Chapter 9 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 26 Mei 2020

Chapter 9 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Kota Balikpapan, Pukul 08.00 pagi
Diyah sangat ketakutan. Tubuhnya benar-benar bergetar sambil memeluk kedua lututnya di lantai yang dingin. Sudah seminggu berlalu, Diyah merindukan keluarganya yang sekarang ini tidak ada didekatnya.

"Cepat makan! Dasar anak bawel!"

Sepiring nasi dan tempe goreng berada didepan mata Diyah. Sebenarnya Diyah lapar, namun ketakutan membuatnya tidak berani untuk makan.

Semua terjadi ketika dua hari yang lalu Diyah melihat anak laki-laki seumuran dengannya yang menolak mengemis di pinggir jalan lalu di beri hukuman dengan memakan sepiring nasi yang berisi racun sehingga anak tersebut kejang-kejang didepan mata Diyah. Setelah itu, ia tidak berani menatapnya lagi bahkan tidak tahu bagaimana nasib anak laki-laki itu.

Air mata mengalir di pipi Diyah. Lagi-lagi ia berusaha menahan tangis agar pria jahat didepan matanya tidak memukulnya seperti anak-anak yang lain meskipun ia belum pernah di berlakukan seperti itu.

"Heh! Cepat makan!"

"Diyah.. Diyah akan makan, Om."

"Makan sekarang! Setelah itu kamu dan Ibu Sumi kerja di pinggir jalan jadi pengemis!"

Diyah bergidik ketakutan. Dengan perlahan ia mulai memegang sendok kemudian menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya. Pria jahat itu tersenyum sinis kemudian segera pergi keluar bahkan menutup pintunya dengan bantingan kasar.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

Seketika Diyah langsung memuntahkan makanan yang ia makan. Bukan karena tidak enak. Tapi ia takut kalau didalam makanannya terdapat racun atau campuran bahan yang membahayakan tubuhnya.

Tak ada yang bisa Diyah lakukan selain menangis ketakutan. Sungguh ia merindukan Papa dan keluarganya.

****

60 menit, kemudian

Dua orang pria berpakaian preman sedang melihat-lihat ke sekitarnya. Seolah-olah tatapan keduanya telah siap menerkam calon mangsa yang akan di jadikan korban begal.

"Itu dia sasaran kita, Rio" ucap Lukman, dengan tatapan sinis.

"Oke, kita mulai saja sekarang."

Keduanya pun segera beraksi. Lokasi saat ini sedang berada di gang sempit pemukiman padat penduduk. Lukman dan Rio akhirnya mendekati sasarannya, seorang ibu tua yang sedang menggendong anak kecil.

"Serahkan harta kalian!"

Ibu tersebut ketakutan. "Pergi dari sini!"

"Tidak, sebelum pekerjaan kami selesai!"

Dengan cepat Rio memegang pergelangan tangan Ibu tersebut kemudian tanpa diduga memborgolnya.

"Kami anggota Intel kepolisian. Anda tersangka dalam penculikan anak di bawah umur."

Ibu tersebut syok, sementara anak kecil yang polisi pastikan bernama Diyah itu pun terlihat ketakutan. Diyah bersembunyi dibelakang Ibu paruh baya itu sambil menangis.

"Ayo ikut kami ke kantor polisi." sela Rio dengan tegas.

Seperti tidak berkutik, Diyah dan Ibu paruh baya itu pun akhirnya pasrah bertepatan saat Lukman menghubungi atasannya.

"Selamat siang, Pak, korban sudah kami temukan."

****

Kota Bontang, Pukul 13.00 Siang.

Ponsel yang ada di atas meja kecil Nafisah berbunyi sejak tadi. Nafisah menatap nama panggilan tersebut. Dengan cepat Nafisah menerimanya setelah ia menutup Al Qur'an yang ia baca. 

"Assalamualaikum. Tante Aminah?"

"Wa'alaikumussalam. Fisah, sejak tadi Tante hubungi kamu, kenapa kamu tidak menerima panggilan Tante?"

"Maaf Tante, tadi Nafisah sedang mengaji. Apakah semuanya baik-baik, saja?"

"Alhamdulillah, Diyah sudah ditemukan. Selama ini Diyah di culik dan di jadikan pengemis dipinggir jalan bersama Ibu Tua."

"Astaghfirullah," Nafisah syok. Rasanya ia tidak sanggup mendengar hal penderitaan yang di alami Diyah. "Jadi, bagaimana keadaan Diyah sekarang, Tan?"

"Kondisi Diyah tidak baik-baik saja. Diyah sangat ketakutan dan terlihat trauma. Tubuhnya sedikit berkurus. Pakaiannya tidak terganti sejak seminggu yang lalu. Diyah akan di bawa kerumah sakit setelah semua urusan disini selesai."

"Sekarang Tante lagi dimana?"

"Tante lagi di kantor polisi. Danish sedang meminta keterangan dari pihak kepolisian."

"Alhamdulillah, akhirnya Diyah sudah di temukan. Nafisah ingin sekali melepas rindu dengan Diyah, namun Ibu Nafisah saat ini sedang sakit."

"Mama kamu sakit apa Fisah?"

"Mama sedang kolesterol, Tante. Jadi Mama harus banyak beristirahat dirumah."

"Apakah kamu ingin Diyah mengunjungimu kesana?"

Dengan cepat Nafisah menggeleng. "Jangan Tan, terlalu jauh untuk kemari. Perjalanan dari kota Balikpapan ke Bontang memakan waktu hampir 6 Jam."

"Tidak apa-apa, sayang. Insya Allah setelah semua keadaan membaik, Tante akan bersilahturahmi bersama Diyah kerumah kamu. Em baiklah, Tante tutup dulu ya panggilannya. Sepertinya urusan Danish sudah selesai. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Setelah panggilan berakhir, Nafisah tidak henti-hentinya mengucap kata syukur di iringi kedua matanya yang berkaca-kaca. Dan rasanya ia sudah tidak sabar ingin segera melepas rindu pada Diyah sebentar lagi.

"Alina, ntah kenapa aku sangat menyayangi Diyah. Alhamdulillah, putri kamu yang cantik itu sudah di temukan."  ucap Nafisah dalam hati.


****

Masya Allah Alhamdulillah, nggak kerasa memasuki hari ke empat setelah lebaranđź’•

Masih suasana idul Fitri 1441 hijriah ya. Sebelumnya, author mau ucapin Minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin ☺️

Maaf banget, up nya sering ketunda seperti yang kalian tahu sebelumnya kondisi kehamilan muda yang aku alami kadang bs bikin drop hanya untuk memegang ponsel buat update cerita ☹️

Jazzakallah Khairan atas pengertiannya. Sehat selalu buat kalian dan sekeluargađź–¤

With Love đź’‹ LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

__

Next Chapter 10. Langsung klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/05/chapter-10-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar