Chapter 5 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 03 Mei 2020

Chapter 5 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Kota Balikpapan, tahun 2011 silam.

Nafisah duduk dengan gugup di deretan bangku-bangku koridor ruangan sekolah dasar kota Bontang. Setelah ia lulus kuliah dengan sarjana pendidikan S1, saat itu juga Nafisah berupaya mencari pekerjaan sebagai guru pendidikan sesuai bidangnya.

Seminggu yang lalu, ia baru saja memasukkan lamaran pekerjaan ke berbagai macam sekolah dasar kota Bontang sebagai guru pengajar. Lalu kemarin pagi, ia mendapatkan panggilan untuk interview hari ini.

Nafisah pun akhirnya memasuki ruangan kepala sekolah bertepatan saat ponselnya berdering. Nama Saskia, babysitter Diyah menghubunginya. Karena pekerjaan lebih penting, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengabaikan sejenak.

Butuh waktu kurang lebih 20 menit, Nafisah melakukan interview bersama kepala sekolah. Nafisah menghela napasnya. Perasaan sudah lega, tinggal menunggu keputusan melalui panggilan ponsel apakah ia di terima atau tidak. Semoga saja ia di terima.

Nafisah pun segera pamit undur diri dengan sopan kemudian keluar dengan perasaan sedikit tenang meskipun sejak tadi ia sempat penasaran ada apa babysitter Diyah menghubunginya hingga puluhan kali sampai-sampai ia merasakan getaran ponsel didalam tas slinbag yang ia pangku.

Sesampainya diluar, Nafisah segera menghubungi babysitter Diyah lagi, namun tidak diangkat hingga berulang kali. Nafisah memutuskan pulang menuju rumahnya dengan perasaan tidak menentu.

Butuh waktu dua hari, akhirnya Nafisah memutuskan pergi ke kota Balikpapan ditemani sang Mama untuk berkunjung kerumah sakit. Sesampainya disana, hanya keheningan yang menyapa Nafisah begitu memasuki bekas rawat inap Alina. Seorang suster pun melihatnya.

"Assalamualaikum, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu Bu?"

"Wa'alaikumussalam." Nafisah mengangguk. 

"Pasien atas nama Alina yang ada disini kok tidak ada sus? Apakah Alina pindah?"

"Maaf Bu, pasien atas nama Alina sudah meninggal dunia kemarin pagi."

Seperti di tusuk pisau, detik itu juga Nafisah syok dan sakit di saat bersamaan. Ia tidak menyangka Alina sudah tiada. Nafisah pun mengangguk bertepatan ketika air mata mengalir di pipinya.

"Terima kasih atas informasinya."

"Sama-sama, Bu. Permisi."

Setelah kepergian suster tersebut, detik berikutnya Nafisah memutuskan bersama Mamanya menuju kediaman almarhumah Alina.

Sesampainya disana, Nafisah segera mendatangi Aminah yang terlihat sedang duduk di teras. Aminah menyadari kedatangan Nafisah kemudian segera berdiri menyambut kedatangannya.

Nafisah tak kuasa menahan sedih. Tidak ada yang biasa ia lakukan selain menangis sambil memeluk Aminah.

"Tante.."

"Alina sudah tenang Nafisah, Alina sudah istirahat dengan tenang disana. Sekarang dia sudah tidak kesakitan lagi."

Lalu tangis Nafisah pun pecah di iringan dengan air mata yang menetes di pipi Aminah. Tak hanya itu, Mama Nafisah pun juga ikut merasakan kesedihan dan hanya menatap sendu putrinya.

Nafisah kembali terdiam hanya karena teringat masalalu. Padahal sudah setahun berlalu, tapi ntah kenapa kenangan itu sulit untuk di lupakan.

Ponselnya berdering. Nama Rara terpampang di layarnya. Nafisah mengerutkan dahinya. Tumben gadis kecil itu menelponnya. Tak mau membuang waktu lagi, Nafisah segera menerima panggilannya.

"Assalamualaikum, ya, Rara?"

"Wa'alaikumussalam. Bunda, apakah Bunda ada dirumah?"

"Iya, Bunda dirumah ada apa, Rara? Hari ini bukan jadwal mengajar Rara, kan?"

Rara tertawa kecil. "Iya, Rara tahu kok. Rara mau ketemu sama Bunda. Rara jemput ya?"

"Rara mau ajak Bunda kemana? Memangnya sudah dapat izin dari Papa dan Mama?"

"Iya, sudah dong. Rara mau ke permainan anak-anak yang baru di buka, Bunda. Tapi Rara nggak ada teman. Papa dan Mama sibuk."

"Jadi Rara kesini sama siapa?"

"Sama Om Irsyad Bun! Yaudah, Rara kesana ya, Bunda siap-siap. Dadaaaa, Assalamualaikum."

"Apa? Sama Om Irsyad?" seketika Nafisah panik. "Rara, tunggu, Bunda-"

Tut.. Tut.. Tut.. panggilan terputus.

"Wa'alaikumussalam." lirih Nafisah akhirnya.

Sekarang Nafisah bingung, jalan bersama Rara dan Irsyad nanti apakah semuanya baik-baik saja? Nafisah memegang degup jantungnya yang semakin berdebar kencang. 

Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dan pasrah untuk segera bersiap-siap.
****

Mall Kota Bontang, pukul 14.00 siang.

Kabar bahwa wahana dunia permainan anak-anak yang di bangun oleh salah satu minimarket terbesar sekaligus bercabang di kota-kota seluruh Indonesia memang baru saja di resmikan kemarin pagi. Salah satunya di kota Bontang ini.

