Jodoh Dari Lauhul Mahfudz : Chapter 2 - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 27 April 2020

Jodoh Dari Lauhul Mahfudz : Chapter 2




Rumah Sakit kota Balikpapan, tahun 2008 silam..

"Mas, sudah makan?"

"Sebentar lagi aku akan makan, sayang."

"Jangan ditunda ya, em, Mas lagi dimana?"

"Aku lagi di lokasi kejadian. Keadaan disini begitu macet. Ternyata kebakarannya disebabkan oleh tabung gas yang meledak."

"Oh gitu. Mas, Alhamdullilah disini aku nggak kesepian kalau Mama pulang jagain Papa."

"Sahabat kamu berkunjung lagi ke rumah sakit?"

"Iya, Mas. Alhamdulillah, sebulan sekali dia kemari kalau libur tanggal merah."

Danish tersenyum tipis. Sejak dulu ia memang tahu, bahwa istrinya itu memiliki sahabat bernama Nafisah meskipun ia tidak pernah melihatnya.

"Dia sahabat yang baik. Ah, dia kemari apakah sudah mendapatkan izin dari suaminya?"

"Justru dia ikut ke kota ini sama Abangnya, Mas. Dia itu belum menikah. Waktu datang ke resepsi kita saja dia tidak membawa pasangan. Mas lupa ya?"

Danish tersenyum miris. "Bahkan aku tidak tahu orangnya yang mana."

Alina tertawa geli di balik suara panggilan ponsel. Danish sadar, meskipun kondisi Alina sering ngedrop, tapi istrinya itu tetap optimis untuk bisa sembuh meskipun kanker yang di hadapi sudah berlanjut stadium 2.

"Iya, deh iya, yang nggak pernah merhatiin wanita lain."

"Itu tugasku Alina. Seorang pria wajib menundukan pandangan kepada yang bukan mahramnya. Dia sahabatmu, bukan saudara yang tidak terlalu penting bagiku."

"Em, iya Mas, aku- argh.."

Danish panik. "Alina, kamu baik-baik saja?"

"Perutku hanya sakit."

"Yaudah, kamu istirahat ya. Sahabat kamu masih disana?"

"Iya Mas, dia ke toilet sebentar."

"Insya Allah, sore ini, begitu semua pekerjaanku selesai, aku akan kesana. Maafkan aku Alina."

"Ya Allah, Mas, justru aku yang minta maaf sama kamu sudah merepotkan kamu. Penyakitku-"

"Sshh, jangan bicara seperti itu lagi. Oke? Ini hanya ujian dari Allah buat kita. Yaudah, sayang istirahat dulu ya, Aku lanjut meliput berita dulu. Assalamualaikum."

Tint! Suara klakson pengendara lain membuat lamunan Danish tersadar ketika ia baru saja berhenti di persimpangan jalan, tepat didepan rumah sakit kota Balikpapan.

Salah satu tempat kenangan yang tak terlupakan dalam hidupnya. Istri yang ia cintai telah menghembuskan nafas terakhir setahun yang lalu di rumah sakit tersebut.

Danish mengendarai motor matiknya dengan kecepatan sedang. Di bagian pengait barang, terdapat beberapa kantong plastik yang berisi boneka dan kue untuk keluarga dan Diyah.

Dibalik masker yang di gunakan, Danish tersenyum tipis. "Tunggu Papa nak, sebentar lagi Papa akan sampai di rumah."

****

Perumahan Mega Lestari, Kota Balikpapan. Pukul 17.00 sore.

Suara tawa gadis kecil terdengar riang. Dengan senang, Diyah asyik bermain boneka kecil berbentuk panda sambil duduk diruang tamu.

Disekitar Diyah, terdapat mainan rumah-rumahan mini, lego, puluhan bola kecil plastik, boneka-boneka yang berhamburan, dan botol minum Diyah yang tumpah di atas meja.

Aminah menghela napasnya memperhatikan disekitar cucunya. Padahal rumah baru saja di bersihkan 30 menit yang lalu, semua mainan Diyah sudah tertata rapi di box mainan. 

Namun sepertinya, masa bermain seorang gadis kecil yang belum mengerti apa-apa dan suka menghambur secara sembarang memang tak bisa di pungkiri.
Aminah mencoba sabar, ia tersenyum tipis. Sebagai seorang nenek berusia 60 tahun, ia juga mencoba memaklumi kodratnya seorang anak kecil yang suka bermain seperti Diyah. 

