Chapter 4 : Jodoh dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 30 April 2020

Chapter 4 : Jodoh dari Lauhul Mahfudz




Rumah sakit kota Balikpapan, tahun 2010 silam.

Danish menggenggam punggung tangan Alina yang memucat seiring berjalannya waktu. Sudah seminggu, istri tercintanya itu masuk rumah sakit lagi meskipun sempat pulang ke rumah. Kabar menyedihkan juga menyapa keluarga, Alina sudah vonis kanker rahim stadium akhir.

Sebulir air mata menetes di punggung tangan Alina. Air mata yang berasal dari Danish. Danish menatap kondisi Alina yang semakin memprihatinkan. Wajah Alina terlihat pucat dan tirus. Bibirnya memutih dan rambut kepalanya mulai menipis seiring berjalannya waktu karena rontok setelah kemoterapi.

Tapi karena cinta, Danish tidak mempermasalahkan dengan fisik dan penampilan Alina. Ia akan tetap mencintai Alina hingga sampai kapanpun.

"Alina, bertahanlah demi semuanya. Ya Allah, bila dokter sudah memvonisnya, tapi hamba selalu yakin dan optimis bahwa Allah lah yang bisa menyembuhkan penyakit istri hamba. Aamiin."

Danish mencium punggung tangan Alina lagi. Ia bahkan sudah tidak perduli lagi nasib kerja dan deadline berita koran yang sudah menghampirinya. Alina lah yang paling penting saat ini. Apalagi kanker stadium akhir yang di alami Alina sudah menyebar ke hampir semua organ-organ lainnya.

Seperti hati, tulang, paru-paru, dan kelenjar getah bening. Sering kali Alina mengeluhkan mual dan muntah. Sakit saat buang air kecil. Dan masih banyak lagi.

Alina masih tidak sadarkan diri sejak dua hari yang lalu. Kondisinya melemah setiap harinya dan detik berikutnya, hanya suara isakan Danish yang terdengar di keheningan ruangan yang dingin dan senyap.

"Assalamualaikum, Mama."

Diyah tersenyum ceria sambil berjongkok disamping gundukan tanah almarhumah Mamanya. Ia menyempatkan waktu bersama Papa Danish untuk berziarah ke makam sang Mama setiap hari Minggu sore. Diyah juga meletakkan setangkai mawar merah ke atas gundukkan tanah yang kini berusia 1 tahun.

"Mama, Diyah kangen sama Mama. Diyah kemari sama Papa. Papa juga kangen Mama, kan?"

Buru-buru Danish menghapus buliran air mata di sudut matanya sebelum Diyah melihatnya. Danish pun ikut berjongkok di samping Diyah.

"Iya sayang, tentu saja Papa kangen sama Mama." Danish menoleh kearah batu nisan Alina dan tersenyum tipis. "Aku merindukanmu, Alina. Maaf baru bisa berziarah ke makam kamu."

"Diyah yakin, Allah sayang sama Mama. Allah memanggil Mama duluan daripada Diyah dan Papa. Semoga Mama selalu tenang disana dan calon penghuni surga bersama Diyah dan Papa nanti. Aamiin."

Diyah pun segera membuka tas ransel bergambar kartun Barbie kemudian mengeluarkan isinya. Sebuah buku surah Yasin bergambar wajah Alina.

"Papa, ini buku surah Yasin nya. Ayo kita kirim doa buat Mama. Mama pasti menunggu kiriman doa dari kita."

Danish mengangguk. Ia tersenyum tipis karena bersyukur, Diyah adalah buah cintanya bersama Alina yang benar-benar pengertian dan kuat.

Tanpa menunda waktu lagi, Danish segera membuka halaman pertama untuk membaca surah Al-fatihah di lanjutkan dengan surah pendek lainnya kemudian surah Yasin.

Danish begitu khusyuk membaca surah Yasin untuk Alina. Tapi ia tidak sadar, bahwa air mata Diyah akhirnya menetes di pipinya.

"Mama, Diyah nggak bisa lupain Mama. Maafin Diyah yang dulunya nakal. Diyah janji, Diyah tidak akan nakal lagi bersama Papa." lirih Diyah dalam hati.

*****

Taman Bekapai, Kota Balikpapan. Kalimantan Timur. Pukul 16.30 sore.

Demi menyenangkan hati Diyah, Danish memilih mengajak Diyah bersantai-santai sejenak di sebuah taman yang ada di kota Balikpapan.

Taman yang di namai taman Bekapai itu adalah sebuah taman yang sejuk, memiliki banyak tempat duduk serta di penuhi tanaman-tanaman yang terawat. Suara air mancur terdengar, angin sepoi-sepoi. Beberapa orang-orang yang sedang bersantai-santai di Taman Bekapai ada yang sekedar duduk-duduk, joging santai, dan menikmati cemilan pedangan kecil didepan pagar taman.

Diyah terdiam menatap sebuah keluarga dari kejauhan. Seorang Ibu menyuapkan makanan ringan ke anak perempuan yang seusia dengan Diyah. Ntah kenapa hati Diyah terasa sedih. Tentu saja ia merindukan kasih sayang seorang Ibu.

