi keponakannya untuk melakukan konferensi persnya.
Dibelakang Rex dan Farrel ada Dilan dan beberapa orang-orang penting yang menjadi bawahan Rex di WK Group.
Rex sudah memasuki liftnya. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 menit lift membawanya menuju lantai 3 tempat ballroom yang akan mengadakan konferensi pers.
Pintu lift terbuka. Sorotan kamera dan kilatan blitz mulai mengambil foto Rex. Rex yang menyadari hal itu berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja apalagi saat ini dua bodyguard berbadan besar mendampinginya untuk memberi jalan padanya.
Rex sudah memasuki ruangan ballroom kemudian segera duduk disebuah meja panjang yang sudah dipenuhi banyaknya pengeras suara dari berbagai macam kalangan media.
Farrel duduk disebelah Rex. Di ikuti oleh Dilan, pengacara Rex, hingga tanpa diduga Aifa hadir didepan pintu dengan situasi yang sama. Dua bodyguard wanita bertubuh tinggi mendampinginya untuk memberikan jalan.
Aifa terlihat enggan menatap Rex. Rex berharap Aifa akan melihatnya walaupun hanya beberapa detik. Aifa sudah duduk dengan tenang. Tanpa diduga Farrel berinisiatif berpindah posisi dengan menyuruh Aifa duduk disebelah Rex.
Awalnya Aifa ragu. Tapi saat ini bukanlah melibatkan urusan pribadi. Karena itu Aifa hanya mengangguk dan duduk disebelah Rex.
Hati Rex sangat bahagia meskipun banyaknya sorot kamera yang terfokus padanya hingga membuat Rex harus bersikap formal.
Aifa merasa terkejut ketika dengan santainya Rex menggengam punggung tangannya yang kini berada di atas pahanya. Aifa berusaha melepaskan diri tapi Rex menahannya.
Konferensi pers pun di mulai. Dengan terpaksa Rex melepaskan genggamannya pada Aifa.
"Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi untuk para awak media dan rekan-rekan semuanya hari ini. Kali ini saya akan memberikan informasi yang jelas terkait kasus runtuhnya ruko 3 tingkat yang memakan sebanyak 30 korban. 18 diantarnya tewas akibat tertimbun reruntuhan bangunan. 12 pekerja lainnya mengalami luka-luka."
Sorotan kamera dan kilatan blitz sejak tadi tidak henti-hentinya mengarahkan pada Rex.
"Saya ingin mengklarifikasi kan bahwa saya tidak melakukan pengurangan bahan bangunan seperti yang dituduhkan ke saya melalui berita yang tersebar itu."
"Sebagai Presdir di WK Group. Saya menyimpan berkas asli mengenai proyek ruko tiga tingkat tersebut sebelum kontraktor perusahaan kami memalsukan datanya lalu melakukan pengurangan bahan bangunan sehingga menyebabkan ruko tiga tingkat tersebut runtuh."
Farrel mendengar semua ucapan Rex dengan baik meskipun awalnya ia sempat kecewa dengan sikap keponakannya itu yang lalai dari tanggung jawab.
"Dan polisi sudah menangkap kontraktor perusahaan kami setelah sempat melakukan pelarian dan bersembunyi di salah satu daerah terpencil di Samarinda. Polisi sudah menetapkannya sebagai tersangka.
Perusahaan kami juga sudah mengklaim dana asuransi jiwa untuk korban yang bersangkutan."
"Saya rasa itu saja yang bisa saya sampaikan demi mengembalikan nama baik saya dan perusahaan. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Rex langsung berdiri dan menarik pergelangan tangan Aifa. Untuk sementara Aifa tidak bisa menolak karena ia sendiri tidak bisa menghadapi banyaknya awak media yang mengikutinya apalagi melayangkan pertanyaan padanya.
Para bodyguard berbadan besar berusaha memberi jalan untuk Rex sampai menuju pintu lift di ikuti dengan Farrel dan Dilan dibelakangnya.
Didalam lift, Rex semakin erat menggenggam tangan Aifa. Farrel yang mengetahui hal itu hanya bisa memakluminya dan tidak bertanya apapun.
Lift sudah turun kelantai lobby. Rex tetap memegang tangan Aifa sampai  didepan mobil. Tanpa diduga Aifa melepaskan pergelangan tangannya pada Rex.
"Aifa bisa pulang sendiri."
Rex tidak terima. "Aku ingin bersamamu Aifa. Jangan menghindariku."
Aifa menatap Rex dengan datar sampai akhirnya Farrel mencegahnya. "Turuti saja kemauannya. Aifa sedang hamil. Jangan sampai kamu mempengaruhi perasaan dan pikirannya."
Aifa hanya diam lalu melenggang pergi memasuki mobilnya setelah dua bodyguard wanita bertubuh tinggi menunggunya.
***
Ray mematikan lcd nya menggunakan remote di tangannya. Ray bernapas lega setelah mengetahui kejelasan tentang kakak tirinya itu bahwa Rex tidak bersalah.
Perut Ray terasa lapar. Ia yakin sebentar lagi kakaknya itu akan pulang ke apartemen. Alhasil Ray pun berinisiatif menuju minimarket.
Ray mengambil beberapa makanan kaleng. Lalu tiba-tiba ia menghentikan niatnya. Ray teringat Aisyah yang pernah memberitahunya untuk tidak memakan makanan siap saji. Katanya tidak sehat.
Ray kembali mengembalikan makanan kaleng tersebut pada tempatnya. Tanpa diduga kedua sudut bibirnya terangkat.
"Kenapa secara tidak langsung aku menuruti omongannya?"
Ray pun beralih mendorong trolinya kebagian sayuran. Ray mengambil beberapa sayur mayur yang sudah di kemas dengan rapi. Ray juga membeli Telur. Tepung bahkan membeli ikan salmon dan beberapa bumbu dapur lainnya.
Ray rasa semua belanjaannya sudah cukup. Ray mendorong trolinya menuju kasir namun dari jarak beberapa meter ia menghentikan langkahnya.
"Jangan lupa tunggu aku malam besok ya Aisyah. Aku akan berkunjung menemui kedua orang tuamu. Ah aku juga akan membawa Papa dan Mama ku."
Aisyah terlihat tersenyum dan mengangguk. "Aisyah tunggu ya Kak. Rasanya Aisyah juga tidak sabaran dengan acara lamaran malam besok."
Jantung Ray berdegup kencang. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba menghampirinya. Tanpa sadar Ray mencengkram kuat pegangan trolinya. Ia yakin beberapa detik yang lalu Ray tidak salah dengar.
Ray menatap keduanya yang sama-sama keluar dari minimarket. Lalu berpisah di depan. Aisyah memasuki salah satu taksi online sementara pria itu pergi mengendarai motor matiknya.
Ray mengingat jelas pria itu. Seorang pria yang menjadi kasir di salah satu toko buku yang pernah ia kunjungi dan melihat Aisyah tersenyum pada pria itu.
***
Aifa terlihat tidak bersemangat. Sore sudah menjelang setelah kemarin pagi pertama kalinya ia bertemu dengan Rex setibanya pria itu dari Samarinda hanya untuk menuruti permintaan Rex mengenai konferensi persnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Aifa menatap jalanan yang ada di samping kaca mobilnya. Kegiatannya hari ini adalah pergi ke undangan bertemakan outdoor di pinggiran pantai.
Ah pantai. Lagi-lagi Aifa teringat kenangan itu. Kenangan indah bersama Rex yang sudah menghancurkan cintanya. Pantai adalah tempat yang indah. Aifa suka pantai. Tapi kenapa acara kali ini di pantai?
Mobil sudah tiba di halaman parkiran. Aifa terlalu banyak melamun dan terbelenggu oleh isi pikirannya sendiri.
"Kak Laurent tunggu disini ya."
Laurent hanya mengangguk. Aifa keluar dari mobilnya lalu berjalan menjauh. Aifa menundukan wajahnya dengan lesu. Rasanya ia tidak siap berada ditempat yang indah tapi mengingatkannya pada kenangan. Aifa sudah memasuki arena pantai. Lalu ia terkejut.
Jantung Aifa berdegup kencang. Aifa yakin ini tempat acara resepsi pernikahan temannya. Tapi kemana semua orang-orang?
Aifa menoleh kebelakang bahkan tanpa diduga mobil yang di kemudian Laurent sudah tidak ada pada tempatnya.
Aifa merogoh ponselnya dan menghubungi Aulia. Butuh deringan ke dua kali Aulia menerimanya.
"Angel!"
"Aulia Aifa Aulia!"
"Oh iya lupa."
"Ada apa? Kamu suka dengan kejutan itu?"
Aifa membelalakkan kedua matanya. "A-apa? Kejutan?" Aifa menggeleng cepat.
"Aulia! Undangan lokasinya di pantai ini kan? Laura menikah di tempat ini dan jam sekarang kan?"
"Mana ada yang namanya Laura." Aulia terkekeh geli.
"Aulia.. kamu! Ya Allah kamu keterlaluan ya! Kamu ngerjain aku ya? Kamu lupa aku sedang ham-"
Dan Aifa sudah tidak melanjutkan ucapannya. Aifa memundurkan langkahnya dengan syok. Bahkan Aifa menjatuhkan ponselnya sendiri.
Aulia tertawa geli lalu mematikan ponselnya. Dengan santai Fay merengkuh pinggulnya.
"Bagaimana dia? Berhasil?"
"Alhamdulillah berhasil Mas. Mana ada yang namanya Laura. Lagian itu undangan palsu."
"Baguslah. Setidaknya aku juga berhasil mengerjai suaminya yang bodoh itu. Gara-gara dia berlaku kasar padamu waktu di Turki, aku berniat memberinya pelajaran!"
Aulia mengerutkan dahinya. "Memangnya Mas ngapain?"
"Cukup mudah." Fay tersenyum sinis. "Saat Aifa kemari tanpa ia sadari aku memegang ponselnya yang belum terkunci sandi. Aku membajak ponselnya. Lalu dengan mudahnya aku mengirimkan pesan singkat pada Rex dengan ucapan kata cerai bertepatan saat Aifa ke Samarinda. Aku bekerja sama dengan Dilan untuk memberitahuku kapan dan waktunya Dilan benar-benar memberikan ponselnya Rex."
Aulia terkejut. "Ya Allah Mas! Itu keterlaluan! Lagian Aifa hamil. Tidak mungkin Rex akan percaya."
"Dia pasti akan percaya waktu itu. Hahaha. Biarkan saja dia. Saat itu Rex lagi galau. Kebodohan bisa mempengaruhi akal sehatnya. Setidaknya selama semingguan ini dia tersiksa." Aulia hanya menggeleng kepalanya. Lalu Fay hanya terbahak.
Berbeda dengan Rex dan Aifa saat ini.
Tanpa diduga dari kejauhan Rex berjalan kearah Aifa dengan langkah tegap. Rex terlihat tampan. Penampilan Rex sudah terlihat jauh dari kata buruk setelah seminggu yang lalu Aifa menemuinya di Samarinda.
Langkah Aifa terasa berat. Aifa ingin pergi tapi kedua kakinya serasa menahannya disana. Rex sudah berdiri di hadapan Aifa. Tanpa diduga pria itu merengkuh pinggul Aifa.
Tangan Rex berlalih mengusap lembut perut Aifa yang mulai terlihat membuncit di kehamilan hampir 3 bulan. Rex merunduk lalu mencium perut Aifa karena merindukan si kecil buah cinta yang lagi berkembang didalam rahim Aifa.
Aifa semakin gugup. Rex kembali berdiri dan menatap Aifa sangat lekat. Keduanya saling menyelami tatapan dalam diam. Aifa tidak dapat menghindar apalagi saat ini Rex malah mencium keningnya dengan lembut. Menyalurkan rasa cinta. Rasa rindu dan perasannya dari hati ke hati bahwa sesungguhnya ia sangat mencintai Aifanya.
Lalu secara perlahan air mata Rex mengalir di pipinya.
***
Halo.. bagaimana hati kalian sore ini setelah membacanya? 🖤
😆😆😆
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
***
Next, Chapter selanjutnya. Klik link di bawah ini :

1 komentar: