Chapter 8 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 18 Mei 2020

Chapter 8 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Perumahan Mega Lestari, kota Balikpapan. Pukul 20.00 malam.

Setelah mengendarai motornya dari kantor polisi, Danish baru saja tiba di depan halaman rumahnya kemudian segera mematikan mesin motornya. 

Danish tertunduk lesu. Sudah empat hari empat malam, Diyah belum juga di temukan.

Danish menatap lampu ruang tamu yang sudah padam, tanda bahwa Papa dan Mamanya sudah beristirahat di dalam kamar. Merasa sudah lelah, Danish segera memasuki rumahnya dan tak lupa mengunci pintunya.

Samar-samar Danish mendengar suara isakan Mamanya. Ia menghela napasnya. Yang merasa khawatir dan ketakutan bukan hanya pihak keluarga, tapi sebagai Ayah kandung, Danish juga merasakan hal yang sama.

"Sudah, Ma, Mama harus tenang. Ini obat dari Dokter, Mama harus minum sekarang juga atau penyakit migran Mama akan semakin parah."

"Gimana Mama bisa tenang Pah? Cucu kita-"

"Saat ini polisi sedang bekerja keras untuk mencari Diyah, kita berdoa saja sama Allah agar semuanya di beri kelancaran dan Diyah segera di temukan."

"Ini salah Mama.. ini salah Mama.."

"Ini bukan salah siapapun. Mama sudah terlalu sibuk mengurus Papa yang sakit-sakitan. Belum lagi Mama membagi waktu mengurus rumah, menjaga Diyah yang aktip di usianya. Danish memakai jasa Babysitter itu sudah keputusannya, Ma, ini ujian buat kita sekeluarga dari Allah."

"Menurut Papa, apakah Danish salah dalam memilih jasa Babysitter?"

"Tidak.. ini bukan salah Danish.. Danish melakukan hal itu karena dia sendiri sibuk bekerja mencari nafkah untuk Diyah dan untuk kita. Putra kita itu sudah bertanggung jawab menjadi tulang punggung di rumah ini. Tolong Ma, jangan salahkan siapapun. Lebih baik kita berdoa saja pada Allah semoga Diyah segera di temukan dalam keadaan baik-baik saja."

"Aamiin Ya Allah.. Aamiin. Mama berharap semoga Danish segera memutuskan untuk segera menikah lagi, kasihan Diyah Pah, Diyah butuh sosok Ibu yang bisa memberikan perhatiannya secara maksimal. Tidak seperti kita yang sudah tua dan sakit-sakitan gini."

"Doakan yang terbaik saja buat Danish Ma, itu semua adalah keputusan dari Danish. Kita tidak bisa memaksakannya. Tentu kita tahu bahwa Alina yang dia cintai sampai kapanpun."

Seketika Danish terdiam. Hatinya seperti di remas-remas. Saking sibuknya dalam mengurus pekerjaan diluar sana, tanpa sadar ia sudah membuat Ibu kandungnya yang sudah berusia pertengahan tahun itu kerepotan.

Tidak ada yang bisa Danish lakukan selain terdiam dengan perasaan bersalah sambil memasuki kamarnya dalam diam.

****

Kota Bontang, pukul 07.00 pagi, Keesokan harinya..

Lestari memperhatikan putrinya yang terlihat tidak semangat hanya untuk menyuapkan sesendok nasi kuning ke mulutnya sebagai menu sarapannya pagi ini. Lestari menghela napasnya.

"Kamu kenapa, Fisah?"

Fisah menatap Mamanya. Ia pun terdiam sambil menggeleng.

"Fisah tidak apa-apa, Mah."

"Kamu kepikiran sama Diyah?"

Ntah dorongan dari mana, tanpa sadar Fisah mengangguk. Wajahnya terlihat sedih. Tentu saja Laras menyadarinya. Laras menatap simpatik kearah putrinya.

"Kamu tahu kalau Mama dan Tante Aminah itu teman akrab waktu sekolah menengah kejuruan?"

"Mama teman akrab Tante Aminah? Kok bisa?"

"Ya bisa lah, dunia itu sempit. Dulu, Sebenarnya Mama dan Tante Aminah itu berniat menjodohkan kamu dengan Danish. Tapi Danish mempunyai wanita pilihannya sendiri, almarhumah Alina. Sejak saat itu, Mama menerima dengan ikhlas karena Danish bukan jodoh kamu."

Nafisah sedikit terkejut dan tidak menyangka. Ia tidak pernah tahu masalalu Mamanya dengan Tante Aminah.

"Semalam Tante Aminah hubungi Mama, katanya sampai sekarang Diyah belum di temukan. Tante Aminah cuma bisa berharap semoga setelah Diyah di temukan, Danish segera mencari calon istri yang baik dan tentunya mau menerima Diyah seutuhnya. Kasian Tante Aminah, akhir-akhir ini sakit-sakitan. Suaminya juga begitu."

Detik berikutnya Laras beranjak dari duduknya. Ia sudah selesai memakan sarapannya, meninggalkan Nafisah yang diam merenung. Nafisah sadar, apakah ucapan Mamanya barusan adalah sebuah kode untuknya? Terlebih beberapa hari yang lalu Tante Aminah meminta dirinya sebagai calon menantunya.

****

"Berapa kali emak kita itu meninggalkan puasa gara-gara kita? sembilan puluh hari. Tanya, tiga puluh hari dia tidak puasa karena kita berada dalam perutnya, tiga puluh hari dia tidak puasa karena tidak ada air susunya, tiga puluh hari lagi dua tahun. Jadi sembilan puluh hari dia tidak puasa. Masa sekarang dihari tuanya kita susahkan juga dia lagi,"

"Di hari tuanya ini bahagiakanlah dia. Kalau kalian tidak bisa bahagiakan orangtua, paling tidak jangan kalian membuat susah dia. Kalau tidak bisa kalian menyenangkan dia, jangan kalian susahkan di hari tuanya,"

"Jangan sampai meleleh air matanya, orangtua tidak akan pernah menolak cucu. 'Mak jaga anakku ya' iyalah. Dia tidak pernah menolak cucu karena dia sayang ke anak kita. Kita lah yang berpikir,"

"Jangan sampai setelah dia meninggal, barulah kita meratap, menangis. Tidak ada gunanya, menetes air mata darah. Selama hayat dan dia masih hidup, senangkan lah hatinya, senangkan hidupnya, senangkan, nyamankan dia, tenangkan pikirannya karena kematian akan menjemput tidak tahu entah kapan. Kita sangka dia masih panjang, setelah itu dia meninggal, menyesal seumur hidup, tidak ada gunanya," 

Rasa bersalah menyergap hati Danish. Ceramah ustadz Abdul Somad yang ia dengar di sosial media bagaimana pandangan Islam terhadap kasus yang suka menitipkan anak kepada ibunya
seolah-olah menampar dirinya. Tanpa sadar, ia sudah salah, ia sudah membuat orang tuanya yang berusia senja kerepotan mengurus Diyah.

Tayangan ceramah tersebut akhirnya berakhir beberapa menit kemudian setelah mengingatkan tentang umat Islam untuk membahagiakan dan tidak menyusahkan kedua orangtuanya dengan tidak menitipkan anak-anaknya kepada mereka.

Dengan perlahan Danish menonaktifkan ponselnya. Danish meletakkan ponselnya diatas meja, berdampingan dengan laptop dan buku catatan penting yang selalu ia bawa kemanapun ketika bekerja.

Hanya menatap itu semua, ntah kenapa mood Danish tidak karuan. Ia sadar, malam ini ia dikejar deadline. Tapi setelah mendengar ceramah beberapa menit yang lalu, semua urusan dunia dan pekerjaan membuatnya tidak bersemangat lagi.

Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Apakah usulan dan tawaran Mamanya yang menyuruhnya menikah lagi itu baik untuknya? Tiba-tiba Danish kembali berpikir ulang tentang hal tersebut.

Mungkin, jika ia menikah, selain keadaan membuatnya terbantu, sisi baiknya Diyah akan kembali mendapatkan kasih sayang. Tetapi siapa wanita yang akan ia nikahi? Mencari seorang wanita yang harus menyukai putrinya tentu saja tidak akan semudah yang di pikirkan.

Danish menundukkan wajahnya. Disaat yang sama, rasa khawatir terhadap Diyah, rasa bersalah pada kedua orangtuanya, rasa terluka dan cintanya pada Alina membuatnya dilema.

"Ya Allah, berilah jalan yang terbaik untuk hamba."

Air mata menggenang dikedua mata Danish. Rasa rindu pada Diyah dan Alina membuatnya terpuruk.

"Alina, apakah aku sanggup ketika suatu saat ada wanita lain selain dirimu tiba-tiba dia menjadi pendamping hidupku?"

****

Danish dilema, Nafisah juga dilema, sama-sama bimbang. Apakah Allah mentakdirkan mereka bersama? Tetap Stay di Jodoh Dari Lauhul Mahfudz ya. Alhamdulillah sudah Chapter 8 :)

Maaf banget akhir-akhir ini ngaret up karena kondisi tubuh bawaan hamil kadang fit, kadang ngedrop hhe.

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Boleh beri komentar atau screenshot chapter ini kemudian share di Instagram kalian. Jgn lupa tag Instagram aku ya ukh :)

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Instagram : lia_rezaa_vahlefii

__

# sumber : muslim.okezone.com



Next, Chapter 9. Langsung klik link di bawah ini : 



6 komentar:

  1. Ada Danis,itu nafisah sangat2 peduli sama diyaj

    BalasHapus
  2. Lanjut... penasaran dg danis

    BalasHapus
  3. Ayo Danis buka hati sm nafisah,
    Nafisah sdh dekat sm.diyah

    BalasHapus
  4. Baca ceritanya bikin aku merinding

    BalasHapus
  5. Syafakillaah ya Mak...smoga sehat sllu & tetep semangat...♥♥♥

    BalasHapus
  6. Kapan up lagi mbak??
    Jadi gak sabar pengen baca ceritanya sampai akhir

    BalasHapus