"Sayang, kenapa air minumnya sampai tumpah?"

Mendengar suara Aminah, Diyah menoleh kearah Neneknya. Ia pun segera berdiri.

"Maafin Diyah, nek, tadi Diyah minum. Terus lupa kasih tutup botolnya."

Aminah mengusap kepala cucunya. "Yaudah, ayo bereskan mainannya ya, sudah sore. Sebentar lagi Papa akan datang. Diyah harus mandi."

"Uhuk.. uhuk.. uhuk.."

Diyah mengangguk patuh. Kemudian segera membereskan mainannya. Baru saja Aminah mengumpulkan Lego mainan milik Diyah, samar-samar Aminah mendengar suara suaminya terbatuk dari dalam kamar.

"Diyah, kamu beresin mainan kamu ya, Nenek mau ke kamar dulu. Kakek butuh minum."

Diyah mengangguk lagi. Sementara Aminah sudah berlalu pergi. Tiba-tiba Diyah menghapus peluh di dahinya. Ia merasa kepanasan. Padahal mainan belum saja selesai, namun Diyah memilih ke kamar mandi begitu saja untuk mandi.

****

10 menit kemudian..

Danish tiba dirumahnya tepat waktu. Ia pun mematikan mesin motor matiknya kemudian segera turun dari atas motor. Danish memasuki rumah.

"Assalamualaikum?"

Danish membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Danish menghela napasnya karena sempat khawatir kenapa pintu rumah tidak terkunci. Danish mencoba berprasangka baik kalau Mamanya mungkin lupa menguncinya.

Ruang tamu terlihat berhamburan. Banyak mainan Diyah dimana-mana. Tanpa membuang waktu lagi, Danish menelusuri seisi rumah dan melihat pintu kamar mandi terbuka.

Danish syok, rupanya Diyah mandi sore tanpa melepas pakaiannya. Tak hanya itu, Diyah juga terlihat asyik bermain gelembung sabun yang berasal dari botol sampo sementara bak mandi yang ada disampingnya sudah penuh dengan air sabun.

"Papa lihat! Diyah banyak membuat balon. Yey! Balon sudah ada dimana-mana."

Danish ingin marah, tapi tidak mungkin. Diyah tidak akan mengerti, ia pun tersenyum tipis dan mencoba sabar mengurus Diyah. Sesabar almarhumah Alina yang memberinya penuh kasih sayang.

"Sayang, ayo mandi. Jangan lama-lama disini. Apakah kamu tidak takut kecoa akan datang?"

"Kecoa? Binatang yang bersayap dan banyak kaki?'

"Iya, dan itu beracun. Ayo cepat mandi."

Raut wajah Diyah berubah ketakutan. Ia pun mengangguk. Danish pun tersenyum lagi kemudian memandikan putrinya beserta menguras bak mandi yang berisi air sabun.

****

Malam harinya, pukul 20.00 malam.

Kecelakaan melibatkan pedagang kecil hingga meninggal dunia.

Muhammad Danish-BalikpapanNewsKaltim
Jumat, 01 Januari 2012 20.00 WITA.

Foto : Ilustrasi : Erwin

Balikpapan - Kecelakaan yang terjadi pada pukul 14.00 siang di jalan Pattimura, kota Balikpapan, Kalimantan Timur sempat membuat sejumlah pengendara mengalami kemacetan.

Satu orang pengemudi mobil keluarga dengan plat kendaraan kota Balikpapan tewas seketika di tempat. Tak hanya itu, seorang pedagang kecil yang menjual bakso menggunakan  rombong ikut kehilangan nyawa ditempat ketika menyebrangi jalan bertepatan saat mobil tersebut melintas dengan kecepatan tinggi hingga berakibat naas.

"Kejadiannya begitu cepat dari arah kanan setelah mobil itu menyerobot lampu lalu lintas yang sedang menyala merah. Pedagang bakso tersebut tidak bisa menghindar hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Saya sampai syok melihatnya," kata Linda, salah satu warga yang menjadi  saksi mata di tempat kejadian perkara seperti yang di lansir, (01/01/2012)

Mobil dan jasad korban kecelakaan tersebut langsung di evakuasi oleh pihak kepolisian bersama tugas Damkar.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terketuk pelan. Danish menoleh kebelakang. Saat ini ia sibuk bekerja karena sedang di kejar deadline oleh pemberitaan kejadian kecelakaan tadi siang.