Rara terlihat ceria sambil memegang pergelangan tangannya. Tapi gadis kecil itu tidak menyadari betapa suhu tubuhnya panas dingin hanya untuk bersikap baik-baik saja. Terutama didepan Irsyad.

Nafisah sedikit melirik ke arah Irsyad yang terlibat tampan dengan kaos santai berwarna putih berlapis jaket hitam beserta celana jeans berwarna khaki. Ntah kenapa Irsyad adalah kaum Adam ciptaan Allah yang sangat tampan bagi Nafisah.

Tak hanya itu, sebelum menuju bagian wahana permainan anak-anak, tanpa ragu Irsyad mengajaknya untuk sholat Zuhur di mushola apalagi pria itu sempat di tunjuk oleh beberapa pria untuk menjadi imam sholat dadakan di mushola Mall tersebut.

Ya Allah, melihat Irsyad menjadi imam sholat saja hatinya begitu tersentuh. Rasa suka pada pria itu semakin besar.

Rara pun memilih berdiri sambil memperhatikan calon wahana didepan matanya yang sepertinya sedang ia pertimbangan untuk di mainkan. Sementara Nafisah, wanita itu memilih duduk di bangku panjang.

"Bundanya Rara, ini.."

Nafisah menoleh kesamping, tiba-tiba Irsyad mengulurkan sebuah minuman iced tea blend rasa coklat toping Oreo. Tak hanya itu, dengan sopannya Irsyad memanggilnya Bunda nya Rara.

"Kata Rara, Bunda suka minuman ini, jadi saya berniat membelikannya. Terima kasih sudah menghibur keponakan saya."

Nafisah hanya tersenyum canggung dan merasa malu menerima tawaran minuman kesukaannya itu. 

Irsyad memilih duduk di sampingnya, tas kecil milik Rara bergambar boneka kelinci itupun menjadi penghalang diantara mereka.

"Terima kasih," ucap Nafisah akhirnya dengan suara pelan.

"Hm, sama-sama."

Tidak ada yang berbicara lagi. Meskipun sama-sama menatap Rara yang terlihat antusias, ntah kenapa Irsyad jadi canggung berada di samping Nafisah.

"Oh iya, selama mengajar Rara, apakah dia ada kemajuan, Bun?" tanya Irsyad semata-mata untuk menutupi rasa canggung diantara mereka.

"Alhamdulillah, dia baik dan cepat merespon beberapa mata pelajaran yang saya pelajari, Mas."

"Oh, Alhamdullilah, seperti yang saya lihat, Rara memang anak yang pintar. Kakak saya memang jarang memberi perhatian kepada putrinya. Dia dan suaminya benar-benar sibuk."

Seketika Nafisah terdiam. Ia cukup terkejut mendengar penuturan Irsyad.

"Disisilain, Rara juga anak tunggal. Dia sering kesepian setelah Bunda selesai mengajar dirumahnya. Itu yang saya tahu dari pengasuh Rara."

"Em, saya turut bersedih mendengar hal ini." ucap Nafisah simpatik.

"Oh iya, ngomong-ngomong, Minggu depan Bunda ada dirumah?"

Nafisah terkejut. "Memangnya, ada apa ya Mas? Mas mau kerumah saya?"

"Em, iya. Saya ingin ketemu orang tua Bunda,"

Detik berikutnya Nafisah syok. Untuk apa Irsyad bertemu orang tuanya Minggu depan? Sebenarnya ia ingin bertanya, tapi tiba-tiba Irsyad memilih berdiri.

"Ah sebentar, nanti kita sambung lagi obrolannya ya, Bun. Saya melihat teman dekat saya disana." tunjuk Irsyad kearah wahana permainan roller coaster mini.

Detik berikutnya bibir Nafisah menjadi kelu. Ia tidak menyangka ternyata dunia sesempit itu ketika Irsyad mendatangi teman yang dia maksud.

Seorang pria yang sedang berpakaian seragam kerja lengkap dengan name tag kalung di depan dadanya. Tak hanya itu, Irsyad terlihat tersenyum dan berjabat tangan dengan pria itu.

Seorang pria yang Nafisah kenal, Suami dari almarhumah Alina, Muhammad Danish.

****

Ternyata Irsyad dan Danish saling kenal, teman dekat pula 😁

Nah loh, tetap stay di cerita ini yaaa.

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next, Chapter 6. Langsung klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/05/chapter-6-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


11 komentar:

  1. ko jadi deg-degan setelah tahu irsyad danDanish temenan

    BalasHapus
  2. Siapkan hati aja, ya, wkwkwk

    BalasHapus
  3. Ya Allah
    Mulai lagi ni senam jantungnya kak liaaa 🙃

    BalasHapus
  4. Wkwkwkww 🤣🤣 sudah melekat kayaknya di pikiran author 😂

    BalasHapus
  5. Gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya kayak gimana, baca yg ini aja udah senam jantung dirumah

    BalasHapus
  6. Kenapa ga di wp aja thor. Kan lebih seru wkkw.di lanjut deh

    BalasHapus
  7. selalu menariikkk...bikin njes di hati...ayok kak lia lanjuttt...😘😘😘😘
    jangan lama lama up nya yaa...

    BalasHapus
  8. Kak, kenapa ceritanya bagus2 banger sii, kan aku baper, sampe nangis ini

    BalasHapus
  9. D tunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  10. Dilema besar nie.. Tik tok tik tok tik tok ... Hehehehe.. Ditunggu selalu penuh harap2 cemas ukh kisah lanjut nya..

    BalasHapus