Jodoh Dari Lauhul Mahfudz : Chapter 1 - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 26 April 2020

Jodoh Dari Lauhul Mahfudz : Chapter 1





Rumah sakit kota Balikpapan, tahun 2007 silam..

Nafisah melangkahkan kedua kakinya menuju lorong koridor rumah sakit guna mencari tahu dimana ruangan rawat inap sahabatnya bernama Alina.

Setelah mendapat kabar bahwa Alina masuk rumah sakit tiga hari yang lalu, saat itu juga Nafisah menuju kota Balikpapan.
Sebelumnya Nafisah tinggal di kota Bontang, Kalimantan timur. Butuh waktu, 5 jam perjalanan yang ia tempuh menggunakan transportasi bus untuk bisa sampai ke kota Balikpapan.

Pintu ruang rawat inap Alina berada didepan mata, dengan menghela napasnya, Nafisah pun memasukinya.

"Assalamualaikum,"

"Wa'alaikumussalam.."

Aminah menyambut kedatangan Nafisah. Beliau adalah mertua Alina. Nafisah pun segera mencium punggung tangan Aminah.

"Tante.."

"Nak Fisah, ya Allah, kamu apa kabar, nak?"

"Alhamdulillah Fisah baik Tante."

"Kesini sama siapa?"

"Sama Abang. Kebetulan Abang kerja di kota ini, jadi sekalian ikut."

"Ah begitu." Aminah pun menoleh ke belakang, di ikuti arah pandang Nafisah. "Kanker rahim stadium 1, itu yang di alami Alina."

Nafisah menatap Alina dengan iba. Detik berikutnya kedua mata Nafisah sudah berkaca-kaca. Hatinya begitu sesak mendapat kabar duka seperti ini. Seperti yang di ketahui sejak dulu, Alina di kenal sebagai sahabat yang jarang sakit.

"Dia baru saja tidur." ucap Aminah lagi. Kemudian mengajak Nafisah duduk di sofa ruangan.

"Ayo diminum, maaf adanya ini."

"Tidak apa-apa Tante, tapi terima kasih."
"Sama-sama."

Nafisah segera meminum air kemasan mineral ukuran 400ml yang terhidang diatas meja sofa. Nafisah memperhatikan ruangan sekitar yang memang sepi dan khusus merawat satu pasien saja.

"Oh iya, Diyah mana, Tan?"

"Diyah sama babysitter nya dirumah."

"Babysitter?" Nafisah mengerutkan dahinya.

 "Alina nggak pernah cerita sama saya kalau Diyah dirawat sama Babysitter."

"Iya, tapi baru tadi malam Danish menghubungi jasa Babysitter buat membantu kami menjaga Diyah."

Nafisah hanya bisa terdiam. Semua memang masuk akal mengingat usia Diyah yang ia tahu saat ini sudah menginjak hampir 1 tahun. Sedangkan orang tua Alina sudah berusia senja, jelas saja tidak mampu menjaga cucunya sendiri secara maksimal terlebih suami Alina adalah wartawan berita koran harian yang kerap kali di kejar deadline.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

"Saya turut bersedih mendengar kabar ini, Tante, saya tidak menyangka kalau penyakit kanker rahim yang menimpa Alina membuat saya syok."

"Terima kasih, Nafisah, maaf sudah membuatmu repot-repot kemari."

"Saya tidak merasa kerepotan, Tan. Justru saya harus ada disaat Alina membutuhkan saya."

"Mamah..."

Suara lirihan Alina terdengar, sontak membuat Nafisah dan Aminah mendekati brankar pasien. Sayup-sayup, Alina membuka kedua matanya sambil mengumpulkan kesadarannya, detik berikutnya ia langsung terharu.

"Fi..Fisah?"

"Iya, Lina, aku disini."

Nafisah tak kuasa menahan air matanya sejak tadi, ia pun memeluk Alina dengan pelan. Ntah kenapa kesedihan yang Alina rasakan benar-benar ikut terasa di hatinya.

"Aku yakin, kamu kuat Lina. Aku yakin. Kita harus sama-sama kuat, ini hanya ujian dari Allah buat kita semua." lirik Nafisah pelan.

"Maaf, maafkan aku, maaf sudah membuatmu sedih Fisah."

"Ssh, semuanya akan baik-baik saja. Aku disini, aku akan temani kamu. Kamu istirahat ya."

Nafisah melepaskan pelukannya. Ia pun menyentuh punggung tangan Alina yang tidak terpasang jarum impus.

"Aku akan sering-sering kesini kok jenguk kamu."

"Itu jauh banget, Fisah. Jarak Balikpapan dan Bontang-"

"Aku tinggal di kota ini sampai aku bosan. Kebetulan aku lagi nganggur dan baru resign kerja. Jadi aku ikut Kakakku kesini."

"Kamu tinggal sama Abang dan Kakak iparmu?"

"Hm, iya."

Alina tersenyum tipis di balik raut wajahnya yang pucat. Setidaknya Alina juga bersyukur, ia bisa menemani sahabatnya yang sedang terpuruk.

"Bunda?"

Nafisah segera mengalihkan tatapannya pada seorang gadis kecil berusia 4 tahun. Gara-gara ia teringat kejadian 5 tahun yang lalu, hampir saja dia melupakan Rara, murid yang sedang ia ajari dalam les private membaca dan menulis. Kegiatan les privat itu adalah kegiatan freelance yang ia lakukan setiap seminggu tiga kali.

"Eh? Iya sayang, Rara sudah selesai menulis?"

Rara mengangguk. "Sudah Bunda."

"Sini, Bunda lihat."

Nafisah memperhatikan kerja keras Rara yang berusia 4 tahun. Rara sudah bisa menulis 5 huruf A sampai E. Nafisah tersenyum tipis.

"Masya Allah, Rara hebat. Rara juga pintar. Sekarang lanjut lagi ya?"

Rara mengangguk antusias, pujian yang di berikan Bunda Nafisah membuatnya semangat dan senang. Tiba-tiba pintu terbuka pelan, seorang pria berusia 29 tahun datang memasuki ruangan.

"Assalamualaikum?"

"Wa'alaikumussalam." jawab Nafisah pelan.

"Yey, Om Irsyad datang!"

Dengan riang Rara berdiri dari duduknya sejak tadi dan berlari kearah Irsyad. ia menoleh kearah Rara yang tengah disambut oleh Om nya kemudian di gendong.

Seketika Nafisah terdiam. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah buku tugas yang ia tulis dengan huruf abjad. Pipi Nafisah merona merah. Sementara jantungnya berdegup kencang. Ntah kenapa selama 3 bulan menjadi guru private Rara, rasa kagumnya pada Irysad semakin menjadi saja.

Seperti yang diketahui, kata Bunda Rara, keponakannya bernama Irsyad itu berprofesi sebagai pimpinan perusahaan tambang batu bara.

"Sayang, ini ada kue buatmu. Nanti makan sama-sama dengan guru kamu ya?"

"Namanya Bunda Nafisah, Om. Bunda sangat baik!"

Irsyad tersenyum tipis. Ia melirik kearah Nafisah. Baginya, Nafisah memang cantik dan berwajah teduh. Setiap kali ia mengunjungi Rara, ia sering mendapati Nafisah yang sibuk membuat tugas untuk Rara.

"Hm, iya sayang iya, oh iya, Bunda ada didalam?"

"Bunda pergi sebentar sama Ayah."

"Oh ya? Kemana?"

Irsyad menurunkan Rara dari gendongannya, tapi Rara malah menarik pergelangan tangannya.

"Rara nggak tahu. Ayo om, temani Rata belajar. Om harus lihat, Rara sudah hebat menulis huruf. Iya kan Bunda?"

Seketika Nafisah tersentak. Sebenarnya ia sudah selesai membuat huruf untuk Rara. Tapi sejak tadi ia pura-pura sibuk agar tidak menatap interaksi Rara dan Irsyad. Demi menghargai Rara, akhirnya Nafisah pun menoleh kearah keduanya.

"Masya Allah, kenapa Irsyad makin hari makin tampan saja?" ucap Nafisah dalam hati.

"Em, iya sayang. Ayo lanjut lagi belajarnya."
Rara pun kembali mendekati Nafisah. Tapi tidak dengan Irsyad sendiri, ia hanya tersenyum tipis melihat Nafisah yang ramah dan santun. Akhirnya, ia pun memilih pergi dari sana dan menuju kamar tamu.

Setelah kepergian Irsyad, saat itu juga Nafisah bernapas lega sambil mengelus dadanya dengan pelan. Ia sendiri tak habis pikir, apakah ia selalu begini jika bertemu Irsyad?
🖤🖤🖤🖤

Nafisah diam-diam kagum dengan Irsyad, bagaimana nasib Danish selanjutnya? Tetap Stay di cerita ini ya.

Insya Allah akan di up besok lagi.

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat kalian.

Jika berkenan, Jangan lupa beri komentarnya atau screenshot chapter ini  kemudian tag/mention ke akun Instagram author lia_rezaa_vahlefii sebagai
Apresiasi ukhti yg sudah mengikuti kisah ini. 

Jazzakallah Khairan ukhti 💕

WithLove
LiaRezaVahlefi

Instagram : lia_rezaa_vahlefii

__

Next Chapter 2, klik link dibawah ini :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/04/jodoh-dari-lauhul-mahfudz-chapter-2.html?m=1




1 komentar: