Chapter 10 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 29 Mei 2020

Chapter 10 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz


Danish memasuki rumahnya setelah ia baru saja dari apotik terdekat untuk membelikan resep obat dari dokter yang ia tebus untuk Ibunya.

Danish menatap putrinya yang sudah dua hari ini yang kondisinya sudah membaik meskipun raut wajah murung dan tidak ceria lagi masih menghias di wajahnya akibat insiden penculikan tersebut

"Diyah?"

Diyah menoleh kesamping. Danish pun duduk di sampingnya.

"Papa ada coklat batang buatmu. Ambilah."
Diyah tak menjawab. Tatapannya begitu datar. Ia pun akhirnya menerima coklat tersebut dan kembali menonton tayangan kartun didepan matanya.

Danish menghela napas. Ia berusaha untuk sabar. Meskipun kondisi dan kesehatan Diyah sudah membaik, namun keceriaan dan senyuman gadis kecilnya itu telah meredup. Dokter psikologi anak mengatakan bahwa Diyah sedang mengalami trauma akibat penculikan tersebut.

"Papa mau ke kamar Nenek dulu, Nenek harus minum obat."

"Iya, Pa."

Danish segera beranjak dari duduknya, melangkahkan menuju pintu kamar Aminah. Belum saja Danish sampai disana, suara Aminah yang terbatuk sudah terdengar.

"Ya Allah, Pa, Mama lupa sesuatu."

"Mama lupa apa?"

"Ini sudah.. uhuk.. uhuk.. uhuk.."

"Tenanglah, Ma. Ayo, minum dulu air nya."

"Iya, Pa, Mama hanya lupa memberi makan siang untuk Diyah. Sudah waktunya dia makan."

"Biar Danish yang melakukannya, Ma,"

"Tidak. Putra kita lagi sibuk membuat berita di kamarnya. Biar Mama saja yang menyiapkan makan siang untuk Diyah."

Dengan cepat Danish memasuki kamar Aminah. Ia pun menghampiri Mamanya dan tersenyum tipis.

"Mama istirahat, ya. Aku yang akan mengurus Diyah."

Aminah menolak. "Tidak, Nak. Jangan, Mama-"

"Mama, please.." Danish menatap Mamanya penuh permohonan. "Mama harus istirahat. Ini obatnya."

Akhirnya Aminah pun mengalah. Sungguh ia tidak ingin membuat putranya kerepotan. Namun tentu saja hal itu membuat Danish semakin bersalah saja kenapa secara tidak langsung ia begitu tega membuat orang tuanya yang sakit-sakitan harus kerepotan.

Danish pun pamit keluar kamar. Ia berlalu menuju dapur menyiapkan makan siang Diyah dengan perasaan tidak menentu dan di bayangi rasa bersalah.

****

"Ya Allah, Apakah hamba sanggup mencari pengganti Alina sementara almarhumah istri hamba adalah seseorang yang hamba cintai?"

"Ya Allah, sesungguhnya hamba dilema di hadapkan perkara urusan dunia seperti ini dalam ujian yang sedang hamba hadapi."

"Ya Allah, berilah hamba petunjuk yang terbaik. Sesungguhnya hamba hanya berserah diri dan bergantung pada Allah. Apapun yang menjadi takdir dan pilihan Allah, hamba harus menerimanya. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang tidak hamba ketahui. Aamiin."

Danish baru saja melaksanakan sholat istikharah. Meminta petunjuk kepada Allah tentang perkara dan dilema yang sudah tidak mampu ia pikirkan lagi dalam mengambil keputusan dalam hidupnya

Menikah lagi seperti yang Aminah bilang? Bukan sesuatu yang mudah bagi Danish. Memulai hidup baru, mengukir cerita baru dan menjalani ibadah terlama dalam ikatan pernikahan dengan sosok wanita yang baru. Apakah itu baik untuk hatinya? Menikah bukan hanya saling memenuhi kewajiban. Tentu saling memahami satu sama lain dan siap menerima kekurangan maupun kelebihan setiap pasangan.

Bagaimana cinta tidak akan hadir setelah pernikahan itu terjadi? Sungguh Danish tidak ingin menyakiti hati calon istrinya kelak karena takut Allah akan murka dengannya.

Lalu bagaimana dengan Diyah? Apakah dengan menolak menikah lagi secara tidak langsung ia sudah bersikap egois pada orang tuanya sendiri sekaligus pada Diyah karena lebih mementingkan urusan hati ketimbang urusan kebaikan bersama dan kasih sayang yang dibutuhkan Diyah nantinya?

Pintu kamar Danish terketuk pelan. Disaat yang sama ia menoleh kearah pintu dan jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Danish segera membuka pintunya dan terkejut. Diyah berdiri, dengan raut wajah sembap.

"Sayang kenapa tidak tidur?"

"Bolehkah Diyah tidur di kamar Papa? Diyah takut."

Tentu saja Danish tidak akan menolak. Ia menatap wajah Diyah yang seenggukan. Ia tidak menyangka kalau Diyah menangis sendirian di kamarnya.

"Ayo, tidur sama Papa."

Danish menarik pergelangan tangan Diyah menuju tempat tidur. Tak lupa ia juga menyelimuti Diyah yang kini berbaring menyamping sambil memeluk boneka panda kesayangannya.

"Papa?"

"Iya, sayang?"

"Apakah Diyah nakal?"

"Tentu saja tidak. Diyah anak yang baik."

Danish mengelus puncak kepala Diyah penuh kasih sayang. Danish pun ikut berbaring di samping Diyah dan memeluknya.

"Apakah Diyah juga merepotkan Papa?"

"Tidak sama sekali, nak. Tidurlah, ini sudah malam."

"Tapi Diyah nggak bisa tidur. Diyah lagu kangen Mama. Biasanya Mama yang peluk Diyah kayak gini kalau Diyah lagi ketakutan."

"Papa juga merindukan, Mama." ucap Danish serak, berusaha menahan diri agar tidak terpuruk. "Mama sudah tenang disana. Mama sudah beristirahat. Bagaimana kalau besok kita ke makam Mama?"

Diyah hanya mengangguk pelan. Meskipun sedikit seenggukan, namun Danish tetap saja tidak bisa tidur sebelum putrinya benar-benar tertidur pulas.

"Diyah kangen Mama."

"Papa juga kangen Mama. Ayo kita baca doa sebelum tidur."

****

"Semoga lancar Danish.."

"Terima kasih."

"Jadi, kapan kalian akan menikah?"

"Insya Allah bulan depan. Kamu jangan lupa datang, ya Gunawan."

"Insya Allah, iya."

"Aku masuk dulu kedalam kantor KUA untuk mendaftar dan mengurus surat-surat nikah."

"Oke. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Danish memasuki kantor KUA tersebut kemudian segera duduk di hadapan petugas kantor. Dengan perlahan Danish membuka halaman map yang akan ia isi dengan nama, alamat, nama calon istri-

"Papa!"

"Papa! Bangun!"

Sayup-sayup Danish membuka kedua matanya. Ia menatap Diyah yang menatapnya heran. Sementara kepalanya mendadak pusing dan serasa berputar.

"Dari tadi Diyah bangunin Papa. Adzan subuh sudah berkumandang. Sebentar lagi iqomah."

Dengan cepat Danish segera berdiri dan berniat mengambil air wudhu untuk siap-siap pergi ke mesjid dekat rumah.

"Maaf, Papa terlalu pulas tidur karena kecapekan. Diyah sholat sama Nenek ya."

"Iya, Pa."

Diyah sudah keluar dari kamarnya, meninggalkan dirinya yang termenung akibat mimpi yang barusan ia alami.
Mimpi pergi ke KUA? Seingatnya, baru saja ia hendak menulis nama calon istri, tiba-tiba Diyah membangunkan tidurnya. Danish menghela napasnya, ia berinisiatif untuk kembali melakukan sholat istikharah lagi karena khawatir mimpinya barusan hanyalah mimpi yang berasal dari gangguan syaitan.

"Ya Allah, semoga Allah segera memberi petunjuk yang terbaik untuk hamba."

Danish pun melirik kearah meja kecil yang diatasnya terpajang bingkai foto berukuran 4R. Foto berwajah Alina yang sedang tersenyum. Danish tersenyum tipis, namun tatapannya terlihat menyedihkan dan terluka.

"Alina, aku merindukanmu. Bila takdir menyuruhku menikah lagi, apakah aku bisa membagi cintaku pada wanita lain. Sungguh hanya dirimu yang aku cintai.."

****
Danish benar-benar dilema banget 😖
Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca ya. Sehat selalu buat kalian dan sekeluarga..

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 11. Langsung aja klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/06/chapter-11-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1

4 komentar:

  1. Kok... Sekelumit hanya monolog Danish... Setia menunggu part berikutnya

    BalasHapus
  2. Masyaa allah bnget ukh..
    Hehe ukur kita sama ukh ana kelahiran14041994 beda satu hari aja..
    Semoga ukhty dan debay sehat sllu ya ukh

    BalasHapus
  3. 👍👍aku sll setia kakak menunggu nextnya

    BalasHapus
  4. Maaf...kenapa Danish ga titipin Dyah di rumah orangtua Alina?
    kan bisa gantian gitu jagainnya klo Danish kerja, nti Danish pulang bisa dijemput lagi
    Tp klo rumahnya terlalu jauh ya ga mungkin juga...

    BalasHapus