Chapter 11 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 04 Juni 2020

Chapter 11 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Kota Bontang, Pukul 21.00 malam.

Nafisah menutup laptopnya. Pekerjaannya sebagai guru pengajar bimbel dalam membuat materi besok lusa pun selesai. 

Nafisah melirik kearah jam dinding bertepatan saat ponselnya berdering.
Sebuah nomor tak dikenal terpampang dilayar ponsel Nafisah. Tanpa ragu, Nafisah menerima panggilan tersebut.

"Halo Assalamualaikum?"

"Wa'alaikumussalam. Hai.."

Seketika Nafisah terdiam. Suara yang berasal dari seorang pria membuat Nafisah mengerutkan dahinya. Bahkan suara tersebut sangat familiar baginya.

"Em, maaf, ini siapa ya?"

"Ini saya, Irsyad."

"M..mas Irsyad?"

"Ya, ini saya. Maaf membuatmu terkejut dengan panggilan para ponsel dari saya yang begitu dadakan."

Nafisah segera berdiri dari tempat duduknya. Berjalan mondar-mandir dengan perasaan gugup. Padahal Irsyad hanya menghubunginya, mungkin ada perlu, itu yang ia pikirkan saat ini meskipun sejak kemarin-kemarin hatinya bertanya, kapan Irsyad datang bertamu kerumahnya sesuai janjinya waktu itu.

"Saya, em tidak apa-apa, Mas."

"Alhamdulillah kalau begitu. Oh iya, kebetulan saya mendapatkan nomor ponselmu dari Bibiku, Ibunda Rara."

"Ah iya Mas. Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya? Apakah Mas ingin bertanya tentang Rara dan perkembangan belajarnya?"

"Tidak. Ini bukan soal Rara atau pendidikannya. Ini soal saya dan.. kamu."

Jantung Nafisah sudah berdegup kencang. Kedua telapak tangannya tentu saja sekarang dingin saking groginya. Saya dan kamu, tiga kata itu sukses membuatnya berusaha menahan diri agar tidak berteriak kencang saking senangnya.

"Maaf, maksud Mas, apa ya?"

"Seperti yang saya bilang seminggu yang lalu, em, insya Allah besok saya kerumah kamu. Kebetulan saya sudah menghubungi Mama kamu. Apakah beliau sudah menyampaikan maksud kedatangan saya kerumah kamu?"

Tentu saja Nafisah tak menjawab. Yang benar saja, bagaimana ia bisa tahu sementara Mamanya tidak pernah bercerita apapun tentang kedatangan Irsyad besok pagi. Apakah Mamanya itu berniat memberinya kejutan?

"Maaf Mas, tidak satupun pihak keluarga saya apalagi Mama memberi tahu kedatangan Mas besok. Saya cukup terkejut."

Lalu Irsyad tertawa di seberang panggilan. "Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya sudah memberi tahu pada Papa dan Mama kamu. Kebetulan kami bertemu saat acara syukuran dirumah Rara. Waktu itu kamu tidak datang, katanya kamu sedang berada diluar kota.  Alhamdulillah Papa dan Mama kamu dengan senang hati menerima keluarga saya datang mengunjungi kamu. Insya Allah besok, pukul 09.00 pagi."

"Oh iya, Mas, terima kasih sudah mengatakan hal itu pada orang tua saya."

"Sama-sama, saya tutup dulu ya panggilan ini. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Ntah bagaimana lagi perasaan Nafisah, sungguh ia tidak bisa membendung lagi perasaan bahagianya sambil duduk menghadap kiblat dan menengah kedua tangannya kelangit.

"Ya Allah, sesungguhnya rasa bahagia ini hanya bisa hamba ucapankan pada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah mengatur semua urusan didunia ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kelancaran untuk semuanya, Aamiin."

****

Keesokan harinya. Pukul 07.30 pagi.

Lestari tengah sibuk membuat menu masakan khas kota Bontang di dapurnya. Menu tersebut adalah gamis bawi yang populer berasal dari daerah Bontang Kuala. Berbahan dasar sambel yang di campur dengan bawang, tomat, dan bumbu lainnya serta di ulek kedalam cobek kemudian ikan-ikan bawi pun di susun diatasnya dan di masak diatas kompor bersama cobeknya.

Sebenarnya bisa saja memasak di atas wajan, namun rasanya akan terasa lebih beda. Selang beberapa menit kemudian, Nafisah juga membantu Mamanya menyiapkan menu lain seperti, kue bolu, es Doger, dan cemilan lainnya.

"Ma?"

"Ya?"

"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?"

"Soal Irsyad?" tebak Lestari tiba-tiba. Seketika membuat Nafisah terbungkam.

Lestari memperhatikan putrinya yang sedang mengiris buah melon dengan ukuran sedang dengan kedua pipinya bersemu merah. Lestari pun tersenyum tipis.

"Tiga hari yang lalu Irsyad ada hubungi Mama. Dia nggak banyak cerita kok. Cuma mau bilang silahturahmi kesini bersama Ayah dan Ibunya. Bahkan dia cukup berani meminta nomor ponsel Mama ketika bertemu di acara syukuran rumah Rara."

"Itu saja?"

"Memangnya kamu mengharapkan omongan apa? Pasti saat ini kamu berpikir berharap omongan dia ngelamar kamu? Mama benar kan?"

"Ha? I..itu, ah Mama apa'an sih. Mama ada-ada saja ngomongnya." timpal Nafisah dengan gugup.

"Jodoh itu nggak kemana Nafisah.." Lestari berjalan kearah Nafisah sambil membawa wadah yang berisi buah pepaya yang telah di kupas dan di cuci bersih. "Mama sih, sempat mikirnya begitu. Tapi nggak enak juga nanya secara langsung. Karena dia punya niat baik mau silahturahmi kesini, yaudah, Mama terima saja. Siapa tahu memang beneran dia mau lamar kamu? Iya, kan?"

Nafisah tersenyum tipis. Tidak juga mengangguk atau menjawab. Ucapan Mamanya barusan sudah berhasil membuatnya menahan malu dan rasa bahagianya.

****

3 Jam kemudian, Pukul 10.00 pagi

Nafisah sudah rapi memakai style syar'i yang ia kenakan. Ia menatap dirinya dengan polesan wajahnya yang natural dan fresh agar tidak terlalu pucat.

Nafisah pun mengecek ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Ingin rasanya ia menghubungi Irsyad. Apakah pria itu jadi berkunjung kerumahnya atau tidak sesuai janjinya pukul 09.00 pagi.

Sudah satu jam berlalu. Rasa cemas dalam diri Nafisah semakin menggelayuti nya. Apakah ia pantas menghubungi Irsyad menanyakan hal itu? Nafisah menggeleng dengan cepat. Rasanya sungguh begitu malu jika ia sampai menghubungi Irsyad.

Ponsel Nafisah tiba-tiba berdering. Dengan cepat Nafisah menatap layarnya. Seketika raut wajahnya menjadi muram yang tadinya sumringah. Rupanya bukan Irsyad yang menghubunginya. Nama Bu Tia terpampang di layar ponselnya, rekan kerja di lembaga bimbel.

"Assalamualaikum, Iya Bu?"

"Wa'alaikumussalam. Nafisah, maaf menelponmu secara mendadak. Satu jam lagi jam mengajar Ibu di kelas bimbel sekolah dasar. Tapi, sebuah musibah menimpa Ibu. Suami ibu meninggal, bisakah Nafisah menggantikan posisi Ibu pukul 11.00 nanti? Ibu sudah meminta izin sama kepala bimbel Pak Rian. Alhamdulillah beliau mengizinkannya."

Nafisah terkejut. "Innalilahi wa innailaihi rojiun. Saya turut berdukacita ya, Bu. Em, kebetulan hari ini saya libur. Insya Allah saya bisa menggantikannya." ucap Nafisah pelan, ntah kenapa tiba-tiba ia merasa yakin menolong Ibu Tia karena Irsyad tidak akan datang. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 10.15 menit.

"Alhamdulillah terima kasih, Nafisah. Maaf merepotkan, semoga Allah senantiasa membalas kebaikanmu ya, Aamiin."

"Aamiin Bu, Aamiin."

"Yaudah, Ibu tutup dulu ya, Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Nafisah mengakhiri panggilannya. Ia pun menghela napasnya. Menunggu sebuah kepastian dari Irsyad memang sedikit membuatnya resah. Tidak mau memperbaharui isi hati dan pikirannya, ia pun memilih berganti pakaian dengan ciri khas yang selalu ia kenakan setiap mengajar di lembaga bimbingan belajar.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

Rok panjang berukuran lebar berwarna hitam, serta atasan berbahan katun berlengan panjang serta Khimar yang menutupi bagian depan dan belakang tubuhnya. Tak lupa Nafisah juga menyematkan bros mutiara berbentuk bunga kecil pemberian almarhumah Alina dibagian pundaknya agar bisa terlihat rapi.

Nafisah pun segera keluar kamar dan menuju ruang tamu. Kue-kue dan cemilan serta teh hangat yang masih berada didalam teko berbagai tahan panas pun telah siap di atas meja. Sementara Papa dan Mamanya berada di ruang tengah menonton telivisi. Sepertinya Irsyad memang tidak jadi datang, padahal keluarga nya sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut kedatangannya.

Pintu pun terketuk pelan. Nafisah segera membuka pintunya dan terkejut. Seorang pria yang tentu saja ia kenal sambil menggandeng pergelangan tangan anak kecil berada didepan matanya.

"Assalamualaikum, Tante Nafisah! Diyah kangen sama Tante."

Detik berikutnya Nafisah langsung berjongkok, menyamakan posisinya pada Diyah dan memeluknya sangat erat. Siapa sangka bukan Irsyad yang datang, melainkan Danish dan Diyah beserta Tante Aminah. Lalu, kemana Irsyad?

"Wa'alaikumussalam. Masya Allah, Tante nggak nyangka Diyah kesini. Tentu saja Tante juga merindukan Diyah."

Disisilain, Danish terdiam menatap interaksi keduanya. Aminah benar, Diyah memang menyukai Nafisah. Hanya seperkian detik, Danish mengalihkan pandangannya ke lain. Semua sudah jelas, kalau Nafisah menyayangi Diyah seperti putrinya sendiri. Lalu kedua mata Danish pun berkaca-kaca, bukan terharu, melainkan terluka.

"Alina, maafkan aku, kumohon kamu mengikhlaskan wanita itu berada di antar kita. Sesungguhnya hanya kamu yang aku cintai selama ini."

****

Alhamdulillah, aku kembali up, buat kalian di chapter 11.

Jazzakallah Khairan sudah menunggu dengan sabar dan tetap menantikan cerita ini.

Semoga tetap suka dan bertahan ya🖤

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 12. Langsung klik link nya di bawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/06/chapter-12-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1



6 komentar:

  1. Meanstream... di luar dugaan

    BalasHapus
  2. Smoga danist bs mencintai nafizah

    BalasHapus
  3. Smoga Nafisah mendapatkan jodoh terbaiknya

    BalasHapus
  4. Semoga kalau memang berjodoh, Danish tidak menyakiti perasaan Nafisah, bisa mencintainya dan membahagiakannya juga... kasian soalnya kalo cuma jadi tempat pelarian, di nikahi hanya untuk kepentingan anaknya semata.. Nafisah juga berhak untuk di cintai...:(

    BalasHapus
  5. Nafisàh sama Irsyad aj. Sama Danish cm dijadiin ibu pengganti yg bisa mengasuh Diyah

    BalasHapus
  6. Fika Herlinda6 Juli 2020 09.24

    Makin penasaran nih Thor.....kira2 Irsyad kemana ya???

    BalasHapus