"Diyah, ayo, es creamnya di makan."

Diyah menoleh kearah Papanya. Lalu ia menatap cup es cream yang berada di tangannya.

"Iya, Papa. Diyah akan makan sekarang juga."

"Iya, nih, Papa juga makan es cream yang sama seperti Diyah."

Diyah pun mengangguk lalu mulai menyendokkan es cream kedalam mulutnya. Danish pun merasa hatinya ikutan terluka, apa yang dirasakan Diyah, tentu saja ia merasakan hal yang sama.

"Kita harus sama-sama sabar Diyah, ini sudah menjadi takdir kalau Allah sudah memanggil Mama untuk selama-lamanya." ucap Danish dalam hati.

"Papa?"

"Ya, nak?"

"Papa, bolehkah Diyah menghubungi Tante Nafisah?"

Seketika Danish terdiam. Mendengar permintaannya Diyah yang secara dadakan membuatnya sedikit terkejut. Sebelumnya Diyah tidak pernah berkata seperti itu meskipun ia pernah mendengar nama Nafisah.

"Untuk apa nak?"

"Tiba-tiba, Diyah kangen Tante Nafisah. Kalau Diyah lagi sedih, biasanya Tante Nafisah bisa menghibur Diyah."

Danish tersenyum. "Jangan ya sayang, lagian ini sudah sore. Lebih baik kita pulang."

Danish sudah selesai memakan es creamnya. Ia pun membuang ke tempat sampah yang ada di sampingnya. Sementara Diyah belum selesai menghabiskan es creamnya.

Diyah merasa kecewa karena Papanya menolak permintaannya. Seperti naluriahnya, akhirnya air mata menetes di pipi Diyah. Ia pun menundukan wajahnya kemudian menangis. Danish menghela napasnya. Ia pun berjongkok menatap putrinya.

"Diyah.."

"Apakah Diyah tidak boleh berbicara sama Tante Nafisah?"

"Sayang, bukan begitu maksud Papa nak,"

"Terus apa?"

"Papa hanya-" dan Danish terdiam begitu saja. Alasan apa yang tepat untuk putrinya agar paham? Nafisah itu seumuran dengan Alina, wanita itu bukan saudara, rasanya tidak enak bila menghubungi wanita itu menggunakan nomor ponsel pribadinya.

Tanpa diduga, Diyah mengeluarkan sesuatu dari tas ransel miliknya. Sebuah dompet kecil bergambar boneka panda.

"Apakah Papa tidak ada pulsa? Diyah punya uang buat belikan Papa pulsa. Diyah punya uang tabungan seperti Mama yang dulunya pernah menyimpan didalam dompet."

Danish benar-benar tidak menyangka dan sedikit terkejut. Akhirnya ia pun mengalah dan tersenyum.

"Justru Papa banyak pulsa. Yaudah, ini.." Danish mengeluarkan ponselnya. Seketika raut wajah Diyah ceria. "Tapi janji ya, jangan lama-lama telponannya. Ini sudah terlalu sore, jadi harus segera sampai dirumah."

"Terima kasih, Papa!"

Danish hanya mengangguk sambil mengusap kepala Diyah yang tertutup hijab. Detik berikutnya Diyah mengeluarkan sebuah buku binder bergambar princess. Didalamnya terdapat tulisan Diyah yang tidak rapi dengan deretan angka nomor ponsel Nafisah.

Danish menatap Diyah dengan seksama. Sesederhana itu, putrinya kembali ceria. Seceria ketika almarhumah Alina menghibur Diyah ketika bersedih.

"Alina, aku tidak mengerti kenapa dan ada apa sebenarnya antara Diyah dan sahabatmu. Kamu tahu? Sudah beberapa bulan ini Papa dan Mama dirumah selalu menyebut nama sahabatmu itu sebagai penghibur hati disaat Diyah bersedih."

****

Danish mulai bertanya-tanya dalam hatinya.

Tapi semua itu demi Diyah.. :)

Alhamdulillah cuma fiksi meskipun sedikit nyesek part ini. Sama-sama kehilangan sosok yang di cintai..

Tetap Stay di cerita ini ya, Insya Allah besok up Chapter 5 nya.

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.

Kalau mau komentar, boleh scroll sampai bawah dan beri komentar. Atau kalau mau screenshot chapter ini seperti biasa kemudian tag mention ke instagram author, juga boleh :D

Jazzakallah Khairan..

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 5. Langsung klik link dibawah ini ;

https://www.liarezavahlefi.com/2020/05/chapter-5-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


6 komentar:

  1. Nyesek bangettt pen nangis:((

    BalasHapus
  2. Baper mb,,ceritanya
    Mdhan danis berjodoh ya dengan nafisah

    BalasHapus
  3. Apalagi author yg nulis, tambah baoer berlipat-lipat hhe 🤧😁

    BalasHapus
  4. Semangat, dik 🥰 *kayaknya saya lebih tua deh. Sukaaa ceritanya 🥰🥰

    BalasHapus
  5. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca juga ☺️

    BalasHapus