Chapter 7 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 10 Mei 2020

Chapter 7 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Perumahan Mega Lestari, pukul 09.00 pagi. Balikpapan.

"Kak Saskia, Diyah mau makan sereal."

"Diyah lapar?"

"Iya, Diyah mau sereal rasa coklat."

"Oke, Kakak buatkan, ayo masuk rumah dulu."

"Nggak mau. Diyah mau disini."

"Tapi, Diyah-"

"Nanti teman Diyah kesini. Katanya dia pulang dulu ambil kue. Diyah mau main pesta minum teh, Kakak. Diyah sudah pasang tikar disini." tunjuk Diyah pada teras didepan rumahnya.

"Oke baiklah. Kakak akan ke dapur buatkan Diyah sereal. Diyah janji ya, jangan kemana-mana."

"Iya, Diyah janji."

Saskia, Babysitter Diyah itu menangis ketika terduduk di sofa ruang tamu dengan raut wajah penyesalan. Sudah 24 jam berlalu, namun Diyah tidak ditemukan sama sekali.

"Maafkan saya, Pak Danish. Sungguh, saya tidak tega melihat wajah Diyah yang memelas dan menolak masuk kedalam rumah sebelum saya berlalu ke dapur."

"Dan kamu bisa kalah sama kemauan anak kecil?"

"Tapi, Pak, Diyah-"

"Nak, kamu harus tahu satu hal." sela Aminah tiba-tiba. Danish pun menatap Mamanya.

"Semenjak Alina tiada, Diyah mudah menangis. Apalagi kalau keinginannya tidak di turutin. Seolah-olah dia merasa tidak di beri kasih sayang. Diyah masih kecil, dia belum mengerti apapun. Kalau kita bersikap keras padanya, itu tidak akan baik untuk hati dan perasaannya. Tidak mudah bagi anak seusia Diyah menjalani keseharian tanpa ada sosok Alina seperti sebelumnya. Mama harap kamu mengerti."

Danish mengusap raut wajahnya dengan lelah. Akhirnya ia mengalah tidak berucap emosi pada Babysitter Diyah. Di posisinya kali ini, ia jadi merasa serba salah.

Awalnya Danish enggan memakai jasa Babysitter, ntah kenapa ia merasa ragu menyerahkan Diyah sepenuhnya pada orang lain yang di gaji seperti Babysitter atau pengasuh macam Saskia.

Tapi disisilain, Danish sadar, sudah semingguan ini Aminah sakit. Mamanya sudah terlalu tua untuk menjaga Diyah yang aktip dan suka bermain.

Tidak ada cara lain selain mempercayakan asuhan pada Babysitter meskipun berakhir dengan rasa kekecewaan yang mendalam, Diyah di culik oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab.

Danish hanya mengangguk. "Maafkan aku, Ma. Aku akan ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini."

"Hati-hati dijalan, maafkan Mama dan Papa."

"Mama dan Papa tidak salah. Ini salahku, seharusnya aku bisa berhenti bekerja saja menjadi wartawan berita koran harian yang sering di kejar deadline. Aku berpikir akan mencari pekerjaan lain saja setelah Diyah ketemu agar aku bisa membagi waktuku untuk Diyah."

Tatapan Danish pun beralih ke arah Saskia. Ia pun mengeluarkan sesuatu di dalam tas selempang kerjanya yang ia bawa karena sebelumnya ia baru saja tiba dari kota Bontang. Sebuah amplop coklat yang berisi uang.

"Setelah Mama menelpon saya dan memberi tahu tentang Diyah, saat itu juga saya memutuskan untuk mengistirahatkanmu dirumah, maaf."

Akhirnya, Danish pun tidak menunggu respon dari Saskia, ia malah meletakkan selembar amplop coklat tersebut di atas meja sofa. Dan saat itu juga Saskia merasa menyesal telah lalai menjaga Diyah.

****

Kota Bontang, Pukul 19.00 malam, Kalimantan Timur.

Berita tentang anak hilang berusaha 5 tahun berjenis kelamin perempuan yang berasal dari kota Balikpapan tentu saja secara tidak langsung menyentil hati Nafisah.

Setelah mencari tahu, semua benar, ternyata apa yang ia takutkan sejak kemarin kalau anak tersebut adalah Diyah kini menjadi kenyataan.
Merasa khawatir, Nafisah pun segera menghubungi Aminah.

"Assalamualaikum, Tante."

"Wa'alaikumussalam, Nak Fisah?"

"Tante... "

Suara isakan dari Aminah langsung terdengar dari seberang panggilan. Hati Nafisah pun tiba-tiba ikut merasakan kesedihan.

"Tante, bagaimana kabar tentang Diyah sekarang? Saya baru saja mendapatkan beritanya tadi pagi."

"Tante nggak tahu. Sampai sekarang, Diyah belum ditemukan."

"Semoga Diyah selalu dalam perlindungan Allah subhanahu wa ta'ala dan segera di temukan. Jujur, saya juga kepikiran sama Diyah, Diyah sudah saya anggap seperti adik saya sendiri."

