Chapter 6 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 07 Mei 2020

Chapter 6 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Perumahan Mega Lestari, Balikpapan, tahun 2011 silam.

Diyah baru saja terbangun dari tidurnya. Ia pun mengusap kedua matanya. Setelah itu, ia turun dari ranjang untuk pergi keluar ruang tamu.

Diyah merasa bingung. Kenapa kursi ruang tamunya di pindah keluar? Kenapa ruang tamunya menjadi luas? Kenapa ada karpet besar beserta tempat tidur kecil terpasang disana?

Tiba-tiba, Danish menatap Diyah yang sedang kebingungan, ia pun segera mendatangi putrinya. Tak hanya itu, Diyah juga melihat Neneknya menangis.

"Diyah.."

Diyah menoleh kearah Papanya. "Papa, apakah dirumah kita ada acara?"

"Tidak."

"Kenapa Nenek menangis? Apakah karena Diyah nakal?"

"Tidak, justru Diyah anak pintar." Danish segera berjongkok memeluk putrinya. 

"Diyah, Mama ada titip pesan buat Diyah."
Bulir air mata mengalir di pipi Danish. Sungguh ia tidak bisa menahan air matanya sendiri.

"Kata Mama, tetap menjadi anak Papa dan Mama yang Solehah dan baik. Mama juga minta Maaf kalau Mama tidak bisa menemani Diyah bobo lagi."

"Apakah Mama akan tinggal dirumah sakit selama-lamanya? Apakah boleh, Diyah ikut tinggal sama Mama disana? Diyah janji tidak akan merepotkan Mama."

Danish menatap Diyah yang bertanya padanya dengan polos. Wajah cantik putrinya itu sedang bersedih. Tak hanya itu, ia bisa merasakan bagaimana setelah dua Minggu ini, Diyah tidak bisa melihat Alina lantaran pihak rumah sakit tidak mengizinkan anak kecil di bawah umur 10 tahun untuk membesuk pasien.

"Kenapa Papa menangis? Apakah ucapan Diyah bikin Papa marah?" tanya Diyah lagi yang malah mengusap air mata di pipi Danish menggunakan jari mungilnya.

"Papa tidak marah. Papa hanya sedih karena Mama..."

"Mama kenapa? Mama lagi bobo setelah minum obat dirumah sakit, kan?"

"Mama cuma kembali kepada Allah." ucap Danish akhirnya dengan perasaan terluka.

"Apakah lama? Diyah kangen sama Mama. Diyah ingin ketemu Mama. Mama bisa kembali kesini lagi kan?"

Suara sirene ambulans sayup-sayup terdengar. Danish sadar akan hal itu. Ia pun memeluk putrinya lagi.

"Mama tidak akan kembali. Mama sudah beristirahat yang tenang disana. Allah sayang sama Mama."

Diyah tetap tidak mengerti di usianya yang masih 4 tahun. Bibir Danish sendiri terasa kelu hanya untuk mengatakan yang sebenarnya kalau Alina meninggal.

Tapi semua itu tidak berlangsung lama, detik berikutnya tangis Diyah pun pecah. Bahkan ia meraung keras karena melihat petugas rumah sakit membawa tandu yang ternyata ada sosok Mama yang ia rindukan dan sudah terbujur kaku dengan raut wajah pucat.

Petugas rumah sakit sudah berhasil masuk keruang tamu sambil di bantu oleh pihak keluarga untuk membaringkan jenazah Alina diatas kasur kecil. Diyah merasa terluka melihatnya.

"Papa, Diyah salah. Diyah sudah nakal sampai membuat Mama pergi."

"Diyah, tenanglah. Diyah tidak salah. Ini sudah menjadi ketentuan Allah karena kita semua akan kembali padaNya." isak Danish pelan.

"Papa, kenapa Allah memanggil Mama? Apakah disana Mama akan bahagia? Diyah janji tidak akan nakal lagi. Papa jangan pergi menyusul Mama. Diyah takut."

Danish menatap gadis kecil yang merupakan keponakan teman dekatnya dan saat ini sedang duduk diatas kuda poni dalam wahana permainan. Hanya melihatitu semua, sungguh ia merindukan Diyah.

Hati Danish merasa sedih, ia sadar, sudah lama ia tidak mengajak Diyah pergi ke wahana permainan anak-anak hanya untuk menghibur putri tercintanya itu. Bagi Danish, Rara adalah putri cantik yang beruntung di banding Diyah.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, Danish. Kamu, masih menjadi wartawan berita?"

Danish menoleh kesamping kemudian mengangguk. "Ya, Alhamdulillah, pekerjaan itu masih menjadi profesiku hingga sekarang."

"Oh iya, aku turut bersedih atas kepergian mendiang Alina setahun yang lalu. Maaf saat itu aku berada di luar negeri."

"Iya, terima kasih. Tidak apa-apa, Irsyad, aku mengerti."

"Bagaimana kabar Diyah?"

"Alhamdulillah dia baik."

"Alhamdulillah.."

"Kalau boleh tahu, kalian berdua saja kemari?" tanya Danish pada Irsyad.

"Tidak. Lebih tepatnya bertiga."

"Oh ya? Siapa? Salah satu orang tua Rara atau calon istrimu?"

Irsyad tersenyum geli. "Bukan siapa-siapa. Dia disana." tunjuk Irsyad kearah seorang wanita yang kebetulan sedang menerima panggilan dan posisinya sedang memunggungi Irsyad dan Danish.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

Wanita itu terlihat memakai gamis panjang dan Khimar serta sebuah tas slinbag peach di bahunya. Ntah kenapa Danish merasa bahwa slinbag itu mirip sekali dengan milik mendiang Alina dirumah.

"Santai natapnya."

Buru-buru Danish menatap Irsyad yang malah menggodanya. Danish pun hanya tertawa kecil.

"Iya, aku memang santai menatapnya."

"Mau aku kenalin sama dia? Dia cantik, Bunda les nya Rara."

"Tidak terima kasih. Oh iya, aku harus meliput berita dulu. Terima kasih sempat memberi informasi berita sebagai pengunjung wahana terbaru disini, Irsyad. Insya Allah beritanya akan di muat koran besok pagi." ucap Danish tanpa basa-basi karena ia paling enggan membahas soal calon istri yang baru.

"Sama-sama. Oh iya, apakah ada wajahku terpampang di koran besok? Ah hasilnya pasti tampan. Aku merasa seperti model cover boy saja."

"Tidak. Wajahmu hanya akan mengganggu kolom berita. Bisa-bisa koran Penerbitan ditempatku tidak akan laku."

Detik berikutnya Irsyad malah menonjok pelan lengan Danish hingga membuat keduanya tertawa. Dari jarak beberapa meter, Nafisah memperhatikan mereka. Seketika ia teringat sahabatnya.

"Alina, dia suamimu yang hebat. Dia terlihat tersenyum seolah-olah tanpa beban. Tapi aku sangat mengerti, sebenarnya hatinya begitu terluka karena kepergianmu. Begitupun denganku."

Lalu Nafisah menatap tas slinbag yang ia pegang saat ini. Sebuah tas yang menjadi kenangannya bersama Alina ketika sahabatnya itu masih tinggal di kota Bontang sebelum menikah.

Tas slinbag yang ia beli dengan warna dan rupa yang sama karena saat itu ia dan Alina tertarik dengan harganya yang di diskon besar-besaran.

"Bunda! Rara haus."

Buru-buru Nafisah menghapus air mata yang sempat menggenang di kedua matanya. Ia pun menoleh kearah Rara.

"Ayo, kita beli minuman. Rara mau minum apa?"

"Rara mau susu kotak rasa coklat di minimarket."

"Ayo, kita ke minimarket. Rara sudah bilang sama Om Irsyad?"

"Sudah. Tadi Rara datangin Om. Katanya boleh."

Nafisah tersenyum. Ia pun segera memegang pergelangan tangan Rara menuju minimarket. Dan lagi, dari jarak beberapa meter, tanpa sengaja Danish menatap Rara dan seorang wanita yang ada disampingnya.

Padahal niatnya sejak awal adalah ingin memotret situasi disekitarnya untuk keperluan dokumentasi meskipun saat ini ia malah menghentikan niatnya karena melihat Rara dan wanita itu di lensa DSLR nya.

"Kenapa dari belakang dia sangat mirip dengan Alina?" sela Danish dalam hati dengan perasaan berkecamuk.

Tiba-tiba ponsel Danish berdering. Ia pun menerima panggilan dari Aminah.
"Assalamualaikum, ya Ma?"

"Wa'alaikumussalam. Danish.." isak Aminah dengan getir. Seketika Danish panik.

"Mama, semuanya baik-baik saja kan?"

"Nak, Mama mohon cepat pulang ke Balikpapan setelah semua urusanmu di Bontang sana selesai. Diyah.."

"Kenapa Ma? Apa apa dengan Diyah?"

"Diyah.. cucu Mama.. maafkan Mama..."

"Apakah Diyah sakit?"

Danish mencengrkam erat ponselnya. Jantungnya sudah deg-degan tidak karuan. Wajahnya pun juga mulai pucat.

"Tidak. Diyah menghilang. Seseorang menculiknya."

Detik berikutnya ponsel yang di pegang Danish pun jatuh ke lantai akibat syok. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menuju kota Balikpapan saat itu juga.


****

Sebentar lagi, Insya Allah akan menuju ke alur inti yang sebenarnya. Author mulai deg-degan buat Chapter selanjutnya 😆😆 wkwkw

Tetap stay sama Nafisah ya. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.

Boleh beri komentar di bagian bawah atau screenshot Chapter ini buat di upload ke akun Instagram kalian dengan men tag/mention ke akun Instagram lia_rezaa_vahlefii

Jazzakallah Khairan 💕

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 7. Langsung klik link dibawah ini :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/05/chapter-7-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1

4 komentar:

  1. Syukron ukh yang berkenan update nafisah lagi di kegiatan ukh yang padat...

    BalasHapus
  2. Waduh diyah di culik??? Jdi penasaran ini

    BalasHapus
  3. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca yaaa. Moga sabar menanti Chapter selanjutnya 💕

    BalasHapus