Ponsel Danish berbunyi. Nama direktur percetakan tempat ia bekerja di BalikpapanNewsKaltim terpampang di layarnya.

"Ya, Pak Rahmat, Asalamualaikum?"

"Wa'alaikumussalam. Bagaimana Danish? Saya tunggu loh beritanya malam ini supaya cepat di cetak dan dimuat koran besok pagi."

"Iya, Pak, sebentar lagi saya akan kirim."

"Oke, saya tunggu ya, Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Tok.. tok.. tok..

"Papa? Apakah Papa masih sibuk?"

Danish menghela napasnya. Ia pun akhirnya menuju pintu kemudian membuka pintunya. Dilihatnya ada Diyah sedang memeluk beberapa Snack di tangannya.

"Papa, diluar ada Tante Ela. Dia kesini bawa cemilan."

"Oh ya?" Danish pun berjongkok kemudian mencium pipi putrinya. "Terus?"

"Katanya dia kangen sama Diyah, nanti Papa keluar ya. Diluar banyak makanan. Diyah nggak mungkin bisa menghabiskan semuanya."

"Iya sayang, Diyah tunggu diluar ya. Papa masih sibuk."

Diyah mengangguk patuh kemudian segera keluar. Sesampainya diruang tamu, Ela tersenyum riang. Berharap apa yang ia inginkan tercapai.

"Gimana? Apakah Papa mau keluar?"

"Papa sibuk, Tante."

Ela tersenyum tipis. Tapi sebenarnya hatinya kecewa. Sudah 6 bulan ini ia mendekati keluarga Danish. Ntah kenapa semenjak Danish menduda, ia merasa tertarik untuk mendekati Danish yang baik, sopan, ramah, dan penyayang. Pria itu juga di kenal Soleh oleh masyarakat sekitar apalagi sering mengikuti kegiatan keagamaan di mesjid.

Untuk mendekati Danish, satu-satunya cara adalah mendekati Diyah terlebih dahulu. Ela tersenyum ramah.

"Nah, ini ada bubur sup. Mau Tante suapin?"

"Iya Tante, mau. Yey! Diyah mau bubur."

Ela pun mulai menyuapi Diyah dengan lahap. Namun, baru saja mengunyah, tiba-tiba Diyah merasa hidungnya gatal.

Hatciii!!!!

Semburan kunyahan bubur mengenai Ela. Seketika Ela merasa jijik apalagi kunyahan bubur itu bercampur air liur Diyah menempel pada ujung hijab dan tangannya.

"Tante, maaf, Diyah ambil tisu dulu di dapur ya."

Ela meringis kemudian mengangguk. Ia merasa tidak suka pakaian dan tangannya di kenai semburan bubur dari dalam mulut Diyah.

"Ih, jorok banget sih, iyuhh." kesal Ela dalam hati.

Tiba-tiba Diyah kembali datang bertepatan bersama Danish. Danish tentu saja mengenal Ela karena Ela adalah putri dari Pak RT yang ada di wilayah tempat ia tinggal.

Padahal Danish keruang tamu hanya untuk mengambil charge ponsel yang tertinggal. Tapi tanpa siapapun sadari, secepat itu Ela langsung merubah raut wajahnya menjadi ramah kepada Diyah karena sedang menarik perhatian pada Danish

"Ya ampun Diyah sayang, sini, Tante suapin lagi. Sayang harus makan ya. Sini, makan sama Tante."

****

Ela, Modusnya ketahuan banget yak 🙃

Bagaimana tentang Nafisah setelah ini dan calon jodohnya di masa yang akan datang? Hhe tetap stay di cerita ini ya.

Alhamdulillah sudah chapter 2. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca juga :)

Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.

Jangan lupa tag/mention ke akun Instagram author lia_rezaa_vahlefii sebagai apresiasi ukhti yang ingin pakai berkomentar atau menyukai chapter ini bila berkenan 🖤🖤

Ditunggu insya Allah bsk chapter 3 nya 💕

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram
lia_rezaa_vahlefii

__

Next Chapter 3 Klik link nya di bawah 
ini :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/04/chapter-3-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1



7 komentar: