Chapter 3 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 29 April 2020

Chapter 3 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Perumahan Mega Lestari, Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 2009 silam

Nafisah segera menuju kediaman Alina begitu mengetahui babysitter Diyah sedikit kepayahan dalam memenangkan gadis kecil itu.

Semua berawal dari Nafisah yang menghubungi babysitter Diyah sejak pagi namun hingga sore, babysitter tersebut tidak merespon panggilannya.

Motor matik yang di kendarai Nafisah tiba didepan rumah Alina. Ia pun segera mematikan mesin motornya dan turun lalu menuju teras rumah Alina yang di sambut oleh babysitter Diyah.

"Assalamualaikum, Mbak Nafisah."

"Wa'alaikumussalam. Ada apa dengan Diyah?"

Diyah terlihat menangis. Usianya saat ini 3 tahun. Merasa tidak tega, Nafisah segera mengambil alih Diyah kemudian menggendongnya.

"Maafkan saya tidak merespon panggilan Mbak, sejak pagi, Diyah terus menangis ingin ikut kerumah sakit."

"Apakah terjadi sesuatu pada Alina disana?"

"Tiba-tiba Ibu Alina tidak sadarkan diri. Barusan Pak Danish pulang dari kerja langsung kemari hanya untuk mengambil beberapa pakaian untuk menginap dan menuju rumah sakit."

Diyah masih menangis dengan menyebut Mamanya. Dengan perlahan, Nafisah menepuk-nepuk pelan bokong Diyah.

"Sshh, sayang, diam ya, Diyah sama Tante dulu."

Diyah tetap menangis. Namun tidak sekencang tadi, merasa lelah, akhirnya Diyah hanya seenggukan di bahu Nafisah. Babysitter Diyah juga merasa tidak tega karena Diyah tidak berhenti menangis sejak tadi pagi.

"Yaudah, Mbak kalau mau makan siang, silahkan. Biar Diyah saya jagain."

"Tapi, Mbak, Diyah, tugas saya-"

"Tidak apa-apa." senyum Nafisah. "Mbak harus makan, jangan sampai telat. Lagian Diyah sudah mulai tenang."

Babysitter itupun akhirnya mengangguk pasrah walaupun sebenarnya ia memang lapar. Akhirnya ia pun meminta izin pada Nafisah untuk pergi berlalu menuju dapur. Sepeninggalannya, Nafisah menghela napasnya.

Nafisah memilih duduk di kursi teras rumah sambil memeluk Diyah yang akhirnya tertidur pulas dalam dekapannya.

Nafisah menghapus peluh keringat yang menempel di dahi Diyah meskipun hatinya sedang khawatir mengingat sejak kemarin, Alina memang tidak merespon panggilannya.

"Aku tahu, saat ini kamu sedang berjuang Lina. Aku yakin kamu kuat, kamu jangan pikirkan apapun, Insya Allah, Diyah akan aman bersamaku."

Nafisah tertawa kecil ketika ia menatap layar ponselnya. Saat ini ia sedang melakukan panggilan video call bersama Diyah selagi masih ada jam istirahat di lembaga bimbel tempat ia bekerja.

"Tante, kapan kita ketemu lagi? Diyah kangen Tante."

"Sabar sayang." Nafisah tersenyum manis. 

"Tante disini sedang bekerja mencari rezeki."

"Apakah Tante masih mengajar?"

"Iya, Tante masih mengajar disini."

"Wah, disana pasti seru. Banyak teman-teman. Nggak kayak dirumah Diyah, sepi."

Seketika Diyah merubah raut wajahnya menjadi muram. Nafisah sadar, kepergian Alina benar-benar meninggalkan duka yang mendalam bagi Diyah.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

Tidak ada lagi sosok figur seorang ibu yang menemaninya bermain dan memberikan kasih sayang. Meskipun adanya seorang babysitter, namun tetaplah beda rasanya untuk menyangkut hal kasih sayang.

"Sayang jangan sedih ya, kan ada Kakak babysitter Saskia yang bisa diajak bermain."

"Diyah cuma merasa kesepian setelah Mama pergi. Cuma Tante yang mirip seperti Mama. Sedangkan Papa, Papa harus sibuk mencari uang buat beli susu untuk Diyah."

Nafisah tersenyum tipis. Ntah kenapa hatinya ikutan terluka. Ia juga merasa kehilangan Alina, ia sudah dewasa, Tentu tahu bagaimana rasanya mengalami kesedihan. Bagaimana dengan Diyah yang masih kecil?

"Oh iya, kemarin ada Tante Ela datang kerumah." ucap Diyah lagi.

"Wah, pasti seru. Apakah dia membawa makanan yang banyak? Seperti permen? Coklat?"

Diyah tertawa kecil begitupun dengan Nafisah. Tentu saja Nafisah tahu tentang Ela yang sering di sebut-sebut oleh Diyah Tante yang baik meskipun Nafisah sendiri tidak pernah melihatnya.

"Tante Ela itu baik. Kalau datangin Diyah, Tante Ela suka membawa makanan. Kemarin malam Tante Ela membawa bubur sup terus suapin Diyah. Tapi Diyah sempat bersin terus kena Tante Ela deh."

Seketika Nafisah tertawa. Ia bisa membayangkan bagaimana wanita itu kemungkinan besar akan terkena semprotan kunyahan bubur dari mulut Diyah.

"Apakah Tante Ela marah?"

Diyah menggeleng. "Tidak. Justru Tante malah tersenyum dan sayang sama Diyah. Pokoknya Diyah di suapin sampai kenyang."

"Alhamdulillah, pokoknya Diyah harus banyak makan ya, supaya kenyang."

"Siapp Tante. Oh iya, Tante, kok ponsel Kakak Saskia panas ya?"

"Panas?" Nafisah mengerutkan dahinya. 

"Em, kayaknya karena kita kelamaan video call deh. Makanya ponsel Kak Saskia panas."

"Apakah bisa dingin?"

"Tentu bisa. Bagaimana kalau nanti kita sambung lagi? Ponsel Kak Saskia harus istirahat. Tante juga mau masuk jam kerja nih. Diyah juga harus makan siang ya, oke?"

Diyah mengangguk patuh. Sementara Nafisah tersenyum tipis.

"Oke, Tante. Dadaaa, Diyah pergi dulu. Assalamualaikum,"

"Wa'alaikumussalam, dadaaaa sayang."

Klik, panggilan video call terputus. Sambungan pun berakhir. Nafisah menatap layar ponselnya. Setiap video call dengan Diyah, ada kalanya gadis itu bercerita kalau wanita yang bernama Ela itu datang berkunjung kerumahnya.

Diyah juga bilang Ela adalah anak Pak RT di dekat rumahnya dan masih kuliah. Ntah kenapa firasat Nafisah mengatakan kalau Ela masih single dan belum berkeluarga.
Nafisah tersenyum tipis.

Bila memang suatu saat wanita yang bernama Ela itu berhasil menarik perhatian Diyah beserta keluarganya, kemungkinan besar suami almarhumah sahabatnya itu tidak akan menduda lagi.

"Diyah, semoga suatu saat kamu segera menemukan sosok Ibu yang baik dan menerima kamu sepenuh hati, ya, sayang."  ucap Nafisan pelan.

****

Bimbingan Belajar Belajar SD - SMP - SMA Nusantara. Pukul 17.00 sore, Bontang Kalimantan Timur.

Hujan turun dengan deras. Nafisah menyesal karena tidak membawa jas hujan dalam jok kendaraan motor matiknya. Sementara Humaira, teman kerja Nafisah itu, sejak tadi ikut mendengkus kesal akibat tidak bisa pulang juga.

"Ya Allah, hujannya kapan berhenti ya?"
Nafisah menoleh kesamping. Humaira terlihat muram.

"Sabar, Ra, namanya sudah takdir kalau sore ini hujan. Mau gimana lagi?"

"Iya, tapi-"

Tint! Suara klakson mobil menghentikan dumelan Humaira. Sebuah mobil berhenti tepat didepan Nafisah dan Humaira. Pintu kaca mobil turun dengan perlahan, Nafisah terkejut kalau pemilik mobil itu adalah Irsyad.

"Butuh tumpangan? Ayo, saya antar."

"Kak Irsyad!" Dengan sumringah Humaira mengangguk. Tentu saja ia senang karena tiba-tiba Kakak kandungnya itu datang disaat yang tepat. "Kak, aku ikut nebeng ya?"

"Boleh, ayo masuk, ntar keburu telat sampai rumah." ajak Irsyad lagi.

"Nafisah, ayo, bareng aku dan Kakakku, yuks!"

Nafisah melongo menatap Humaira. Ia terkejut. Ternyata dunia ini sempit, selama 6 bulan ia bekerja bersama Nafisan di lembaga bimbel, ia baru tahu kalau Irsyad adalah Kakak kandung Humaira.

"Haloo, Nafisaaahhh?" Humaira menjentikkan jarinya didepan wajah Nafisah.

"Ha?"

"Ayo! Buruan!"

"Tapi-"

Dengan cepat pergelangan tangan Nafisah sudah di tarik oleh Humaira. Sesampainya didalam mobil, Irsyad menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya.

Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang. Sementara Nafisah berusaha untuk tenang namun tidak bisa. Rasanya ia begitu kesal dengan Humaira yang malah sibuk bermain ponsel, tidak mengajaknya berbicara agar ia tidak merasa canggung.

Nafisah sadar, spion tengah milik Irsyad secarat tidak langsung
memang terarah ke wajahnya. Nafisah mencoba melirik kesamping kaca mobil, memperhatikan jalanan yang tidak macet namun sepi karena jalanan kota Bontang sedang di guyur hujan.

Nafisah menghela napasnya, tanpa sadar, ia menoleh kearah spion lalu secepat itu Irsyad melihat kearah depan setelah ketahuan tertangkap basah menatapnya ntah sudah berapa lama.

Jantung Nafisah berdegup kencang. Pipinya merona merah. Tak hanya itu, Irsyad pun merasa ingin membenturkan saja keningnya pada kemudi stir karena sempat tercyduk melihat Nafisah, guru les privat keponakannya yang meneduhkan.



****

Ada yang bermula dari saling tatap menatap 😂😂

Tapi kita tidak pernah tahu, apakah suatu saat mereka berjodoh atau nggak hhe. Seperti judulnya, Jodoh dari Lauhul Mahfudz. Kan jodoh itu rahasia Allah.

Jadi nikmati aja alurnya secara perlahan ya, hhe.

Tetap Stay di cerita ini. Insya Allah besok up chapter 4.

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.

Jangan lupa scrool ke bawah lalu beri komentar ukhti atau bisa juga screenshot chapter ini, baru upload ke snapgram kemudian tag/ mention ke akun Instagram author juga boleh hhe 😁

Jazzakallah Khairan :)

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Instagram : lia_rezaa_vahlefii

____

Next  Chapter 4 selanjutnya. Langsung klik link dibawah ini :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/04/chapter-4-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1

6 komentar:

  1. Ditunggu komentarnya kalian ya Jazzakallah Khairan ;)

    BalasHapus
  2. ah penasaran siapa jodohnya Nafisah ini?

    BalasHapus
  3. Wkwkw tetap stay di cerita ini ya ;)

    BalasHapus
  4. Masyaallah...semakin tidak sabar nextnya

    BalasHapus
  5. Cepet up ya kak... lagi gabut nih😁

    BalasHapus
  6. Ditunggu lanjutannya Mak Lia...semangat terus ya ♥

    BalasHapus