"Iya, Aamiin. Terimakasih, nak Fisah. Tante sangat tahu, bagaimana persahabatanmu dengan Alina sejak kecil sampai-sampai almarhumah mantu Tante itu bilang, kamu sangat menyayangi Diyah dan Diyah juga menyayangimu. Ini semua salah Tante yang nggak bisa menjaga Diyah seutuhnya."

Nafisah memaksakan senyumnya. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Ntah kenapa, selama satu Minggu lebih tidak videocall apalagi sudah setahun tidak bertemu Diyah semenjak Alina meninggal, membuat ia semakin merindukan gadis kecil itu.

"Tante jangan menyalahkan diri sendiri, kejadian ini, memang sudah tercatat dalam takdir dan menjadi ujian buat kita semua. Saya berusaha berprasangka baik kalau Diyah insya Allah baik-baik saja, Tante. Allah tergantung perasaan hambaNya."

"Terima kasih, nak. Kamu adalah salah satu wanita yang secara perlahan membuat Tante sedikit tenang. Dulu Alina juga begini bila kami sekeluarga mengalami suatu masalah. Dengan perhatiannya dia berusaha menenangkan hati Tante yang mudah panik dan khawatir. Tante benar-benar menyayangi kalian."

Nafisah meraih tisu didekatnya, ucapan Aminah barusan membuat hatinya tersentuh dan merindukan almarhumah sahabatnya disaat yang sama.

"Tante sungguh kasihan dengan Papanya Diyah, dia kerja siang malam seperti tidak mengenal kata lelah demi menghidupi ekonomi dirumah kami. Apalagi Kakeknya Diyah, sudah dua kali masuk rumah sakit dalam waktu sebulan ini."

"Kalau boleh tahu, Om Mahmud sakit apa ya, Tan?"

"Sudah setahun, Om Mahmud sakit komplikasi. Berawal dari diabetes 3 tahun yang lalu, hingga tahun kemarin setelah Alina meninggal, Dokter menyatakan hasil rekam medis Om Mahmud, dia mengalami komplikasi jantung koroner hingga membuat kondisinya kadang tidak stabil." suara helaan nafas Aminah terdengar. "Ya, beginilah keadaan keluarga kami, nak Fisah, adanya sosok Diyah juga menambahkan warna dan keceriaan di keluarga kami. Mendapati kabar bahwa Diyah di culik membuat kami semua terpukul. Saya cuma bisa berharap semoga suatu saat Papanya Diyah segera menemukan calon istri yang baik. Yang sayang dan mau nerima Diyah seutuhnya. Putra Tante itu tidak bisa selamanya terus bekerja siang  sementara putrinya itu membutuhkan Papanya."

Seketika Nafisah terdiam. Ia teringat suami almarhumah Alina yang sempat ia lihat di salah satu Mall ketika pria itu berbincang dengan Irsyad. Dugaannya benar, suami almarhumah sahabatnya itu memang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya, hati pria itu terluka.

"Nak Fisah?"

"Ya, Tan?"

"Sudah beberapa bulan ini, Tante ingin membicarakan hal ini padamu. Mungkin sekarang adalah saatnya."

"Em, soal apa ya, Tan?"

"Jika Tante menginginkanmu sebagai Ibu buat Diyah, apakah nak Fisah bersedia? Sungguh, hanya nak Fisah yang benar-benar bisa menyayangi Diyah melebihi wanita manapun selain Alina."

DEG!

Nafisah terbungkam. Ucapan Aminah barusan membuatnya sedikit syok. Bayangan menjadi sosok yang paling dekat dengan Diyah memang sudah melekat di hatinya jauh ketika gadis kecil itu baru saja lahir ketika ia menjenguknya beberapa jam setelah Alina melahirkan.

Tapi dengan Danish, pria berstatus duda dan tak pernah ia pikirkan sama sekali dalam hidupnya itu, apalagi untuk urusan hati, apakah ia bisa menjalankan sebuah rumah tangga bersama seseorang tanpa adanya cinta? Untuk urusan Danish, tentu saja itu bukan perkara mudah bagi Nafisah.

"Itu hanya harapan Tante, nak. Jangan terlalu di pikiran, biar bagaimanapun, semua terserah pada nak Fisah." ucap Aminah lagi hingga membuat Nafisah dilema.

Seketika bayangan wajah Diyah yang ceria membayang di pikirannya bersamaan dengan wajah Danish yang terasa asing baginya.

****

Perasaan kalian klo di posisi Nafisah?
😟

Kuatkan hati ukhti seperti biasanya ya 🤧😆

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca juga. Sehat selalu buat kalian dan sekeluarga ya.

Boleh kasih komentar di bagian bawah atau mau screenshot chapter ini buat di post di snapgram kalian juga boleh. Jgn lupa tag/mention ke akun Instagram lia_rezaa_vahlefii ya.

Jazzakallah Khairan

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next, Chapter 8. Langsung klik link nya di bawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/05/chapter-8-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


5 komentar: